Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Ais yang gugup


__ADS_3

Walau sebenarnya ia mencintai Nino suaminya, hanya karena ia Nino tidak memberitahukannya. Ia malah jadi marah dan kecewa pada suaminya.


Mereka pun semua mengantarkan Ais ke Surabaya dengan dua mobil. karena mereka juga membawa barang Ais dan juga kado dari beberapa keluarga untuk Ais dan Nino. makanya pakai mobil.


Sampai di Surabaya mereka langsung ke Apartemen. dan sudah di tunggu Nino di sana. Nino bahagia akhirnya istrinya mau mengikutinya dan pindah ke Surabaya.


Lutfi langsung memeluk menantunya." Jaga anak papa, dan jangan sampai buat anak papa menangis. awas ya jika kamu buat anak papa kecewa.! jika kamu tidak mau lagi, antarkan pada papa kembali, namun jangan langsung ambil tindakan. berilah ia waktu, Ais masih labil dia sangat manja." Lutfi menasehati menantunya.


"Ya pa. aku juga sudah janji pada Oma." Jawab Nino singkat.


Ais hanya melihat interaksi keduanya. tanpa ada niat untuk mendekat. Karena ia tidak tahu apa yang di bicarakan keduanya.


"Oh ya nak. nanti kamu di sini baik-baik ya nak. jika ada masalah jangan lupa bilang sama mama. Kami selalu siap untuk mu." Putri pun menasehati anaknya.


Ais hanya mengangguk. Dia tidak menyangka


secepat ini ia menikah. di usianya yang belum genap 20 tahun.


"Iya nak. mama mu benar. banyak sekali godaan buat kalian berdua. baik dirimu yang kau lebih muda dan cantik. begitu juga Nino yang mapan dan jadi idola para cewek." Vanessa mengingat kan anak cucunya yang masih muda dan tentu sangat labil dan emosi yang masih meledak-ledak.


"Ya Nek. aku cuman kesel saja dengan Kak Nino." Jawabnya lirih. takut terdengar yang lain.


Putri memukul lengan anaknya yang masih keras kepala." Nanti kalau ada yang ngebet suami kamu baru nangis." Kesal Putri ada anak gadisnya.


Vanessa hanya geleng-geleng kepala saja. dulu Putri juga begitu. sok jaim lada Lutfi. tapi sekarang, nggak boleh jauh darinya.


Semuanya pun duduk di ruang yang lumayan luas, ruang tamu dan ruang keluarga serta kitchen set, di buat menjadi satu dan ada dua tempat tidur.


" Oh. kita nginap nggak di sini semuanya. mungkin ada yang pindah ke apartemen yang di sewa, jadi di bagi dua kubu." Johan mengingatkan semuanya.


Ais memegang tangan mamanya." mama tidur di sini kan?" Tanya Ais berharap.


Putri menggeleng kan kepalanya.


Ais merengek manja agar mamanya tidur di apartemennya.


"Yang tidur di sini Opa bersama Abiyan. kenapa.?" Tanya Johan melihat cucunya.

__ADS_1


Ais menggerakkan kepalanya. takut membantah lagi, karena dia bodyguard yang akan menunggunya di sini.


Sedangkan Putri.Sonya dan Vanessa senyum-senyum sendiri melihat ekspresi Ais.


"Kenapa kamu takut. Kan ada Nino?" Tanya Vanessa menggodanya.


"Ne.. ayolah.. nenek juga nginap di sini. biar Opa di temani kak Nino." Manja Ais membuat semuanya tertawa.


Nino hanya diam. ia tahu kalau istrinya takut untuk tidur bersamanya. Dia hanya diam saja seolah tidak tahu.


"Sudah! Bund. kita pindah lagi. aku capek nih." Lutfi mengajak mertuanya dan juga yang lain ke apartemen lainnya.


Ais diam sejenak. kemudian dia mendekati Abiyan yang dari tadi sudah masuk kamar untuk istirahat. karena capek nyetir.


"Bang. kok udah tidur. temani aku dong bang." Ais menggoyang tubuh abangnya agar bangun dan menemaninya.


"Dek. kamu tuh udah punya suami. sana.. jangan ganggu aku lagi. nanti Opa marah Lo." Ancam Abiyan agar adiknya keluar. karena tubuhnya butuh istirahat.


Dengan berat hati. Ais pun akhirnya pindah ke kamarnya. Di sana Nino lagi Sholat. Ais duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.


Nino yang sudah selesai sholat memperhatikan istrinya yang sibuk memegang handphone. tidak tahu DM dengan siapa. Nino mendekati istrinya.


"Belum. nih nanya mama tentang pakaian ku kak." Jawab Ais membuat Nino tahu kalau istrinya DM dengan Mertuanya.


"Oh. itu.. bajunya udah kakak susun di lemari. apa perlu di bantu mengambilkan baju tidurnya.?" Tanya Nino santai.


