
#Pov Ergan.
Cahaya mulai masuk dari jendela menembus gorden yang tipis. Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak, baru kali ini aku tidur begitu pulas. Kuraba bantal dan tempat tidur disampingku dari atas kebawah mencari seseorang, namun kosong.
Dimana dia? gadis cantik yang telah kurenggut kesuciannya disaat dia tidak sadar dalam pengaruh alkohol. Dia pasti berpikir aku laki-laki bejat yang memanfaatkan situasi. Padahal bukan salahku sepenuhnya, aku sudah mencoba menahan hasratku untuk tidak menyentuhnya namun dia memaksaku menemaninya. Aku laki-laki normal, mana tahan melihat tubuh molek, mulus, dan seksi didepanku. Apalagi dia sudah menari-nari dipikiranku.
Aku mengumpulkan nyawaku yang masih belum utuh sepenuhnya, ku edarkan pandangan mencari wanita yang telah membuatku menggila dan menemaniku melewati malam panjang. Namun nihil, aku tidak melihatnya.
Mungkinkah dia di kamar mandi?
Aku berdiri dengan tubuh masih polos berjalan menuju kamar mandi. Memposisikan telinga pada daun pintu, namun tidak juga mendengar suara gemercik air. Dengan perlahan aku membuka pintu lalu memasukkan sedikit kepalaku.
Dia tidak ada.
Kemana dia? Kenapa dia pergi meninggalkanku? bahkan dia tidak mengucapkan satu katapun padaku. Dengan kesal aku menjambak rambutku penuh frustasi.
Aku tidak terima diperlakukan seperti ini!
Aku kembali duduk disisi tempat tidur dengan tangan mengepal. Mataku tak sengaja melihat bercak darah diseprei lalu aku tersenyum. Bangga karena menjadi laki-laki pertama bagi Amelia yang selama ini mulai mengusik hatiku.
Baru kali ini seorang wanita meninggalkanku setelah bercinta, ia bahkan tidak meminta apapun dariku, baik itu uang ataupun pertanggung jawaban. Biasanya wanita lain akan menggunakan kesempatan ini untuk menjeratku agar bersamanya lagi dan lagi. Tapi kenapa Amelia berbeda? Tidak satupun yang keluar dari mulutnya. Harga diriku sebagai laki-laki angkuh seolah di injak-injak olehnya.
Kenapa Amelia tidak menungguku bangun dan meminta pertanggung jawaban? Padahal tanpa ia mintapun aku pasti akan bertanggung jawab padanya dan memberikan apapun yang dia inginkan termasuk memenuhi semua kebutuhannya.
Aku mengingat matanya yang indah, tanpa melakukan apapun, ia sudah menggodaku hanya dengan tatapannya, meruntuhkan benteng yang tinggi yang telah aku bangun semenjak pisah ranjang dengan Riana.
Ya, aku tidak ingin jatuh cinta lagi. Lebih memilih melakukan one night stand bersama wanita di club dari pada harus terikat dengan pernikahan yang menurutku sangat mengekangku.
Bukankah aku sudah ... akkhh.. aku kesal pada diriku sindiri, mengapa aku tidak bisa mengontrol diriku. Bahkan aku tidak sempat menggunakan pengaman karena terlalu bersemangat. Aku sangat menikmati setiap lekuk tubuhnya yang indah, meninggalkan banyak jejak kiss mark disetiap inci tubuhnya, Entah bagaimana reaksinya saat melihatnya nanti.
Aku terkekeh geli membayangkannya. Wajah Amelia pasti menggemaskan saat kesal. Aku suka dengan itu.
Aku benar-benar laki-laki jahat, bagaimana jika dia hamil karena aku menitip benihku di rahimnya? Tanpa sadar aku telah menghancurkan masa depannya dan juga rumah tanggaku. Aku telah menghianati istri dan Anakku.
Tidak seharusnya aku melakukan itu pada Amelia.
Gadis cantik itu pasti semakin membenciku sekarang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pov. Author
Beberapa hari telah berlalu.
