
Ergan mengangkat sebelah Alisnya. Penampilan Amelia sangat seksi malam ini.
"Pacar kamu."
"Hehehe, sekarang aku punya pacar? kamu tampan sekali. Lebih tampan dari si Heri bajingan itu!" Amelia memeluk Ergan dengan erat sambil menyandarkan kepalanya didada Ergan. "Kamu tidak akan meninggalkan aku kan? tidak akan selingkuh lagi kan?" Tanya Amelia semakin merancau.
"Tidak sayang, jika kamu jadi anak yang manis dan penurut, maka itu tidak akan terjadi." Ergan melepaskan pelukan Amelia, menatap Amelia dengan tatapan mendamba.
Amelia mengangguk, kepalanya kembali pusing, dan perutnya mulai mual. Melihat Amelia akan muntah, Ergan segera membawanya kedalam kamar mandi dan membiarkannya mengeluarkan isi perutnya di washtafel.
"Aku pusing." Amelia kembali memegang pelipisnya.
Ergan kembali membawa Amelia ke tempat tidur. Memperbaiki posisi tidurnya lalu menyelimuti tubuh Amelia.
"Mau kemana?" Tanya Amelia saat Ergan hendak beranjak.
"Tidurlah."
Dengan susah payah Ergan menahan gejolak didadanya. Tapi tak disangka Amelia malah menariknya hingga Ergan tepat berada diatasnya. Ergan menghempaskan napas dengan kasar. Tidak seharusnya Amelia menahannya.
"Jangan tinggalkan aku, aku sayang kamu. jangan menikah dengannya." Rancau Amelia memelas. Tatapannya kosong seolah melihat Heri didepannya.
Amelia membuang wajahnya kesamping saat Ergan terang-terangan menatapnya.
Ergan menarik dagu Amelia menghadapnya, menutup mata kemudian menciumnya dengan sangat lembut, seolah bibir amelia permen kapas manis yang ia nikmati sedikit demi sedikit.
Ergan menghentikan ciumannya saat Amelia kehabisan napas. "Masih belum bisa bernapas juga?" Tanya Ergan sambil memegang bibir Amelia yang semakin memerah.
Huff.. huff..!
Ergan kembali mendaratkan bibirnya. Ciuman yang awalnya sangat lembut kini semakin menuntut. Amelia melenguh, bibirnya terbuka dan Ergan memanfaatkan itu dengan memasukkan lidahnya, bermain dan mengabsen setiap inci didalamnya.
Tangan Ergan mulai merayap dari pinggang keatas hingga ke dua squisi kembar Amelia dan memainkannya.
Amelia kembali melenguh, ada gelenyar aneh yang menjalar keseluruh tubuhnya. Sikapnya yang pasrah dan penurut membuat Ergan lupa kalau awalnya ia hanya ingin making out saja. Bahkan Amelia tidak sadar sejak kapan pakaian mereka terlepas.
__ADS_1
Mereka kembali bermesraan, dengan jarak sedekat ini, Amelia dapat melihat dengan jelas wajah tampan Ergan. Ergan tersenyum kemudian melabuhkan wajahnya keceruk leher Amelia, menyapukan bibirnya ke leher hingga kebawah karena Ergan sangat menyukai aroma parfum Amelia yang menyegarkan.
Amelia begitu menikmati dan terbuai. Ia menekan dengan lembut rambut Ergan saat Ergan menyentuh semua bagian sensitivnya. Hingga pada saat tak terduga, Amelia menjerit, kukunya yang tajam memcengkram kuat lengan Ergan saat menahan rasa sakit pada bagian intinya. Ergan menyerangnya tanpa meminta ijin darinya.
"Sakit.. ."
"Maaf, kamu sangat sempit sayang. Mau berhenti?"
Amelia menggelengkan kepalanya. Karena pengaruh alkohol ia menyerahkan segalanya pada Ergan.
Netra mereka kembali bertemu. Ergan membelai wajah Amelia sambil tersenyum, "Sakitnya tidak akan lama, aku akan melakukannya dengan pelan." Bisik Ergan.
Napas Amelia tersenggal, ia kembali menjerit. Sesuatu dibawah sana telah masuk ke bagian intinya.
Ergan tersenyum puas, ia sangat bangga menjadi yang pertama bagi Amelia. Meskipun sudah yakin sebelumnya karena Amelia tidak tahu cara berciuman, tapi Ergan telah membuktikannya. Amelia benar-benar masih gadis dan menjaga kehormatannya.
Mereka melewati malam yang panjang diatas ranjang, berbagi peluh dan memadu kasih bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Entah berapa kali Ergan mengulangnya karena ingin lagi dan lagi. Jika tidak kasihan dengan Amelia yang sudah lemas dan ngantuk, ia tidak akan melepaskannya sampai pagi.
..............
