Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Tragedi Ais


__ADS_3

Sampai rumah. Rafiq ngamuk nggak jelas. Ia nangis sampai Putri bingung mendiamkannya.


" A....au..a...a.." Tangis Rafiq nggak jelas.


"Sayang mama ada apa ya nak. Rafiq mau susu ya. atau mau mimik.?" Tanya Putri sudah mulai kewalahan.


Lutfi mendekati istrinya." Ada apa ma.?" Tanya Lutfi mengambil alih.


"Nggak tahu pa. Tiba-tiba dia nangis saja saat masuk kamar." Jawab Putri lelah.


Rafiq diam setelah di gendong papanya. " Oh pengen gendong papa ya.Sini papa bobok in ya." Lutfi menggendong anaknya dengan bersenandung.


Lutfi sering konsultasi lewat online dengan seorang dokter anak. Karena ia merasa kewalahan akhirnya- akhirnya ini mendidik ketiga anaknya sekaligus.


Apalagi istrinya, yang setiap hari di rumah mengurus anaknya. Tentu merasa kerepotan dan lelah.


Lutfi menepuk-nepuk panggil anaknya. Hingga Rafiq pun tertidur, Putri diam saja mengamati suaminya yang telah membantu untuk menidurkan Rafiq.


Melihat istrinya hanya diam saja. Lutfi mendekati istrinya yang duduk di sofa kamar mereka.


" Sayang. kenapa.? Kalau lelah tidur gih sana." Ajak Lutfi. Ia menarik tangan istrinya lembut. Namun Putri malah mempertahankan diri untuk tidak berdiri


" Kenapa. apa ada masalah.?" Tanya Lutfi penasaran, ia pun duduk di samping istrinya.


" Cerita lah. mana tau papa bisa bantu." Ucap Lutfi lembut.


Putri masih saja diam, ia menundukkan wajahnya. Lutfi makin penasaran.


"Aku merasa tidak becus jadi ibu." Ucap Putri lirih.


Lutfi memegang dagu istrinya dan mencium lembut bibir istrinya." Siapa bilang kamu nggak becus sayang. Mungkin Rafiq hanya kangen sama papanya. Kan setiap hari sama mama. Jadi jangan merasa begitu ya." Ucap Lutfi meyakinkan.


" Tapi.." Ucapan Putri terputus, Lutfi mencium bibir istrinya lembut.


"Istirahat lah. mama mungkin capek, Selagi Rafiq bobok. Baiknya mama juga istirahat" Lutfi tersenyum menarik istrinya kembali.


****


Bagi anak sekolah, masa libur panjang selalu di tunggu-tunggu. Karena banyak waktu bermain dan santai. Dan bisa berlibur.


Hani sudah minta bundanya untuk libur ke rumah nenek. Karena ia ingin bertemu dengan saudaranya.


" Bund. kita jadi libur rumah nenek kan.?" Tanya Hani heboh.

__ADS_1


" Tanya sama Ayah, apa ayah mau antar kita" Ucap Sonya santai.


Hani langsung mencari ayahnya di ruang kerja. Tanpa mengetuk pintu, tentu ayahnya sangat kaget.


"Ada apa sayang ayah. kok buru-buru?" Tanya Arjuna mendapati anaknya yang lari menemuinya.


" Ayah. aku mau liburan di rumah nenek. aku kangen saudara ku." Rengek Hani.


Arjuna memangku anaknya." Ayah lagi sibuk nak. Gimana Minggu depan aja. Ayah nggak bisa antar." Ucap Arjuna tenang.


"Tapi aku pengen ke rumah nenek...hi.hi..hi.." Tangis Hani pecah. Karena setiap liburan ia selalu ke rumah neneknya. Apalagi sudah ada saudaranya yang tinggal tak jauh dari rumah neneknya.


" Tapi.. Ayah nggak bisa antar nak. Atau tiga hari lagi ya nak. ayah ada meeting nak. Setelah itu Ayah janji deh." Bujuk Arjuna lembut.


" Ayah janji ya.. Nggak bohong kan.!" Ancam Hani pada ayahnya


Arjuna mengangguk dan memberikan jari kelingkingnya pada anaknya, mereka pun saling menautkan jari kelingkingnya.


Arjuna memeluk anaknya dan mencium kepala anaknya." Kok bau asem ya." Goda Arjuna pada gadis kecilnya.


" Ah. ayah jahat, mana ada kepalaku asem. tadi aku pakai sampo ayah.." Sarkas nya.


Arjuna tertawa mendengar pembelaan anaknya. ia pun memeluk anaknya erat." Ayah bercanda sayang." Bujuk Arjuna.


