Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Pelakor


__ADS_3

Amelia memegang pipinya yang memerah, belum sempat ia menatap wajah wanita yang menamparnya, wanita itu kembali bersuara.


"Dasar pelakor murahan! Gayanya aja selangit tapi kelakuan rendahan!" Maki seorang perempuan yang tidak lain adalah istri pertama Ergan.


Deg!


"Mbak Rania!" Pekik Amelia dengan suara pelan saat matanya menangkap wanita yang baru saja menampar pipinya hingga memerah dan kebas.


"Aku begitu baik padamu, dan ini balasan yang kau berikan, hah!?" Rania kembali memaki Amelia dengan tatapan membunuh.


Amelia tidak mampu mengeluarkan suara lagi karena malu, ini kantor besar, banyak karyawan yang mulai berdatangan melihatnya. Mengangkat wajah saja rasanya sangat sulit. Seandainya bisa, ia ingin berlari dan sembunyi dalam lautan samudera pasifik.


"Dengar kalian semua," teriak Rania pada karyawan lain kemudian menunjuk wajah Amelia. "Wanita ini kekasih gelap suamiku. Dia sudah menghancurkan keluargaku. Aku istri sah dari Ergan dan kami memiliki satu anak. Sedangkan dia? dia hanya pelakor murahan yang akan dibuang oleh suamiku setelah dia bosan." Rania menggila, ia sengaja berteriak untuk mempermalukan Amelia.


Amelia terpaku, matanya panas, hatinya hancur. Jujur, rasanya ia ingin pura-pura tuli agar tidak mendengar caci maki dari mulut Rania.


Para karyawan semakin ramai berkumpul. Hampir semua memegang handphone dan merekam kejadian itu.


Deg!


"Istri sah Ergan? bukankah mereka sepupu? Ergan juga memiliki anak? lelucon macam apa ini? Apa Ergan berbohong padaku?" Batin Amelia.


Amelia menangis tersedu-sedu. Ia tidak pernah berpikir akan berada dalam posisi seperti ini.


Belum puas menyakiti Amelia, Rania menarik rambut Amelia kebelakang hingga wajah Amelia menghadap keatas, matanya yang berair menatap langit-langit gedung akibat terlalu keras Rania menariknya. Kepalanya perih dan sakit. Rambutnya menempel di jari Rania, tapi Rania tidak perduli. Ia terus memukul kepala dan menampar wajah Amelia tanpa ampun.


"Rasakan ini!"


Plak! Plak! bug! bug!


"Ahh.. sakit mbak." Amelia meringis kesakitan.


Rania semakin menggila, ia memukul tubuh Amelia dengan tasnya berkali-kali.


Bukannya melerai, karyawan yang melihatnya hanya menonton dan asik mengambil video mereka layaknya wartawan pemburu berita.


Amelia tidak melawan sama sekali, ia hanya menangis dan meringis saat lututnya menyentuh lantai. Seluruh wajahnya terasa perih. Kuku tajam Rania meninggalkan banyak bekas cakaran disana. Goresan di pipinya memerah bahkan mengeluarkan sedikit darah.


Tidak butuh waktu lama, berita 'istri sah labrak si pelakor' beredar di medsos.


Tirta yang lebih dulu melihatnya di youtube berdurasi setengah jam jadi tercengang. Ia dan Ergan baru saja keluar dari ruang meeting bersama kliennya. Tirta segera menghubungi seseorang untuk memblock vidio itu agar menghilang dari dunia maya. Semua yang berhubungan dengan kejadian itu langsung menghilang bagai ditelan bumi hanya dalam waktu tiga puluh menit.

__ADS_1


Tirta membisikkan sesuatu ditelinga Ergan membuat wajah Ergan tiba-tiba menegang, ia segera pergi dengan langkah lebar menuju lift.


Tirta menyusulnya karena khawatir, ia tidak akan membiarkan Ergan pergi mengendarai mobilnya dalam keadaan panik dan cemas.


"Biar, saya yang bawa mobilnya bos." Tawar Tirta.


"Nggak usah." Tegas Ergan dengan tatapan dingin.


Tirta ikut masuk di kursi depan setelah Ergan membuka pintu kemudi.


"Ngapain lo ikut?"


"Gw nggak akan biarin lo bawa mobil sendiri. Suka atau tidak, gw tetap ikut!"


"Turun!" Bentak Ergan.


"Tidak!"


"Turun!" Ergan menambah satu otaf nada suaranya.


"Nggak!" Tirta ikut menaikkan nada suaranya.


