
Suara supir taksi online membuyarkan lamunan Brian. Brian membuka mata, melihat sekitar halaman rumah yang cukup luas. Didepan matanya adalah rumah kedua orang tuanya.
Brian mengambil dompet lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu.
"Ini ongkosnya Pak, terimakasih." Ujar Brian.
"Ini kebanyakan Den, ongkosnya hanya tiga ratus ribu." Ujar Pak supir kemudian mengembalikan sisanya.
"Sisanya ambil aja Pak, buat anak istri." Ujar Brian.
"Terimakasih Den, semoga Aden sukses dan enteng jodoh." Ujar Supir.
"Amin.."
Brian mengambil tas ransel kemudian meletakkan di punggungnya lalu keluar dari mobil.
Brian menghela napas lega, selama dua tahun kuliah di luar negeri, baru kali ini ia kembali ke tanah air. Terlalu banyak kenangan bersama Mikhayla membuatnya tidak ingin pulang. Hanya orang tuanya atau Ergan yang biasa menjenguknya di sana. Tapi hari ini, ia pulang membawa kejutan untuk keluarganya.
"Aku kembali Mikhayla, tapi maaf, kali ini bukan untukmu, tapi untuk keluargaku dan menata hatiku kembali." Gumam Brian.
Brian melangkah menghampiri pintu rumah, memencet bel berkali-kali baru bi Uda datang membuka pintu.
Tong.. tong.. ting.. tong..!
Suara bel pintu
"Masya Allah... Tuan muda Brian." Seru Bi Uda didepan pintu yang sudah terbuka lebar.
"Mama, Papa mana Bi?" Tanya Brian sambil tersenyum menerima teriakan Bi Uda yang hampir saja memecahkan gendang telinganya.
"Siapa yang datang Bi?" Tanya Karisma yang baru saja keluar dari kamar.
Deg!
Betapa terkejutnya Karisma saat melihat putranya tepat di depan matanya, Bahkan dia mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan jika memang itu Brian bukan Ergan.
"Bi, itu Brian kan? atau aku halu karena terlalu merindukannya ya Bi?" Tanya Karisma pada Bi Uda.
"Ia nyonya. Ini beneran Tuan Muda Brian." Semangat Bi Uda.
"Kejutan Mama ku sayang..!"
Brian merentangkan kedua tangannya sambil menghampiri Karisma yang masih diam mematung. Brian memeluknya cukup erat hingga Karisma tersadar kalau dirinya tidak sedang berhayal. Karisma membalas pelukannya kemudian memukul lengan Brian.
Bug!
"Anak nakal! kenapa pulang nggak kabarin Mama? biar Mama siapkana makanan kesukaan kamu." Kesal Karisma.
"Kalau Brian bilang mau dateng, bukan kejutan lagi Mah, tapi sambutan." Kekeh Brian kemudian melepaskan pelukannya.
"Kamu pasti capek kan? sana kekamar kamu, Mama akan siapkan makanan spesial untuk anak kesayangan Mama." Ujar Karisma.
__ADS_1
"Papa mana Mah?" Tanya Brian sambil mengdarkan pandangannya ke dalam rumah.
"Kamu tau sendiri kan ini jam berapa? Papa kekantor sayang. Ada pekerjaan mendesak yang harus diselesaikan saat ini juga." Jawab Karisma.
"Oo gitu, kalau kak Ergan mana Mah?"
"Lo, kamu nggak ketemu Ergan di Singapore?" Tanya Karisma.
"Mungkin Kak Ergan masih sibuk Mah, jadi belum sempat nemuin aku, nanti aku telpon dia aja biar nggak ke apartemen aku. Aku kekamar dulu ya Mah." Ujar Brian.
"Iya, sayang."
Brian berjalan menuju tangga kemudian masuk kedalam kamarnya. Ia membuka tas ransel dari punggungnya kemudian melemparnya keatas tempat tidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aqilah sedang marah, barang-barang dikamarnya berhamburan kelantai. Ia ingin Ergan datang menemaninya jalan-jalan dan bermain.
Rania bingung harus berbuat apa untuk membujuk Aqilah. Anak kecil itu sangat keras kepala. Semua keinginannya harus dituruti. Dulu saat masih tinggal bersama Ergan dan Rania memang sangat memanjakannya.
"Aku mau main dengan Papa, sekarang." Teriak Aqilah.
"Aqilah, nggak boleh seperti itu sayang, Papa sedang kerja, biar Mama aja yang nemenin kamu jalan-jalan di mall, kita makan es krim, beli mainan barbie, main bola dan game, gimana?" Bujuk Karisma.
"Hikss.. hikss.. Nggak mau Mah, aku maunya Papa! telpon Papa sekarang." Tolak Aqilah sambil menangis dengan keras.
Rania mengambil ponselnya kemudian menghubungi Ergan.
