Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Menyiksa Diri


__ADS_3

"Kenapa kalian jadi bertengkar, hah?" Sela Karisma menghentikan perdebatan mereka.


"Kamu juga, untuk apa menyiksa diri seperti ini? minum terlalu banyak tidak akan mengembalikan Amelia. Bangkit dan lupakan wanita itu. Brian juga sudah kembali ke Singapore melanjutkan kuliahnya. Lanjutka hidup kalian tanpanya." Sengit Karisma. Ia tidak akan tinggal diam jika kedua anaknya bermusuhan hanya karena seorang perempuan.


"Kenapa Mama ngomong seperti itu? Jika Brian melupakan dan move-on dari Amelia itu memang harus dia lakukan karena Amelia adalah istriku, Mah! tapi kalau Mama memintaku melupakan Amelia, maaf Mah, Ergan nggak bisa, sampai matipun aku nggak akan melupakannya. Dia semangat hidup Ergan." Ujar Erganku penuh penekanan.


"Kamu mati disini dan dia hidup disana, begitu? apa otak kaku sudah bergeser? secinta itu kau padanya hingga melupakan Istri dan anak kamu sendiri?"


"Aku tidak pernah melupakan Aqilah Mah, tapi kalau Rania... dia yang lebih dulu melupakanku!" Ergan tidak terima jika Karisma menuduhnya, Sesibuk apapun dia setiap hari, ia selalu sempatkan waktunya untuk menghubungi Aqilah lewat video call. Ia ingin selalu melihat perkembangan tumbuh anaknya, meskipun dari jarak jauh.


Ergan berdiri menuju kamar mandi, jika dia terus berada di tempat tidur, perdebatan itu tidak akan ada habisnya.


"Rania, Mama pulang dulu ya, kamu jagain Ergan dengan baik. Jangan lupa berikan obat sebelum tidur nanti malam." Ujar Karisma sambil mengambil tasnya.


"Iya Mah, hati-hati di jalan." Rania mengangguk kemudian mengantar Karisma sampai di depan pintu kamar.


Ergan keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar memakai bathrobe dengan dada terbuka menutupi tubuhnya yang basah.


Rania mematung, entah sudah berapa lama ia tidak melihat Ergan dengan penampilan seperti itu. Tubuh Ergan semakin sixpeck meski usianya juga bertambah. Wajah Rania memerah, detak jantungnya berdetak lebih cepat, ia menelan salivanya dengan kasar.


"Kenapa menatapku seperti itu? jangan harap untuk menyentuhku, kita hanya suami istri diatas kertas, tapi itu tidak akan lama lagi. Kamu tidak berhak atas tubuh ini karena semuanya milik Amelia. Sekarang keluar dari kamarku. Jika kamu masih punya malu, pergi dari rumah ini." Ergan menyeringai, rasanya pada Rania sudah menghilang entah kemana. Yang ada di pikiran dan hatinya hanya Amelia.


Rania langsung berdiri menggenggam tangan Ergan. Tatapannya sendu penuh harap.


"Sayang.. Please.. aku ingin menjadi istri yang baik, menjaga dan merawatmu, selalu ada disaat kamu butuh, selalu bersama sampai kita menua, dulu kamu janji seperti itu kan? apa kamu sudah lupa?" Bujuk Rania, air matanya sudah mulai keluar membasahi pipinya.


"Aku tidak akan lupa dengan kata-kata ku, tapi kau sendiri yang menghancurkan harapanku lebih dulu. Kau sudah bermain api dan tidak bisa lagi kau padamkan. Aku tau apa yang kau lakukan semalam, dan aku tidak perduli." Tegas Ergan menatap Rania dengan sorot mata jijik.


Ergan menarik tangannya kemudian berjalan menuju walk in closet. Menutup pintu kemudian memakai pakaiannya. Tidak butuh waktu lama Ergan sudah lengkap dengan pakaian casualnya. Dia tidak jadi kekantor tapi tetap bekerja dirumahnya.


"Kenapa masih disini?" Kesal Ergan, entah terbuat dari apa hati Rania hingga tidak mau pergi dari rumah Ergan. Sudah dihina, dicaci, dibentak, diremehkan tapi masih saja bermuka tembok dihadapan Ergan.


Rania hanya diam kemudian naik keatas tempat tidur Ergan sesuka hatinya.


Ergan mendengus kesal sambil berkacak pinggang. ia segera menyambar kunci mobilnya kemudian keluar dari kamar.


"Tunggu! kamu mau kemana? kamu nggak boleh pergi." Teriak Rania namun tidak diperdulikan oleh Ergan.

__ADS_1


Rania terus mengejarnya.


