Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Pengakuan Nino


__ADS_3

Kesan pertama pada gadis kecil tersebut membuat Nino kadang tidak fokus. sudah satu bulan kejadian tersebut. Dan ia belum melihat gadis tersebut beberapa hari ini.


Nino hendak ke kafe sekedar mengisi perutnya yang tidak sempat di isi lagi tadi. karena ketiduran.


Matanya terpana melihat gadis yang telah menganggu pikirannya ada di depan mata sedang tertawa dengan saudaranya dan juga dua orang laki-laki duduk bersama mereka.


Nino duduk sebelah meja mereka tanpa di sadari Ais dan Hani. Nino mantap gadis tersebut tertawa lepas.


"Amazing.." ucapnya lirih.


Ais tidak memperdulikan sekelilingnya. Abiyan datang menyerobot makanan gadis tersebut.


*Ih. Abang jahat. main comot aja." Kesal gadis tersebut membuat Nino yang menatapnya gemes..


"Alah tinggal pesan aja lagi. udah sana pesan kan Abang yang adek cantik" Goda Abiyan membujuk.


"Ogah. kesan aja sendiri.." jutek Ais kesal.


Namun ia tetap berdiri karena Abiyan menatapnya." Ia aku pesan. dasar Abang jahat suka menindas." Sungut Ais terus berjalan ke kasir memesan makanan buat abangnya.


Nino dengan cepat mengejar gadis tersebut." Eh maaf biar Bruder yang pesan. mau makan apa?" Tanya Nino basa basi.


Ais yang mendengar suara orang yang membuat ia jengkel menatapnya horor." Nggak perlu terimakasih." jawabnya melengos dan membayar pesanan buat abangnya.


Nino mengurut dadanya. kesalahan yang dia buat, membuat gadis tersebut benci padanya. bahkan untuk dekat saja, gadis itu seolah ilfil padanya.


Nino menarik nafas dalam. Ia akhirnya memesan makanan buat dia sendiri.


Abiyan yang memperhatikan tingkah Nino merasa curiga. Karena Nino adalah ketua senat mereka. Kenapa begitu baik pada adiknya. Apa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.


Abiyan berbisik pada adiknya setelah Ais duduk kembali. " Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan pada Abang.?" Tanya Abiyan.


Ais mengernyitkan dahinya. mendengar pertanyaan Abangnya.


"Kamu utang penjelasan ya dek." Bisiknya lagi. karena melihat Nino lagi-lagi mencuri pandang pada adiknya.


Ais cuek saja. ia melanjutkan makannya, dan tak peduli lagi apa yang di katakan Abangnya.

__ADS_1


Hani yang melihat si kembar hanya diam memperhatikan keduanya.


Sebagai kakak. ia tak mau gegabah. ia harus selidiki dulu. ia akan bertanya dulu pada kakak tingkatnya ini.


Setelah acara makan selesai. mereka pun masuk ke kelas masing-masing. Abiyan berjalan beriringan yang kelasnya tidak terlalu jauh dengan Nino.


"Maaf bruder. apakah saya boleh bicara sedikit.?" Tanya Abiyan langsung.


"Oh. ada apa?" Tanya Nino yang merasa tidak ada masalah.


"Apakah bruder menyukai adik saya.?" Tanya Abiyan langsung pada intinya. Nino yang di tanya begitu merasa kikuk.


Ia menarik nafas dalam. ia perhatikan wajah pria yang ada di depannya. apa maksud pertanyaannya.


"Apa maksudmu.?" Tanya Nino menyelidik.


"Maaf kalau saya salah menebak. tadi saya lihat anda berdua seperti marahan ketika di kasir tadi. "tanya Abiyan mantap.Sebagai saudara. ia tak mau adiknya kenapa-napa.


"Oh. itu.. karena kita pernah salah paham waktu ospek. dan saya belum dapat maaf dari gadis tersebut." Jawab Nino apa adanya. Namun masalah hati ia tidak mau berterus terang.


Nino kembali menarik nafas dalam." Apakah ada larangan kalau saya menyukai adik anda ?" Tanya Nino yang tak mau lagi bertele-tele.


Mungkin lebih baik ia langsung saja beritahu. lagian pria yang di depannya ini saudara gadis yang ia sukai.


