Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Kisah Kafe Dian


__ADS_3

Dian tidak lagi berselera makannya setelah kedatangan Jeni yang datang dengan pakaian **** nya.


Dewi yang memahami mbak yu, menegur cucunya yang tidak mau merubah penampilannya.


"Jeni. kenapa nggak mau dengan Opung. berapa kali opung bilang, kalau anak gadis itu berpakaian sopan. bukan pakai kurang bahan begini." Kesal Dewi pada cucunya.


"Ih. Opung mah. nggak ngetren. ya kan Mas bule." Goda Jeni pada Nino.


Nino hanya diam membisu. Nino berpikir mungkin ini gadis yang di katakan Oma Dian.


Diamnya Nino membaut Jeni makin ambisi mendekati Nino yang tak jauh darinya.


"Eh. mas bule. apa benar tinggal di rumah ini ?" Tanya Jeni penasaran.


"Nggak siapa bilang. Kamu jangan dekat-dekat dengan cucu mantu ku. dia tunangannya Ais mbak mu." Jawab Dian kesal melihat sikap Jeni yang agresif.


"He..he.. tenang aja Oma Dian... aku akan menjaga tunangannya mbak Ais. bahkan aku akan temani dia tidur agar tidak di ganggu gadis lain " Goda Jeni pada Nino.


Ketiga Nenek tersebut melotot mendengar ucapan Jeni yang tidak di filter sama sekali.


Tentu saja Dewi meradang.


"Kau. bikin Opung malu saja. sana pergi. lebih baik pulang saja ke rumah orang tuamu. dari pada bikin Oma sport jantung." usir Dewi kecewa pada cucunya


"Opung. jangan mengusirku. nanti opung kangen.. Oh ya Mas Bule. sini aku ajak jalan-jalan. melihat ke indahan kita Surabaya." Goda Jeni menarik tangan Nino.


"Nggak boleh." Jawab serentak Dian dana Dewi bersamaan. Sementara Vanessa dan Nino tanpa diam.


Dewi menarik tangan cucunya. dan di di bawa ke luar." Kamu tuh ya. bukannya berubah jadi baik. tapi kenapa kamu makin rusak saja makanya berapa kali opung bilang, Jagan pergi juga malam-malam. ini akibatnya." Kesal Dewi menumpahkan kekecewaannya pada cucunya.


Ia sudah berapa kali bilang sama anak laki-lakinya. agar sering di rumah, beri perhatian pada Jeni agar ia lebih jadi baik. tapi Bagas anak Dewi tidak mendengarkan. malah meminta istrinya berhenti kerja. tapi tidak di hiraukan istrinya.


"Maaf mbak Yu. aku benar kewalahan dengan Jeni. aku sering menasehatinya. Tapi bukannya berubah malah makin parah saja." Keluh Dewi pada kakaknya.


Vanessa terpaku dengan kejadian tersebut. untung anak dan cucunya bisa dikontrol dan tidak salah pergaulan.


Sedangkan Nino tak bisa bicara. karena ini bukan ranahnya. jadi hanya jadi pengamat saja.

__ADS_1


Malam itu. Dian dan keduanya pun menginap di sana. Dian tidak ingin meninggalkan Cucu mantunya tinggal di kandang buaya.


Paginya Dian telah siap-siap akan mengantar Nino ke kampus begitu juga Vanessa dan Nino sudah siap.


"Oh ya dek. aku antar Nino dulu ya ketempat kerjanya. Kalau masalah tempat tinggal itu tergantung Nino." Ucap Dian , agar adiknya tidak tersinggung.


"Baiklah. maaf ya mbak. sebelum pulang ke Jakarta mampirlah lagi ke sini. aku akan buat makanan ke sukaan mbak yu untuk di bawa pulang." Ucap Dewi senang ke datangan kakaknya.


Akhirnya Dian pun ke kampus tempat tujuan Nino mengajar. di sana sudah di sambut oleh temannya Lutfi ia pun mulai besok sudah bisa mengajar di bagian Boga.


setelah itu. Dian pun membawa Nino ke kafe yang juga miliknya. dulu saat mereka tinggal di Surabaya kafe ini sangat maju. namun entah kenapa. Kafe ini sepi pengunjung.


"Ini kafe milik Oma. dulu waktu Oma yang mengelola. kafe ini sangat rame. tapi semenjak di kelola Bagas adiknya Dewi anak dari adiknya Lama Dewi semuanya jadi seperti ini." Keluh Dian.


Nino pun punya ide." Oma kenapa tidak Oma jual saja. agar mereka tidak curiga. bilang saja ada yang beli kafe ini. biar saya yang beli Oma. tapi jangan bilang-bilang. Saya tertarik dengan modelnya yang klasik." Nino memperhatikan ornament kafe tersebut.


