Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Rasa


__ADS_3

Rasa rindu itu tidak bisa di obati hanya dengan lewat telpon. Sudah enam bulan Nino di Surabaya. Ia tak sanggup lagi menahan rasa ingin berjumpa dengan sang kekasih.


Pagi. Nino sudah rapi. ia berencana ke Jerman menemui sang ke kasih. dan juga melihat perkembangan kafenya yang di sana. Walau Abiyan dan orang kepercayaannya memberikan informasi. Namun ia pun butuh pembaharuan juga pada perkembangannya.


Saat ia turun dari lantai dua. tiba-tiba saja Jeni datang menghampirinya.Nini heran, sebab gadis tersebut tidak pernah datang ke kafe di saat kafe libur. Karena setiap Jumat. Kafe di tutup, dan gantinya hari Minggu.


"Halo dosen ganteng. mau kemana dengan kopernya. apakah Pak dosen mau pergi.?" Goda Jeni dengan pakaian minim kain.


Nino hanya diam tanpa menjawab. ia terus melangkah dan hampir saja ia terdorong jika tidak berpegangan ke tangga.


"Maaf. saya di kejar waktu, dan tidak ada waktu melayani anda. minggir." Kesal Nino pada gadis tersebut yang selalu menggodanya.


"Sebentar saja lah pak. aku mau minum bersama bapak. buatkan aku minum ya pak. aku lagi Betek nih." Jeni bukan menjawab malah merengek manja seolah lada ke kasih.


"Saya sudah bilang. saya di kejar waktu. dan ada waktu melayani anda." akhirnya Nino menerobos Jeni yang berdiri menghalangi langkahnya


Jeni pun hampir saja terjatuh. Nino dengan cepat menariknya keluar kafe. dengan cepat ia mengunci pintu. Jeni terus saja bergelayut manja pada lengan Nino yang sudah jengkel.


Nino menghentakkan tangannya. hingga terlepas." Maaf. sekali lagi saya bilang. saya di kejar waktu, nanti saya ketinggalan." Hardik Nino yang sudah marah.


Jeni sangat kaget sekali mendengarkan hardikan Nino. ia pun menangis. Nino bingung melihat situasi tersebut. Jeni malah mengeraskan suaranya.


Untung ada Taxi. Nino menarik Jeni kembali. gadis tersenyum senang. karena ia tetap di bawa laki-laki yang di kagumi nya itu.


Nino fokus ke arah jalanan. dan juga jam yang ada di tangannya. Jeni terus bergelayut di tangan Nino. sopir Taxi yang mengintip geleng-geleng kepala melihatnya. Karena Nino malah berusaha melepaskan gadis tersebut.


Nino akhirnya sampai di bandara. Dia membayar tadinya. Jeni tetap mengekorinya. Nino tidak bisa melepaskan tangan gadis tersebut yang terus menempel.

__ADS_1


Hampir saja tempat masuknya tutup. ia pun langsung Cek in. Nino tentu bisa masuk. sedangkan Jeni yang di periksa merasa bingung. sebab ia tidak punya tiket. dan tidak tahu Nino mau ke mana.


Jeni berteriak pada Nino agar membantunya masuk. Petugas mencegat Nino menanyakan tentang gadis tersebut.


"Oh. maaf pak. saya tadi terburu-buru. nah saat saya masuk Taxi. dia juga ikut. saya nggak tahu kalau ia sakit jiwa, bapak urus saja dia ya. saya ketinggalan." Jawab Nino melepaskan diri.


Jeni pun di larang masuk bahkan akan di laporkan ke polisi jika bersikeras masuk ke dalam.


Jeni pun akhirnya pulang lagi ke rumahnya dengan kesal." Awas ya kamu. akan aku buat kamu jatuh cinta pada ku." Senyum maut Jeni menghiasi wajahnya.


Butuh waktu beberapa jam. Nino sampai ke Kota kelahirannya. ia sangat lega. akhirnya sampai juga di bandara saat hari menjelang senja.


