Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
First Kiss


__ADS_3

Amelia tidak membalas, ia sibuk meletakkan krim obat di tangannya. Manik mereka saling bertemu dengan jarak begitu dekat. Detak jantung Amelia semakin cepat dan tidak beraturan, wangi parfum Ergan seolah menenangkan tapi juga memabukkan.


Dag dig dug!


"Maaf." Satu tangan Amelia diangkat menahan dagu Ergan lalu mencapitnya dengan dua jari, sedangkan tangan yang lain mengoles krim pada kening Ergan.


Amelia mengusap luka Ergan dengan krim lalu meniupnya dengan perlahan.


Ia tidak sadar jika posisinya saat ini sangat berbahaya untuknya.


Ergan tertegun, ada sesuatu yang menghangat dihatinya. Meskipun Amelia terpaksa mengobatinya, tapi Amelia begitu lembut saat menyentuh kulitnya. Seandainya bisa meminta, Ergan ingin tetap berada di posisi ini. Menahan Amelia agar tetap bersamanya malam ini. Tapi itu tidak mungkin, Amelia akan pergi setelah memberinya obat.


'Cantik, ah... aku bisa gila jika berdekatan dengan gadis ini.' Batin Ergan.


Tatapan mata Ergan begitu dalam, Ingin rasanya Ergan mencicipi bibir mungil Amelia saat itu juga. Fantasi liarnya sudah tidak bisa ia tahan. Sesuatu dibawah sana juga sudah menegang dan minta dipuaskan.


Wajahnya mulai memerah menahan gairah, sungguh! ini sangat menyiksanya. Ia semakin mendekatkan wajahnya kemudian mencium Amelia dengan lembut, memenahan tengkuk Amelia lalu menggigit sedikit gemas bibir Amelia, saat Amelia memberi celah, ia memperdalam ciumannya dan mengabsen setiap inci didalamnya. Ciuman yang awalnya sangat lembut, lama kelamaan menjadi semakin rakus dan menggairahkan.


Tubuh Amelia menegang, sesuatu kini terjadi tanpa ijin darinya. Ciuman yang begitu lembut dari pria yang yang dapat menghipnotis dirinya untuk tidak melawan. Menikmati setiap gerakan yang membuat tubuhnya juga menginginkan lebih. Anehnya, dia ingin menolak tapi tubuhnya menerima dan ikut terbuai.


"Mmmhh.." Amelia memukul dada Ergan karena hampir kehabisan napas.


"Bernapas bodoh! Kau mau mati ya?" Kesal Ergan karena Amelia tidak bernapas di sela pagutannya. Ia tidak menyangka jika Amelia masih sangat polos dalam hal ciuman, padahal Amelia wanita modern dan sangat cantik. Pasti banyak laki-laki yang tergoda dengannya. Dunianya juga bergaul dengan kalangan atas. Satu pertanyaan yang membutnya semakin penasaran. Mengapa saat ciuman dia sangat payah, apa ini baru untuknya? Ah, tidak mungkin.


Plak!


Amelia menampar pipi Ergan setelah sadar apa yang baru saja mereka lakukan, ia lalu mengelap bibirnya yang basah dan kebas. Ia berdiri kemudian segera pergi meninggalkan rumah Ergan tanpa pamit dengan mata berkaca-kaca.


"Amel." Panggil Ergan sambil memegang pipinya yang kebas.


Ergan tahu nama Amelia karena mendengar saat satpam menyebut nama 'Neng Amel'.


Amelia terus berjalan tanpa menoleh dan mendengar panggilan Ergan.


"Arghh..!" Teriak Ergan dengan frustasi.


Ergan mengusap kepala dan wajahnya dengan kasar. Ia merasa bersalah pada Amelia, tidak seharusnya ia melakukan hal itu padanya mengingat mereka baru bertemu.


"Siall! ada apa denganku? Kenapa hanya berdekatan dengannya aku mudah on dan tak terkendali?" Monolog Ergan kemudian masuk kamar menuju kamar mandi.


Sepertinya dia harus menyelesaikannya sendiri.


.........

__ADS_1


Amelia masuk kedalam rumah, ia menghapus air matanya terlebih dahulu, agar temannya tidak melihatnya. Setelah itu, ia langsung masuk ke dalam kamar, Ia melirik Karmen yang sudah terlelap entah sejak kapan. Matanya kembali berkaca-kaca, mengeluarkan setetes air bening dari bola matanya. Ia tidak terima dilecehkan oleh Ergan.


"Dasar Omes! kurang ajar! siapa dia? main nyosor aja!" Gerutu Amelia tak terima.


"Ishh..." Amelia langsung bergidik.


"Brengsek, My first kiss! Dia mengambil tanpa ijin."


Tak henti-hentinya mulut Amelia mengumpat. Bayangan Ergan terus berputar diotaknya. Amelia memegang bibirnya yang masih kebas, ia kembali mengingat bagaimana Ergan menikmati bibirnya seperti makan permen kapas yang manis.


Betapa ciuman Ergan sangat memabukkan dan menggairahkan.


"Ih.. kenapa juga aku menikmatinya? Aku harap tidak bertemu lagi dengannya. Mau ditaro di mana mukaku ini jika berhadapan dengannya. Benar-benar memalukan!"


