
"Itu privasi kami yang tidak perlu orang lain tahu. Jika urusan kalian sudah selesai dengan istri saya, silahkan pergi dari rumah ini sekarang juga." Tegas Ergan sambil berdiri menunjuk ke arah pintu.
Heri tidak terima jika dirinya diselingkuhi. Itu sama saja jika harga dirinya sebagai laki-laki terinjak-injak. Wajahnya memerah dan kedua tangannya mengepal. Sorot matanya tajam seakan siap menyerang Amelia.
"Mel, kamu sedang bercanda kan? tidak mungkin kamu sudah menikah, apa itu artinya kamu juga selingkuh dari aku? sejak kapan kamu dan laki-laki ini bersama? aku tidak percaya kamu bisa... Arghh..." Geram Heri.
Heri terus menatap Amelia dengan tatapan yang sulit Amelia artikan. Ada raut penyesalan disana. Mungkinkah dia menyesal telah meninggalkan wanita yang cantik dan sebaik Amelia? Jika itu benar, tentu saja sudah tidak ada artinya lagi saat ini. Luka yang ia ciptakan terlalu dalam, rasanya begitu sakit walau tak berdarah, rasanya begitu nyeri walau tak berbekas, rasanya begitu sesak dan tak tertahankan.
Ergan tidak suka melihat tatapan Heri pada Amelia. Sebagai pria dia sangat tahu arti tatapan itu. Ya, Heri masih menyimpan rasa pada Amelia.
"Kenapa? Apa anda tidak terima? jika tidak terima silahkan lapor polisi, kalian sudah mengganggu jam istirahat kami dikamar. Ayo sayang, kita masuk lanjutkan yang tadi! jika mereka tidak ingin pergi, biarkan saja mereka denger kita lagi..." Ergan menarik tangan Amelia menuju kamar, sementara Heri dan Dian masih duduk mematung disana.
Setelah beberapa menit, Dian sadar jika pemilik rumah sudah tidak ada.
"Mas, ayo kita pulang. Ngapain kita masih disini? mau dengerin mereka lagi main kuda-kudaan?" Kesal Dian berdiri kemudian menarik tangan Heri.
"Lepaskan Dian! aku tidak percaya jika Amelia sudah menikah. Tidak, itu tidak mungkin! Amelia pasti bohong!"
"Kenapa dia harus bohong, Mas?" Dian mengernyitkan keningnya. Sepertinya Heri masih berusaha mengejar Amelia.
"Karena dia sangat mencintaiku." Lirih Heri.
"Hehehe... cinta? sadar Mas! Terima aja kenyataannya, Jika dia masih cinta sama kamu, nggak mungkin dia bersama laki-laki lain dirumahnya. Itu namanya karma buat kamu. Kamu selingkuh dari dia, dan dia juga selingkuh dari kamu. Adil bukan?"
"Tidak! aku tidak terima pria itu yang menjadi suaminya."
"Kenapa emangnya? kamu cemburu dengan suaminya? Dia memang lebih tampan dan dari penampilannya saja sepertinya sangat kaya, lihat aja mobil mewahnya di depan, mungkin harganya sampai milyaran. Perbedaan kalian antara langit dan bumi. kamu nggak terima Amelia mendapatkan yang lebih dari kamu? kamu egois Mas!" Diana sengaja memancing emosi Heri, ia ingin tahu bagaimana perasaan cinta Heri pada Amelia setelah mereka menikah, "Seharusnya kita bersyukur jika Amelia sudah bahagia. Kita nggak perlu merasa bersalah lagi padanya." Lanjut Dian.
"Dasar cerewet!" Kesal Heri kemudian segera keluar dari rumah Amelia.
Dengan perasaan kecewa, akhirnya mereka pulang tanpa mendapatkan maaf dari Amelia.
Dikamar Amelia masih mengintip dibalik pintu, ia bernapas lega karena Heri dan Diana sudah pulang. Sebenarnya ia sudah tidak mau melihat mereka, apalagi bersahabat dengan Dian. Itu sudah tidak mungkin!
"Mereka pasti sudah pulang, sini duduk." Ergan tiba-tiba bersuara membuat Amelia segera menoleh. Matanya melotot saat Ergan menepuk kedua pahanya.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain? keluar sana! sebentar lagi Mama pasti pulang." Usir Amelia namun bukan Ergan namanya jika menurut begitu saja.
"Sini dulu, tanggung jawab, kau membuatku tidak tenang."
Ergan menarik tangan Amelia hingga duduk di pangkuannya kemudian memeluknya dari belakang.
"Lepaskan!" Berontak Amelia karena takut Mamanya pulang dan melihat mereka berdua dikamar.