"Tidak ada salahnya. hanya saja. saya tidak mau anda main-main dengan adik saya. ingat! dia adik yang harus saya jaga dari laki-laki yang berniat jahat." Ucap Abiyan tegas.


Nino tersenyum." Tidak mungkin saya akan berniat jahat pada gadis yang telah mengisi hati saya. ia telah mengganggu perasaan saya. bagaimana mungkin saya akan berbuat jahat." Jawab Nino tenang.


Karena. ia baru kali ini jatuh cinta pada seorang gadis. karena selama ini, hidupnya hanya monoton saja. belajar dan belajar. Hingga ia terpilih jadi senat. dan dosen mengetahui kepintarannya.


Abiyan menatap laki-laki di depannya. tidak ada canda di sana. yang ada mata yang berbinar saat bercerita.


"Saya pegang ucapan anda." Ucap Abiyan dan berlalu meninggalkan pria yang telah mencintai adiknya.


Nino tersenyum. ia tahu sikap Abiyan yang seolah menjaga. ia tak marah saat Abiyan mengancamnya. toh ia hanya mencintai bukan menyakiti.


Nino pun masuk ke kelasnya. namun di hadang Hani. Abiyan kembali tersenyum. Ternyata ada pengawal gadis tersebut. Mungkin karena gadis tersebut manja. makanya di jaga ketat.

__ADS_1


"Sorry. Bruder. saya tidak mau anda macam-macam pada adik saya.!" Ancam Hani yang melihat Nino tersenyum padanya. seolah mengejek.


"Jangan salah paham. saya tidak macam-macam. saya hanya satu macam. saya jatuh cinta pada adik anda." Jawab Nino menantang.


Hani kaget. selama ia ketahui. Nino sangat anti dengan cewek. banyak teman-teman ceweknya histeris saat berpapasan dengannya. tapi tidak di tanggapinya.


"Kenapa heran. yang namanya cinta tak bisa menebak kemana akan berlabuh." Jawab Nino puitis.


Hani terbelalak. ia menatap Nino tidak berkedip." barusan saya juga di hadang kembaran Ais. dan bertanya hal yang sama." Jawab Nino membuat Hani makin kaget.


Nino pun masuk kelas. tanpa memperdulikan Hani yang masih berdiri. Ia bagai patung melongo tak percaya. Ia pun akhirnya masuk ke kelasnya, yang tak jauh dari sana.


***


Enam bulan tak terasa. Putri yang merindukan anaknya. akhirnya berkunjung bersama Lutfi yang kebetulan ada bisnis.


"Aduh. makin cantik dan ganteng saja anak-anak mama." Ucap Putri saat mereka menjemput ke bandara.


Mis Ana meminjamkan mobil pada Abiyan. yang sudah pandai membawanya. Lutfi memeluk Abiyan yang melihat saja. Karena ia dan suami tidak bisa jemput.


" Kalian amankan di sini.?" Tanya Lutfi pada anak laki-lakinya.


"Aman pa. hanya saja sedikit repot punya adik cantik. banyak yang ganggu." Adu Abiyan yang sering dapat kiriman bunga untuk adiknya


Lutfi terkekeh mendengar aduan anaknya. Ais itu bertubuh kecil bagai boneka dengan rambut bergelombang. siapa saja yang lihatnya pasti gemes. dari kecil selalu begitu. bahkan pipi anaknya tersebut sering kena cubit


Putri mendengar anaknya jadi idola. juga ikut tertawa." Itu mah turunan mama tuh." Jawab Putri yang dapat pelototi suaminya.


" Ayok kita pulang. mama sudah capek." ucap Putri.Mereka pun akhirnya pulang ke apartemen.


Sampai di apartemen. Mis Ana sudah menunggu di sana. " Selamat datang kembali sobatku." Ucap Mis Ana tersenyum memeluk Putri.


"Sama-sama sobat." Jawab Putri terkekeh. kata sobat itu dia yang mengajarkan, dan tidak di lupakan Mis Ana.


" Kalian letakkan barang semua di sini. dan kita ke tempatku. di sana suami ku sudah menyiapkan semua untuk tamu spesial." Ucap Mis Ana heboh.


Mereka pun kembali turun karena letak Apartemen Mis Ana di lantai bawah sebelum Apartemen milik Lutfi yang mahal.

__ADS_1


__ADS_2