Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Lamaran


__ADS_3

"Bukan Tante. Saya pacar Amelia." Jawab Ergan.


"O ya? Sudah berapa lama?"


"Tiga bulan. Maksudnya sudah tiga bulan kami kenal dan baru memulai hubungan." Jawab Ergan berbohong.


Ergan tiba-tiba merasa gugup dalam situasi seperti ini. Jantungnya berdetak lebih cepat takut Lidya akan menolak lamarannya. Matanya melirik kedalam mencari Amelia namun Amelia tidak juga keluar. Ergan menarik napas dalam-dalam kemudian menghempaskannya dengan perlahan.


"Tenang, semuanya akan baik-baik aja!" Batin Ergan.


"Begini Tante, sebenarnya tujuan saya datang kesini untuk melamar Amelia sebagai istri saya." Ujar Ergan dengan nada sedikit gugup.


Deg!


"Melamar?" Tanya Lidya ulang, ia ingin memastikan jika dia tidak salah, seorang pria dengan setelan jas datang melamar anaknya seorang diri.


"Iya Tante." Jawab Ergan.


Lidya menoleh kearah dapur mencari keberadaan Amelia." Meli.. sini." Panggil Lidya meskipun tidak melihat Amelia.


"Iya Mah." Amelia yang bersembunyi dibalik pilar segera keluar. Jantungnya berdebar tak beraturan saat Ergan mengutarakan niatnya pada Mamanya.


"Duduk." Perintah Lidya.


Amelia duduk di samping Lidya sambil menunduk, ia tidak ingin melihat mata Ergan yang begitu menakutkan baginya.


"Kedatangan nak Ergan kesini untuk melamarmu, nak. Apa kamu setuju?" Tanya Lidya. Matanya tajam menatap Amelia penuh intimidasi. Ia tidak percaya jika mereka pacaran. Rasanya baru kemarin Amelia menangisi Heri yang menikah dengan sahabatnya, tapi kenapa pria lain tiba-tiba datang melamarnya. Amelia bahkan tidak pernah bercerita tentang Ergan.


Amelia bergeming tidak tahu harus bagaimana. Disatu sisi dia takut hamil, disisi lain dia belum siap untuk menikah.


"Boleh Tante tau, kenapa nak Ergan hanya datang sendiri? maksud Tante, kenapa tidak bersama orang tua nak Ergan?" Tanya Lidya.


"Maaf Tante, Orang tua saya sedang ke Jerman, ada pekerjaan mendadak disana selama sebulan." Jawab Ergan.


Memang hari ini Andreas dan Karisma berangkat ke Jerman. Andreas sedang menangani bisnis disana dan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka dari itu Karisma juga ikut karena Andreas tidak ada yang mengurusnya disana.

__ADS_1


Lidya mengangguk kemudian kembali menatap Amelia.


"Oo.. Kalau Mama sih keputusan tetap pada Meli aja, karena yang akan menjalani pernikahan itu kalian. Meli gimana?" Panggil Lidya menyadarkan Amelia.


Dag, dig, dug! jantung Ergan semakin berdebar memunggu


"Iya Mah." Jawab Amelia gugup.


"Alhamdulillah..." Ucap Lidya sambil mengangkat tangannya berdoa.


Ergan menghela napas lega, restu telah dikantongi, urusan Amelia itu gampang, cukup dengan sedikit mengancam, maka Amelia akan luluh pikirnya.


"Jadi kapan rencananya?" Tanya Lidya.


"Tiga hari lagi." Jawab Ergan.


"Lho kenapa mendadak? Mama belum siapkan apa-apa" Ujar Lidya kaget.


"Begini Tante, saya tau Amel masih terikat kontrak kerja, dia tidak boleh menikah hingga dua tahun masa kerjanya. Tapi saya tidak bisa menunggu terlalu lama. Saya sangat mencintainya dan tidak mau kehilangannya. Dan saya seorang pengusaha yang cukup disoroti wartawan, jika kami mengadakan pesta besar-besaran, pasti akan ketahuan publik dan itu bisa mengancam pekerjaan Amelia. Jadi, saya meminta untuk menikah di Singapore dengan sederhana agar terhindar dari wartawan. Saya janji setelah kontrak kerja Amelia selesai, saya akan mengadakan pesta yang mewah jika Amelia menginginkannya." Jelas Ergan.


"Jadi, Kalian akan menikah siri? terus terang Mama nggak setuju." Tanya Lidya tidak terima.


