
Ayu mengangkat wajahnya melihat Tirta. Setelah Tirta masuk keruangan Ergan, ia kembali keluar karena lupa meminta Ayu untu mempersiapkan konsep meeting satu jam lagi.
"Mmm.. itu, anu..." jawab Ayu gugup.
"Hehehe... kamu kenapa Yu? aneh! Oiya siapkan konsep meeting sekarang juga. Satu jam lagi aku meeting bersama Tuan Ergan. Aku tunggu di ruang bos dua puluh menit," ujar Tirta kemudian kembali masuk keruangan Ergan.
Didalam ruangan, Ergan masih sibuk bekerja sambil menemani Azka bermain.
Tirta masuk dengan beberapa dokumen ditangannya.
"Karmen sudah berangkat?" tanya Amelia yang sedang duduk disofa.
Sebenarnya ia sudah bosan diruangan Ergan karena sudah setengah hari menunggu Ergan selesai bekerja disana. Tapi Ergan memintanya menunggu sampai meeting selesai.
"Aman bu bos..!" Tirta menaikkan satu jempolnya samhil tersenyum manis membuat Ergan melotot.
"Kamu nggak ngapa-ngapain anak orang kan?" tanya Ergan curiga. Sebelum mengantar Karmen, wajah Tirta ditekuk dan sekarang ia sudah bisa tersenyum.
Benar-benar mencurigakan!
"Mau diapain emangnya?" Tirta balik bertanya.
"Kali aja hari ini lo tembak dua anak orang sekaligus," sindir Ergan.
"Jangan suudzon bos, nggak baik! Ia kan ustadzah Amel?" Kesal Tirta lalu meminta pembelaan pada Amelia.
Amelia mengernyitkan keningnya, ia sama sekali tidak paham maksud pembicaraan dua laki-laki itu, sedangkan Azka tetap sibuk dengan mainannya.
"Aku nggak ngerti apa yang kalian bicarakan," ujar Amelia.
"Yeee... Azka menang.. Daddy kalah," teriak Azka dengan antusias. Azka lebih dulu finish karena Ergan menatap Tirpenih selidik.
"Yah... Daddy kalah lagi." Wajah Ergan ditekuk seolah sedih karena kalah.
"Ck." Decak Tirta.
Tok.. tok.. tok..
Ayu masuk membawa konsep meeting pada Tirta. Tirta mengambilnya kemudian bersikap biasa saja pada Ayu.
"Azka, tunggu Daddy sebentar ya? Daddy mau meeting bareng Om Tirta," ujar Ergan membujuk Azka.
Azka mengangguk kemudian turun dari meja. Azka mengambil mainannya, berjalan menghampiri Amelia dan duduk disampingnya di sofa.
__ADS_1
...............
Waktu terus berlalu, akhirnya Ergan selesai meeting. Ergan meminta Tirta menyelesaikan pekerjaannya dan membawa Amelia bersama Azka pulang ke rumah orang tuanya.
Amelia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, Ia memegang lengan Ergan sedikit takut. Ergan mengelus lengannya untuk menenangkan, kemudian mereka masuk bersama Azka dalam gendong Ergan.
Saat masuk ke dalam rumah, Karisma menyambut mereka dengan hangat begitupun dengan Andreas. Andreas langsung menggendong Azka kemudian membawanya duduk disofa. Brian belum pulang kantor, dan sedangkan Aqilah menatap Amelia tanpa ekspresi.
Amelia dan Ergan mengernyitkan keningnya kemudian saling melirik melihat perubahan Aqilah.
"Aqilah sayang... kamu kok nggak sapa Tante cantik dan Dede Azka?" tanya Ergan menghampiri Aqilah kemudian mencium keningnya.
"Aqilah nggak mau punya Mama tiri!" sentak Aqilah berteriak kemudian segera masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu cukup keras.
Prakk!
Mereka yanga ada diruang tamu terkejut, jantung mereka hampir copot mendengar pengakuan Aqilah. Keterkejutan mereka belum hilang, kini ditambah dengan suara bantingan pintu. Sekarang semuanya diam seribu bahasa.
Ergan melirik Karisma menaikkan kedua bahunya. Karisma belum mengatakan apapun pada Aqilah, memang dia ingin membujuknya namun belum sempat karena kesibukannya seharian.
"Mama mengatakan sesuatu padanya?" selidik Ergan.
"Tidak, Mama belum sempat ngomong apa-apa. Kalau nggak percaya tanya aja ke Papa. Papamu jurang enak badan sejak tadi pagi. Jadi mama seharian menjaganya di kamar," jelas Karisma.
