
Ayu mengangkat wajahnya melihat pria yang sedang memeluknya, wangi parfum yang beberapa hari ini ia rindukan dikantor tapi selalu mengabaikan dirinya. Ia tahu itu Tirta, tapi kenapa laki-laki ini ada bersamanya, bukankah dia sedang bersama karmen?
"Kenapa menangis? apa ada yang sakit? siapa yang menyakitimu?" tanya Tirta masih memeluk Ayu, tangan satunya membelai rambutnya yang indah.
"Hatiku yang sakit, Aku tidak sanggup melihatmu bersama wanita lain," batin Ayu, ingin rasanya Ayu berkata seperti itu dan melarang Tirta dekat dengan wanita lain.
"Tidak, aku hanya kelilipan debu," jawab Ayu sambil menghapus sisa air matanya.
"Hehehe... debu? alasan yang tidak logis! mana ada debu diruangan ini?" Kekeh Tirta. Tirta bukan orang bodoh dengan alasan yang tidaak masuk akal seperti itu. Ia tahu Ayu sedang berbohong menutupi sakit hatinya.
"Ayo duduk dulu, sebentar," Tirta mengajak Ayu duduk di kursi kemudian mengambil minuman pada pelayan yang sedang berjalan melewatinya.
"Nih, minum dulu, tenangkan pikiranmu," ujar Tirta sambil menyodorkan air minum untuk Ayu.
"Nggak usah, aku mau pulang! kamu masuk aja didalam, seseorang pasti sedang menunggumu," ujar Ayu kemudian berdiri untuk pergi.
"Yu..!" panggil Tirta,
Ayu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Tirta.
"Katakan sekali lagi jika kamu tidak menginginkanku. Aku hanya ingin mendengarnya sekali lagi agar aku bisa mengambil langkah yang tepat." Tatapan Tirta teduh, setelah memastikan jika Ayu memang tidak menginginkannya, maka dia akan melamar Karmen.
Ayu bergeming, rasanya hampa selama berhari-hari Tirta mengabaikannya dikantor, apalagi saat ini melihat Tirta bersama wanita lain, dadanya sesak dan hatinya hancur.
"Aku... aku takut gagal!" lirih Ayu.
"Bukan jawaban itu yang aku mau. Kamu mau menikah denganku atau tidak?" tanya Tirta sambil menggenggam tangan Ayu.
Tanpa mereka sadari Karmen melihat dan mendengar semuanya. Sedikit banyak dia sudah menaruh harapan pada Tirta. Matanya mulai berkaca-kaca, ia segera meninggalkan tempat itu menuju toilet, tempat paling aman menumpahkan rasa kecewanya.
Brugh!
Karena tidak fokus melihat sekitar, Karmen menabrak seseorang hingga tasnya jatuh dan isinya berhamburan.
"Maaf, aku nggak sengaja," ujar Karmen sambil memungut isi tasnya.
"Saya yang minta maaf karena sedang menelpon," balas Brian.
__ADS_1
Karmen berdiri kemudian menatap wajah Brian, pria yang sangat tampan dan menawan, sedikit mirip dengan Ergan pikirnya.
"Kamu baik-baik saja? ada yang sakit atau barang kamu ada rusak?" tanya Brian.
"Barang, maksudnya?" Karmen membeo, mengerutkan keningnya, apa laki-laki ini masih waras menanyakan hal seperti itu di tempat umum?
"Ah, maksudnya, barang didalam tas kamu," ralat Brian.
"Oh, tidak ada, permisi," Karmen segera menuju kamar mandi, ia berdiri didepan cermin melihat wajahnya dengan tatapan kosong.
"Ayolah Karmen...! lo itu kenapa sih! sadar diri...! Kenapa rasanya begitu aneh? bukankah gw nggak ada hubungan dengannya? kalian hanya temen, ya hanya sebatas itu, jangan mengharap lebih pada seseorang yang belum pasti menyukaimu! lupakan dia, masih banyak laki-laki lain yang mungkin lebih baik darinya," monolog Karmen sambil menyemangati dirinya sendiri.
Karmen memperbaiki make-upnya yang sedikit luntur akibat airmata yang sempat berlinang. Dia merasa bodoh menangisi seseorang yang tidak pernah menjadi miliknya. Setelah merasa tenang ia keluar kembali bergabung dalam pesta. Pikirannya teralih pada sosok pria yang menabraknya tadi. Siapa pria itu? apa dia teman atau keluarga Ergan? ya itu pasti karena dia berada di pesta ini.
