
"Tumben bos tertarik dengan anak orang." Tirta heran kenapa Ergan tiba-tiba tertarik pada Azka. Biasanya dia tidak perduli dengan anak orang lain.
Tirta menghampiri Yuli kemudian membujuk Azka untuk diambil.
"Hai jagoan.. Main sama Om yuk!" Tirta meraih tangannya mencoba untuk mengambil Azka, namun Azka hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Sepertinya dia tidak mau Pak." Ujar Yuli.
"Bantu saya membujuknya Mbak, Tuan saya ingin bermain dengannya." Melas Tirta.
"Azka sayang..! Om ini temennya Mommy juga, Om mau ajak Azka main robot-robot, Mau nggak?" Bujuk Yuli membuat Azka menatapnya lalu beralih ke Tirta.
Azka mengangguk kemudian mengulurkan tangannya ke Tirta. Saat Tirta datang bersama Azka, Ergan berdiri menyambutnya.
"Ini bos!" Tirta langsung menyerahkan Azka pada Ergan. Entah kenapa Azka tidak protes atau melawan, biasanya ia tidak mau pergi ke orang lain, apagi orang itu baru dilihatnya.
"Hai boy... nama kamu siapa?" Tanya Ergan sambil memegang tangan Azka.
Azka menatap Ergan dengan lekat, "Azka." Singkatnya kemudian mengalungkan kedua tangannya dileher Ergan.
"Lucu banget, Tir! pengen bawa pulang anak orang." Ujar Ergan kemudian melirik Tirta.
"Jangan bos, jika anaknya dibawa orang tuanya gimana? Bos bikin sendiri aja yang lebih lucu. Eh, gimana mau bikin ya, kalau Mamanya nggak ada." Ejek Tirta.
"Siaalan lo! ini juga karena lo nggak bisa diandelin cari Istri gw." Kesal Ergan.
Pembicaraan mereka didengar oleh Pras dan Juminarti tapi mereka membiarkannya. Bahkan mereka merasa lucu dengan candaan Tirta.
"Pak Pras, ini anak siapa?" Tanya Ergan.
"Anak saya Pak." Jawab Pras.
"Ooo.. lucu banget." Ergan mengelus pundak Azka yang menyandarkan kepala dipundaknya. Ia merasa ada sesuatu yang nyaman dan hangat dalam hatinya saat memeluk Azka. Seperti ada ikatan batin yang ia rasakan sama saat memeluk Aqilah. Rasanya tidak ingin melepas pelukan Azka.
"Mari Pak Ergan, kita langsung sarapan dengan anak-anak. Azka biar saya yang gendong." Ajak Pras kemudian menuju ruang makan diikuti Ergan, Tirta dan lainnya.
Azka menggeleng, ia tidak mau ke Pras. Azka semakin mengeratkan pelukannya tidak mau lepas dari Ergan.
"Azka, Om-nya mau makan nak, nggak boleh manja kayak gitu. sini sama Abi." Bujuk Pras, namun rupanya Azka tetap tidak mau. Pada saat Azka belajar bicara, Pras mengajarkan pada Azka memanggilnya dengan sebutan Abi. Awalnya Amelia keberatan, tapi Pras memintanya karena dia sayang dengan Azka sama seperti Rangga.
"Nggak apa Pak, biar Azka dengan saya. Tir, tolong ambilkan makanan untukku." Ujar Ergan sambil melihat kearah prasmanan.
__ADS_1
Deg!
Ergan tertegun saat melihat wanita memakai pakaian syar'i kerudung panjang, matanya tak berkedip tidak percaya jika itu Amelia. Jantungnya berdetak lebih kencang saat melihat wanita yang sangat dirindukannya. Ergan kemudian mengucek matanya berkali-kali dengan satu tangan untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah. Wanita itu dengan anggun menata makanan diatas meja, sesekali ia tersenyum bersama lawan bicaranya.
"Wanita itu! Kenapa ada wanita yang sangat mirip denganmu Lia?" Batin Ergan tetap pada pandangannya.
"Mommy...!" Seru Azka, masih dalam pelukan Ergan.
"Mommy?" Gumam Ergan.
"Azaka memanggil wanita itu dengan Mommy? itu artinya dia ibu dari anak ini? apa benar itu kamu sayang?" Batin Ergan.
Deg!
Amelia ikut tertegun saat melihat siapa yang menggendong Azka. Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Napasnya tercekat, tenggorokannya kering, matanya menatap sendu. Ada kerinduan yang terpancar yang tidak dapat ia sembunyikan. Tanpa ia sadari air mata keluar dari sudut matanya.
