
"Sini, aku bantuin."
Brian mengambil alih seat belt yang dipegang Karmen. Tatapan mereka bertemu saat Brian mendekati wajahnya. Jantung Karmen berdetak lebih kencang melebihi lari marathon, sepertinya ingin terlepas saat itu juga. Jarak wajah mereka hanya lima senti, bahkan Karmen dapat merasakah napas Brian menyentuh kulit wajahnya. Ternyata Brian sangat tampan jika dilihat sedekat ini.
Karmen semakin gugup hingga memejamkan matanya. Karmen memasang mode bahaya dan tidak mau melihat netra Brian lebih dalam lagi.
Brian mudur saat Karmen memejamkan mata. Karmen tampak cantik dan menggemaskan, apalagi saat matanya tertuju pada bibir imut berwarna pink, rasanya ingin mencoba dan menggigitnya. Pikirannya mulai tidak karuan, dia tahu jika gadis itu sedang gugup. Dia berpikir bagaimana jika sedikit bermain dengannya.
"Kenapa tutup mata? berharap aku cium ya? tenang aja, aku nggak suka bibir tipis seperti itu," ujar Brian dengan seringai licik diwajahnya.
Tanpa sadar Karmen langsung memegang bibirnya, apa benar laki-laki tidak suka bibirnya? apa mungkin karena itu dia belum juga mendapatkan pacar? "Ah, apa aku harus operasi plastik dulu?" Batin Karmen.
"Malah bengong, rumah kamu dimana?" tanya Brian mulai melajukan mobilnya.
"Di depan rumah Amelia," jawab Karmen.
"Kamu tinggal sekomplek dengan Kakakku?" tanya Brian memastikan jika alamat yang dimaksud Karmen sama dengan alamat Ergan.
"Iya," jawab Karmen.
"Oh.., tapi kok kita nggak pernah ketemu ya?" tanya Brian.
Brian tidak kaget lagi karena pernah mengantar Amelia kesana. Ia sudah tahu sejak lama jika Ergan bertetangga dengan Amelia, tapi sayangnya ia tidak melihat Karmen saat itu. Awalnya ia kesal karena terlambat mengetahuinya. Tapi mau bagaimana lagi, saat itu Amelia sudah menjadi istri Kakaknya dan menghilang bagai ditelan bumi hingga membuat Ergan seperti orang gila mencarinya.
Brian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalanan mulai sepi. Karmen mulai panik, ia tidak biasa ngebut-ngebutan di jalan. Satu tangannya memegang dashboard mobil, satu lagi berpegangan pada lengan Brian sambil menutup mata.
Chiiiit!
Brian menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Karmen. Brian tersenyum berhasil mengerjai Karmen, wajahnya pucat pasi seputih kapas.
Dengan perlahan Karmen membuka matanya, ia menghela napas lega. Ia menepuk pipinya dua kali memastikan jika dirinya masih hidup. Karmen menoleh kesamping, melihat wajah tidak berdosa Brian yang sedang tersenyum manis padanya.
"Cepat sampai dirumah kan? hanya sepuluh menit," ujar Brian sambil melihat jam tangan mewah dipergangan tangannya.
Bugh!
Karmen memukul lengan Brian hingga Brian memegang lengannya sedikit sakit.
__ADS_1
"Kamu gila ya? mengendarai mobil seperti orang kesetanan. Kalau aku mati gimana?" kesal Karmen.
"Ya tinggal dikubur kan?" jawab Brian.
"Ihhh.... benar-benar nyebelin!"
Tanpa sadar Karmen melompat mengacak-ngacak rambut Brian, ia tidak sadar jika sekarang posisinya sedang duduk bergoyang diatas pangkuan Brian.
Brian mengerang, wajahnya semakin memerah ketika dada Karmen naik turun di wajahnya, meskipun ukurannya kecil tapi bisa membuatnya bergairah. Brian pria normal yang sudah lama tidak merasakan sentuhan wanita. Sesuatu dibalik celana panjangnya mulai sesak dibawah sana akibat ulah Karmen yang tidak berhenti bergerak saking kesalnya padanya.
"Ahh... Karmen," suara lenguhan Brian menyadarkan Karmen jika apa yang dilakukannya salah. Ia berhenti bergerak saat merasakan milik Brian dibawah sana sudah mengeras minta dipuaskan.
"Kenapa berhenti? lakukan sesuka hatimu, aku milikmu," ujar Brian dengan suara parau, tangannya tidak tinggal diam menahan pinggul Karmen, sedangkan tangan yang satunya menarik tengkuk Karmen dan mulai mencium bibirnya. Ciuman yang sangat lembut membuat Karmen ikut terbuai dan menikmatinya.
"Payah! kamu tidak pernah berciuman?" kesal Brian. Brian pikir Karmen sudah terbiasa karena merasa Karmen menggodanya sejak tadi, tapi ternyata gadis itu sangat polos dan belum tersentuh.
Karmen menggelengkan kepalanya, seketika Brian tersenyum penuh kemenangan. Jika Karmen baru ciuman, apa mungkin yang dibawah sana masih tersegel? rasa penasarannya semakin membuncah.