*****


" Pa... kami jadi di antarkan ke rumah nenek.!" Tanya Ais penasaran. Karena papanya terlihat berpakaian rapi seperti ke kantor.


" Oh. jadi. tapi nanti jangan sampai merepotkan nenek ya. Kasihan nenek sudah tua." Nasehat Lutfi pada kedua anaknya.


Karena. hanya anaknya berdua saja yang liburan di rumah mertuanya. Putri akan menyusul sesudahnya.


" Hore..kita liburan juga akhirnya bang." Ucap Ais bahagia.


Lutfi tersenyum melihat keceriaan anaknya, mungkin mereka memang sudah kangen dengan neneknya.


" Ok! Kalau begitu sekarang kita berangkat." Ajak Lutfi pada si kembar


Mereka bertiga pun naik mobil. Rafiq yang melihat kedua saudaranya yang ikut dengan papanya. ia pun ingin ikut dan nangis.


" Pa..pa..Hua..a....a...' Tangis Rafiq pecah saat mobil sudah jalan. Lutfi tidak melihat anaknya yang kecil nangis.


Putri sudah berusaha menenangkan, namun Rafiq selalu menjerit. Dian pun membantu menenangkan. Tetap saja nggak mau diam.

__ADS_1


Akhirnya Putri menelpon suaminya. Lutfi yang mendapat telpon dari istrinya. ia pun mengangkatnya. Tapi sayang saat ia baru mengakat telpon. Handphone nya jatuh, ia kaget dan tidak melihat mobil yang berhenti mendadak di depannya.


Lutfi pun mendadak menekan rem berhenti dadakan tanpa memperhatika Ais yang duduk di belakang sambil melihat keluar.


Ais kejedot pintu. Kepalanya terbentur pintu cukup keras. Dan mengakibatkan kepalanya berdarah.


" Aduh....!" Jerit Ais kejedot pintu mobil.


Lutfi kaget mendengar benturan kepala dan jeritan anaknya yang di belakangnya, dengan cepat melihat anaknya.


Alangkah terkejutnya Lutfi mendapati anaknya yang berdarah, dan sudah diam. dengan posisi kepala tersandar ke jok kursi yang di dudukinya.


" Ais. Bangun nak.." Panik


Kejadian tersebut tak lepas dari pantai Putri. ia masih mendengar jeritan Ais dan juga suaminya. Karena Handphone Lutfi sudah On saat ia mengangkat telpon tadi.


Abiyan mengambil handphone papanya yang terjatuh di bawah jok. Karena mendengar suara mamanya yang memanggil.


" Halo. ada apa pa.?" Tanya Putri khawatir.


" Ini aku ma. adik kepalanya kejedot pintu dan berdarah. papa sedang menolong Ais ma.. hi..hi ." Abiyan pun ikut menangis.


Johan yang belum pergi kerja, penasaran melihat menantunya yang menelpon dengan keadaan cemas.


" Apa.. Ais berdarah..?" Tanya Putri mengagetkan mertuanya. Hampir saja handphone putri jatuh. untung langsung di sambut mertuanya. Johan pun mengangkat telpon tersebut.


" Halo nak. kenapa Ais berdarah. apa yang terjadi.?" Tanya Johan khawatir.


" Opa. ini aku. Papa lagi bantuin Ais..." Ucap Abiyan terbata-bata.


" Sekarang kalian di mana nak.?" Tanya Johan pada cucunya Ia menanyakan posisi mereka. Abiyan pun menjelaskan di mana posisinya. Dengan cepat Johan menyusul mereka, di bantu Asistennya yang sudah menjemputnya.


" Kamu tidak lihat mobil Lutfi tadi.?" Tanya Johan pada Asistennya.


" Ah tadi sekilas ada pak. Kami bertemu pas di belokan X. Tapi bukan ke kantor, saya nggak tahu ke mana Pak Lutfi nya.' Jawab Asisten Johan menjelaskan.


" Kalau begitu cepat ke sana. aku takut terjadi apa-apa pada cucuku. tadi Abiyan bilang Ais berdarah." Terang Johan pada Asistennya.


Tidak butuh waktu lama. Johan melihat mobil anaknya yang sudah banyak orang yang berkerumun.


Johan mengamati mobil tersebut. Ada Lutfi yang sedang mengeluarkan anaknya yang sudah berlumuran darah.


" Ais..!" Ucap Johan tercekat.

__ADS_1


Lutfi melihat ke arah suara." Pa. Bantu aku pa. Kita bawa Ais ke rumah sakit." Ucap Lutfi yang sudah pucat dan berlumuran darah di bajunya.


Dengan cepat. mereka langsung ke rumah sakit. Mobil Lutfi di biarkan dulu. Johan sudah memanggil montir untuk menjemput mobil anaknya.


__ADS_2