
"Kalau ada hantu atau orang jahat gimana?"
"Hantu itu nggak ada, yang ada orang jahat seperti kamu." Ketus Amelia karena Ergan terus bicara. Amelia tahu jika Ergan sedang mencoba menakut-nakutinya.
"Siapa bilang aku jahat? Kamu yang melempar aku dengan kaleng tapi tidak minta maaf. Yang sebenarnya jahat itu siapa?"
Amelia berhenti kemudian melirik Ergan dengan kesal. Wajah tampan Ergan selalu menghipnotisnya untuk bicara ketus. Ia takut tergoda dan semakin terpesona dengan wajah Ergan yang menawan tanpa cela, bahkan bisa dikatakan sempurna dengan postur tubuh yang tinggi dan berotot.
Amelia mengalah, ia menghempaskan napas dengan kasar lalu bicara dengan lembut. "Baiklah, Om yang terhormat, aku minta maaf soal kejadian kemarin. Aku nggak sengaja."
Amelia tersenyum manis setelah kalimatnya berakhir. Meskipun malam sudah larut, tapi cahaya lampu jalan sangat terang. Amelia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang terlihat sangat manis dimata Ergan.
"Mmm.. maafkan nggak ya?" Ergan seolah berpikir sambil menunggu reaksi Amelia.
"Kalau nggak mau, nggak usah! Aku sudah minta maaf dua kali. Aku pikir itu sudah lebih dari cukup!" Amelia kembali kesal. Ia sudah serius minta maaf tapi Ergan membalasnya dengan candaan.
"Tapi keningku masih sakit."
"Bohong!"
"Nggak percaya? Lihat aja." Ergan mendekatkan wajahnya, memperlihatkan keningnya yang masih biru hingga jarak hanya beberapa senti dari wajah Amelia.
Amelia tertegun melihat wajah Ergan begitu dekat. Wangi citrus khas parfum mahal milik Ergan menyeruak di indra penciumannya.
Dug! Dug! Dug!
'Duh, jantungku, kenapa berdetak lebih kencang sih? Sepertinya aku harus check-up dirumah sakit biar nggak bahaya saat terbang.' Batin Amelia.
"Eh, jangan deket-deket!" Amelia mendorong dada Ergan tapi tubuh Ergan yang kekar tidak bergerak sama sekali.
"Kenapa kalau deket? Aku ingin kamu obati dan rawat lukaku ini sampai sembuh."
Ergan menunjuk dahinya, tapi maniknya yang hitam tidak bergerak dari bibir mungil Amelia.
"Om itu laki-laki apa bukan? Luka sekecil itu nggak perlu dirawat juga sembuh sendiri. Nggak usah cari kesempatan!" Kesal Amelia.
"Jadi, kamu nggak mau?"
"Ya nggak lah, malas banget!"
"Kalau kamu nggak mau obati lukaku, maka aku akan terus mengganggumu setiap hari." Ancam Ergan.
Tanpa sadar kini mereka sudah di depan rumah Ergan. Ergan segera menarik tangan Amelia untuk masuk kedalam rumahnya.
"Eh... main tarik-tarik aja, lepasin!" Berontak Amelia sambil menarik tangannya yang memegang bungkusan nasi goreng, sedangkan tangan yang satunya memukul tangan Ergan.
"Obati lukaku dulu, baru kamu pulang." Ergan terus menarik tangan Amelia hingga di depan pintu.
"Tapi aku lapar, aku mau makan. Besok-besok aja. Aku janji Om." Tolak Amelia berusaha mencari alasan.
"Aku maunya sekarang! kamu makannya dirumahku aja."
__ADS_1
"Tapi aku..."
"Nggak ada tapi-tapian! Ayo masuk!"
Ergan membuka pintu rumah kemudian menarik Amelia duduk disofa.
Amelia mengedarkan pandangannya ke dalam, rumah Ergan memang sangat mewah. Meskipun tipe rumah Ergan dan mesnya sama, tapi isi didalamnya sangat berbeda. Furniture dan design rumah Ergan sangat mewah dan berkelas. Amelia jadi penasaran, kenapa rumah sebesar ini tidak ada orang di dalamnya.
Apa mungkin mereka sudah tidur?
"Kemana orang-orang?"
"Kamu nggak liat aku?"
"Maksud aku selain kamu."
"Apa itu perlu?"
Amelia duduk disofa, meletakkan plastik nasi gorengnya di atas meja.
"Perlu lah, kalau nggak ada orang selain kita, lebih baik aku pulang!"
"Mereka sudah tidur." Ergan berbohong, dia tidak mau Amelia cepat pulang karena Ergan masih ingin lebih lama bersamanya.
"Oh."