"Buka mulutmu," ujar Brian kemudian melahap kembali bibir Karmen, kini lidah mereka saling terpaut, membelit, mencecap dan mengabsen seluruh isi didalamnya.
Brian berpindah turun ke leher, memberi ciuman lembut hingga suara lenguhan Karmen yang ditahannya akhirnya lolos. Brian mulai menyentuh bagian sensitif Karmen, memasukkan jari di balik kain segitiga milik Karmen. Ternyata benar dia dapat merasakan Karmen masih tersegel.
"Kau membuatku gila Karmen, kita ke hotel sekarang," ujar Brian dengan suara parau. Ia memutar balik mobilnya kemudian menuju hotel terdekat. Posisi Karmen masih dipangkuannya. Ia memiringkan wajahnya agar bisa melihat jalanan meskipun Karmen diatasnya.
Begitu tiba di hotel Brian langsung menarik Karmen turun, ia menyerahkan kunci mobilnya pada petugas hotel kemudian menuju resepsionis.
"Tidak Brian, ini salah! maafkan aku, Aku tidak bermaksud menggodamu, lebih baik kita pulang," melas Karmen.
Kunci sudah ditangan Brian. Mau mundur, ia sudah bisa meskipun Karmen memelas.
"Karmen please...! ayo sayang, kamu tidak kasihan melihatku seperti ini? kamu harus tanggung jawab. Aku bisa gila jika tidak melakukannya, apa kamu rela jika aku melakukannya pada wanita lain, hem?!" bujuk Brian, ia menarik tangan Karmen masuk kedalam lift, begitu lift tertutup, Brian kembali mencium Karmen, memberikan sentuhan halus agar gadis itu luluh dan menginginkan dirinya. Beruntung didalam lift cuma ada mereka berdua.
Ting!
Lift terbuka, Brian langsung mengangkat Karmen ala bridal style menuju kamar presidential suit yang Brian pesan. Kenapa dia memesan kamar itu? tentu saja karena privasinya dapat terjaga dengan aman.
Brian membuka pintu kemudian meletakkan karmen disofa.
__ADS_1
"Ini salah, kita belum menikah," ujar Karmen beringsut mundur.
"Kita akan menikah," ujar Brian sambil membuka pakaianya.
Brian langsung mencium bibir Karmen, satu tangannya menahan tengkuk Karmen, yang satu lagi membuka pakain karmen. Pelan tapi pasti mereka sudah tanpa busana. Karmen menyilangkan tangannya menutup bagian intinya, namun Brian membukanya. Dia ingin melihat tubuh indah Karmen sebelum menyentuhnya.
"Kenapa ditutup? kamu sangat indah," puji Brian kemudian mulai menyentuh, membelai, mencium, semua titik sensitif Karmen.
Karmen melenguh mengeluarkan suara erangan yang semakin membuat Brian bersemangat saat Karmen menyebut namanya.
Brian membawa Karmen ketempat tidur. Ia tidak mungkin melakukannya disofa karena ini baru pertama kali untuk Karmen.
Ditempat tidur king size, mereka berbagi peluh, saling menyatu, dan memberi kenikmatan dan kepuasan. Mereka sama-sama mengerang saat mencapai puncak bersaman hingga Brian mengeluarkan benihnya didalam milik Karmen.
Dengan tubuh polos berbalut selimut. Brian mencium kening Karmen yang sedang bersandar didada bidangnya, mereka sama-sama diam, menetralkan detak jantung dan tenaga yang hampir terkuras habis.
"Karmen, jika aku malamarmu, apa kamu mau menjadi istriku? ibu dari anak-anakku dan hidup bersamaku?" tanya Brian sambil mengelus bahu Karmen.
Brian mengernyitkan keningnya karena Karmen tidak menjawab pertanyaannya. Ia munduk melihat Karmen sudah tertidur dengan napas sudah teratur.
"Pantesan kamu diam, kamu sudah meninggalkanku ke alam mimpi," ujar Brian kemudian ikut memejamkan mata.
...............
Pesta pernikahan Amelia dan Ergan sudah selesai. Semua tamu sudah pulang termasuk keluarga. Azka dan Aqilah ikut bersama Karisma dan Andreas pulang kerumah mereka.
Azka sudah terbiasa dengan mereka hingga tidak lagi mencari Amelia. Bahkan saat Amelia mengajaknya untuk kekamar hotel, Azka lebih memilih ikut bersama Karisma.
Ergan dan Amelia bernapas lega karena acara pernikahannya berjalan dengan lancar. Mereka langsung menuju kamar untuk melakukan bulan madu kedua setelah pesta pernikahannya. Sekarang mereka sudah menjadi keluarga yang lengkap saling mencintai dan hidup bahagia.
Rania?
Kenapa Rania tidak datang karena? tentu saja karena uang. Tirta sengaja mengatur pekerjaan untuknya hingga harus ke Paris menjadi brand ambasador produk kecantikan. Terlalu banyak yang wanita itu ingin lakukan pada Amelia, tapi Ergan dan Tirta terlalu pintar untuk mengetahui lebih dulu pergerakannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung....