Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Istri Penurut


__ADS_3

"Please... jangan membuatku marah sayang. Jadilah istri penurut. Kamu mau kan masuk surga?" Jurus yang selalu Ergan tekankan jika Amelia membantahnya 'Jadilah istri penurut jika ingin masuk surga'.


Benar-benar Ergan licik! apaka dia sudah jadi suami yang bisa masuk surga? Belum tentu kan?


Ergan membelai rambut Amelia dengan lembut. Sesekali menunduk mencium dahi Amelia.


"Kamu tau sayang...! setiap kali kamu terbang, aku selalu khawatir, dalam hati selalu berdoa semoga kamu selamat sampai di tujuan. Kamu mau jika suamimu ini mati karena jantungan menghawatirkanmu? setiap hari bertarung nyawa demi gaji yang tidak seberapa itu? aku nggak mau sayang...! aku lebih tenang jika kamu dirumah menungguku pulang. Menyambut suami pulang kerja dengan memeluknya. Bukan bertemu sembunyi-sembunyi seperti yang kita lakukan selama ini." Ungkap Ergan membuat Amelia tidak bisa berkata-kata lagi.


Ingat! Gaji tidak seberapa bagi Ergan ya? bukan bagi kita yang memiliki ekonomi menengah ke bawah.


Setelah melewati perdebatan yang tidak ada habis-habisnya. Amelia akhirnya mengalah, Ia menuruti permintaan Ergan. Resign dari pekerjaan yang selama ini menjadi cita-citanya, dan tinggal di apartemen mewahnya.


"Terimakasih sudah menjadi istri yang penurut, makin sayang deh.." Ergan memeluk Amelia, begitu hangat dan menenangkan hingga mereka terlelap.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Amelia kembali ke mes-nya diantar oleh Ergan sampai di pintu. Amelia harus berada di kamar sebelum Karmen dan teman-temannya yang lain bangun.


Ergan kembali ke rumahnya setelah yakin Amelia masuk kedalam rumah dengan aman.


Begitu Amelia membuka pintu, ia dikejutkan dengan suara Sindi.


"Dari mana aja lo baru pulang jam segini?" Selidik Sindi penuh curiga.


"Clubbing." Singkat Amelia kemudian membuka high heels-nya. Jika Ameliake rumah Ergan, ia selalu memakai dres dan high heels. Itu adalah jawaban yang selalu Amelia berikan jika teman-temannya bertanya.


"Jangan-jangan lo sudah jadi wanita pekerja bar. Dapat job sampingan gitu? ihh, nggak tahu malu." Cibir sindi menaikkan sebelah alisnya.


"Apa salah jika gw menghibur diri gw yang lagi patah hati? Minggir lo, wanita cantik dan imut mau lewat." Amelia mendorong bahu Sindi kesamping karena menghalangi jalannya.


"Makin nggak terkontrol aja lo! Gw aduin ke Karmen kalo lo keluar malam lagi." Ancam Sindi dengan tatapan melotot dan tajam.


"Silahkan, gw nggak peduli." Dengan santai Amelia memasuki kamarnya. Besok sebelum berangkat kerja ia akan bicara dengan Karmen jika dirinya akan resign menjadi pramugari.


Amelia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran bingung. Apa keputusannya berhenti bekerja itu adalah keputusan yang tepat. Tapi ia juga tidak bisa menolak keputusan Ergan.


...............


Pagi harinya Amelia menghubungi Lidya. Dia butuh pendapat dan nasihat dari orang tuanya sebelum mengambil keputusan.


"[Halo.]" Jawab Lidya setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Ia tersenyum saat melihat wajah Amelia di layar ponselnya.

__ADS_1


"[Assalamualaikum Mah.]" Sapa Amelia dengan senyuman termanisnya.


"[Waalaikum salam nak, tumben telepon pagi-pagi.]"


"[Iya Mah, ada yang ingin Meli tanyakan.]"


"[Tanyakan apa?]"


"[Mas Ergan meminta Meli, resign. Dia ingin aku fokus program hamil dan menjadi ibu rumah tangga mengurus suami dan anak. Menurut Mama gimana?]"


"[Mmm... Kalu itu permintaan suami kamu, ya sudah resign aja. Rido istri itu ada pada suami nak. Jika dia tidak rido kamu bekerja ya berhenti. Nak Ergan itu pria yang baik dan bertanggung jawab. Mama yakin dia bisa membahagiakan kamu meskipun kamu tidak bekerja.]" Ungkap Lidya.


"[Aku juga merasa begitu Mah. Mama sehat kan?]"


