
Dian yang melihat situasi yang tidak baik. akhirnya ia pun mengajak keduanya masuk.
" Hai. temannya Putri siapa namanya, tante lupa.? " Tanya Dian basa-basi.
" Siska Tante.. maaf mengganggu..! " ucap Siska sopan.
Dian tersenyum dan mempersilahkan keduanya duduk. Dian mengambil puding kesukaan Putri.
Sementara Lutfi langsung ke kamar, ia tidak mau mengganggu privasi Putri dengan temannya. Begitu juga Dian, setelah meletakan minuman dan cemilan
ia pun pergi.
" Gila lu ya Put. baru sehari lu udah move on dengan Arjuna." Selidik Siska.
Putri mendesah, ada yang mengganjal di hatinya. namun ia berusaha menarik nafas dalam dan membuangnya. Ia menatap sobatnya. ia tak yakin sobatnya tidak percaya padanya.
" Sis. jika gue begitu mudah menerima ini
mungkin gue tidak seperti ini. lu mungkin tahu sebelum nya." Putri kembali mendesah.
Siska mendekat dan memeluk sobatnya itu dan menangis bersama. " Sabar ya beb. gue akan bantu lu melupakan bajingan itu." Ucap Siska menggosok punggung sobatnya.
" Apa kalian berdua akan membanjiri rumah saya dengan air mata..? " suara bariton yang mereka kenal. Keduanya melepaskan diri dan berusaha tersenyum.
" Bapak bisa aja. oh ya pak. saya ijin bawa Putri pulang.. " Ucap Siska ragu.
Lutfi mengerutkan kening nya dan duduk di depan kedua gadis tersebut.
" Kenapa kamu yang bawa pulang Putri. ia tamu saya, biar saya yang antar..! " Jawab Lutfi tegas.
Putri tidak Terima, dengan spontan ia berdiri dan berkacak pinggang di depan lelaki yang telah membuat ia kesal.
" Maaf Pak dosen yang terhormat, saya merasa keberatan jika bapak yang antar. " Jawab Putri hormat.
Lutfi diam, dia tidak peduli dengan ucapan Putri, ia keluar dan menghidupkan mobil. yang juga di ikuti Putri dan Siska.
" Pak. saya belum selesai bicara. saya akan pulang dengan Siska.. titik.! " Putri bicara dengan nada tinggi. Siska yang melihat nya jadi ngeri sendiri, takut bermasalah dengan nilainya.
" Minta izinkan sama mama, dan ambil barang mu. aku akan natar pulang.. " Lutfi berkata tegas.
__ADS_1
Putri kembali kedalam dan menemui Tante Dian. " Tante, maaf aku tidak jadi temani Tante masak. aku pulang dulu ya.."Putri mencium tangan Dian lembut.
Dian tidak bisa menahannya ia pun pasrah dan mengantar putri naik ke mobil setelah mengambil tasnya.
" Lain kali, Tante tunggu kedatangannya ya nak.. " Ucap Dian agak kecewa.
Siska yang melihat interaksi Dian pada Putri merasa bersalah. harusnya ia lihat situasi untuk membawa Putri pulang. Ternyata mama dosennya yang seolah merindu kan.
(Aku tanyakan hal ini pada Putri nanti sampai di rumahnya) ucap Siska dalam hati.
Putri dan Siska akhirnya di antar pulang oleh Lutfi. awalnya Putri akan duduk di belakang, namun Lutfi keberatan.
" Aku bukan sopir... " Lutfi membantah saat Putri akan masuk di belakang bersama Siska.
Ia pun duduk di sebelah Lutfi.
Selama perjalan tak satu pun yang bicara, semuanya canggung. nun sebagai orang yang lebih dewasa Lagi pun tidak mungkin ini terjadi. Dia harus menahan egonya.
" Maaf. bukan aku memaksa. hanya saja, Om Johan tahunya kamu nginap di rumah. tapi kamu pulang sendiri, apa nanti tanggapan keluarga mu.. " Ucap Lutfi lembut. Ia mengintip dengan skor matanya.
" hm.. " Jawab Putri seadanya.
Sampai di rumahnya Putri langsung turun yang diikuti Siska. Putri menyadari kalau Lutfi juga turun. sangka Lutfi hanya memutar mobilnya.
Putri langsung memeluk mamanya yang membukakan pintu. " Hai anak mama kenapa..? " Ia melihat ke belakang ada Siska dan juga Lutfi.
" Masuklah.. ada Om Johan di taman belakang... " Ucap Vanessa memberitahu.
Putri menoleh kebelakang. ia heran dengan ucapan mamanya. Matanya melotot, Lutfi tersenyum dan mengedipkan satu matanya.