Ergan duduk melamum dikursi kebesarannya. Punggung kokohnya kini menempel di sandaran kursi. Menikmati posisi ternyamannya akibat kualitas terbaik dari kursi kebesarannya. Ia menautkan jari-jarinya diatas perutnya yang sixpeck sambil berpikir, 'bagaimana keadaan Amelia saat ini'. Ia bahkan melupakan keberadaan Tirta yang sudah satu jam duduk dihadapannya tanpa melakukan apapun.
Tirta menatapnya penuh selidik, ia sangat tahu jika Ergan saat ini sedang gelisah galau merana. "Butuh sesuatu bos?" Tanya Tirta kemudian menyesap kopi panas dihadapannya.
Ergan mendengus kesal, betapa ia tahu bagaimana Tirta mengenalnya dengan sangat baik. Tirta pasti dapat membaca dengan jelas ekspresi yang di keluarkan oleh wajah tampannya.
"Cari tau tentang keluarga Amelia Kirana, aku akan menikahinya dalam waktu dekat." Ergan tiba-tiba bersuara, raut wajahnya sangat serius dan tegas.
Byurr..!
Kopi yang diminum Tirta seketika tersembur dimeja kebesaran Ergan. Beberapa berkas yang terletak diatas meja berubah warna menjadi hitam.
Ergan melotot, memperlihatkan auranya yang menakutkan. Untung kopi Tirta tidak sampai ke wajahnya.
"Siapa yang becanda? gw mau serius akan menikahinya."
"Apa dia hamil dan meminta tanggung jawab lo?"
Ergan menggelengkan kepalanya. "Nggak, dia nggak pernah meminta apapun dari gw, bahkan saat itu dia pergi sebelum gw bangun, dan sampai sekarang gw belum pernah bertemu dengannya lagi, sepertinya dia sengaja menjauh dari gw."
"Hehehe... dia ninggalin lo? Baru kali ini ada partner ranjang lo pergi lebih dulu." Kekeh Tirta tidak percaya.
"Oh my god, Tir. Lo nggak percaya? yang lebih parahnya lagi gw yang pertama baginya, itu yang membuat gw merasa bersalah."
"Wow, nggak nyangka jaman modern kayak gini masih ada gadis menjunjung tinggi nilai moral. Tapi sayang dia bertemu laki-laki yang nggak bermoral kayak lo."
"Maka dari itu gw harus menikah dengannya sebelum semuanya terlambat."
"Apanya yang terlambat?"
"Gw takut dia hamil, Tir. Gw melakukannya tanpa pengaman." Ergan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Anjriit lo! Sungut Tirta.
"Makanya, lo bantu gw urus masalah ini."
"Jangan main-main, ini tidak semudah yang lo pikirkan. Bagaimana dengan keluarga besar lo, mereka nggak akan ngebiarin lo menikah lagi, lebih-lebih Rania, dia nggak mungkin rela dimadu."
"Gw sudah memikirkannya. Semua resikonya akan gw tanggung."
Tirta diam sejenak. Sebenarnya ia tidak setuju dengan rencana Ergan. Tapi mau gimana lagi, Ergan atasannya yang harus ia turuti.
"Gw pikir gadis itu hanya sebagian dari one night stand lo, ternyata gw salah. Kenapa lo begitu menginginkannya? Apa kalian sudah lama kenal?" Kali ini Tirta berani bertanya karena rasa penasarannya sudah menggunung.
"Lo serius pengen tau?"
"Kalau lo nggak jujur, gw nggak akan bantu lo"
"Oke, dia pramugari Butterfly Airlines yang tinggal di depan rumah. Kami sudah bertemu beberapa kali, ya, meskipun secara kebetulan."
"Hah!? jadi dia tetangga kita? salah satu pramugari itu? pantas saat di Club dia kelihatan sangat cantik dan berkelas. Sangat berbeda dengan wanita disana."
"Ya, gw aku dia memang cantik." Puji Ergan dengan wajah berbinar.
"Jangan bilang kepergian lo ke Singapore waktu itu juga bagian dari rencana lo, sengaja naik pesawat Butterfly Airlines hanya untuk bertemu dengannya. Ia kan?" Tebak Tirta.
"Tentu saja itu benar. Aku akan melakukan apapun untuk mendekatinya."
"Dasar licik!" Sungut Tirta sambil memukul meja kerja Ergan.
"Hehehe.... masih mau denger nggak?"
"Oke, lanjut!"
.
.
Bersambung......
__ADS_1