Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Ulah Hani


__ADS_3

Sonya mendatangi adiknya. Dan memberi kabar pada pegawainya. ia tidak kembali lagi hari ini.


Saat di kafe Putri. Sonya melihat begitu rame sekali. mungkin karena jam istirahat, adiknya hebat. Belum berapa tahun kafenya berjalan pesat. bahkan ia menambah lagi ke samping kafenya yang kebetulan kosong.


Sonya di sambut adiknya. namun hanya sekedar sapa." Hai mbak. masuk.. cari tempat sendiri ya mbak. aku lagi sibuk. bentar lagi aku ke sana." Ucap Putri. dan di anggukan Sonya.


Putri meminta karyawannya menyiapkan segalanya di tempat kakaknya. Sonya memilih duduk di tempat sudut kafe yang di sana banyak bunga seolah seperti taman. Ada kursi kecil di sana. menambah suasananya adem.


Sonya mengirim pesan pada anaknya Hani. apakah sudah pulang. kalau belum sampai rumah, ia minta anaknya ke tempatnya. biar bisa langsung pulang bersama.


Sonya; Nanti langsung tempat mama Putri ya nak. bunda ada di sini.


Hani; Ya ma.


Sonya pun menikmati minuman yang telah tersedia. Pikirannya masih terngiang dengan ucapan Aryo.


"Gimana mbak. sukses.?" Tanya Putri. Sonya mengerutkan keningnya dengan pertanyaan adiknya.


"Apakah kamu tahu tentang Aryo.?" Tanya Sonya meyakinkan.


Putri terkekeh. ia menepuk bahu kakaknya dan duduk di disebelahnya.


"Mbak. harus bangkit. Aryo laki-laki baik. ia menginginkan mbak semenjak lama. namun ia belum punya keberanian untuk mengungkapkan. Takut kamunya menolak." Cerita Putri.


"Jadi benar. Aryo sudah lama menemuiku secara diam-diam?" Sonya makin penasaran.


Putri mengangguk."Aryo pun sudah mendekati Hani. bahkan mereka sudah beberapa kali bertemu, kelihatannya Hani menyukai Aryo yang ke bapakan. bunda juga suka." Ucap Putri.


Sonya menarik nafas dalam. Ia menjadi orang paling bodoh selama ini. lantas saja saat pesta kemarin. semuanya seolah memberikan mereka peluang untuk bercerita.


"Kalian pengkhianat. Aku seperti orang bodoh." Jawab Sonya kesal.


"Ha..ha... tandanya dia orang baik mbak. seperti pepatah. bersihkan dulu pohon dan rumput di sekitarnya, agar dapat buahnya yang bagus." Ucap Putri tersenyum.


"Serah kalian lah. aku kecewa sama kalian." Kesal Sonya.


Hani datang menghampiri mereka "Assalamualaikum bunda mama." Ucap Hani dan menyalami keduanya.


"Waalaikumsalam cantik. ayok duduklah. kamu udah makan sayang.?" Tanya Putri pada Hani.


Hani menggeleng." Sengaja ma. di lapar kan dulu. sebab mau makan kenyang di sini." Kekeh Hani pada Putri.


Sonya menatap anaknya yang duduk di tempat Putri duduk tadi. Hani heran melihat sikap bundanya

__ADS_1


" Ada apa Bun. apa aku ada salah.?" Tanah Hani menatap bundanya.


"Kamu kenal Om Aryo.?" Tanya Sonya pada anaknya.


Hani tersenyum. wajahnya bahagia saat mengingat percakapannya bersama saat ada saudara kembarnya bercanda bersama di sini.


"Kenal ma. kenapa.? mama suka ya. kalau mama suka, aku senang aja." Jawab Hani membuat Sonya melotot.


"Kamu mau Om Aryo jadi pendamping bunda. apa kamu tidak marah.?" Tanya Hani menyelidiki.


"Kenapa harus marah. bunda sudah lama sedih. aku sudah ngerti bund. jangan di tutupi lagi. aku bukan anak kecil lagi." Jawab Hani yang bicara seperti orang dewasa.


Sonya memeluk anaknya. ia terharu, ia tak menyangka, anaknya sudah besar.


"Terimakasih nak. bunda takut kamu marah dan kecewa." Ucap Sonya pada anaknya yangasih di peluknya.


"Hai. ada apa ini. pakai pelukkan segala. nenek nggak di ajak ya." Ucap Vanessa.


Keduanya melepaskan pelukannya. dan tersenyum pada Vanessa." Aku sayang nenek." Peluk Hani pada Vanessa.


"Bunda sengaja datang ke sini. atau ada perlu.?" Selidik Sonya. ia merasa agak curiga dengan keluargabya sekarang.


"Hm! Kenapa. kamu kok curiga begitu.?" Tanah Vanessa yang duduk dimana Putri meminta karyawannya menambah kursi di sana.


"Tapi kamu suka kan. kamu nggak menolaknya kan.?" Selidik Vanessa melihat anaknya.


Sonya menghindari pandangannya. takut ketahuan kalau ia sedang grogi.


Vanessa tersenyum. ia bahagia anaknya sudah menemukan ke bahagianya kembali.


( Semoga Aryo bisa menyembuhkan luka mu nak. dan kalian hidup bahagia sampai maut memisahkan). do'anya dalam hati.


Lutfi datang. ia sedang menelpon seseorang. namun saat melihat Sonya. Hani dan mertuanya. ia pun merubah panggilannya jadi VC. Aryo pun menerimanya.


"Kamu lihat. siapa yang duduk di sana.?" Tanya Lutfi mengarahkan layar handphone pada Sonya.


Aryo tersenyum. ia melihat Sonya yang sedang tertawa bersama anak dan calon mertuanya. Kalau jadi.he..he..( athor).


"Gimana. kamu jadi ungkapkan perasaan mu.?" Tanya Lutfi penasaran.


Aryo mengangguk. ada wajah kecewa di sana."Apakah mbak Sonya menolak.?" Tebak Lutfi.


Aryo menggeleng. membuat Lutfi kesal." Aku bicara sama tuna Wisnu ya. angguk dan geleng saja." Sungut Lutfi.

__ADS_1


"Dia tidak menolak. namun juga tidak menjawab. aku di gantung Sob." Curhat Aryo. yang dapat ledekan Lutfi.


"He..he.. kamu hebat dalam menaklukkan klien. tapi menaklukan hatinya nggak sanggup. Cemen." Ledek Lutfi.


Aryo kesal. Ia bukan tidak mau memaksa. takut nanti Sonya terpaksa menerimanya. karena ia tahu pernikahannya Sonya dulu pun karena terpaksa karena ensiden tak terduga.


"Aku bukan Cemen. hanya memberi waktu.. dan.." Ucapan Aryo tergantung. karena Lutfi memberikan handphonenya pada Hani.


"Eh Om... Om kok nggak datang lagi ke sini. ke sini dong Om. ada Bunda dan juga nenek..." Ucap Hani ceria.


"Halo cantik. Om lagi di luar kota. mungkin seminggu lagi Om datang ya." Jawab Aryo yang di dengar semuanya.


"Jangan lama-lama Om. bunda kangen." Ucapnya berbisik. yang dapat cubitan dari Sonya.


"Aduh sakit bund... Om. tolong dong... bunda jahat." Adu Hani pada Aryo.


"Cup..cu. sayang.. eh tapi gimana Om bisa bela Hani. kan Om bukan siapa-siapa." Aryo memancing jawaban Hani.


" Oh ya juga ya. kalau begitu mau kah Om jadi Papa Hani.?" Tanya Hani membuat Sonya malu.


Aryo terkekeh. " Jadi ceritanya kamu nembak Om nih. untuk jadi Papanya." Tawa Aryo pecah.


"Benar Sob. kayaknya.. sudah ada lampu hijau nih. pulang nanti kamu siapkan diri untuk pernikahan." Sela Lutfi mendekati Hani.


"Hm! Benarkah. apakah ini jawabannya... tapi aku belum yakin jika Sonya belum menjawab langsung." Ucap Aryo di seberang sana. Ia masih berada di mobil.


"Bunda merestui kalian." Jawab Vanessa. Muka Sonya memerah menahan malu. ia pamit untuk pergi ke toilet.


Semuanya tertawa melihat wajah Sonya yang malu-malu. Putri yang baru datang heran melihat ke hebohan keluarganya.


"Ada apa pa. kok heboh sekali." Tanya Putri bingung.


"Itu si Aryo." Tunjuk Lutfi ke layar Handphonenya di sisa tawanya.


Putri pun mendekati Hani. ia melihat Aryo yang masih terdiam. " Kenapa diam saja mas Aryo.?" Tanya Putri penasaran.


Aryo menarik nafas dalam. ia memandangi wajah Putri yang agak mirip Sonya.


"Itu suami mu.. Oh ya Put. titip salam pada semuanya ya. Da..Hani cantik. Om pergi dulu ya." Aryo pun menutup panggilan teleponnya.


Putri menatap suaminya. Lutfi mengangkat bahunya seolah tidak tahu. Karena ia membiarkan Putri penasaran. Agar ia bisa menanyakan langsung pada Sonya


Benar dugaan Lutfi. Putri pun mencari Sonya. Hani dan Bundanya kembali menakan makanan yang tertunda. Begitu juga Lutfi pun ikut makan. Ia agak terlambat makan siang. karena ada urusan.

__ADS_1


__ADS_2