Biarkan seperti ini dulu, dengar! aku tidak ingin melihatmu bertemu dengan laki-laki lain, termasuk Brian atau Heri." Bisik Ergan di telinga Amelia begitu dekat hingga bulu halus dilehernya ikut merasakan napas Ergan.
Amelia tidak menjawab merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Bagaimana bisa tenang, jika ia mulai merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana.
"Lepaskan, jangan seperti ini. Aku ingin ke toko. Kenapa Mama belum kembali?" Ujar Amelia sedikit khawatir.
"Mama kamu pasti ngerti, jika kita butuh waktu berdua."
Ergan mulai menggerakkan tangannya, membuka blazer, dan menurunkan res dress yang dikenakan Amelia. Setelah dres sedikit terbuka ke bawah, tangannya mulai mencari benda kembar yang menjadi favoritnya. "Kenapa ini sangat kecil? apa heri tidak pernah memanjakanmu seperti ini?" Tangan Ergan mulai bermain, bibirnya menyusuri tengkuk hingga pundak dan bawah telinga Amelia.
Amelia menutup mata, hatinya ingin meronta dan menolak, tapi tubuhnya menginginkannya. Giginya menggigit bibir bawahnya menahan suara yang hampir saja lolos, tapi siapa yang tahan jika Ergan semakin memberinya sensasi aneh yang membuatnya tubuhnya terbakar hasrat yang semakin menggebu.
Ergan menyunggingkan senyum, tentu saja ia percaya jika Amelia belum pernah disentuh laki-laki lain. Tapi tunggu, bagaimana dengan bibirnya?
"Kamu suka sentuhan ku?" Bisik Ergan.
"Hmm.."
Ergan membalikkan tubuh Amelia hingga mereka berhadapan. Jari jempolnya menyentuh bibir Amelia dan mengusapnya secara perlahan. "Bagaimana yang ini? apa dia pernah menyentuhnya?"
Amelia hanya menggelengkan kepalanya.
Cup!
Jangan tanyakan lagi apa yang dilakukan Ergan selanjutnya.
"Meli..?"
__ADS_1
Suara Lidya dari arah pintu masuk menghentikan Ergan. Ergan melepas Amelia yang hampir tidak mengenakan pakaian. Ia berdiri kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaiman tidak frustasi jika yang dibawah sana sudah mulai on tapi gagal dituntaskan. Ergan melirik Amelia dengan kesal kemudian menuju kamar mandi.
Amelia langsung mengambil kesempatan untuk menjauh dari Ergan. Ia keluar kamar kemudian menuju dapur. Pura-pura mengambil air minum lalu duduk dikursi. Detak jantungnya belum kembali normal namun Lidya sudah berada dibelakangnya.
"Kamu disini rupanya?" Tanya Lidya sambil meletakkan kantong plastik berisi buah diatas meja makan.
"Untung tidak ketahuan Mama, jika Mama liat apa yang Ergan lakukan. Bisa dinikahkan hari ini juga aku!" Batin Amelia, "Iya Mah." Jawab Amelia.
"Lho kamu sendirian? nak Ergan mana?" Tanya Lidya.
"Dikamar Mah, katanya mau istirahat sebentar." Jawab Amelia.
"Ya sudah, biarkan saja dia tidur. Kamu bantu Mama mask untuk makan siang. Kalian nggak kemana-mana kan?" Tanya Lidya.
"Meli mau ke makam Papa, Mah, boleh ya?" Amelia merangkul lengan Lidya sambil menyandarkan kepalanya di pundak.
"Tentu saja sayang..! kenapa nggak boleh. Sudah lama juga kamu nggak ke sana. Sekalian ajak nak Ergan."
"Sepertinya nggak usah deh Mah, Meli pengen sendiri." Tolak Amelia.
"Mumpung kalian disini. Aggap aja kalian minta restu Papa sebelum menikah." Jelas Lidya.
Amelia hanya mengangguk, sebenarnya dia hanya ingin sendiri. Jika ada masalah, Amelia memang sering curhat di depan makam Papanya. Meskipun ia tahu jika orang yang sudah meninggal tidak akan mendengarnya, tapi dia merasa lega jika sudah mengeluarkannya. Rasanya beban hidup yang dialaminya berkurang.
Sedangkan Ergan didalam kamar hanya bisa mengumpat dengan kesal, mencoba menenangkan adiknya yang sudah berdiri tegak, namun tetap tidak bisa. Jadilah dia masuk ke kamar mandi dan bermain solo disana untuk menuntaskannya.
"Benar-benar menyebalkan! Kenapa juga calon mertuaku tiba-tiba pulang, Arghh..!" Kesal Ergan saat keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk. Ia mengusap rambutnya yang basah dengan kasar.
................................
.
.
Bersambung....
__ADS_1