
## Flashback-on ##
"Brengsek lo! beraninya lo bohongin gw selama tiga tahun! hah?! lo mau mati?"
"Sorry bos, gw nggak tega melihat wanita cantik lagi hamil sedang menangis sambil memohon. Gw juga punya perasaan dan rasa iba."
"Kurang ajar! berani lo muji istri gw?" Ergan memukul lengan Tirta dari arah belakang, membuat Tirta reflek memegang lengannya.
"Aww.. sakit bos! gw nggak muji tapi itu nyatanya." Tirta meringis sambil mengelus lengannya yang memegang setir mobil.
"Lo gw pecat sekarang!" Geram Ergan.
"Hah?! dipecat sekarang nih bos? nggak bisa besok setelah jemput Tuan muda Azka dan Nyonya Amelia?" Tirta menanggapinya dengan bercanda membuat Ergan melengos kesal.
Mana mungkin Ergan memecat Tirta, mereka kan best friend forever.
Mereka kembali ke Jakarta menaiki Private jet milik Ergan. Mereka harus menghadiri meeting pukul sebelas pagi di salah satu hotel bintang lima. Beberapa proyek yang di Singapore sudah selesai, termasuk proyek dari Mr. Roland.
Selesai meeting Ergan duduk di kursi kebesarannya. Punggung kokohnya kini menempel pada sandaran kursi. Pandangannya lurus kedepan menatap Tirta dengan tajam dan dingin, menautkan jari-jarinya diatas perutnya yang sixpeck sambil berpikir hukuman apa yang tepat untuk asistennya yang menyebalkan itu.
Ergan mendengus kesal, betapa ia masih marah pada Tirta saat ini. Tirta pasti dapat membaca dengan jelas ekspresi yang di keluarkan oleh wajah tampannya.
"Gw keluar dulu bos " Tirta pamit untuk keluar. Belum juga sempat membuka pintu, Ergan sudah memanggilnya untuk tetap di ruangan itu.
"Mau kemana?" Tanya Ergan.
"Lari dari muka bumi ini bos!" Batin Tirta, mana berani dia mengatakan itu kecuali dia kesal. Tapi kali ini dia sangat bersalah. Ah, Tirta bingung harus berbuat apa untuk menghindari kemarahan bosnya.
"Tetap berdiri disana!" Perintah Ergan membuat Tirta semakin tidak tenang.
"Siapapun, tolong gw.." Batin Tirta.
Tok.. tok.. tok...
Pintu diketuk dari luar membuat Tirta langsung bernapas dengan lega. Sedangkan Ergan menoleh kepintu melihat siapa yang akan masuk.
"Permisi Pak, ada Ibu Rania di..." Belum selesai Ayu bicara Rania sudah muncul dibelakangnya.
"Keluarlah." Perintah Ergan pada Ayu.
__ADS_1
Kini pandangannya tertuju pada Rania, wanita itu datang dengan penampilan seksi yang sangat menggoda iman. Ia tampak lebih cantik dengan balutan dress selutut tanpa lengan berwarna peach dipadukan dengan high heels senada.
"Mau apa lagi kamu?" Tanya Ergan dengan raut wajah datar dan dingin.
"Cuma menjenguk mantan suamiku, apa dia baik-baik saja setelah aku pergi. Dan ternyata wow..! jauh lebih baik dan sukse. Tapi sayangnya masih betah menduda dan kesepian." Jawab Rania dengan santai.
"Ck." Ergan berdecak, kedatangan Rania saat ini semakin membuatnya marah.
Rania berjalan menghampiri meja Ergan. Tapi melihat Tirta juga ada di sana membuatnya kesal karena Tirta tidak memberi mereka ruang untuk berduaan.
"Ngapain kamu disini? emang nggak ada pekerjaan yang bisa kamu lakukan?" Ketus Rania.
"Ini saya lagi kerja. Disuruh sama bos berdiri dihadapannya," Balas Tirta, semenjak Ergan dan Rania bercerai, tidak ada lagi rasa hormat pada Rania yang selalu membentak dan memerintahnya sesuka hati.
Ergan menyunggingkan senyum tipis, sudut bibirnya melengkung keatas, namun dengan cepat ia mengembalikan raut wajahnya yang datar. Tirta memang tahu jika dirinya tidak mau ditinggal berdua dengan Rania.
Tanpa memperdulikan Tirta, dengan tidak tahu malunya Rania menghampiri Ergan, mencondongkan tubuhnya dihadapan Ergan memperlihatkan belahan gunung kembarnya seraya memajukan wajahnya untuk mencium bibir Ergan.
"Apa yang kamu lakukan Rania!" Sentak Ergan mundur seketika, tangannya mendorong meja, roda kursinya berputar mundur menjauh hingga di dinding ruangan.
Prrttt...!