Karmen mencari Amelia untuk pamit pulang, sebagian tamu undangan sudah pulang, Karmen juga harus pulang karena harus berangkat lagi besok pagi. Tapi Karmen lebih dulu melihat Lidya bersama beberpa orang yang tidak dikenalnya. Orang otu adalah Karisma dan Andreas dan Aqilah, hanya Azka yang Karmen diantara orang itu.
Karmen menghampiri Lidya kemudian berpamitan, ia juga berpamitan pada keluarga Ergan karena Lidya memperkenalkan mereka padanya. Setelah itu ia menuju tempat Amelia berada bersama Ergan dan beberapa pria disana. Salah satunya pria yang tadi menabraknya, namun disana tidak ada Tirta. Biasanya pria itu selalu ada dimana Ergan berada.
Karmen memukul kepalanya pelan untuk menghilangkan Tirta dari otaknya. "Ah, Come on Kar..! lupakan pria itu," ujarnya dalam hati sambil berjalan mendekat.
"Tirta mana?" tanya Ergan melihat Karmen datang sendiri, padahal tadi dia menyuruh Tirta menemani Karmen selama dipesta.
"Oh.. itu, dia sedang ada urusan," jawab Karmen.
"Sebentar, aku akan menyuruhnya mengantarmu pulang." Ergan mengambil ponselnya.
"Tidak usah, mungkin dia sudah pulang, aku melihatnya sudah keluar dari ballroom. Nggak apa-apa, aku bisa pulang sendiri," tolak Karmen, dia tidak mau lagi bertemu dengan Tirta. Diantar Tirta pulang sama saja akan menambah beban pikirannya. Dia ingin segera menyingkirkan perasaan sukanya dengan tidak bertemu lagi dengan Tirta.
"Brian, lo antarin sahabat Kakak ipar lo pulang deh! kasian kalau pulang sendiri," pinta Ergan.
"Hah?!" Serentak keduanya membuat Ergan dan Amelia mengernyitkan keningnya.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Ergan.
"Jadi dia... dia adik ipar Amel? berarti adik Ergan? ya Tuhan... kenapa aku harus berada disekitaran orang-orang ini?" Batin Karmen.
"Bagiamana dengan Mama?" tanya Brian balik.
__ADS_1
"Jangan khawatir, ada supir kan? nggak ada alasan lagi, antar dia pulang," perintah Ergan membuat Brian mendengus kesal. Bisa-bisanya CEO perusahaan milik Papanya disuruh-suruh oleh Ergan.
"Mel, beneran deh! gw nggak mau merepotkan orang lain. Gw bisa naik taksi online," Karmen meminta pembelaan dari Amelia karena Ergan tetap memaksa mengantar Karmen.
"Tidak bisa, kamu harus diantar Brian. Bagaimana jika ada orang jahat diluar sana. Ini sudah tengah malam!" Tegas Ergan tak terbantahkan.
"Oke, aku akan mengantarnya pulang," Brian mengalah, mau tidak mau ia harus menuruti perintah Kakaknya.
"Mel, gw pulang ya? kalian hati-hati dijalan.Yan, jangan ngebut," pesan Amelia pada mereka berdua.
"Tenang aja Kak," ujar Brian.
Mereka keluar dari ballroom bersama-sama. Brian meminta petugas mengambil mobilnya di basement, sementara mereka menunggu di loby.
Karmen membeku melihat mobil lamborgini biru metalik didepannya. Apa dia akan naik mobil ini? belum tentu, bisa saja mobil itu milik orang lain.
"Ayo naik," ajak Brian.
"Hah?! naik ini?"
"Iya, mai naik apa lagi? cuma mobil ini yang aku punya," ujar Brian.
Brian langsung membukakan pintu untuk Karmen. Karmen masuk dan duduk didepan berdampingan dengan Brian.
"Mimpi apa aku semalam bertemu dengan Adik Ergan? naik mobil impianku yang nggak mungkin kesampaian lagi," Batin Karmen.
"Pakai seat beltnya," ujar Brian sambil menyalakan mobil.
Karmen menarik seat belt kemudian memasangnya. Bisa-bisanya ia tidak bisa memasang seat beltnya dengan baik karena gugup. Benar-benar memalukan pikirnya.
"Sini, aku bantuin."
.
.
Bersambung....
__ADS_1