Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Mengantar Karmen


__ADS_3

Tirta masuk kedalam lift bersama Karmen. Saat lift terbuka, mereka langsung menuju resepsionis.


"Koper kamu hanya ini saja? sini biar aku yang bawa," Tirta menawarkan diri saat melihat satu koper kecil disamping meja resepsionis.


"Eh, nggak usah, aku bisa membawanya," tolak Karmen.


"Sekali-kali merepotkan nggak apa-apa, asal jangan tiap hari aja," ujar Tirta sedikit bercanda membuat Karmen seketika mendelik kesal. Ayo! itu mobilnya." Tirta menunjuk mobil yang sudah terparkir didepan lobi. Sebelum keluar kantor Tirta pasti menghubungi supir kantor untuk menyiapkan mobil jika dia akan keluar.


Tirta memasukkan koper Karmen di bagasi belakang setelah itu membuka pintu mobil didepan untuk Karmen.


"Aku duduk disini?" tanya Karmen memastikan.


"Tentu saja, kalau bukan disini dimana lagi? dibelakang? aku bukan supir kamu kan? ayo, cepetan naik!" ujar Tirta.


Karmen masuk kedalam dengan perasaan tidak enak takut menyusahkan Tirta. Karmen duduk didepan bersandar dengan nyaman dikursi, tasnya diletakkan diatas paha, roknya yang pendek sedikit terangkat memperlihatkan kakinya yang mulus dan jenjang.


Tirta mulai melajukan mobilnya setelah mereka memasang seat belt.


Tirta mendengus kesal, bisa-bisanya dia tergoda dengan paha Karmen, matanya ingin tetap fokus kedepan tapi sebagai pria normal tetap saja melirik kesamping.


"Arghh..." Tirta memukul setir mobil hingga mengagetkan Karmen.


"Kamu kenapa?" tanya Karmen heran.


Tirta membuka jasnya lalu meletakkan diatas paha mulus Karmen.


"Eh, kamu mau ngapain?" tanya Karmen.


"Kalau seperti ini aku bisa fokus nyetir." lirih Tirta namun dapat Karmen dengar dengan baik.


"Emangnya tadi tidak fokus?" tanya Karmen pura-pura polos. Ia sengaja menggoda Tirta. Mana mungkin pria normal tidak tergoda melihat pemandangan indah didepannya.


"Karmen, aku ini pria normal. Kamu mau kita nggak sampai dibandara karena aku terus melihat itu?" tunjuk Tirta melirik paha Karmen kemudia kembali fokus ke jalanan.


"Hehehe... aku pikir kamu bukan pria normal, sorry," ujar Karmen.


"Emangnya nggak ada rok yang lebih panjang dari itu?" tanya Tirta.


Karmen menggelengkan kepalanya.


"Sudah berapa banyak pria yang melihatnya?" tanya Tirta.


"Mana aku tau? mungkin jutaan," jawab Karmen dengan santainya.


"Sudah berapa tahun kamu kadi pramugari?" tanya Tirta.

__ADS_1


"Mmmm... lima tahun mungkin," jawab Karmen tidak yakin.


"Sahabatan dengan Amelia juga sudah lima tahun?" tebak Tirta, kini pembicara diantara mereka mulai santai.


"Bisa dibilang begitu, kami ketemu pada saat tes penerimaan pramugari, dan syukurnya lagi kami sama-sama diterima waktu itu. Kebetulan kami juga ditugaskan di rute penerbangan yang sama. Mulai dari sana kami dekat dan menjadi sahabat," jelas Karmen.


Tirta mengangguk tanda mengerti.


"Apa rencana kamu kedepannya? maksud aku Amelia kan sudah menikah, kamu sendiri bagaimana? nggak mungkin dong kerja terus?" tanya Tirta ragu-ragu, takut Karmen merasa tersinggung atau canggung.


Khemm!


"Entahlah, pacar aja nggak punya, gimana mau nikah?"


"Hahahaha... jadi kamu jomblo?" ejek Tirta.


"Biasa aja kali? nggak usah diketawain juga," kesal Karmen.


"Siapa yang ketawain kamu?" sergah Tirta.


"Lalu kamu ketain siapa?"


"Diri aku sendiri, karena aku juga jomblo, hehehe..."


Tanpa terasa mereka sudah tiba di bandara. Tirta membuka pintu mobil untuk Karmen kemudian menurunkan koper kecil milik Karmen dari belakang mobilnya.


"Tir, makasih banyak ya untuk tumpangannya, tadinya aku pikir perjalanan akan membosankan tapi ternyata kamu orangnya sangat hambel. Aku bahagia bisa jalan denganmu, sekali lagi terimakasih," ungkap Karmen dengan tulus.