"Kamu serius." Dan dia anggukan Nino.


Dian pun menelpon Bagas. untuk datang ke kafenya. awalnya Bagas malas. namun mendengar kafe akan di jual. Bagas baru semangat.Tak butuh lama. Bagas pun datang.


Dian memperkenalkan Nino dan Vanessa sebagai pembeli kafe tersebut. Dan Bagas mendapatkan sebagain dari hasil penjualan karena ia telah mengelola kafe tersebut. walau sangat berantakan.


"Kalau begitu saya setuju Bude." Jawab Bagas sangat bahagia. karena saat ini usahanya butuh suntikan dana.


Transaksi pun terjadi. Surat pun di buat Nino dengan menggunakan Handphone. dan di tanda tangani Bagas seta Dian dan Nino.


" Oh. Nak Nino. separoh transfer' langsung ke reking Bagas." Perintah Dian agar Bagas langsung pergi.


Dan di setujui Nino. Transaksi sukses. benar saja. Bagas pun pergi setelah mendapatkan uangnya.


"Saya harap nanti siang. kamu kembali lagi ke sini. ada yang harus kamu tanda tangani lagi." Ucap Dian setengah berteriak.


Tapi hanya di jawab Ok. oleh Bagas yanka melihat sedikit pun. Itu membuat Dian kesal.


Nino yang melihat merasa kasihan, karena tidak di hargai


"Sudahlah Oma. sebenarnya nggak perlu. ini sudah langsung di rekam Oma. jika ia macam- macam dan menuntut. aku bisa laporakan. karena ini asli terekam." Nino menjelaskan pada Dian.

__ADS_1


"Entah kenapa. Oma takut kamu nanti di tuntut nya. Oma tau karakter Bagas yang ambisius tanpa mau susah." Dian menjelaskan.


Nino tersenyum mendengar ke khawatir Dian.


"Makasih ya Oma atas perhatiannya."Nino memegang Dian terharu.


"Oh ya separuhnya. tidak usah kamu transfer. anggap saja Oma menanam saham pada mu ya." Ucap Dian yang mengejutkan Nino.


Dian memanggil semua karyawan di sana. dan memperkenalkan Nino sebagai pemilik Yang Syah pada mereka.


" Mulai sekarang. Mas Nino Bos kalian. tidak ada yang lain. ingat itu." Ucap Dian dan di rekam Nino. untuk berjaga-jaga.


Semua karyawan tersenyum. karena mendapatkan Bos bule yang cakep dan sepertinya baik.


"Oh ya ingat satu lagi. Nino. cucu mantu saya. dan jangan ada yang berencana mengganggu nya atau menggodanya. paham." Dan di anggukan semuanya.


Para karyawan cewek yang awalnya bahagia. jadi tertunduk malu. karena bosnya sudah ada yang punya.


Vanessa tersenyum dan memegang tangan Dian." Kamu selalu cekatan ya mbak. aku bangga jadi besan mu." Vanessa akhirnya bicara.


"Gimana kita nggak cekatan mbak. zaman sekarang mah. semuanya bisa di halalkan. apalagi cucu mantu kita yang ganteng ini." Goda Dian. membuat Nino salah tingkah.


"Oma. sepertinya di sini. tempatnya bertingkat. apakah boleh kita lihat ke atas?" Tanya Nino yang penasaran.


"Boleh. ayok." Mereka bertiga pun naik ke lantai atas. di sana ada tenda payung yang berjejer beberapa buah. juga ada sebuah ruangan yang di gunakan sebagai kantor.


Nino memperhatikan tempat tersebut. ruangan yang cukup luas." Oma. aku pengen tinggal di sini saja. sepertinya di sini Ok." Usul Nino membaut kening Dian mengkerut.


" Serius kamu nak.?" Tanya Dian memastikan.


"Iya Oma. dari pada aku bolak balik kampus dan Kafe. lagian di sini kan aku bisa tinggal sendiri. jika ada mahasiswa yang ingin konsul kan ada tempat yang luas dan mungkin akan ad yang aku rombak." Ide Nino yang akhirnya di setujui Dian.


Hari itu juga. Dian dan Vanessa kembali lagi ke Jakarta setelah berkunjung ke makam orang tuanya. sedangkan Nino tinggal dulu di hotel sampai kamarnya DM selesai di renovasi.


Dan Dian pun berpesan pada karyawan tersebut. jika ada anak gadis yang bernama Jeni mengganggu usir saja. dan di anggukkan mereka.


Dian dan Vanessa pulang dan sampai Jakarta tengah malam yang di jemput Aryo. karena Lutfi tidak bisa menjemput. mereka pun di bawa pulang ke rumah Putri yang juga tetangganya.

__ADS_1


__ADS_2