Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Beli Tas


__ADS_3

Ergan membiarkan Amelia diantar oleh supir kembali ke bandara. Disana sudah ada Karmen yang mondar-mandir kayak setrika panas menunggu kedatangannya.


"Nah, ini dia nih, yang bikin gw panik." Monolog Karmen saat melihat Amelia berjalan ke arahnya.


"Sorry gw telat ya?" Tanya Amelia kemudian melihat jam tangannya.


"Kemana aja lo? Ngapain aja dengan Ergan, O iya, ini buat lo." Karmen menyerahkan dua paper bag ketangan Amelia berisi sepatu dan tas.


"Ini apaan?" Tanya Amelia.


"Sepatu yang kita beli, yang satunya lagi gw beliin lo tas. Baik banget kan gw?" Jelas Karmen.


"Tas?" Amelia mengernyitkan keningnya.


"Iya tas! nggak usah heran kayak gitu deh...! Itu tas yang lo pegang di Mall. Gw beliin pake kartu sakti ini." Karmen memperlihatkan kartu black card milik Ergan pada Amelia.


"Hah!? Lo beliin gw pakai kartu dia? Yang bener aja Kar, gw nggak mau berutang padanya." Tolak Amelia.


"Ihh... ni anak! Udah terlanjur dibeli juga. Nggak baik nolak rejeki. Lagian dia juga nggak masalah."


"Ya ampun.. Karmen!"


"Hehehe... Gw juga beli tas satu." Kekeh Karmen tanpan merasa bersalah sedikitpun.


"Dasar nggak tahu malu!" Sungut Amelia menyerahkan semua paper bag ke tangan Karmen kembali, kemudian melangkah meninggalkan Karmen menuju pesawat.


"Eh, tungguin...!" Teriak Karmen sambil membawa empat paper bag berlari mengejar Amelia, "Amel.. berat nih..! tega amat lo ngebiarin gw bawa semuanya. " Kesal Karmen.


Saat di dalam pesawat Sindi melihat Karmen sibuk meletakkan barang-barangnya.


"Woww.. borong nih! coba liat." Sindi menarik salah saru paper bag kemudian membukanya.


"Ih, apaan sih kamu, main rampas aja." Kesal Karmen berusaha meraihnya namun kalah cepat, Sindi telah melihat isisnya.


"Wahh... kalian beli tas branded?" Tanya Sindi dengan mata melotot tidak percaya.


"Balikin!"


"Nggak mau, sebelum gw liat semuanya." Sindi memegang paper bag itu, kemudian membuka yang lainnya. Bola matanya seakan mau keluar akibat melihat satu tas lagi.


"Kalian beli tas ini pake apaan?" Tanya Sindi.


"Ya pake uang lah! masa ia pake daun."


"Ck, maksud gw, lo dapet uang dari mana beli semua ini?"


"Kepo!"


"Kalian pasti ngutang kan?"

__ADS_1


"Enak aja utang, gw belinya cash, not credit!" Tegas Karmen.


"Alahhh... paling juga hasil porotin Om-om. Siapa diantara kalian yang jadi simpanan om-om?"


"Eh, tuh mulut dijaga ya? kalo ngomong jangan suka asal. Kami nggak kayak lo." Sergah Karmen.


"Sudah, kalian apaan sih! persiapkan diri kalian, sebentar lagi penumpang naik pesawat." Sela Amelia tidak mau berlama-lama melihat perdebatan mereka.


Sindi pergi dengan wajah cemberut, sedangkan Karmen segera membereskan barang-barangnya.


"Nih kartu Ergan, kw balikin ke lo. Bilang makasih kako kalian ketemu lagi."


"Kami nggak akan ketemu lagi."


"Yakin?"


"Tentu saja.


"Kok gw nggak yakin ya? Eh, tunggu... selama ini kalian ketemu dimana? kok gw nggak tau? kan selama ini kita sama-sama terus." Tanya Karmen heran.


"Cuma kebetulan ketemu." Jawan Amelia kemudian segera pergi meninggalkan Karmen menuju kelas bisnis.


Tidak lama kemudian, para penumpang masuk kedalam pesawat, mereka menyambutnya dengan ramah dan tersenyum.


Brugh!


Tas milik Brian terjatuh karena didorong penumpang lain. Amelia yang berdiri didepannya juga imbasnya, tas itu jatuh pas diatas sepatu Amelia membuat Amelia meringis kesakitan.


"Nggak apa-apa." Balas Amelia meskipun masih sakit tapi masih dapat ia tahan.


Amelia membantu Brian mengambil tasnya kemudian membuka bagasi kabin diatas kepalanya.


"Terimakasih." Ujar Brian setelah meletakkan tas didalam bagasi.


