
"Sangat suka Dad, ini kado terindah yang Aqilah dapatkan hari ini. Terimakasih, aku sayang Daddy." Aqilah berhambur memeluk Ergan hingga menyadari ada anak yang lebih kecil darinya digendong oleh Ergan.
"Ini siapa Dad?" tanya Aqilah dengan wajah polosnya.
"Ini anak Tante cantik. Aqilah panggil dede Azka, Lucu ya?" Ergan mengelus pipi Azka.
Aqilah ikut mengelus pipi Azka kemudian tiba-tiba menciumnya.
"Dede' Azka..!" panggilnya dengan lembut.
"Halo Kak Kia..." Ergan meniru suara anak kecil sambil melambaikan tangan Azka.
"Ihh, lucu banget Dad." Aqilah gemas ingin mencubit pipi Azka.
Azka hanya diam lalu berbalik menunjuk balon.
"Dad, Sepertinya dede Azka mau balon, kita kesana yuk! Tante cantik juga ikut. Ayo!" Seru Aqilah dengan mata berbinar-binar. Rasa bahagianya bertambah dengan kedatangan Amelia dan Azka, meskipun Aqilah belum tahu hubungan mereka yang sebenarnya karena Ergan belum sempat mengatakannya.
Aqilah menarik tangan Amelia menuju panggung acara membuat Rania semakin meradang tidak terima.
Ergan memberikan satu balon agar Azka tenang.
Acara ulang tahun dimulai dengan suara MC, sorak nyanyian dan tepuk tangan menggema didalam ruangan. Aqilah meniup lilinnya, memotong kue kemudian menyuapi kue pertamanya pada Ergan dan Azka yang digendongnya kemudian Rania, selanjutnya Aqilah memotong kue untuk Amelia, Karisma, Andreas, dan Brian.
Wah, banyak banget ya? untung kue ulang tahunnya besar dan tersusun tiga menyerupai istana hingga semuanya bisa kebagian.
Suara tepuk tangan kembali menggema. Acara inti sudah selesai, kini semua tamu undangan menikmati makanan yang sudah disediakan di beberapa meja panjang.
Azka mulai bermain bersama Aqilah, wajahnya ceria menikmati pesta yang ramai dengan anak-anak, semua teman sekolah Aqilah diundang, saudara terdekat, dan anak rekan bisnis Andreas, Ergan dan Brian.
Rania yang melihat kedekatan anak kandungnya dengan orang lain semakin kesal. Ia tidak terima jika Amelia menggantikan posisinya dalam hidup Ergan dan Aqilah. Tanpa sadar tangannya menggenggam gelas berisi minuman hingga pecah.
"Aww...." pekik Rania meringis hingga setetes darah jatuh ke lantai.
Rania segera berlari menuju toilet sambil memegang lukanya dengan tangan yang lain. Buru-buru Rania menyiram lukanya yang berdarah, setelah berhenti menetes, ia menyeka dengan tisu kemudian mengambil plaster obat di tasnya. Merasa cukup aman, ia kembali masuk kedalam ballroom. Tidak ada satu orangpun yang menyapanya bahkan mereka tidak menganggap kehadirannya. Ia semakin terasingkan dipesta anaknya sendiri.
__ADS_1
Aqilah seibik bermain dengan Azka, Amelia mengobrol dengan Karisma. Andreas, Ergan dan Brian sibuk menyapa rekan bisnisnya yang datang bersama keluarga.
"Jika tau kayak gini, buat apa aku datang kesini? Emang enak dikacangin?" gerutu Rania pada dirinya sendiri, "awas kamu Amelia, rupanya kamu belum jera dengan apa yang sudah aku lakukan padamu. Bersiaplah hidup menderita dengan anakmu itu," lanjutnya dengan mengepalkan kedua tanggannya.
"Isshhh..." Rani kembali meringis merasa perih pada bagian luka ditangannya. Ia memilih duduk menikmati makanan diatas meja seorang diri dari pada bergabung dengan Aqilah.
Tatapan mata Rania tajam pada Amelia, hatinya berkabut kebencian yang membara. "Ih, apa bagusnya sih wanita itu, gaya pakainnya aja seperti upik abu. Bisa-bisanya Ergan bucin dengan perempuan kampungan itu." Monolog Rania sambil mengaduk minumannya dengan sedotan hingga tumpah terkena bajunya.
