
Brian berbalik setelah memastikan ponselnya lecet, wajahnya memerah karena kesal, bisa-bisanya pengendara sepeda itu menabraknya pada saat hampir sampai diseberang jalanan.
"Karmen!"
"Brian!"
Serentak keduanya kemudian sama-sama terdiam.
Jika Karmen terdiam karena heran kenapa Brian ada disana. Berbeda dengan Brian yang tidak menyangka ketemu Karmen ditempat itu.
"Permisi," ujar Karmen kemudian hendak pergi dengan menaiki sepedanya.
"Tunggu!" dengan cepat, tangan Brian menahan kursi sepeda Karmen hingga sepedanya tidak bisa bergerak.
"Apaan sih! aku harus pergi," kesal Karmen mencoba menepis tangan Brian.
"Ayo kita menikah!" ujar Brian membuat Karmen mematung hingga beberapa menit.
Gamang.
"Karmen, aku tau kamu sedang hamil, jadi mari kita perbaiki kesalahan kita dengan menikah," bujuk Brian.
Melihat Karmen hanya diam, Brian segera menarik Karmen bersandar diraganya. Air mata yang Karmen tahan akhirnya lolos tak tertahankan lagi, bahkan membasahi kemeja hitam Brian.
Rasa sakit dan caci maki semua warga membuatnya tidak berdaya selain pasrah menerima nasibnya. Ia pergi meninggalkan rumahnya dan mengajak ibu dan adiknya mencari kontrakan baru akibat diusir oleh warga.
Sebenarnya ia bisa saja meminta pertanggung jawaban Brian tapi dia sangat malu. Apa kata keluarga Brian jika mengetahui dirinya hamil diluar nikah. Ia takut dan tidak ingin mendapatkan perlakuan seperti yang dialami Amelia.
Diusir, dianggap rendahan, dan diancam. Mendengar yang dialami Amelia dulu saja rasanya dia sudah tidak sanggup, apalagi jika keluarga Brian tidak merestui dan memintanya menggugurkan kandungannya. Ia tidak menambah dosa dengan menghilangkan nyawa yang tidak bersalah.
Ia memilih pergi karena ingin mempertahankan bayinya, ia rela dicaci maki oleh masyarakat dan tinggal berpindah-pindah demi melindungi anaknya.
"Kita bicara di penginapanku ya?" bujuk Brian membuat Karmen tersadar dimana mereka berada saat ini, dipinggir jalan.
"Tidak! lebih baik kamu pulang, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," tolak Karmen.
"Kita harus bicara soal kehamilan kamu," bujuk Brian kembali.
"Aku nggak mau!" sengit Karmen.
"Kamu kenapa sih! aku sudah kemana-mana mencarimu, kenapa kamu sengaja menghindariku?"
"Karena aku nggak mau ketemu kamu!" balas Karmen.
Karmen tidak mau jika Brian memintanya menggugurkan kandungannya. Apalagi jika menawarkan sejumlah uang agar Karmen mau menghilangkan darah dagingnya.
"Kenapa?" tanya Brian dengan nada mulai meninggi membuat orang yang lewat melihat langsung melihat kearah mereka.
"Karena aku nggak mau menggugurkannya! jangan khawatir, aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu atau apapun, aku hanya ingin kamu membiarkan aku bersamanya," jawab Karmen membuat Brian mengusap wajahnya dengan kasar. Bisa-bisanya Karmen beranggapan buruk padanya.
Brian mengangkat Karmen seperti koala menuju penginapannya, resepsionis dan security menatap curiga pada mereka.
"Lepasin! aku nggak mau ikut denganmu!" berontak Karmen sambil menepuk pundak Brian dan kakinya melayang naik turun diudara.
__ADS_1
"Dia istriku," ujar Brian seolah menjawab pertanyaan orang-orang yang melihatnya.
Brian langsung membuka pintu kamarnya kemudian membawa Karmen duduk di kursi. Tidak lupa mengunci pintu dan menyimpan kuncinya disaku celana.
Nah, kalau sudah seperti ini, apa Karmen masih bisa kabur nggak ya?
"Apa-apaan sih kamu!" bentak Karmen.
"Kamu yang apa-apaan? aku cuma mau ngomong masalah kita," ungkap Brian.
"Kita nggak ada urusan!" sergah Karmen.
"Apa kamu bilang? kita nggak ada urusan? setelah menghilang dan membawa anakku pergi kamu bilang kuta nggak ada urusan, hah?" sentak Brian dengan nada naik satu oktaf.
Kesabaran Brian mulai menghilang melihat betapa keras kepalanya wanita yang duduk dihadapannya. Brian menekan pelipisnya menatap wajah Karmen yang mulai pias dan menunduk. Brian berkacak pinggang dan menghela napas dengan kasar.
"Katakan kenapa kamu menghindariku?" tanya Brian.
Karmen diam, kepalanya menunduk tidak berani menatap lawan bicara, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis, dadanya sesak dan lidahnya keluh.
"Karena kamu dan keluargamu akan menyuruhku menggugurkan kandunganku, iya kan?" tanya Karmen.
"Astaga.. Karmen! seburuk itukah aku dimatamu? bahkan membawa-bawa keluargaku?" Brian mengusap wajahnya dengan kasar kemudian duduk dihadapan Karmen. Satu tangannya menggenggam tangan Karmen dan satu lagi mencapit dagunya hingga Karmen mengangkat wajah dan menatapnya.