Tok.. tok.. tok..


Rani mengetuk kaca mobil, "Mas, aku ikut."


Ergan hanya melirik sebentar kemudian menginjak gas hingga mobil keluar dari halaman rumah.


"Brengsek kamu mas!" Geram Rania setelah mobil yang dikendarai Ergan semakin menjauh.


Rania melihat ke arah dalam rumah, untuk apa dia tinggal dirumah itu jika Ergan keluar? lebih baik dia pergi mencari hiburan bersama teman-temannya. Rania mengambil ponselnya kemudian memesan taksi online. Ia tidak membawa mobil karena ikut dengan Karisma saat kesana.


............


"Bos, lihat ini." Tirta meletakkan sebuah amplop berisi foto dan flashdisk diatas meja kerja Ergan.


"Apa Ini?" Ergan mengernyitkan keningnya, tapi tangannya bergerak membuka amplop itu. Membuka lembaran foto disana. Dia sama sekali tidak terkejut wajahnya tetap datar dan dingin.


Semua yang dilakukan Rania saat di Club ada disana.


"Bagus. Berikan semua ini pada Pak Ruben. Suruh dia mengurus perceraianku dengan Rania secepatnya."


"Siap bos."


"Tir, kamu sudah menemukan jejak Amelia?" Tanya Ergan.


"Maaf belum." Jawab Tirta menunduk lesu. Ia sudah sangat berusaha tapi belum juga mendapatkan petunjuk apapun.


Ergan menghela napas berat, "Kenapa pekerjaanmu sangat lambat? hanya mencari Amelia saja anak buah kamu nggak becus! tambahkan lagi orang untuk mencarinya." Perintah Ergan.


"Sudah, aku sudah menyuruh mereka berpencar berjaga di bandara, stasiun, dan di terminal, tapi sepertinya Amelia tahu jika kita sedang mencarinya. Berikan kami waktu bekerja." Jelas Tirta.


"Ck, waktu? berapa lama? setahun, dua tahun atau sepuluh tahun? kamu sengaja ingin aku gila?" Geram Ergan.


"Sabar, orang sabar disayang Tuhan." Nasihat Tirta membuat Ergan semakin geram.


"Keluar kau brengsek!" Ergan melempar pulpen kearah Tirta, tapi dengan lihainya Tirta berlari membuka pintu.

__ADS_1


"Aww.." Pekik Ayu.


Pulpen yang dilempar Ergan mendarat cantik dikening Ayu.


"Kenapa berdiri disitu?" Tanya Tirta memperhatikan dahi Ayu.


"Mau bawa laporan, baru saja mau ketuk pintuh taoi sudah kebuka. Berkelahi lagi sama bos?" Tanya Ayu sambil meringis.


Tirta mengambil pulpen dilantai kemudian menatapnya penuh arti. "Sepertinya pulpen bos harus gw ganti dengan karet, biar nggak nyakitin dahi orang. Tapi dijual dimana?" Batin Tirta.


"Pak." Ayu memanggil.


Tirta masih bergeming memikirkan dimana ia dapat memsan pulpen karet yang sama persis kualitasnya dengan pulpen Ergan.


"Pak." Ayu mengipas tangannya diudara, tepat didepan mata Tirta yang tidak bergerak.


"Apaan sih!" Tepis Tirta.


"Habisnya Bapak melamun sih..! Pak Tirta, berkelahi lagi sama bos ya?" Tanya Ayu kembali, Mulai hari ini ia harus waspada karena tiap hari pulpen Ergan selalu melayang, dan sialnya lagi dirinya yang selalu menjadi korban.


Ayu sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan wajah Tirta hingga hampir tak berjarak. Mulai hari ini ia harus waspada karena tiap hari pulpen Ergan selalu melayang, dan sialnya lagi dirinya yang selalu menjadi korban.


Tirta seperti manekin. Aroma parfum Ayu menyeruak masuk kedalam indera penciumannya. Lembut dan menyegarkan. Wajah Ayu hampir tak berjarak dari wajahnya membuatnya semakin membeku.


"Apaan sih Yu! jangan deket-deket." Tirta gugup, baru kali ini merasa gugup saat berdekatan dengan perempuan.


"Saya nanya Pak? kenapa malah bengong?" Balas Ayu tanpa merasa berdosa.


"Iya, bos kamu ngamuk lagi." Kesal Tirta.


"Makanya, cepat cari istrinya biar nggak jadi pelampiasan terus." Nasihat Ayu tapi makah dapat tatapan tajam dari Tirta.


Ayu bergidik kemudian segera masuk ke dalam ruangan Ergan sambil membawa laporan ditangannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2