Monolog Amelia kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Subuh dini hari Amelia masih terlelap dalam mimpi indahnya. Karmen sudah bangun, ia sudah mandi kemudian mendekati ranjang lalu menggelitik telapak kaki Amelia. Sudah kebiasaan Amelia harus dibangunkan karena penyakit insomnianya.


Dring.. dring.. dring..!


Bunyi suara alarm di ponsel Amelia tidak mampan membuatnya bangun. Ia hanya meraih dan menggeser layarnya kemudian kembali memperbaiki posisi tidurnya.


"Mel, bangun! sudah jam berapa ini?"


"Aku masih ngantuk!" Rancau Amelia setengah sadar.


"Ayo bangun, nanti kita telat ke airport."


"Takkan lari airport dikejar, say..!" Rancau Amelia kembali membuat mata Karmen melotot.


"Dasar pemalas! Airport memang tidak lari meski dikejar, tapi pesawatnya yang terbang jika kita terlambat! kita akan ketinggalan, O on...!" Geram Karmen kemudian membuka selimut Amelia dan menarik tangannya.


"Hehehe.. Lima Menit deh..!" Lirih Amelia.


"Nggak ada lima menit, Ayo bangun! makin ngaur aja omongan lo. Cepetan..!"


Karmen memang sangat disiplin waktu. Beruntung Amelia yang dasarnya jam karet bisa bersahabat dengannya. Jadi dia tidak pernah terlambat kebandara.


Amelia bangun dengan wajah di tekuk, rambut berantakan dan mata setengah terbuka menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit di kamar mandi, Amelia keluar kemudian memakai seragam pramugarinya, berdandan tipis dengan alat make-up brand ternama kemudian merapikan rambutnya dengan mencepol keatas.

__ADS_1


Setelah mereka siap, mereka berempat pun berangkat ke airport diantar oleh Pak Asep.


................................


Dibandara.


Dibandara Sukarno Hatta International, Amelia dan teman-temannya, Karmen, Sindi dan Citra menarik koper menuju pesawat melalui jalur khusus untuk kru pesawat. Setelah naik kedalam pesawat dan meletakkan koper masing-masing, mereka mulai melakukan tugasnya sebagai pramugari. Mengecek semua kebutuhan dan keamanan selama pesawat terbang.


Setengah jam lagi pesawat akan take-off. Para penumpang yang sudah chek-in mulai memasuki pintu pesawat.


Sindi menyambut penumpang dipintu masuk, sedangkan Citra di pintu belakang.


"Selamat pagi." Sapa Sindi dan Citra kemudian mengecek tiket penumpang.


"Silahkan." Ujar Sindi dan Citra sambil menunjuk letak nomor kursi penumpang.


Setelah penumpang masuk, Karmen dan dua awak kabin yang lain membantu penumpang untuk meletakkan koper yang berukuran tujuh belas sampai dua puluh inc diatas kabin pesawat.


Pintu pesawat tertutup, seluruh penumpang sudah duduk dikursi sesuai dengan nomor kursi masing-masing. Citra dan Sindi berjalan mengecek safety belt apakah sudah dipasang dengan benar. Jika ada yang kesulitan, maka mereka akan membantunya dengan senang hati.


Setelah pemeriksaan sudah selesai, Amelia mulai membacakan announcement dan prosedur keamanan selama mereka akan melakukan perjalanan untuk penumpang.


"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan BT737 dengan tujuan Singapura. Penerbangan ke Singapura akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam dan empat puluh lima menit, dengan ketinggian jelajah tiga puluh lima ribu kaki diatas permukaan laut.


Perlu kami sampaikan bahwa penerbangan BT-737 ini tanpa asap rokok. Sebelum lepas landas, kami persilahkan kepada anda untuk menegakkan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka dihadapan Anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela.


Atas nama Butterfly air, kapten Bambang Prayoga dan seluruh awak kabin yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama kami."


Kemudian Amelia mengulangnya dengan menggunakan bahasa inggris.


"Daer passengers, welcome to BT-737 flight to Singapore. Flights to Singapore will take us with in one hour and forty five minutes, with a cruising altitude of thirty-five thousand feet above sea level.


We need to inform you that BT-737 flight is without cigarette smoke. Before take off, we invite you to hold in chair back, close and lock the small tables that are still open in front of you, tighten the seat belt, and open the window cover.


On behalf of Butterfly air, captain Bambang Prayoga and all the crew on duty congratulated this flight, and thank you for your choice to fly with us."


Setelah itu Citra dan Karmen memperagakan alat keselamatan penerbangan dalam pesawat di kelas ekonomi, sedangkan Amelia dikelas bisnis. Seperti, mengencangkan seat belt, memasang masker oksigen, pelampung, serta menginformasikan berapa dan dimana letak pintu darurat.


Tanpa Amelia sadari Ergan menatap tubuhnya tanpa berkedip di balik kaca mata hitamnya. Ia sama sekali tidak perduli dengan apa yang diperagakan Amelia, baginya Amelia sedang menari dihadapannya.


Benar-benar otak omes nih Ergan!


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2