Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Pandangan


__ADS_3

Putri terdiam mendengar cerita papanya. dari dulu papanya selalu mengerti keinginan nya.


' Makasih pa.." Ucap Putri lirih. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Lutfi yang melihatnya. menggenggam tangan Putri yang berada di sampingnya. Putri berusaha menghindar. Namun Lutfi tidak melepaskan. Karena saat ini ia memang butuh dukungan.


******


Hari ini adalah di mana setiap mahasiswa merasa menanti hari bahagia ini. karena hari ini adalah hari wisuda Arjuna. Sonya sudah dengan kebayanya. Karena suaminya sudah duluan ke kampus. Ia menunggu mertuanya yang masih sibuk.


Setelah semua beres mereka pun ke kampus. menghadiri acara wisuda. Arjuna melihat ke Fodium, kalau dia melihat Putri. terus terang ia memang belum bisa melupakan sepenuhnya.


Putri sengaja tidak ke kampus, ia tidak ingin orang berkata miring padanya, karena hubungannya dengan Arjuna tidak seperti dulu lagi.


Vanessa dan Johan tidak memaksa, mereka meninggalkan Putri sendiri di rumah, sebelum nya. Johan sudah menelpon Lutfi agar mau menemani anaknya. Tak lama, datanglah Lutfi bersama mamanya.


" Eh mbak Dian, ada apa ya.. kok nggak beri kabar kalau mau datang. aduh gimana ini, kami mau berangkat..? " Ucap Vanessa sungkan.


Dian tersenyum dan memeluk calon besannya. " kami ingin mengajak Putri jika di izinkan.."


" Oh.. kalau begitu saya panggilkan dulu. kebetulan sekali Putri nggak mau ikut dengan kami.. " Vanessa pun mempersilahkan besan dan mantunya masuk.


" Maaf nak Lutfi, saya merepotkan." Johan senang karena Lutfi bisa di andalkan.


" Hm.. . he. he.. santai aja om, saya senang om memberikan kepercayaan pada saya menjaga Putri." sarkas Lutfi.


Putri pun turun dengan pakaian santai, ia tidak tahu kalau ada Dian. " Eh.. maaf, saya tidak tahu kalau ada Tante." Ucap Putri menyalami dan mencium tangan Dian.


" Ha.. ha.. sengaja kasih suprise buat si cantik. oh ya. kalau tidak keberatan, Tante mau ajak Putri ke suatu tempat.." Ajak Dian semangat.


Putri pun setuju, ia menggantikan pakaian dulu. sedangkan Vanessa dan Johan sudah duluan pergi, karena mereka sudah telat.


****


Di perjalanan Putri agak canggung Karena Dian memintanya duduk di sebelah Lutfi. ia tidak bisa menghindar, dan pasrah.


" Sebenarnya kita mau ke mana Tan..? " Tanya Putri menghilangkan canggung.


" Hm.. Ke rumah nenek Lutfi yang di Bandung.." Jawab Dian yang mengejutkan Putri.


" Tapi.." Tanya Putri bingung.

__ADS_1


" Nggak usah khawatir, paling kita cuman sehari, besok kita pulang lagi. kebetulan nanti malam ada acara syukuran keponakan Lutfi yang baru lahir." Jawab Dian. Putri makin gelisah.


" Saya tidak bawa persiapan kalau bermalam an.." Jawab Putri lemah.


" Kita mampir dulu ke butik Tante, tadi sudah di pesan tinggal bawa aja lagi." Putri sangat nerves. kenapa semuanya semudah itu bagi mereka.


" Kamu tidak suka..?" Tanya Lutfi yang dari hanya diam. Putri menoleh dan menggeleng lemah.


" Jika kamu keberatan.." putri memotong ucapan Lutfi.


" Bukan keberatan masalahnya, hanya aku merasa sungkan. kenapa nggak bilang dari rumah, kalau kita bermalam. kan aku siapkan dari rumah." Jawab Putri merasa nggak enak.


Vanessa yang mendengar di bangku belakang terkekeh . " Dari dulu Tante ingin sekali punya anak perempuan, tapi gagal. karena ke guguran. jadi kehadiran cantik dulu mengobati luka Tante sayang. jadi anggap saja belikan untuk anak gadis Tante." Jawab Dian senang.


Putri pun menoleh melihat ketulusan seorang ibu yang menyayangi anaknya. ia pun tersenyum. ' Makasih Tante.. ' Jawab Putri lirih.


Setelah beberapa jam kemudian mereka sampai di Bandung. Lutfi sudah memberitahu kan Johan saat mereka pamit tadi.


Sampai di Bandung hari sudah sore, suasana Bandung yang dingin, membuat Putri memeluk tubuhnya sendiri. Lutfi yang melihatnya, membuka jaketnya dan memasangkannya pada Putri.