Ergan melangkah menuju tangga kemudian berbalik melihat Amelia. Gadis itu masih berdiri memegang nasi goreng di dalam kantong plastik.
"Ngapain bengong? Kamu masuk aja kedapur." Ergan menunjuk dapur dengan dagunya.
"Ambil obat di kamar, kamu mau ikut?"
"Enggak, tapi jangan lama-lama. Aku takut sendiri."
"Kalau di jalanan nggak ada takut-takutnya. Tapi didalam rumah malah takut. Kamu takut apa?"
Tanpa menunggu jawaban Amelia, Ergan pergi menaiki anak tangga satu persatu. Setelah beberapa menit, ia kembali turun dengan membawa obat di tangannya.
"Takut kamu." Batin Amelia.
Amelia menuju dapur, ia bingung letak piring dan sendok serta gelas dimana. Dapur Ergan sangat bersih dan semua perlengkapan dapur dimasukkan ke dalam lemari kitchen set.
"Tempat piringnya dimana lagi?" Monolog Amelia sambil membuka lemari satu persatu, "Dasar manusia aneh, suka maksa dan memanfaatkan situasi." Gerutu Amelia kesal.
"Kamu mengumpat aku ya?" Ergan tiba-tiba muncul.
"Nggak Om! mana obatnya sini." Amelia mengadahkan tangganya. Dia harus cepat pulang agar nasi gorengnya tidak dingin.
Ergan menyipitkan mata melihat bungkusan nasi goreng diatas meja makan, "Kamu kenapa nggak makan?" Tanya Ergan.
"Dirumah aja, kalau disini, aku nggak bisa habisin semuanya."
__ADS_1
"Kalau makan di rumah, emangnya kamu sanggup habisin?"
"Ada temen-temen aku yang bantuin makan."
"Aku aja yang bantuin, sebentar." Ergan berdiri mengambil piring dan sendok, meletakkan diatas meja kemudian mengambil gelas dan mengisinya air minum. Ergan kemudian memindahkan nasi goreng kepiring lalu meletakkan di depan Amelia.
"Makanlah, aku tidak mau kamu sakit karena terlambat makan. Siapa yang akan merawat lukaku jika kamu sakit?"
'Idih, PD amat nih Om, siapa juga yang merawat lukanya. nggak layyaw.., tapi kenapa dia bisa jadi lembut dan perhatian gitu? Aku pikir dia sangat nyebelin dan pemaksa. Duh, ngapain juga aku mikirin dia? Hanya ngambilin makanan doang, itu hal biasa kali..!' Batin Amelia.
"Hei, kenapa melamun? Ayo makan."
"Nggak! mana obatnya?"
"Obatnya, Nanti aja setelah kamu makan."
Tidak mau berdebat lagi, Amelia memperbaiki posisi duduknya kemudian menikmati nasi goreng dihadapannya dengan lahap. Sedangkan Ergan yang duduk di sampingnya terus memperhatikan dan menelan saliva berkali-kali. Ingin rasanya
"Kamu juga mau makan?" Tanya Amelia.
"Enak nggak?"
"Enak banget, sana ambil piring."
"Itu aja. Aku cuma mau coba."
Amelia mengambil satu sendok lalu menyuapi Ergan. Ergan menyipitkan matanya ternyata nasi goreng yang dijual di pinggir jalan depan kompleksnya lumayan enak di lidahnya. Mungkin karena disuapi gadis cantik rasanya jadi lebih enak.
Satu, dua, tiga suap hingga satu piring nasi mereka habiskan berdua.
Ergan meminum sisa air di gelas Amelia membuat Amelia melotot.
"Itu bekas minumku, kamu nggak ilfil?"
"Nggak, rasanya kayak ada manis-manisnya."
"Iss.. Itu sih iklan air minum."
"Kamu tau nggak? kata orang, minum bekas minuman orang lain itu artinya secara tidak langsung kita sudah berciuman."
"Nggak! Jangan pikir yang aneh-aneh deh! Sini, berikan obatnya." Secepat kilat Amelia merampas obat dari tangan Ergan.
"Kenapa buru-buru? Baru juga selesai makan." Ergan mencoba mengulur waktu. Keberadaan Amelia di rumah ini sangat menghibur hatinya yang sedang dilanda gundah gulana dan merana.
"Andai kamu tahu, yang sebenarnya terluka itu hatiku. apa kamu mau mengobatinya?" Bathin Ergan.
"Aku harus istirahat, besok pagi harus berangkat kerja." Jelas Amelia sambil membuka tutup obat.
"Oh iya, kita belum kenalan." Ergan mengulurkan tangannya, "Ergan."
.
__ADS_1
.
Bersambung......