"[Ia nak. Alhamdulillah Mama sehat.]"


"[Alhamdulillah, terimakasih Mah, Meli merasa lega dan tidak ragu lagi dengan keputusan Meli. Jaga diri baik-baik Mah. Setelah urusan pekerjaanju selesai, aku akan menjenguk Mama.]"


"[Ia nak, Mama tunggu kamu, Mama sudah kangen.]"


Wanita paruh baya itu menitikkan air mata. Entah mengapa setiap kali Amelia menelponnya, ia selalu terbawa suasana dan menangis. Mendengar Amelia akan datang hatinya menghangat penuh harap.


"Siapa yang kamu telpon pagi-pagi?" Tanya Karmen sambil membuka lemari mengambil pakaiannya.


"Mama." Singkat Amelia.


"Kenapa masih duduk di situ? sana mandi." Karmen menunjuk kamar mandi dengan dagunya, memakai pakaiannya, kemudian menuju lemari kaca merias wajahnya senatural mungkin.


"Nanti aja, hari gw ada urusan dikantor pusat."


"Lo mau tanda tangan kontrak?" Tanya Karmen kemudian mengoles listrik di bibirnya.


Karmen dan Amelia tidak bersamaan masuk kerja sebagai pramugari di Butterfly Airlines. Bulan lalu Karmen baru saja memperpanjang kontraknya, sedangkan Amelia bulan ini harus memperbaharuinya, lanjut atau putus kontrak.


"Gw mau resign, Kar."


"Apa?" Sontak Karmen berbalik, saking terkejutnya mendengat Amelia akan berhenti bekerja, lipstiknya sampai blepotan kepipi.


"Hahahaha..." Tawa Amelia pecah melihat lipstik Karmen.

__ADS_1


"Kenapa lo tertawa? nggak lucu ah becandanya."


"Wajah lo lucu banget! cocok dipajang di museum, liat aja di cermin." Ledek Amelia membuat Karmen segera menoleh ke cermin.


"Aaa...." Teriak Karmen, "Ini semua gara-gara lo, ngasih kabar buruk pagi-pagi gini. Siall banget sihh hidup gw." Karmen menghapus lipstik di pipinya dengan kasar.


"Gw beneran mau resign, mulai hari ini gw nggak kerja bareng lo lagi. Gw mau ke kantor pusat urus semuanya.Gw harap lo baik-baik aja meskipun gw nggak ada, jaga kesehatan lo, lo harus terus semangat. lo adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Gw nggak akan melupakan persahabatan kita sampai kapanpun. Terimakasih sudah selalu ada buat gw." Ungkap Amelia, ada nada sedih di setiap kata-katanya membuat Karmen diam mematung seperti manekin.


Air mata Amelia keluar begitu saja. Sedih rasanya melepas pekerjaan yang sangat dicintainya, tapi yang membuatnya lebih sedih lagi, ia juga kehilangan Karmen, rasanya begitu berat berpisah dengan sahabatnya yang selalu menemaninya dalam suka dan duka selama menjadi pramugari.


"Lo ngeprank gw? gw belum ulang tahun lho...?" Karmen masih juga tidak percaya, ia mencoba mengingat kenapa Amelia tiba-tiba bicara seperti itu.


"Astaga... Karmen! gw serius, gw nggak lagi keprank." Amelia menghapus air matanya.


"Lo nangis? lo serius mau resign? tapi kenapa begitu tiba-tiba? ada apa? jika lo ada masalah ngomong ke gw." Wajah Karmen berubah serius, ia duduk di sisi Amelia yang masih betah ditempat tidur.


"Sebenarnya gw resign karena gw sudah menikah." Ungkap Amelia.


"Hah?!"


"Gw sudah menikah dengan Ergan beberapa bulan yang lalu di Singapore."


Bugh!


Karmen memukul pundak Amelia saking kesalnya.


"Kenapa lo rahasiain ke gw? lo nggak percaya gw?" Kesal Karmen tidak terima Amelia tidak jujur padanya.


"Sorry, bukannya gw nggak percaya atau nggak mau lo dateng, tapi pernikahan itu sengaja gw rahasiain karena gw masih terikat kontrak. Pernikahan berlangsung secara sederhana. Nggak ada yang kami undang selain penghulu, wali dan saksi. Jelas Amelia.


"Trus kenapa lo baru bilang sekarang?"


"Karena sekarang gw sudah lepas kontrak, jadi gw beritahu ke lo. Ergan yang meminta gw resign. Dia ingin gw fokus urus rumah tangga kami."


"Mana foto pernikahan lo?" Karmen mengadahkan tangannya pada Amelia.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2