Putri terharu dengan perlakuan Lutfi padanya. " makasih... " Jawabnya lirih. Lutfi mengangguk dan tersenyum.


Putri merasa bersalah, ia tidak membawa kado apapun untuk selamatan kemenakan Lutfi. ia merasa risih dan malu. Dia terdiam di depan pintu.


Lutfi yang berdiri di sampingnya mengerti, ia pun mengeluarkan sesuatu di tangannya. ada kotak kecil bergambar toko emas.


"Ambillah, ini kado kita berdua.. kamu pasangkan pada baby nya.. " Bisik Lutfi.


Putri tidak bisa menolak, karena keadaan yang mendesak. Karena Tante Dian sudah duluan memasangkan pada cucunya.


" Terimakasih oma.. " Jawab Hani ponakan Lutfi. Eh Om mana. dan siapa gadis cantik di sebelah Om. apakah dia Tante ku..? " Tanya Hani. membuat perhatian semua orang tertuju pada Putri.


Lutfi mengangguk dan tersenyum. membuat Putri tidak bisa berkutik. ia pun maju, karena Dian sudah memintanya.


" Sayang.. sini.. " Ajak Dian duduk di sebelahnya. Putri menyalami keluarga nenek Lutfi yang begitu senang dengan kehadiran nya.


" Wah. benar cantik mantu cucu nenek.. sini duduk dekat nenek.. " Bujuk Nenek Lutfi yang lumayan sudah tua, namun keliatan masih kuat dan segar. Putri pun duduk di sampingnya.


" Om.. Dari om mana kadonya..? " Rengek Hani manja.

__ADS_1


Lutfi memberi kode pada Putri. ia pun kembali berdiri dan membuka kotak kecil tersebut dan memasang kan nya pada baby nya.


" Hm. makasih Tante Cantik, oh ya kita belum kenal nama Tante.. dan kapan kalian akan menyusul. masak kalah star dengan ponakan sendiri... " Goda Hani. membuat Putri malu.


"Tunggu aja undangannya, lagian anakmu masih kecil. tinggilah ia agak besar dan bisa bawa dia ke Jakarta.." Jawab Lutfi santai.


Semua nya senang mendengar jawaban Lutfi, karena dari dulu selalu jawabannya, ntar.. ntar.. hingga umurnya sudah hampir 30 tahun. Tapi tidak dengan Putri ia merasa risih.


Malamnya, acara hiburan. tetangga datang menghadirinya, karena kalau acara hiburan begini rame. selain dapat hiburan, dapat makan gratis. jadi banyak pemuda dan pemudi uang jiga kesempatan untuk sebagai ajang perjodohan.


Putri duduk sendiri di sebuah kursi bawah pohon. seorang pemuda datang menemani.


" Hai.. kok sendiri boleh kenalan nggak. sepertinya kamu bulan orang sini.. apakah kamu tamunya Hani dari Jakarta..? " Tanya seorang pemuda panjang lebar dan mengulurkan tangan.


Putri menoleh dan bingung harus jawab apa. Lutfi yang baru melihat Putri, karena sudah di cari-cari dari tadi nggak keliatan. hingga ia melihat Putri yang sedang di ganggu.


Lutfi menepis tangan pemuda tersebut.


" Maaf dia istri ku... " ucap Lutfi tegas. pemuda tersebut pun pergi dan minta maaf.


" Kenapa menjauh dari ku. di sini pemudanya nekat.. " Nasehat Lutfi cemas. ia pun duduk di samping Putri.


" Benar. pemuda di sini memang nekat. bahkan dengan pedenya mengaku istri.." Jawab Putri jutek.


Lutfi tertawa melihat Putri yang jutek. " Maaf.. jika tidak begitu, pemuda tersebut tidak akan pergi.. lagian kenapa sendiri. di sini kan dingin.. " Tanya Lutfi mengalihkan topik.


"Entahlah.. di sini lebih aman.. " Jawabnya santai.


" Yang seperti tadi di bilang aman.. apa kamu suka dengan pemuda tadi..? " Tanya Lutfi menyelidik.


Putri ingin berdiri menjauh, namun Lutfi menariknya, hingga Putri berbalik dan jatuh ke pelukan Lutfi. Lama mereka saling tatap. hingga suara batuk mengejutkan keduanya.


" Oh.. maaf mama tadinya khawatir, karena tidak melihat Putri.." Ucap Dian dan menghindar.


Putri yang mendengar suara Dian pun berdiri dengan cepat. ia pun mengejar Dian, karena ingin menghindari Lutfi.


" Tante cari saya..? " Tanya Putri memeluk tangan Dian manja.


" Loh.. kok pergi.. Lutfi gimana..? " Tanya Dian dan melihat Lutfi yang masih bengong.

__ADS_1


__ADS_2