"Dasar perempuan pembawa siial! hidup gw nggak tenang sejak melihatnya di pesta ini," kesal Rania kembali menuju kamar mandi.
......................
Ergan Berbicara serius dengan kliennya, sesekali matanya melirik ke arah Amelia dan Azka. Melihat kedua anaknya sangat bahagia, hatinya ikut senang. Ini adalah pemandangan yang sudah lama diimpikannya. Memiliki keluarga yang utuh dan bahagia, saling mengasihi dan menjaga satu sama lain. Apalagi kedua orang tuanya sudah merestui dirinya dan Amelia. Ergan berencana akan mengadakan pesta pernikahan yang megah untuk Amelia setelah bicara dengan Aqilah.
Ergan mulai berpikir kapan waktu yang tepat untuk bicara dengan Aqilah. Ergan harus memberi penjelasan yang tepat dan tidak melukai perasaannya agar bisa menerima kehadiran Amelia dan Azka dalam hidupnya.
"Maaf, aku kesana sebentar, silahkan dinikmati pestanya," pamit Ergan pada rekannya kemudian menghampiri Amelia.
Ergan mengelus kepala Amelia yang memakai hijab. Ia menarik kursi kemudian duduk disampingnya.
"Mama ajak Azka ke rumahnya, gimana Mas?" jawab Amelia kemudian kembali bertanya.
"Besok aja Mah, sekalian saya mau bicara dengan Aqilah. Aqilah tinggal bersama mama untuk sementara waktu ya? sampai dia bisa menerima kehadiran Amelia dan Azka dalam hidupnya," ujar Azka.
"Iya, itu tidak masalah. Nanti Mama juga coba bicara dengannya, mudah-mudahan dia dapat menerimanya. Lihat saja mereka disana. Sudah seperti lama kenal padahal baru beberapa menit yang lalu. Darah memang lebih kental daripada air," ujar Karisma melihat kearah Aqidan Azka bermain.
"Wahh, kayaknya ada seru nih!"
Suara Brian muncul dari belakang Ergan. Tanpa permisi menarik kursi kemudian ikut bergabung. Ia mengambilnya piring kemudian mengisinya dengan makanan.
"Mel, kok nggak makan? Mas ajakin makan tuh, masa makan sendiri," ujar Brian.
"Terimakasih." Amelia mengambil piring kemudian mengambil makanan.
"Aku pikir kamu sudah makan dengan Mama, ternyata belum. Maaf sayang, Mas nggak tahu. Sekarang makanlah." Ergan ikut mengambilkan makanan kepiring Amelia.
__ADS_1
"Sudha cukup Mas, ini kebanyakan."
"Nggak apa-apa kamu harus banyak makan biar ada tenaga."
"Ck." Brian berdecak kesal.
"Makanya cepat nikah biar nggak baperan," ejek Ergan.
"Gimana mau nikah kaalau calonnya di tikung abang sendiri," batin Brian.
"Nanti ada waktunya. Mungkin calon istri Brian masih cabe-cabean." Dengan santainya Brian berucap tanpa beban.
"Hahahaha...." Serentak semuanya tertawa tak terkecuali Amelia, dengan susah payah ia menelan makanannya agar tidak tersedak.
"Hus.. jangan bercanda, Amelia hampir keselek gara-gara kamu."
"Itu kenyataan Mah, buktinya wanita yang Mama bawa nggak ada yang cocok dengan Brian."
"Bukan nggak cocok, tapi kamu punya seribu cara untuk menolak mereka. Dengan alasan inilah, itulah, ah... Mama jadi pusing mengingatnya." Karisma memegang pelipisnya mengingat keisengan Brian setiap kali berkencan dengan wanita pilihan Karisma. Sekarang Karisma sudah pasrah, terserah kapanpun Brian ingin menikah dia sudah tidak mau memaksanya lagi.
"Ayolah Mah.. dari sekian banyak wanita yang Mama tawarkan nggak ada seperti Amelia." Brian melirik Amelia, membuat dirinya mendapatkan tatapan tajam dan sengit dari Ergan.
"Santai Bro! itu hanya perumpamaan agar Mama lebih teliti lagi dalam menyeleksi." Brian menepuk pundak Ergan untuk menenangkan singa yang sudah menampakkan taringnya.
Pletakkk!
Bukannya tenang Ergan malah menyentil dahinya dengan garpu.
"Kak, jorok!" protes Brian sambil memegang dahinya kemudian menyekanya dengan tisu.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1