
Amelia mengambil ponselnya kemudian memperlihatkan foto dan video pernikahannya pada Karmen.
Karmen membulatkan mata, netranya melirik Amelia kemudian kembali fokus pada layar ponsel. Ia menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya jika sahabatnya benar-benar menikah dengan Ergan.
"Lo benaran menikah dengan Ergan?" Tanya Karmen.
"Seperti yang lo liat."
"Pernikahan lo sangat mewah, sayang banget hanya dihadiri beberapa orang saja."
"Sekarang lo percayakan?"
"Ia deh.. percaya gw. Pantesan selama ini lo sering menghilang, ternyata lo pergi dengan Tuan arogan itu. Eh, tunggu! bukannya lo nggak suka dia? kok bisa lo mau diajak nikah?" Tanya Karmen.
"Terpaksa, tapi sekarang sepertinya aku sudah jatuh cinta. Setelah menikah dengannya, perlahan-perlahan rasa cinta ku pada Heri menghilang. Dia menyembuhkan luka yang masih menganga akibat perselingkuhan Heri."
"Apa lo bahagia menikah dengannya?"
"Hmm..."
Karmen menghela napas lega. Kini Karmen tidak khawatir lagi jika Amelia berhenti bekerja, setidaknya sudah ada suaminya yang mendampingi dan membiayai hidupnya. Menurutnya Ergan pria yang baik dan royal, hanya saja sikapnya yang arogan dan tegas membuatnya tampak menakutkan.
"Kalau lo bahagia, gw juga ikut bahagia. Selamat ya atas pernikahan lo, semoga kalian cepat dapat momongan. O iya, setelah lo resign, rencananya lo tinggal dimana?"
"Di Royal Apartemen."
"Hah?! Ciuss? Apartemen paling mewah dikota ini? gila beruntung banget lo dapet sultan!" Seru Karmen membulatkan mata karena terkejut.
"Jangan lebay deh...! biasa aja kali responnya."
"Gimana nggak kaget, pagi ini terlalu banyak kejutan yang lo berikan, gw sampai jantungan dengernya, untung belum pingsan. Jangan lupa kirim nomor unitnya ke gw. Kapan-kapan gw mampir deh ke apartemen lo."
"Siippp, gw mandi sebentar ya." Amelia menuju kamar mandi tidak lupa membawa handuk masuk kedalam.
Setelah lima belas menit, Amelia sudah selesai membersihkan diri. Ia memakai pakaian formal, kemeja lengan panjang warna krem dipadukan rok spam selutut dengan warna senada, tidak lupa memakai riasan tipis diwajahnya dan high heels.
"Sudah, ayo kita sarapan." Ajak Amelia kemudian mereka turun dari lantai dua menuju meja makan bersama Karmen.
"Pagi Citra, Sindi." Sapa Amelia.
"Pagi juga Mel, lho kok lo nggak pakai seragam? lo mau kemana?" Tanya Citra.
__ADS_1
"Cuma ke kantor pusat urus kontrak kerja." Jawab Amelia.
"Alasan! dia itu sibuk layanin Om-om di bar. Tadi malam aja pulangnya jam tiga. Perempuan apaan yang pulang jam segitu." Sela Sindi dengan ketus sambil menikmati sarapannya.
"Ck, lo kalau nggak tau apa-apa nggak usah nyolot, urus aja urusan lo sendiri. Kayak perempuan bener aja lo." Balas Karmen tidak terima Amelia diejek di depan matanya.
Setelah sarapan mereka menuju ruang tamu menunggu Pak Asep.
Pak Asep mana sih! lama banget." Gerutu Sindi.
"Sabar dikit kenapa? mungkin kena macet di jalan." Balas Citra.
Tidak lama kemudian Ergan datang berjalan kaki dengan setelan jas kerjanya.
Saat melihat Ergan dari jendela rumah, Amelia tersenyum manis. Ia segera membuka pintu rumah dan keluar menemuinya.
"Sudah siap?" Tanya Ergan dengan lembut dan tersenyum manis.
"Sudah, sebentar aku ambil tas dulu." Amelia masuk ke dalam mengambil tasnya di meja.
"Siapa yang datang? " Tanya Karmen.
"Ergan." Jawab Amelia kemudian kembali keluar rumah.
"Kirain siapa ternyata pacar kere lo." Sindir Sindi memperhatikan pakaian Ergan dari atas hingga ke bawah. Dia memang akui penampilannya berkelas, tapi Ergan tetap aja jalan kaki.
"Hus, apaan sih lo!" Sentak Karmen.