Netra mereka saling bertemu, sama-sama menyelami perasaan masing-masing.
Air mata Kamen yang sempat tertahan, akhirnya mengalir tak terbendung lagi.
"Ssttt..." Brian menutup mulut Karmen dengan jari telunjuknya
"Itu tidak akan terjadi, aku menjamin itu." Brian menghapus airmata Karmen kemudian membawa Karmen dalam pelukannya.
Karmen mulai tenang, pelukan Brian begitu hangat dan menenangkan. Beban yang selama ini dia tanggung seolah hilang begitu saja.
Cup!
Satu kecupan manis mendarat didahi Karmen.
"Sekarang bawa aku bertemu dengan orang tuamu," ujar Brian setelah Karmen tenang.
Karmen melepaskan pelukannya, netranya kembali menatap Brian.
"Untuk apa?" tanya Karmen dengan mata menyipit.
"Tentu saja aku akan melamarmu dan kita akan menikah secepatnya, sebelum dia semakin membesar," ujar Brian
Brian mengelus perut Karmen yang masih rata. Karmen tersentak saat tangan besar Brian mengelus perutnya, ada gelenyar aneh yang menenangkan didalam sana, rasanya ia sangat suka perutnya disentuh seperti itu.
"Kamu suka?" tanya Brian, mencoba menebak apa yang dirasakan Karmen saat ini.
Karmen mengangguk.
"Aku akan melakukannya tiap hari jika kamu suka,"
__ADS_1
Brian menghapus sisa air mata Karmen, menarik sedikit ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Nah.. kalau senyum kayak gini kan cantik, jadi makin cinta," goda Brian, secara tidak langsung ia mengungkapkan perasaannya pada Karmen.
Wajah Karmen memerah, jantungnya mulai berdebar, hatinya kembali berdesir bagai ribuan kupu-kupu sedang beterbangan didalam sana.
"Karmen, ayo kita menikah, kita akan bersama membesarkannya, kamu mau kan menikah denganku?" tanya Brian kembali dengan tatapan teduh.
Mendengar itu Karmen langsung menutup matanya. Benarkah ini pilihan yang tepat untuknya? jika itu memang benar bukankah seharusnya ia bahagia? tapi kenapa masih ada yang terasa mengganjal didalam hatinya. Ternyata rasa takutnya masih mendominan karena dia berasal dari keluarga biasa, pasti akan sangat sulit membiasakan diri hidup dengan orang kaya pikirnya.
"Kamu masih ragu?" tanya Brian karena Karmen masih diam. "Buang semua keraguanmu dan berikan aku satu kesempatan untuk membuktikan kalau aku mampu menjadi suami yang bertanggung jawab untukmu dan anak-anak kita nantinya," lanjut Brian.
Perkataan Brian begitu menyentuh hatinya.
"Iya, aku mau," jawab Karmen.
Mereka saling berpelukan, setelah merasa tenang. Karmen membawa Brian ke rumah kontrakannya dengan mengendarai sepeda, Brian membonceng Karmen dan Karmen memeluknya dari belakang.
Disana sudah ada ibunya yang sedang sakit. Karmen sudah meminta ibunya untuk masuk ke rumah sakit namun ibunya menolak, dia menghawatirkan Karmen dan tidak mau meninggalkan Karmen sendirian menghadapi masalahnya.
"Assalamualaikum...." Karmen dan Brian mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah. Rumah petak yang hanya seluas tiga puluh enam meter. satu kamar tidur, satu kamar mandi kecil, dan dapur mini.
Brian berjalan dibelakangnya kemudian duduk di kursi, pandangannya mengitari setiap sudut isi rumah. Hatinya perih melihat keadaan calon istrinya. Jika dibandingkan dengan kamarnya, luas rumah ini hanya sepertiga dari luas kamarnya.
Karmen masuk kedalam kamar melihat keadaan ibunya. Awalnya ia pikir ibunya tertidur, tapi setelah beberapa menit, ibunya tidak juga membuka mata. Hatinya mulai gelisah dan panik.
"Ibu..bangun bu..." teriak Karmen membuat Brian tersentak kemudian berdiri menyusul Karmen didalam kamar.
Brian langsung memeriksa pergelangan tangan Ibu Rahmi kemudian melirik Karmen yang sudah berlinang airmata.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit," ujar Brian.
"Tapi, aku..."
"Cepat Karmen, sebelum terlambat," tegas Brian.
Karmen segera keluar mencari kendaraan yang bisa membawa ibunya tapi dia tidak ada kecuali sepeda.
"Yan, nggak ada kendaraan," ujar Karmen setelah berada dikamar kembali.
Brian mengambil ponselnya kemudian menghubungi bagian resepsionis tempat penginapannya. Ia meminta dibawakan mobil rental sekarang juga.
Tidak lama kemudian mobil datang dan membawa mereka ke rumah sakit.
Didepan ruang IGD, Karmen mondar-mandir seperti setrika panas.
"Duduk dan tenanglah! ibumu pasti kuat," bujuk Brian kemudian membawa Karmen duduk di kursi bersamanya.
.
.
Bersambung....
__ADS_1