Aku membuka mata dengan perlahan, memegang kepalaku yang masih terasa berat dan sedikit pusing. Aku mencoba bangun, tapi satu tangan sedang memeluk perutku hingga aku tidak bisa bergerak.
Deg!
Betapa terkejutnya aku saat melihat wajah tampan Ergan sedang terlelap disampingku. Aku mengernyitkan keningku kenapa pria itu bisa berada disampingku. Kuangkat selimut yang menutupi bagian atas tubuhku, ternyata tubuhku polos hanya berbalut selimut.
Aku menghela napas dengan kasar saat menyadari berada dalam kamar hotel mewah, mencoba mengingat kejadian semalam, memoriku berputar seperti kaset yang rusak. Bayangan kejadian semalam tidak begitu jelas dan putus-putus.
Dengan perlahan kuangkat tangan Ergan yang melingkar di perutku dan segera bangun. Namun, aku merasa sakit dibagian intiku. Apa itu artinya kami...
Tidak! Aku menggelengkan kepala untuk menepis pikiran ku yang tidak-tidak. Aku beranjak untuk berdiri tapi rasa sakit dibagian intiku mengganggu pergerakan ku.
Kutatap kembali wajah Ergan. Pria itu masih terjaga dalam mimpinya yang indah, suara dengkuran halus dengan jelas dapat aku dengar, mungkin dia terlalu kelehan dengan yang dilakukannya semalam.
Siall! Kami benar-benar sudah melakukannya.
__ADS_1
Sesuatu yang seharusnya ku berikan pada suamiku dimalam pernikahan kami kini diambil orang asing. Entah bagaimana kehidupan ku yang akan datang. Apakah masih ada laki-laki yang mau menerimaku apa adanya atau tidak yakin.
Tanpa terasa air mata keluar dari pelupuk mataku. Aku sangat menyesal. Tidak seharusnya aku pergi ke club untuk menghilangkan rasa sakit hatiku pada Heri, laki-laki bajingan yang telah selingkuh dibelakangku.
Dan untuk laki-laki yang tidur disampingku. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini.
Aku sangat marah, malu, kecewa pada diriku sendiri. Kenapa aku begitu mudahnya menyerahkan diriku padanya.
Aku melangkah dengan tertatih menahan rasa sakit bagian bawah tubuhku. Memungut pakainku satu persatu kemudian menuju kamar mandi.
Setelah pakaian, aku segera pergi, meninggalkan laki-laki yang tidak seharusnya menghabiskan malam denganku.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya aku tiba di mes. Ketiga temanku sudah berangkat kerja. Aku melangkah menuju kamar, ternyata sahabatku Karmen meninggalkan sarapan nasi campur diatas meja rias. Aku mengambilnya lalu mengisi perutku yang sudah keroncongan. Ergan benar-benar menghabiskan tenagaku hingga tulang-tulangku juga terasa remuk.
Tanpa sadar air mataku kembali berlinang. Kali ini bukan karena Ergan telah mengambil kesucianku, tapi lebih tepatnya karena hari ini Heri sang pujaan hatiku menikah.
Aku begitu tulus mencintainya, bahkan aku rela bekerja membanting tulang agar suatu saat dapat sederajat dengan ekonomi keluarganya. Ya, orang tuanya kurang setuju dengan hubungan kami karena orang tuanya lebih kaya dariku. Bahkan ibunya pernah penghinaku dengan sebutan gadis miskin yang tidak sepadan dengannya. Aku pikir mereka akan mengubah pandangannya setelah aku sukses nanti, tapi belum sempat aku mencapai kesuksesan, Heri mencampakkanku kedasar jurang yang paling dalam.
Hatiku begitu sakit, bagai ditusuk beribu pisau tajam. Tenggorokan tercekik, makanan yang begitu enak berubah jadi hambar. Aku meletakkan makanan yang baru setengahnya aku makan. Selera makanku tiba-tiba menghilang.
Kenapa dia begitu tega? apa kurangnya aku coba? salah satu pertanyaan yang membuatku berakhir di Club.
Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar berwarna putih. Pandanganku kosong, persis dengan ruang hatiku yang hampa. Sepintas aku teringat dengan wajah Ergan, bagaimana keadaan laki-laki itu? apa dia masih tidur? atau sudah pulang dan melupakan aku? mungkin dia sudah terbiasa dengan hal semacam itu di Club, jikak tidak, mana mungkin kami berada di tempat tidur yang sama.
Aku memejamkan mata, tubuhku lelah, hatiku sakit, dan pikiranku kacau saat ini. Apa yang akan terjadi dikehidupanku selanjutnya. Aku pasrah, kuserahkan semua pada yang kuasa.
Karena tidak mau tertekan dan stres, akhirnya aku terlelap kealam mimpi. Aku butuh istirahat untuk mengembalikan staminaku yang telah terkuras habis.
...............
.
.
Bersambung......
__ADS_1