"Mas Ergan." Lirih Amelia. Nama yang selalu ia sebut dalam mimpinya. Kenapa Ergan tiba-tiba ada disana bersama Tirta? Jadi, tamu yang mereka bicarakan adalah Ergan. Gawat! aku harus segera sembunyi sebelum semuanya terungkap. Amelia segera berbalik saat menyadari Ergan sedang menatapnya dengan lekat. Tatapan mata itu masih sama seperti yang dulu. Tidak ada yang berbeda bahkan Amelia merasa Ergan sedang mengintimidasi dirinya.
Disaat yang sama Pras mendekati Amelia. Ia mengajak Amelia untuk berkenalan dengan Ergan.
"Amel, ikut aku, ayo kenalan dengan Tuan Ergan, pemilik Jaya Mandiri Group yang membangun jembatan kembar di Desa kita." Ajak Pras.
"Hah?!"
"Nggak Usah Pras, aku merasa insecure. Permisi, aku ke dapur aja bantu Ibu." Tolak Amelia.
Bagaimana Amelia tidak menolak, melihat wajah Ergan dari kejauhan saja jantungnya sudah ingin copot. Apalagi jika berdekatan dengannya, bisa-bisa jantungnya meledak saat itu juga.
"Ayolah, cuma kenalan aja, aku ingin memperkenalkan kamu sebagai calon istriku." Ujar Pras membanggakan diri karena akan menikah dengan wanita yang sangat cantik dan baik hati.
Dengan terpaksa Amelia berjalan mengikuti Pras menuju Ergan dan Azka. Sedangkan Tirta membulatkan mata tidak percaya jika Amelia berada satu ruangan dengan bosnya.
"Gw nggak salah liat kan? Itu Amelia, istri bos?" Tirta menajamkan penglihatannya, terus mengikuti langkah Amelia dan Pras menghampiri Ergan, "Wah, bakal ada perang dunia ke tujuh nih.." Gumam Tirta.
"Pak Ergan kenalkan, ini Amelia calon istri saya. Bulan depan kami akan menikah, saya harap Pak Ergan dapat meluangkan waktu untuk menghadiri pernikahan kami." Pras tersenyum lebar, dengan bangga memperkenalkan Amelia sebagai calon istrinya.
Deg!
"Menikah? Tidak! ini tidak mungkin! Lia calon istri Pras? Tunggu! jika Pras baru akan menikah, dan Amelia ibu dari Azka, itu artinya... Azka adalah..." Batin Ergan. Tatapannya tidak lepas dari Amelia yang sedang berdiri dengan gugup meremas jari-jari tangannya.
"Pak Ergan." Panggil Prasetyo.
__ADS_1
"I.. iya.." Jawab Ergan gagu.
"Kenalkan calon istriku." Ujar Pras
Ergan kembali diam membuat Pras heran kenapa Ergan menatap Amelia tanpa berkedip.
"Pak Ergan..!" Panggil Prasetyo kembali.
Ergan tersenyum kemudian mengulurkan tangannya pada Amelia. "Ergan." Ergan mengulurkan tangannya, tapi Amelia membalasnya dengan menutup kedua telapak tangannya di depan dada.
"Hehehe... bukan muhrim Pak." Kekeh Pras menjelaskan sikap Amelia.
"O.. jadi Pak Pras baru akan menikah?"
"Iya Pak."
"Lalu Azka?"
"Anak dari calon istri saya Pak."
"Ooo..." Ergan menyeringai, mana mungkin ia melepas anak dan istrinya untuk orang lain setelah mencarinya selama tiga tahun.
"Mampus kau Pras! kau membangunkan singa yang sudah tidur selama tiga tahun. Jangan harap Ergan melepas Amelia setelah menemukannya." Batin Tirta.
"Beruntung sekali anda mendapatkan wanita seperti ini." Puji Ergan.
"Saya memang beruntung Pak, Alhamdulillah dia mau menerima saya selama bertahun-tahun menunggu." Ujar Pras.
"Calon istri Pak Pras sangat cantik, sama persis dengan istri saya yang pergi tiga tahun yang lalu."
"Maksud anda?" Pras mengangkat alisnya sebelah.
"Ah, sudahlah, itu hanya masa lalu. Aku rasa sekarang dia sudah bahagia diatas penderitaanku." Ergan menyunggingkan senyum tipis sambil melirik Amelia. Melihat Amelia menunduk didepannya seolah tidak mengenalnya, membuat hatinya sangat sakit bagai busur anak panah yang menancap tepat di relung hatinya yang paling dalam.
Gamang....
"Apa Pak Pras tahu siapa Ayah Azka?" Tanya Ergan membuat Amelia segera mengangkat wajahnya menatap Ergan.
.
.
__ADS_1
Bersambung....