"Kakak yang nyusun. tapi.. itu...eh..anu.." Ais gugup mengingat pakaian dalamnya yang pasti di pegang suaminya saat di susun.


Nino menatap istrinya yang gugup saat bicara. padahal dia kan hanya bantu menyusun pakaian.


"Kenapa kamu gugup begitu. apa ada yang salah.?" Tanya Nino menyelidik. dia kurang peka maksud pertanyaan istrinya.


"Ah. nggak apa-apa." Ais melangkah mengambil pakaiannya yang telah di susun suaminya.


Nino menyadari istrinya dengan tubuh kecil, makanya ia menyusun sesuai baju Ais sesuai tingginya. agar tidak susah meletakkan atau pun mengambilnya.


Ais membuka lemarinya. ia melihat semua pakaian tersusun rapi. beda dengannya yang menyusun bajunya asal. tanpa di pisah antara pakaian untuk di rumah dengan yang keluar rumah.

__ADS_1


Dengan mudah Ais menemukan pakaian rumahnya. namun ada satu hal yang belum ia temui. yaitu salaman yang ia takutkan tadi.


Ia sudah memeriksa di balik pakaian yang tersusun rap. namun tidak di temukan.


Nino yang melihat kebingungan istrinya. dia pun mendekatinya. " Mau cari dalaman disini." Ical Nino membuka sebuah laci bagian bawah . yang cukup besar . Mata Ais terbuka lebar. karena ********** tersusun rapi berdampingan dengan dalaman suaminya.


"Cari ini kan.?" Tunjuk Nino santai. sedangkan Ais makin gugup.


"Hm. makasih kak.he..he.." Ais cengengesan menutupi kegugupannya. Sedangkan Nino berusaha menahan senyum. Takut nanti istrinya marah.


Ais mengambil kedua dalaman tersebut dan berlari ke kamar mandi. ia membiarkan pintu lemari terbuka.


"Pengen aku peluk kamu sayang..." Lirih Nino gemes. Ia pun akhirnya tidur. karena dari pagi ia sibuk mempersiapkan semua kebutuhan keluarga barunya. Karena ia bahagia istrinya mau mengikutinya.


Nino berbaring menunggu istrinya yang cukup lama di kamar mandi. dia heran." Ais. sayang.


jangan terlalu lama di kamar mandi. nggak baik. ini udah malam." Seru Nino khawatir.


"Ia. kak. bisa minta tolong.. ambilkan baju ku kak. lupa.." Seru Ais malu. karena ia hanya bawa pakaian dalamnya saja. lupa bawa baju yang sudah ia ambil dan di letakkan di kasur tadi. karena terburu-buru ia lupa membawanya.


Nino baru sadar. ia melihat pakaian istrinya yang tergeletak di kasur. ia pun mengambilkan. Nino mengetuk pintu.


"Ini bajunya." Seru Nino setelah mengetuk pintu kamar mandi.


"Oh letak aja di situ. bair aku ambil nanti." Ais berseru di balik pintu dengan tubuh gemetar. tubuhnya sudah dingin. karena sudah terlalu lama di sana.


Nino mengerutkan keningnya saat mendengar suara Ais yang gemetaran." Sayang.. buka pintunya.. kamu OK kan.?" Nino menggedor pintu dengan kencang.


Dengan tubuh gemetar Ais akhirnya pasrah membuka pintu. tubuhnya menggigil karena kedinginan. Nino yang melihat istrinya yang hampir ambruk. menggendongnya dan membawanya ke kasur. Ia pun menyelimutinya dengan selimut yang tambahnya dari lemari


"Kamu kamu begini sayang... sebentar ya. kakak buatkan dulu teh hangat." Nino keluar dengan cepat membuat teh hangat. dan kembali lagi ke kamar mereka.


Nino melihat tubuh Ais yang masih menggigil padahal sudah memakai selimut dua lapis. Tanpa ragu. Nino akhirnya membuka bajunya masuk ke selimut dan memeluk tubuh istrinya agar bisa menyalurkan kehangatan tubuhnya pada istrinya.


Ais yang sudah kedinginan dapat pelukan suaminya tertidur dalam dekapan Nino. Nino membelai pipi istrinya. " Manis.. kamu selalu bikin aku merindu. tetaplah bersama ku selalu. dan jangan pernah kamu meninggalkan ku." Nino berbicara pelan memandang wajah istrinya.


Ia pun mencium kening istrinya lembut. wajah dan bibir mungil istrinya. Namun, sebagai laki-laki normal bersentuhan tubuhnya dengan wanita. apalagi wanita yang halal baginya. tentu saja membangkitkan gelora cintanya.

__ADS_1


"Ah. sial. mana mungkin aku mengambil hak ku sekarang. aku sudah janji pada Oma." Nino resah sendiri. Setelah istrinya aman. ia pun menuntaskan hasrat di kamar mandi.


Akhirnya Nino sholat. untuk menghilangkan pikirannya yang menerawang kemana-mana. setelah aman baru ia pun tidur di samping istrinya.


__ADS_2