"Lho, emang bener kan? penampilan sih ok, pinjem dari mana setelan kerja kayak gitu? pasti kamu tukang kredit panci kan?" Cibir Sindi membuat Ergan menatapnya dengan dingin dan datar.
Baru saja Karmen ingin membalasnya, tapi tangannya di tarik oleh Amelia agar diam.
"Kenapa lo? mau bela dia?" Tantang Sindi dengan menunjuk wajah Ergan, baru kali ini ada orang yang berani menghinanya, bahkan menunjuk wajah Ergan dengan kasar.
"Mbak, saya tidak mengenal dan memiliki urusan dengan anda, tapi kenapa sepertinya anda begitu membenci saya?" Tanya Ergan masih bernada sopan. Tapi dia tidak terima dikatakan meminjam setelan jas dan tukang kredit panci.
Emang ada tukang kredit panci pakai setelan jas bermerek yang harganya ratusan juta?
Benar-benar menurunkan harkat dan martabat Ergan sebagai CEO bertangan dingin yang mampu memenangkan tender milyaran rupiah hanya dalam beberapa menit.
"Karena kamu itu nggak selevel dengan kami, level kami itu pria yang terhormat, bukan pria miskin seperti kamu, jemput Amelia sok pakai jas tapi perginya naik taksi online, miris banget hidup lo Mel, kayak nggak ada laki-laki lain aja?" Ketus Sindi sambil melipat tangannya diatas dada.
__ADS_1
Ergan tidak habis pikir dengan cara berpikir Sindi. Seburuk itukah pria miskin dihadapan gadis cantik ini? Beruntung dia mendapatkan Amelia, gadis polos yang tidak menilai orang dari harta dan kedudukannya. Gadis yang sangat sopan dan santun pada semua orang termasuk satpam kompleks.
"Sayang..? kamu tidak keberatan dengan statusku kan? meskipun aku miskin kamu tidak akan meninggalkan aku kan?" Ergan menangkup wajah Amelia, netranya menatap tajam mencari kejujuran di balik bola mata indah Amelia.
Amelia hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Sindi kembali mencibir.
"Ck, sekarang aja masih sayang-sayang, lo nggak tau kalakuan Amelia yang suka ke club dan pulang tengah malam kan?" Cibir Sindi.
"Sindi diam! miskin atau kaya itu urusan gw. Berhenti menghina suami gw!" Bentak Amelia. Telinganya sudah kepanasan mendengar ocehan tidak bermutu dari mulut pedas Sindi. Dia tidak terima suaminya dihina, tapi yang membuat dia heran kenapa Ergan hanya diam saja. Tidak melawan atau membentak seperti biasanya.
"Apa? su.. suami?" Serentak Citra dan Sindi.
"Hahahaha... jadi kalian sudan menikah? kalian cocok banget, sama-sama hidup pas-pasan!" Ketus Sindi.
Tidak lama kemudian Asep datang. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu membuat semuanya menoleh. Asep segera turun saat melihat Ergan berada diantara pramugari itu.
"Pak Ergan..! anda di sini?" Sapa Asep sedikit menunduk pada Ergan.
Semuanya tercengang melihat Asep menundukkan kepala tidak berani mengangkat wajahnya menatap pria yang berdiri tegap dihadapannya.
Asep mengenal Ergan karena Ergan adalah rekan bisnis pemilik Butterfly Airlines. Asep sering mengantar bosnya bertemu dengan Ergan dan Tirta. Makanya tidak heran jika mereka saling mengenal.
"Saya kesini menjemput istri saya, Sep!" Sahut Ergan membuat Asep sedikit terkejut.
Asep mengangkat wajahnya menatap Karmen, Sindi, Citra dan Amelia secara bergantian. Ia bingung yang mana istri Ergan diantara mereka. Menurutnya, mereka sama-sama cantik dan baik, tapi yang paling baik adalah Amelia.
"Amelia istri saya." Lanjut Ergan melihat kebingungan Asep.
"Oo.. neng gelis Amel istrinya Bapak?" Asep membeo, ia berpikir sejak kapan mereka menikah.
Tidak lama kemudian Tirta datang menjemput Ergan ke kantor. Saat masuk di halaman rumah Ergan, ia melihat Ergan berdiri di depan mes bersama Amelia dan teman-temannya.
Kebetulan sekali, pucuk dicinta ulam tiba, ini kesempatan Tirta berkenalan dengan mereka.
Tirta pun menyusul kemudian memarkirkan mobilnya di belakang mobil Asep. Tirta segera turun dari mobil Bantley hitam milik Ergan. Pria tinggi tegap dan tampan dengan setelan jas itu membuat tiga gadis itu tergagu tak berkedip.
"Siapa lagi ini?" Batin Karmen, Citra, dan Sindi.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....