"Papa sudah baik-baik saja, hanya demam sedikit, mungkin karena terlalu lelah," jelas Andreas tidak ingin membuat anaknya khawatir.
"Jika Mama belum ngomong, lalu siapa yang mengatakan dia punya Mama tiri?" tanya Ergan sambil berpikir.
"Semenjak pulang sekolah tingah Aqilah memang beda, kata Bibi, Aqilah hanya makan sedikit dan lebih banyak diam. Dia menghambur buku-bukunya dilantai dan tidak mau membereskannya. Mama sudah tanya dia kenapa, tapi tidak mau bicara. Mama pikir dia lagi berantem dengan teman kelasnya," jelas Karisma.
Ergan menghela napas kasar. Mau tidak mau dia harus bicara pada Aqilah sekarang juga.
"Biar Ergan yang membujuknya," ujar Ergan kemudian berjalan ke kamar lamanya. Kamar yang dulu ditempatinya sebelum menikah.
"Aku ikut Mas," ujar Amelia.
"Tunggu disini dulu biar dia tenang," ujar Ergan.
"Baiklah." Amelia mengalah, mungkin Ergan benar, mereka butuh waktu bicara berdua.
Ergan masuk kedalam kamar Aqilah, matanya tidak percaya melihat tas, alat tulis dan buku berhamburan di lantai. Ergan mendekati Aqilah dan duduk disisi tempat tidur. Gadis kecil itu menunduk tidak mau melihat wajah Ergan.
Ergan membelai rambut Aqilah penuh kasih, mencium keningnya, menarik Aqilah kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Aqilah sayang... kenapa Aqilah berkata seperti tadi? siapa yang bilang Aqilah memiliki Mama tiri?" tanya Ergan selembut mungkin agar Aqilah merasa tidak takut untuk berkata jujur.
"Memang benar kan Dad? Tante cantik sekarang jadi Mama tiri Aqilah?" Aqilah menatap Ergan dengan tatapan sendu, matanya mulai berkaca-kaca tidak terima jika Amelia menjadi Mama tirinya.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Ergan.
"Mommy yang bilang, Aqilah nggak mau punya Mama tiri, Mama tiri itu jahat, temen Aqilah sering dipukuli Mama tirinya, kadang tangannya lebam karena sering dicubit. Aqilah nggak mau seperti itu Dad!" ungkap Aqilah.
"Mommy?" tanya Ergan lagi.
"Iya, Mommy juga bilang, nanti Aqilah sudah tidak disayang Daddy lagi. Aqilah akan dibuang karena Daddy lebih sayang Tante cantik dan Dede Azka, hikss... hiksss..." Aqilah menangis pilu. Meskipun dia sayang dengan Amelia dan Azka, tapi dia tidak mau memiliki Mama tiri.
"Dengarkan daddy sayang...! apa yang dibilang Mommy itu nggak benar! Sampai kapanpun Daddy nggak akan membuang Aqilah, selamanya akan menjadi anak kesayangan Daddy. Tante cantik bukan Mama tiri yang jahat, tapi dia Mama sambung Aqilah yang baik. Tante cantik sangat sayang dengan Aqilah sama seperti Dedek Azka. Tante cantik akan tinggal bersama kita karena Daddy dan Mommy sudah pisah rumah dan tidak bisa bersama lagi," jelas Ergan.
"Maksud Daddy kita akan tinggal bersama Tante cantik dan Dedek Azka?" tanya Aqilah.
"Iya sayang...! Apa Aqilah ingat kan? bagaimana Aqilah bertemu dengan Tante cantik? bukankah dia sangat baik meskipun tidak mengenal Aqilah saat itu?" Ergan mencoba mengingatkan kebaikan Amelia pada Aqilah, mungkin dengan begitu hati Aqilah akan luluh dan menerima Amelia.
"Iya Dad, Tante cantik memang baik," ujar Aqilah.
"Jadi, sekarang Aqilah mau terima Tante cantik jadi Mama sambung Aqilah kan?" tanya Ergan.
Aqilah mengangguk, "Tante cantik nggak akan jahatin Aqilah kan Dad, seperti yang Mommy bilang?"
"Ya."
"Jika aku butuh Daddy, Daddy akan selalu ada untukku?"
"Ya."
"Apapun keinginan Aqilah akan Daddy penuhi?"
"Ya, asalkan itu baik."
"Kalau Aqilah minta Daddy jangan menikah lagi, dan kembali bersama Mommy, Daddy mau kan? Aqilah pengen hanya Mommy dan Daddy orang tuaku, bukan orang lain," ungkap Aqilah.
Deg!
.
.
Bersambung....
__ADS_1