Lidya berpikir sejenak, kemudian meminta pendapat Amelia. "Apa kamu setuju seperti itu, Mel?"


"Iya Mah." Jawab Amelia mengangguk.


"Ya sudah, kalau itu menurut kalian yang terbaik, Mama hanya bisa doakan semoga semuanya berjalan lancar." Ujar Lidya.


Lidya kemudian diam, ada sesuatu yang harus ia sampaikan pada Amelia dan juga Ergan saat ini. Sebuah rahasia besar yang selama ini dia rahasia dari Amelia.


"Sebenarnya ada seuatu yang haris Mama sampaikan. Masalah wali nikah Amelia, sebenarnya ayah kandung Amelia masih hidup."


Deg!


Amelia terkejut, netranya menatap lekat mata Lidya yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Apa maksud Mama? bukannya Papa sudah meninggal tahun lalu?" Selidik Amelia.


"Papa bukan ayah kandung kamu nak. Maaf, Papa yang meminta Mama merahasiakan ini darimu. Dia terlalu sayang padamu hingga tidak mau orang lain menggantikan posisinya. Meskipun ia tahu jika dirinya sangat egois, tapi dia benar-benar tulus sayang padamu. Dia menganggap kamu seperti darah dagingnya sendiri. Kamu tau sendiri kan bagaimana Papa ke kamu? Apapun akan dia lakukan untuk kebahagian kita termasuk merahasiakan Ayahmu karena dia tidak ingin kamu terluka dan besedih. Dia hanya menginginkan kamu tersenyum dan bahagia. Dulu, Mama pisah dengan Ayahmu setelah kamu berumur satu tahun. Dia pergi dengan wanita lain yang sekarang menjadi istrinya. Setelah itu, kami tidak pernah bertemu lagi." Ungkap Lidya.


Air mata Amelia menetes, Ergan yang tidak kaget mendengar berita ini hanya bisa diam menatap Amelia dihadapannya, seandainya tidak ada meja yang menghalangi, ia bersedia menjadikan punggungnya sebagai sandaran Amelia dan menghapus air matanya.


"Apa Tante tau dimana dia sekarang?" Tanya Ergan. Sebenarnya Ergan sudah menemukan ayah kandung Amelia, bahkan sudah bicara dengannya untuk menjadi wali nikah Amelia nantinya.


Siapa lagi yang memberitahunya selain Tirta, sang Asisten yang selalu bisa diandalkan.


Lidya menggelengkan kepalanya, "Tante nggak tau karena Papa Amelia melarang Mama mencarinya. Kecuali jika Ayahnya yang mencari Amelia." Jawab Lidya.


"Jika Tante dan Amelia nggak keberatan, biar aku yang mencarinya, gimana?" Tanya Ergan.


Biar bagaimanapun dia juga harus meminta persetujuan mereka untuk menghadirkan Ayah kandung Amelia di hari pernikahannya.


"Meli, gimana sayang? apa kamu mau Ayah kamu yang menjadi walinya?" Tanya Lidya, dia tidak yakin jika Amelia akan setuju.


"Nggak usah dicari Mah, dia sudah meninggalkan kita, untuk apa lagi kita mencarinya? kita tidak butuh dia Mah." Tolak Amelia kemudian segera pergi meninggalkan Ergan dan Lidya.


Lidya menangis melihat kepergian Amelia. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan anaknya saat ini. Siapa yang tidak terkejut dan terpukul jika ternyata Papa yang selama ini memberinya kasih sayang bukanlah orang tua kandungnya. Papa yang dia sayangi dan tempatnya bermanja hingga ia dewasa.


"Maaf Tante, boleh saya bicara dengan Amelia? saya akan membujuknya." Ijin Ergan.


"Iya nak, bujuk dia untuk memaafkan semuanya." Ujar Lidya sambil mengangguk disela tangisnya.


Ergan berdiri kemudian menyusul Amelia dikamarnya. Pintu kamar Amelia kelihatan dari ruang tamu hingga Ergan tahu dimana letaknya.


"Hikss.. hikss.."


Amelia menangis didalam kamarnya, air matanya jatuh membasahi bantal yang ada diatas pangkuannya. Hatinya begitu sedih dan sakit, ternyata Ayah kandungnya juga pergi meninggalkannya demi perempuan lain. Ia sangat membenci penghianat, apalagi Ayahnya telah meninggalkannya selama bertahun-tahun dan tidak pernah mencarinya. Ayah macam apa yang begitu tega pada anaknya?


Tok.. tok .. tok..


.

__ADS_1


.


Bersambung......


__ADS_2