"Makasih doang nih..? nggak ada cipika-cipiki gitu?" canda Tirta membuat Karmen geleng-geleng kepala. Sampai sekarang dia masih saja bercanda dengannya.


"Udah ah, aku masuk dulu ya? sampai jumpa." Karmen melambaikan tangannya kemudian menarik kopernya untuk masuk kedalam bandara.


"Tunggu!" panggil Tirta sambil mengambil handphone dari dalam saku celananya.


Karmen berbalik, "Ada apa?" tanyanya.


"Aku boleh minta nomer ponsel kamu?" tanya Tirta sambil menyodorkan ponselnya pada Karmen.


"Pake nanya lagi, ini sih namanya pemaksaan!" Karmen mendelik kesal tapi tetap mengambil ponsel Tirta lalu memasukkan nomornya disana.


"Hehehe... itu namanya strategi, dengan begitu kamu bggak bisa nolak," ujar Tirta.


"Nih sudah, jangan kaget kalau lebih sering nggak aktif, itu artinya aku didalam pesawat ya? aku pergi dulu, dah..." Karmen mengembalika ponsel Tirta kemudian berbalik dan segera berjalan masuk kebandara menarik kopernya.


Tirta melihat kepergian Karmen, cantik, pintar, dan baik. Rasanya waktu tiga puluh menit masih tidak cukup mengobrol dengannya. Selama diperjalanan ia dapat melupakan kegalauan hatinya. Karmen dapat membuatnya tertawa walaupun hatinya masih gundah gulana.

__ADS_1


Karmen berbalik melihat Tirta, pria itu masih bergeming menatap kepergiannya. Karmen tersenyum melambaikan tangannya, kemudian memberi kode pada Tirta untuk pulang. Setelah itu dia menghilang dipintu keberangkatan.


Tirta mengambil ponselnya, mengirim pesan untuk Karmen.


"Sampai ketemu lagi dan semangat bekerjanya, aku disini menunggumu untuk kembali," isi pesan WA terkirim.


Tirta tersenyum geli, melihat isi pesannya sendiri lalu mengirimnya pada Karmen.


Saat masuk di dalam pesawat, Karmen membuka ponselnya, alisnya berkerut melihat nomor yang tidak dikenal mengirim satu pesan.


"Ini siapa?" balas Karmen pura-pura tidak tahu. Ia sangat yakin jika itu adalah Tirta mengingat mereka baru saja berpisah.


"Ah, kamu masih muda sudah pikun, baru juga ketemu susah lupa," balas Tirta menambahkan emoji kesal.


Karmen membalas emoji tertawa dan menjulurkan lidah dengan mata melotot.


"Sorry deh, nomor kamu aku save ya..?" balas Karmen kemudian menyimpan ponselnya lalu mulai melakukan tugasnya disalam pesawat.


Tirta kembali masuk kedalam mobilnya menuju kantor. Wajahnya berseri-seri setelah mengantar Karmen. Perasaannya sudah membaik. Rasa sedihnya mulai menghilang, ia sudah tidak mau ambil pusing lagi dengan penolakan Ayu.


"Benar kata Ergan, mati satu tumbuh seribu! ditolak Ayu, deketin Karmen, hehehe..." monolog Tirta dalam mobil sambil fokus pada jalanan.


Beberpa menit kemudian Tirta sampai dikantor. Ia langsung menuju keruangannya menyelesaikan laporan meeting hari ini kemudian menuju ruangan Ergan.


Seperti sebelumnya, Tirta langsung masuk keruangan Ergan melewati Ayu yang sedang ingin menyapanya.


"Pak Tirta, tadi itu.." ucapan Ayu menggantung begitu Tirta melihatnya.


"Aku harus bawa ini kedalam." potong Tirta.


Ayu langsung duduk, rasa penasarannya lebih besar dari egonya. Dia ingin tahu dari mana Tirta bersama wanita itu. Sudah dua jam menunggu Tirta belum juga pulang, dia jadi khawatir ada hubungan apa Tirta dengan wanita cantik bernama Karmen itu.


Ayu kesal bukan main, sepertinya Tirta sengaja mempermainkan dirinya, baru saja Tirta membawanya keluar, sekarang membawa wanita lain.


"Dasar laki-laki buaya! panu, kutu, kura, kudis! ihh... nyebelin banget sih!" sungut Ayu.


"Siapa yang buaya?"


Suara yang sangat Ayu kenal seketika menghentikan umpatannya.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2