Putri sangat jengkel melihat Lutfi santai menuju taman belakang. karena di taman belakang, Johan membuat kebun sekedar melepaskan lelah dengan rutinitasnya.
Setiap hari libur, Johan selalu menyibukkan diri di taman kecilnya itu.
" Pagi Om. maaf mengganggu hari libur Om.." Sapa Lutfi saat melihat Johan yang asyik mengaduk tanah.
Ia pun berpaling ke arah suara yang sudah di kenalnya." Oh kalian sudah datang. gimana Putri apa ia tidak buat masalah..? " Tanya Johan langsung.
Lutfi berjongkok di depan calon mertuanya yang berkubang tanah. " Aman. Seperti Om senang sekali berkebun..? " Tanya Lutfi yang melihat taman yang penuh, walau kecil tapi isinya lengkap. ada sayuran selain bunga.
__ADS_1
" Kamu belum mencoba menikmati hasil kebun sendiri. rasanya lain.. cobalah kebetulan Om hari ini panen sayuran.." Jawab Johan.
Ia pun mengajarkan Lutfi cara panen sayuran, ada kebahagiaan di wajah ke duanya. Putri yang melihat ke duanya dari kamarnya. hanya mampu bernafas lega.
Siska mendekati arah kemana mata Putri memandang." Gue kira Pak Lutfi tuh orang nya cuek. ternyata dia ramah juga. aku tadi benar takut melihat ekspresi nya." Siska mengungkapkan keluhannya.
" Semuanya sikapnya karena gue.. " Jawab Putri lirih.
Siska memegang bahu sobatnya dan minta penjelasan. apa yang sebenarnya terjadi.
Akhirnya Putri menceritakan masa lalu dan tentang wasiatnya. hingga kejadian kemarin.
Siska menggosok lengan sobatnya." Mungkin ini sudah jalannya. lu jangan sampai sia-sia kan cinta Pak Lutfi yang tulus. Dan lupakan pria brengsek itu.! " Ucap Siska tegas.
" Hm. tidak semudah membalikan telapak tangan. jika kita sering bertemu. itu sangat sulit. mungkin aku harus pindah dari kota ini.. " Ucap Putri yang mengagetkan Siska.
" What. lu gila. lu udah di sakiti. jangan mengalah lagi, harusnya dia yang pergi.." Kesal Siska. Ia menghempaskan bokongnya ke kasur. ia tidak Terima jika harus putri yang menjauhinya.
Putri terdiam 👂mendengarkan kekesalan sobatnya, ia tak berdaya saat ini. ia ingin berteriak. untuk bertemu di kampus saja ia tidak sanggup, apalagi sering bertemu di saat kakaknya di samping Arjuna. Rasanya dunia seakan mau runtuh.
Vanessa mengetik pintu kamar anaknya." Sayang.. kita makan yuk...Siska sekalian ya.." Ajak Vanessa pada sobat anaknya.
Mereka pun makan bersama, yang juga ada Lutfi. ia duduk santai di samping Putri. " Ma.. pa.. sepertinya aku akan pindah kuliah ke Yogyakarta tempat nenek. mungkin di sana aku bisa menenangkan diri.." Ucapan Putri membuat Lutfi tersedak. dengan spontan Putri menggosok punggung lelaki di sampingnya itu.
" Hati-hati Pak.. " Ucapnya menyodorkan air.
Perlakuan Putri di perhatikan semuanya. Johan pun tersenyum. lambat laun anaknya akan bisa bahagia di samping Lutfi.
" Sayang.. tidak usah.. kakak mu yang akan pindah. ia dan suaminya akan mengurus perusahaan nenek yang ada di sana. lagian. Suami kakak mu akan wisuda dia bulan lagi, papa sudah bicara dengannya... " Jawab Johan mengejutkan semuanya.
Lutfi merasa lega, ia tidak cemas lagi. ia akan sabar untuk dua bulan ini. setelah itu ia akan tenang mengejar cinta Putri gadis kecilnya dulu.
"Mama rasa ide papa bagus. lagian kasihan nenek harus bekerja juga saat umurnya sudah tua di pabrik batik peninggalan kakek kalian."
Putri pun setuju." Tapi apakah kak Sonya setuju pa..? " Tanya Putri yang merasa ragu.
" Bagaimana pun, ia harus setuju. lagian mereka kan pindah ke sana bukan jadi gelandangan. untuk apa mereka tidak Terima.. ia harus setuju. apa tidak kasihan dengan nenek kalian. ini kesempatan karena sudah berkeluarga." Ucap Johan tegas.
Semuanya diam dan melanjutkan makannya.
__ADS_1