Ia pun langsung ke rumah Ais. ia tidak bisa lagi menahan rindu bertemu gadis pujaan hatinya. Karena saat ia PC saat Ais di kampus. ada seorang laki-laki yang sedang duduk di samping Ais dan laki-laki tersebut jelas sekali menyukai ke kasihnya. Nino terbakar cemburu. makanya ia tak sabar ingin datang menemui kekasihnya.


Nino sampai di apartemen Ais saat hanya ada Hani yang duluan pulang dari kampus." Eh. kapan datang Bru. ?" Tanya Hani melihat Nino duduk di depan pintu apartemen mereka.


Hani tersenyum." Ais... Oh tadi ia ada kegiatan belajar kelompok di kafe. Jadi kita nggak ketemu di kampus." Jawab Hani apa adanya.


"Apakah dengan laki-laki ini.?" Tanya Nino melihat kan handphone nya pada Hani.


Hani mengerutkan keningnya." Jangan bilang karena ini kamu datang ke sini.? Aduh bucin sekali kamu Bru. Dia memang teman kelompok Ais. mereka belajar kelompok di sini dua hari yang lalu. katanya sudah selesai. hanya saja ada yang di renovasi jadi mereka lanjutkan di kafe kamu." Hani menjelaskan yang sebenarnya.


Mungkin karena takut kehilangan, Nino jadi parno, ia bahkan rela datang sejauh ini demi melihat langsung keadaan kekasihnya.


Sedang melamun begitu. Ais datang dengan di antar seorang laki-laki yang seumuran dengan Ais.


Ais kaget melihat kedatangan Nino. ia memang di beritahu akan datang. tapi tidak di beritahukan kapannya. Ais berusaha tersenyum walau terasa canggung mendapati tatapan Nino yang tajam.

__ADS_1


"Eh. Mas kapan datang. kok nggak kabarin.?" Tanya Ais mendekati Nino. Nino hanya diam tanpa ekspresi. Jauh-jauh ia datang tapi malah di temukan dengan suasana seperti ini. dulu saat ia kecil. juga begini, ditinggal mamanya saat ia masih kecil bersama seorang laki-laki lain. hingga membuat Papanya membenci bahkan ia pun jarang di temui ya. dengan alasan jika bertemu dengan nya akan teringat kejadian tersebut.


"Makasih fan sudah antarkan saya.bay.." pamit Ais Masuk tanpa melihat Nino dengan wajah yang sangat marah.


Ais dan Hani sudah masuk. Namun Nino menghampiri laki-laki yang bernama fan. entah fan apa.


"Hai. tunggu dulu.!" Nino menghadangnya. Sedangkan Fandi heran. rasanya ia pernah kenal dengan wajah yang tak asing baginya.


"Oh. kenalkan. saya Nino kekasihnya. Ais. jadi saya tak larang kamu untuk berteman. namun tahu batas ya." Sarkas Nino tersenyum miring.


Ia berpikir tidak mungkin ia melarang Ais untuk berteman, dengan siapa pun.


"Saya Fandi kak. Maaf jika sikap saya bikin kakak salah paham." Jawab Fandi santai.


Ia memang menyukai gadis mungil tersebut. namun mana ia tahu kalau Ais sudah ada yang punya


"Oh tidak. hanya kaget saja." Jawab Nino yang tertawa. menutupi kejengkelannya.


Fandi pun pergi meninggalkan. Nino masuk mendapati Ais sudah duduk di kursi dengan santainya tanpa salah.


Nino meletakkan kopernya. Ia duduk menghadap Ais tanpa rasa bersalah. Nino menarik nafa dalam. Seharusnya ia marah. Tapi Melo sikap Ais yang merasa tak bersalah. ia tidak tahu harus bagaimana.


Tiba-tiba Hani datang dengan membawa minuman. " Silahkan di minum ya Bru. Kamu mau istirahat di kamarnya Abi dulu.? Tanya Hani melihat keduanya hanya saling diam.


Ais menonton Televisi. Hani memukul bahu gadis tersebut yang cuek saja.


"Ada apa mbak.?" Tanya Ais pada kakaknya.

__ADS_1


Hani geleng-geleng kepala." Dek yang kamu tanya tuh pacar kamu. bukan mbak.?" Hani merasa jengkel dengan sikap Ais yang santai saja.


__ADS_2