Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Pagi Yang Heboh


__ADS_3

Ais dan Tama asyik berbincang dengan sepupunya Hani. Karena sudah malam Putri meminta ketiganya tidur.


" Hm. sudah malam kak, besok sambung lagi ya ceritanya. Kasihan kak Hani nya sudah ngantuk tuh." Putri menasehati.


*****


Paginya, suasana heboh ulah Ais yang berebut mandi dengan Tama. " Aku duluan.. kita mau mandi berdua dengan Kak Hani.. " Kesal Ais dengan Tama yang tak mau kalah.


Sonya yang kebetulan lewat di kamar mereka jadi heran. " Hai ada apa ini? " Tanya nya tersenyum.


" Bund. Tama nggak mau ngalah.aku kesal..!" Ais merenggut manja.


" Ada apa mbak. kok heboh.? " Tanya Putri yang mendengar kehebohan di kamar anak-anak.


Tama dan Ais menunduk. ia tidak berani bicara. " Bun. di kamar ada yang mandi. kalau nggak aku dengan Ais numpang ya ma.." Hani bermohon pada bundanya.


" Boleh. sini sama bunda aja ya nak.." Ajak Sonya pada kedua gadis kecil tersebut.


Putri diam, ia tidak permasalahan nya. kenapa anaknya heboh. ia pun mendekati Tama yang masih menunduk.

__ADS_1


" Pergilah mandi dulu. karena kita mau sarapan." Ucapnya pada anak laki-laki nya tersebut.


Tama mengangguk dan berlalu ke kamar mandi, setelah kedua saudara perempuan nya keluar.


Putri kembali ke bawah. ia sebenarnya ingin membangunkan mereka. namun yang terjadi malah kehebohan di pagi hari.


"Ada apa yang ..? " Tanya Lutfi yang melihat istrinya yang agak kesal. Namun ia tak menjawab. dia terus melanjutkan kerjaan nya membantu Bunda menyiapkan sarapan. Namun ia kembali pada suaminya yang duduk dengan Ayahnya membawa minuman dan cemilan.


" Silahkan di minum Yah. Kak.." Dan kembali ke belakang. Lutfi hanya diam, ia sudah tahu sifat istrinya. jika kesal ia tak akan irit bicara. Begitu juga Johan. Kalau dari dulu suka mengurung diri di kamar jika sudah kesal atau marah, dengan siapapun.


Namun tangan tetap kerja. Malamnya pasti akan curhat pada suaminya. Karena kebiasaan yang di buat Lutfi. jika sebelum tidur, mereka ada saja yang di bahas. Baik masalah mereka berdua, maupun anak kembarnya.


Suasana yang sudah heboh makin riuh." Oma. opa.. sudah datang.." Sorak Ais ketika melihat keduanya.


Ginanjar dan Dian orangtuanya Lutfi tentu bahagia sekali melihat cucunya yang sudah setahun tidak dilihatnya langsung.


" Silahkan duduk mas.mbak " Ucap Johan pada besannya.


" Makasih.. " Jawab keduanya.

__ADS_1


" Mbak Vanessa mana mas..? " Tanya Dian yang tak melihat Besan dan mantunya.


" Oh mereka di dapur mbak.! " Jawab Johan.


Lutfi segera ke dapur memanggil istri dan mertuanya. Di sana juga ada Sonya iparnya.


" Bund. mama cariin.. " Ucap Lutfi namun sudah ada Dian yang berdiri di belakangnya.


" Aduh.. mbak sibuknya.. ada yang mau saya bantu.. " Sarkas nya yang tak peduli dengan anaknya yang melotot kaget karena ulahnya.


"Eh mbak.. nggak usah.. sudah siap semua kok." Putri dan Sonya segera menyalami Dian yang tersenyum pada mereka.


" Baru datang ma.oh ya mama bawa apa nih. kok banyak sekali..? " Tanya Putri yang melihat kantong besar di tangan mertuanya.


" Oh.. ini ada sedikit cemilan untuk melengkapi sarapan kita. kan mama sengaja numpang sarapan di sini.." Goda Dian pada mantunya.


" Ah. mbak selalu rempong deh. ini sudah banyak.. waduh bisa makan besar kita pagi ini.. " Seloroh Vanessa pada besannya. Semuanya pun tertawa.


Di ruang keluarga anak-anak pada heboh juga. apalagi Ais, suara nya yang nyaring mengalahkan kedua saudara nya.

__ADS_1


Suasana sarapan pagi itu sangat heboh dan riuh. para orang tua kadangkala geleng kepala melihat kekocakan ketiga bocah.


__ADS_2