
Hari demi hari berlalu Karmen tidak ada kabar. Hampir tiap hari Brian menghubunginya namun ponselnya tidak pernah aktif.
"Arrrgggghhhh...!"
Brian membanting ponselnya kelantai hingga hancur berkeping-keping. Sepertinya Karmen memnag sengaja menjauh darinya.
Firda sekertarisnya langsung masuk kedalam ruanga CEO begitu mendengar sesuatu yang jatuh, terpaksa ia masuk karena harus memastikan apa yang terjadi dengan bosnya.
"Fir, ngapain kamu masuk?" Kesal Brian.
"Saya mendengar sesuatu Pak, saya hanya takut terjadi sesuatu," jawab Firda gugup.
"Keluar!" bentak Brian.
Firda segera mundur keluar dari ruangan karena takut menjadi bahan amukan bosnya berujung dipecat jika melakukan kesalahan.
Batas kesabaran Brian sudah habis, Karmen seakan memutus komunikasi dengannya sejak hari itu. Sudah dua bulan Karmen tidak bisa dihubungi.
"Arrrgggghhhh... bodoh!" kenapa aku nggak kepikiran Kakak ipar? dia pasti tahu dimana Karmen, tapi jika aku bertanya pasti dia curiga," monolog Brian sambil menekan pelipisnya.
Brian mengambil jasnya kemudian keluar dari kantor menuju rumah Ergan. Hanya Amelia harapan satu-satunya untuk menemukan Karmen.
Saat sampai di rumah Ergan, Brian langsung masuk setelah ART membuka pintu untuknya.
"Bi' Amelia mana?" tanya Brian.
"Ada di dapur Tuan, sedang menyiapkan makan malam," jawab Bibi.
Ergan yang baru saja turun dari tangga menoleh ke arah Brian, tumben Brian datang mencari istrinya.
"Kenapa lo kesini? cari-cari istri gw lagi, emang nggak ada wanita lain? sepertinya gw harus nyuruh Mama cariin lo jodoh, biar nggak hantu-hantuin keluarga gw terus," kesal Ergan langsung duduk bersandar di sofa kemudian menyalakan tv.
"Ck, kalau tidak urgent gw juga juga ogah ketemu istri lo," balas Brian.
Ergan memang masih saja posesif terhadap Amelia, apalagi pada Brian, dia selalu menjaga jarak untuk mereka berinteraksi. Selama Brian belum menikah ia tetap khawatir jika Brian masih menyimpan rasa untuk istrinya.
Sedangkan Amelia dan Brian sudah seperti Kakak dan adik ipar sewajarnya. Brian yang suka jahil sering mengganggu Amelia dan memancing kemarahan Ergan. Jika Ergan sudah marah, ia baru tertawa puas melihat Kakak begitu bucin pada Amelia.
Amelia datang dari arah dapur membawa cemilan dan kopi dua cangkir.
"Nah... ini dia nih yang gw cari-cari." Ujar Brian kemudian menghampiri Amelia.
Ergan segera berdiri menakerah baju Brian dari belakang.
"Eh, mau ngapain kamu?" kesal Ergan sambil menarik Brian duduk di sofa.
"Apa sih Kak! orang aku mau ambil kopi," kesal Brian sambil memperbaiki kerah bajunya yang kusut.
__ADS_1
Brian mengambil secangkir kopi dari atas meja menyesapnya dengan nikmat sambil melirik wajah kesal Ergan.
"Ahh... nikmat Tuhan mana yang Engkau dustakan, kopi buatan Amelia memang selalu nikmat," puji Brian kemudian mengambil cemilan dan memasukkan ke mulutnya.
"Nggak usah basa-basi, cepat katakan tujuan lo kesini apa? Habis itu pulang, ganggu jam istirahat kita aja," tanya Ergan dengan tatapan mengintimidasi.
"Ah, Kakak nggak asik...! bilangin tuh suami Kak Amel jangan suka marah-marah nanti cepat tua, ups.. bukannya memang sudah tua ya?" ledek Brian.
"Kurang ajar lo, dasar adik nggak ada akhlak!" geram Ergan sambil melempar bantal sofa ke wajah Brian.
"Gw mau ngomong serius," ujar Brian dengan raut wajah mulai serius.
"Cepetan ngomong?" tanya Ergan.
"Ada yang ingin aku tanyakan, tapi janji dulu nggak akan bertanya balik. Jawab aja apa yang aku tanyakan, oke?"
"Wah, mulai nggak jelas nih omongan nih anak," Ergan mulai curiga, ada sesuatu yang disembunyikan adiknya dari semua orang.
"Kenapa begitu?" protes Ergan.
"Tuh kan! janji dulu langsung jawab!"
"Ya oke," Ergan menyerah.
"Kak Amel tau dimana Karmen sekarang?"
"Karmen? kenapa tiba-tiba kamu tanya Karmen?" bukannya langsung menjawab Amelia malah kembali bertanya.
Amelia melirik Ergan dengan tatapan penuh tanya, tapi saat Ergan mengangguk Amelia kemudian menjawab pertanyaannya Brian.
"Karmen sudah pindah satu minggu yang lalu karena sudah resign bekerja di Butterfly Airlines," jawab Amelia.
"Kakak tau kemana Karmen sekarang?" tanya Brian kembali.
"Yang pastinya aku nggak tau, karena dia tidak ingin memberitahuku, katanya sih mau pergi liburan," jawab Amelia.
"Apa mungkin ke rumah orang tuanya?" tanya Brian kembali membuat Ergan menyipitkan matanya.
"Mungkin saja," jawab Amelia ragu-ragu.
"Kakak tau dimana rumah orang tuanya?" tanya Brian kembali.
"Di Magelang desa Linjati, kamu kenapa nanya sedetail itu?" Amelia bingung kenapa Brian mencari Karmen segitunya.
Brian hanya diam, dia harus mencari Karmen ke sana.
"Oke makasih kopi dan cemilannya Kak, aku pamit pulang, " ujar Brian kemudian segera beranjak.
__ADS_1
"Mau kemana lo? kita belum selesai bicara, duduk!" Tegas Ergan membuat Brian seketika kembali duduk.
"Sayang... temenin Azka dan Aqilah diatas dulu ya? Mas mau bicara serius dengan Brian," ujar Ergan pada Amelia.
Amelia mengangguk kemudian menuju kamar Aqilah, disana ada Azka juga sedang bermain.
"Anak-anak Mommy lagi pada ngapain nih?" tanya Amelia.
"Main mobil-mobil-mobilan," jawab Azka.
"Kakak lagi kerja PR Mom, taoi PR-nya susah banget!" ujar Aqilah sambil mengerucutkan bibirnya. Sudah setengah jam ia mengerjakan PR matematikanya tapi belum juga selesai.
"Coba Mommy liat." Amelia mendekat dan mengambil alih buku Aqilah.
"Ooo... kayak gini Kak cara hitungnya." Dengan sabar Amelia mengajar Aqilah mencari jawabannya. Setelah beberapa menit Aqilah puas karena sudah mengerti apa yang diajarkan. Aqilah pun mengerjakan PRnya hingga selesai.
"Mom, Azka mau minum susu," pinta Azka begitu melihat Amelia masuk kedalam kamar.
"Anak Mommy may minum susu ya? oke Mommy ambil dulu ya? kalau Kakak mau diambilin apa?" ujar Amelia kemudian bertanya pada Aqilah.
"Susu kotak dingin aja Mommy," jawab Aqilah.
"Oke, tunggu sebentar ya? Kakak temenin Dede' main dulu," ujar Amelia kemudian berdiri menuju dapur.
Amelia mengambil satu susu cair kotak rasa strawberry dari kulkas kemudian membuatkan susu untuk Azka. Setelah selesai ia membawa ke kamar beserta cookies diatas nampan.
"Yeee.... minum susu," teriak Azka dengan girang.
Azka dan Aqilah langsung mengambil susu diatas nampan lalu meminumnya setengah. Setelah itu mereka makan cookies sambil menum susu.
.........................
Sementara di tempat lain, Ergan menatap tajam Brian dengan tatapan mengintimidasi.
Brian menunduk, sudah dapat ia pastikan jika sudah waktunya ia berkata jujur pada Ergan.
"Ada yang kamu sembunyikan dariku, Brian?" tanya Ergan penuh selidik dan penekanan diujung kalimatnya.
Brian masih diam dengan wajah menunduk, tatapan Ergan terlalu menyeramkan jika situasi sudah seperti ini.
"Oke, jika kamu nggak mau cerita, aku akan menyuruh Tirta mengurusnya," ancam Ergan sambil mengambil ponselnyabdari saku celana membuat Brian langsung mengangkat wajahnya.
"Jangan! oke, aku akan bicara, apa yang ingin kamu tau?"
"Ck, apa yang kamu sembunyikan dengan Karmen? apa kepergian Karmen ada hubungannya denganmu?" kesal Ergan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....