"Aku hanya ingin menciummu, sok jual mahal! Bilang aja kamu kesepian dan butuh belaian. Aku nggak keberatan jika kamu menginginkannya." Rania kembali mendekati kursi, belum sempat Ergan beranjak, Rania lebih dulu duduk dipangkuannya.
"Rania, berhenti! apa yang kamu lakukan? kita bukan suami istri lagi, menyingkir!" Ergan mendorong Rania, tapi Rania mengalungkan kedua tangannya di leher Ergan.
"Nggak usah munafik sayang..! Dulu sebelum menikah juga kita sering melakukannya. Apa bedanya sekarang?"
Ergan melirik Tirta seolah meminta pertolongan, tetapi Tirta sedang sibuk dengan ponsel ditangannya sambil tersenyum puas. Bahkan mulutnya berbentuk huruf O saat Rania membeberkan rahasianya dimasa muda.
"Brengsek lo Tir, gw tambahin hukuman lo." Geram Ergan.
"Nikmati aja bos! mumpung gratis, nggak bayar." Ejek Tirta kemudian menyimpan ponselnya, menurutnya sudah cukup mengerjai Ergan hari ini.
"Minggir Rania, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku." Tegas Ergan sambil menyingkirkan tubuh Rania dari pangkuannya.
"Baiklah sayang...." Rania berdiri disamping Ergan, menatap bangunan gedung-gedung ibu kota dari kaca jendela, "Aku butuh uang lima milyar untuk buka usaha butik. Kamu bisakan berikan untukku?"
"Ck, kamu pikir kamu siapa, hah?! ingat kita sudah bercerai dan kamu nggak punya hak meminta uang lagi padaku. Satu lagi, aku bukan duda karena aku masih punya istri!" Tegas Ergan. Mana mungkin Ergan memberikan uang sebanyak itu pada Rania.
__ADS_1
"Istri? hahahaha... istri yang mana? Amelia yang pergi meninggalkanmu dan tidak pernah kembali itu? Ck, dia pasti sudah bahagia dengan orang lain, sedangkan kamu... kamu hanya sampah baginya." Ejek Rania.
"Wah... tuh mulut lentur banget, udah kayak karet elastis aja." Sela Tirta diantara perdebatan mereka.
"Pergi kamu Rania!" Bentak Ergan sengan intonasi tinggi.
"Kamu mengusirku?"
"Kenapa tidak! dipikiran kamu hanya uang, uang dan uang! Kapan kamu memikirkan Aqilah? sedikitpun kamu nggak penah menanyakan kabarnya. Kamu hanya datang dan pergi sesuka hati. Kamu pikir dia itu siapa, hah? dia anakmu. Meskipun kita sudah bercerai, dia juga masih butuh kasih sayangmu. Tir, panggil security mengusir wajita ini." Geram Ergan. Ia sudah muak dengan tingkah Rania yang tidak berhenti memerasnya.
Tirta langsung menghubungi security untuk keruangan Ergan. Tidak lama kemudian, dua orang berseragam satpam masuk kedalam ruangan Ergan.
"Usir wanita ini dari hadapanku, dan jangan biarkan dia masuk kedalam perusahaan ini lagi. Jika aku melihatnya kembali, maka kalian yang akan saya pecat!". Tegas Ergan membuat kedua satpam itu gemetar.
"Nggak, kamu nggak boleh perlakukan aku seperti ini Ergan!" Rania memberontak melepaskan tangannya saat kedua satpam menarik pergelangan tangannya untuk ikut keluar dari ruang Ergan.
"Lepaskan, kalian tidak tau siapa saya, hah?!"
"Sudahlah bu! Jangan memaksa kami melakukan kekerasan. Lebih baik ibu pergi sekarang." Ujar salah satu satpam.
"Ergan, aku nggak terima diperlakukan seperti ini. Aku bersumpah akan membalasmu." Teriak Rania didepan pintu hingga menghilang masuk kedalam lift.
Satpam menyeret Rania keluar dari gedung. Betapa malunya Rania saat karyawan memperhatikannya diusir secara paksa.
"Apa liat-liat, hah?!" Kesal Rania melotot pada karyawan yang meremehkannya.
"Dasar gila!" Rutuk salah satu karyawan.
"Apa kamu bilang, hah? kamu yang gila." Rania menunjuk wajah karyawan itu, "awas saja kalau aku sudah rujuk dengan bos kalian. Aku akan memecat kalian satu persatu."
"Helloww... ngaca dong Mbak, Mbak kalau bicara jangan ke-PD-an. Sadar mbak, move on, kalau udah dibuang ya terima nasib aja. Mana mungkin bos kita menyukai wanita gila, ya nggak temen-termen?" Sengit Riris karyawan HRD
"Dasar mulut julid! terima ini." Tania menarik rambut panjang Riris membuat Riris meringis kesakitan.
"Rania!" Bentak Ergan baru saja keluar dari dalam lift bersama Tirta.
.
Bersambung........
__ADS_1