"Halo." Terdengar nada suara Ergan yang dingin di seberang sana karena menahan amarah. Dia jadi tidak fokus karena ponselnya terus bergetar.
"Halo sayang..! hari ini kamu jemput aku dan Aqilah ya?" Rania menghubungi Ergan atas permintaan Aqilah, sudah satu minggu Ergan tidak datang menemui anaknya.
"Nggak bisa, aku lagi banyak kerjaan." Tolak Ergan.
Dua hari setelah pertemuan Ergan dan Amelia di Singapore, ia kembali ke Jakarta dan mulai disibukkan dengan pekerjaan yang menunggunya. Bahkan ia belum sempat ke dirumah orang tuanya bertemu dengan Brian.
"Lho kok gitu? Kita sudah lama nggak jalan bareng lho. Aqilah cariin kamu terus." Bujuk Rania.
"Hari ini aku sibuk Rania, kamu bisa kan bujuk dia." Kesal Ergan sambil menekan pelipisnya.
"Sayang, kali ini aja aku mohon! kalau kamu nggak mau jalan-jalan, oke fine! bagaimana kalau ke rumah Mama, kami menunggumu disana ya?" Melas Rania.
Ergan melihat jam yang melingkar ditangannya. "Baiklah! Nanti sore aja habis pulang kantor aku ke sana." Ujar Ergan.
Rania tersenyum bahagia. Asalkan Ergan mau menemui Aqilah itu adalah kesempatan buatnya untuk berbaikan dengan Ergan.
"Makasih sayang, sampai jumpa disana ya..! bye-bye..." Semangat Rania.
Setelah sambungan telepon putus, Ergan menuju ruangannya. Ia dan Tirta sedang mempersiapkan pernikahannya bersama Amelia di Singapore.
"Gimana persiapannya Tir?" Tanya Ergan.
__ADS_1
"Sudah swmbilan puluh persen. Sekarang giliran kamu ke rumah orang tuanya. Satu lagi, ayah kandung Amelia ternyata masih hidup. Tapi yang Amelia tahu ayahnya sudah meninggal."
"Aku akan menemui ayahnya untuk menjadi wali nikah Amelia disana."
"Trus kapan ke Surabaya?"
"Malam ini, setelah pulang dari rumah Mama. Kamu yakin tidak ada yang tahu soal pernikahan ini kan? termasuk Papa dan Mama?" Tanya Ergan.
"Tenang aja, rahasia bos dan Amelia aman! Aku sudah mengatur semuanya, percayakan saja pada asisten Tirta." Ujar Tirta denga bangga dan penuh percaya diri.
"Good." Puji Ergan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Semua anggota keluarga Ergan sedang berkumpul diruang tamu. Mereka sedang bercanda dan bermain dengan Aqilah.
"Papa..." Teriak Aqilah sambil berlari saat Ergan memasuki rumah besar milik kedua orang tuanya. Aqilah memeluk Ergan kemudian Ergan menggedongnya.
"Putri kecil Papa yang imut.." Ergan mencubit gemas pipi cubbi Aqilah lalu menciumnya.
"Uuhh.. Papa sama Unclel Brian sama aja, suka cubit pipi Aqilah, Aqilah kan udah gede." Aqilah pura-pura kesal sambil melipat kedua tangannya didada.
"Hai sayang.." Sapa Rania mendekatkan wajahnya untuk menciun Ergan, namun Ergan menghindar, menoleh kearah Brian yag sedang duduk disamping kedua orang tuanya.
Brian yang sedang duduk di kursi berdiri menghampiri Ergan kemudian memeluknya meskipun Aqilah masuk dalam gendongan Ergan.
"Apa kabar Kak?" Tanya Brian.
"Baik, kamu sendiri gimana? kapan lulus kuliahnya? datang nggak bilang-bilang untung saja kakak belum sempat ke apartemen kamu."
"Secepatnya, aku janji akan selesai tahun ini."
"Bagus! Trus, kapan move on dari Mikha? Masih banyak Mikha yang lain diluar sana yang jauh lebih cantik dan baik. Jangan hanya fokus dengan satu wanita saja."
"Huss, kalian ini kalau ketemu bicara Mikha... terus. Sudahlah, Mikha sudah tenang disana. Mama yakin suatu saat adik kamu akan mendapatkan gantinya." Sela Karisma.
"Papa setuju dengan Mama." Andreas ikut menyela.
Andreas Dipangga (58) suami Karisma, ayah kandung Ergan dan Brian.
"Iya, aku sudah move on, sudah ketemu calon pacar juga." Ujar Brian sedikit malu-malu.
"Benarkah..? Mama mau ketemu dong? siapa namanya?" Semangat Karisma.
"Mmmmm... kasi tau nggak ya..?" Brian berpikir sambil melirik satu persatu anggota keluarga.
"Ayo dong..! jangan buat kami penasaran." Ujar Rania diiringi anggukan oleh Karisma karena mereka semua penasaran.
.
.
__ADS_1
Bersambung....