Hanya butuh beberapa menit, akhirnya mereka tiba di kantor Butterfly. Ergan langsung keluar dari mobil, ia berlari menghampiri Amelia yang sedang dalam keadaannya memprihatinkan. Amelia berjongkok sambil menundukkan wajahnya, rambutnya acak-acakan tak beraturan, matanya sembab, dan wajahnya terluka dan berdarah.


"Ck, gw nggak nyangka Mbak Amel kok mau sih jadi pelakor?" Ketus salah satu karyawan.


"Kayak nggak ada laki-laki single aja." Ujar yang lainnya.


"Rupanya kamu masih punya malu juga. Angkat wajahmu!" Rania menunduk, tangannya mengangkat dagu Amelia hingga memperlihatkan wajahnya dengan jelas.


"Hentikan!" Suara Ergan menggelegar didalam gedung.


Ergan merengkuh tubuh Amelia dalam pelukannya. Melihat keadaan Amelia seperti ini rasanya ia ingin memukul semua manusia yang ada di sana. Ergan mengepalkan tangannya, wajahnya memerah karena amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Ia mengedarkan pandangannya, satu persatu wajah itu ia rekam dalam memorinya, ia akan membuat perhitungan pada mereka yang telah menertawakan Amelia. Kini mata elang itu tertuju pada Rania, iris matanya tajam seakan siap menerkam mangsanya.


Rania mundur selangkah, matanya berkaca-kaca, tungkainya bergetar hebat, ia tidak menyangka Ergan akan semarah itu. Ia pikir jika Ergan datang, ia akan membujuknya untuk tidak marah dan meminta maaf padanya. Tapi lihatlah, suaminya yang sangat tampan itu memeluk erat tubuh Amelia dalam dekapannya. Hatinya semakin memanas. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.


"Aku sudah berbaik hati memberimu kebebasan, tapi kau berani mengusik kebebasanku, hah?! Dia istriku, bukan selingkuhanku. Camkan itu!" Dengan lantang Ergan menekankan kata 'istriku' didepan Rania dan semua orang.


"Kamu membela pelakor murahan ini didepan semua orang? kamu sadar nggak sih, Mas!" Bentak Rania.


"Aku tidak akan memafkan mu jika terjadi apa-apa dengannya." Ancam Ergan.

__ADS_1


Ergan mengangkat tubuh lemah Amelia ala bridal style menuju mobil. Tidak ada satu orang pun yang berani bicara. Sebagian besar karyawan mengenal Ergan karena sering kesana bertemu dengan bosnya. Ergan adalah sahabat bosnya.


Tirta yang menyaksikan kemarahan Ergan hanya diam. Ia kemudian berlari mendahului Ergan ke mobil. Tirta mengambil alih kemudi karena ia tahu Ergan sedang dalam emosi tinggi.


"Kita ke rumah sakit bos?" Tanya Tirta memastikan tindakan apa yang harus ia lakukan.


"..."


Ergan hanya diam berusaha meredakan emosinya. Tangan terus mengelus puncak kepala Amelia dan menciumnya.


Tirta sampai kaget melihat bagaimana reaksi Ergan saat melihat keadaan Amelia. Panik, cemas, khawatir bercampur jadi satu.


Sebucin itukah Ergan pada Amelia?


"Sayang.. sakit ya? maaf, maafkan aku."


Ergan mendekap tubuh Amelia penuh kasih. Ia sangat menyesal, seandainya saja ia menemani Amelia masuk kedalam kantornya, mungkin semua ini terjadi.


Amelia hanya diam seribu bahasa, ia menatap wajah gusar Ergan dengan nanar dan sendu. Ia tidak menyangka pria yang sangat dicintainya telah berbohong padanya. Amelia memalingkan wajahnya mengahadap kaca jendela. Tatapannya kosong, tapi airmata terus mengalir bagai aliran sungai yang tidak ada habisnya. Ia tidak sanggup menghadapi kenyataan jika semua yang terjadi hari ini adalah kebenaran.


Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit.


"Ayo sayang." Ergan mengulurkan tangannya namun Amelia menepisnya.


"Jangan menyentuhku!" Sentak Amelia dengan tatapan dingin.


Ergan tidak perduli, ia mengangkat tubuh Amelia masuk ke ruang Unit Gawat Darurat. Ia takut wajah Amelia mengalami infeksi jika tidak segera diobati.


"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk istriku." Pinta Ergan sebelum keluar meninggalkan Amelia.


"Baik Pak, itu sudah tugas kami." Ujar Dokter kemudian mulai memeriksa wajah Amelia.


Ergan keluar kemudian menunggu Amelia di depan pintu IGD bersama Tirta.


Drrtt.. drrtt.. drrtt...


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2