"Sama-sama, silahkan duduk." Balas Amelia kemudian tersenyum.


Brian Adidarma Dipangga (23) adik kandung Ergan. Pria tampan, tinggi 170, alis tebal, dan memakai satu anting ditelinga. Ia mahasiswa di salah satu universitas Singapore semester tujuh.


Brian duduk di kursinya kemudian secara diam-diam memperhatikan Amelia yang sedang bekerja. Dalam hati ia sangat mengagumi Amelia, baru kali ini ia melihat gadis cantik dan baik mirip dengan Mikhayla kekasihnya yang sudah meninggal.


Mikhaylal gadis cantik dan baik hati, dia adalah kekasih Brian, tapi sayang pada saat Brian ingin memperkenalka Mikhayla pada keluarganya di restoran. Mikhayla mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit.


Brian sangat terpukul, selama satu bulan menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menjaga Mikhayla. Dia tidak ingin kehilangan, dia tela melakukan apapun untuk Mikhayla termasuk membayar semua biaya ru.ah sakit dan operasi Mikhayla. Namun Tuhan berkehendak lain, disaat Mikhayla sadar dari komanya. Ia hanya berpamitan pada Brian dan pergi untuk selama-lamanya.


Sejak saat itu, Brian lebih tertutup dan memilih melanjutkan kuliah di luar negeri. Ia tidak bisa move on dari Mikhayla jika terus berada di kota ini karena memiliki banyak kenangan indah bersama Mikhayla.


Satu jam empat puluh lima menit telah berlalu. Semua penumpang sudah turun dari pesawat.


Para pramugari dan kru juga turun untuk istirahat. Amelia dan teman-temannya berjalan menarik koper melewati Brian yang sedang duduk di kursi memesan taksi online.

__ADS_1


"Mbak Amelia..." Panggil Brian. Brian tahu nama Amelia karena melihat name tag Amelia saat di pesawat.


Amelia menoleh kemudian mengernyitkan keningnya, ia merasa tidak mengenal Brian, bahkan kejadian dipesawat, dia juga sudah lupa.


"Aku?" Tanya Amelia memastikan jika memang dirinya yang di panggil.


"Iya, Siapa lagi yang bernama Amelia disini selain kamu." Jawab Brian.


"Lo kenal dia, Mel?" Sela Karmen.


Amelia menggelengkan kepalanya. Ia juga heran kenapa Brian tiba-tiba memanggilnya.


"Bisa bicara sebentar?"


"Kalau kalian mau bicara, aku duluan ya Mel, aku tunggu di mobil." Pamit Karmen tidak mau mengganggu mereka.


Amelia hanya mengangguk kemudian membiarkan Karmen pergi bersama teman-temannya yang lain.


"Maaf, soal apa ya? aku rasa tidak ada yang perlu kita bahas." Tolak Amelia.


"Soal yang tadi, aku benar-benar minta maaf. Aku ingin ajak kamu makan sebagai permohonan maaf aku. Gimana?" Melas Brian.


"Oh, yang tadi..? aku rasa nggak perlu minta maaf karena aku juga nggak apa-apa. Santainya." Balas Amelia kemudian melangkah untuk pergi.


"Tunggu! plis sekali aja. Hanua sekali, Aku janji kita hanya makan. Aku tidak mau dihantui rasa bersalah." Melas Brian kembali.


Amelia berpikir sejenak, "Baiklah, tapi tidak sekarang karena kami harus pulang, lain kali aja. Permisi." Pamit Amelia.


"Tunggu.. boleh aku minta nomer ponselmu? aku akan menghubungi kapan kamu bisa."


"08582729xxxxx"


"Oke, makasih." Ujar Brian dengan senyum yang mengembang. Ia sangat senang mendapatkan nomor ponsel Amelia.


Amelia segera pergi menuju parkiran, pasti saat ini mulut Sindi dan Citra sudah komat-kamit karena Amelia terlalu lama membuat mereka menunggu.


Brian keluar dari bandara menuju taksi online, ia masukkan barang-barangnya kemudian duduk di kursi penumpang.


Hatinya berbunga-bunga seperti sedang jatuh cinta, sudah dua tahun ia tidak merasakan seperti ini. Hatinya bahkan membeku setelah kehilangan Mikhayla. Tapi ketika bertemu dengan Amelia, semuanya terasa indah, baru kali ini ada gadis lain yang dapat menggetarkan hatinya.


Tiga puluh menit melintas jalanan ibu kota, tanpa Brian sadari ia sudah sampai di depan gerbang rumah mewah dan sangat besar.


"Den, kita sudah sampai."


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Readers... berikan dukungannya dong..! like dan komen, Vote dan hadiahnya, agar Author semangat updatenya 🙏🙏🙏


.......................


__ADS_2