Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Kenyataan Nino


__ADS_3

Agak sore juga Nino pulang kembali ke apartemennya. Ia senang berkumpul dengan keluarga yang sangat akrab satu sama lain. pantas saja Abiyan dan Hani begitu menjaga adiknya. pikir Nino dalam perjalanan pulang.


Namun belum sampai di apartemennya. Ada panggilan dari Lutfi. " Nino.. kata Tante Putri ada barang kamu yang ketinggalan." Ucap Lutfi yang mengingatkan Nino.


"Eh iya Om. belanjaan saya yang ketinggalan. besok saja saya jemput Om. nggak apa kan Om?" Tanya Nino tidak enak.


Lutfi terkekeh mendengar pertanyaan Nino yang seperti tak enak." Nggak apalah No. besok atau kapan pun kamu bisa ambil. kan barang kamu sendiri." Jawab Lutfi apa adanya.


"Eh iya ya Om. saya nggak enak merepotkan." Ungkapan Nino tersenyum kikuk.


"Ya udah. kamu hati-hati." Ucap Lutfi menutup panggilan, karena ia tahu Nino pasti belum sampai. dan sengaja berhenti menerima panggilan telpon. sebab di larang menerima telpon saat mengemudi.


Nino tersenyum bahagia mengenal keluarga yang hangat. beda dengan kehidupannya, mungkin karena faktor budaya.


Nino makin ingin sekali untuk tinggal di Indonesia. sepertinya dunianya di sana. Ia tak ingin lagi kesepian. bukan hanya harta saja yang ia butuhkan, tapi juga cinta.kasing sayang dan kehangatan keluarga. Hingga Nino sampai di apartemennya setelah hari mulai senja.


Pagi, Ais telah siap berangkat kuliah, karena ia ada matkul pagi ini. beda dengan kedua saudaranya yang matkul nya jam ke dua. Jadi alhasil ia berangkat sendiri.


Baru saja ia akan pamit ke pada kedua orang tuanya. ada bunyi bel. Ais membuka kan pintu buat tamu yang tak di undang.


"Pagi-pagi sudah namu." Sungut Ais. dengan terpaksa ia membukanya. Terlihat wajah Nino yang terpampang di dekan pintu.


"Pagi Ais." ucap Ni o setelah memberi salam.


"HM! pagi sekali..?" Sindir Ais menatap laki-laki yang di depannya.


" Oh. ya maaf mengganggu, aku ambil barang yang ketinggalan kemaren." Ucap Nino masuk tanpa menunggu Ais untuk pamit.


" Eh.." Ais melongo melihat Nino yang masuk saja tanpa permisi padanya sebagai tuan rumah.


"Permisi Om. maaf ganggu pagi." Ucap Nino mendekati Lutfi yang duduk depan Televisi.


Lutfi yang sudah melihat kedatangan. Nino, hanya tersenyum. " Duduklah dulu. nanti biarkan Tante mu yang ambilkan. Eh kamu nggak ada kuliah kan lagi ini.?" Tanya Lutfi.

__ADS_1


"Nggak Om. Matkul ku sebenarnya sudah sudah habis. Tapi karena ad yang dapat C satu. jadi aku perbaiki sekalian nyusun." Jawab Nino apa adanya.


Lutfi dan Nino bercerita. tanpa memperdulikan kehadiran Ais yang berdiri dekat mereka.


"Pa. aku berangkat dulu." Ucap Ais kesal.


"Loh. kamu belum berangkat, tadi kan udah izin. kok belum juga berangkat.. apa mau di antar Nino." Sindir Lutfi pada anaknya yang cuek.


"Nggak.!" Jawab Ais dan berlalu meninggalkan keduanya yang tersenyum melihat Ais yang uring-uringan nggak jelas.


"Jangan diajak terus anaknya berantem. dia anak perempuan ku satu-satunya." Putri duduk dekat keduanya.


Lutfi terdiam mendengar ucapan istrinya. Nino merasa tidak enak melihat dua orang yang seolah tidak baik.


Putri yang menyadari memperhatikan Nino yang berpakaian kaos saja." Kamu nggak kuliah Nino..?" Tanya Putri penasaran.


"Eh. nggak Tan. cuman nanti ada pertemuan dengan anggota baru. saya kan mau tamat jadi harus serah terima jabatan sebagai ketua" Jawab Nino menjelaskan.


"Ooh. jadi kamu pulang kampung ketemu orang tuanya.?" Tanya Putri yang ingin tahu.


"Kenapa kamu lebih tertarik di Indonesia.?" Tanya Putri lagi.


"Saya suka masakan Nusantara Tan. dan juga saya suka dengan orang Indonesia yang ramah dan azas kekeluargaan yang kental." Jawab Nino apa adanya.


Putri menyadari hal tersebut. di luar Negeri kebanyak orang tua sudah melepas kan anaknya, jika telah bisa mencari nafkah.


Beda dengan prinsip di Indonesia. Apalagi untuk anak perempuan. Sebelum anak perempuan menikah, walaupun sudah bisa berusaha. tapi masih tanggungan orang tua. Ketika anak perempuan yang sudah menikah maka terjadi perubahan dalam hal berbakti kepada orang tua. Seorang perempuan yang sudah menikah maka lebih dituntut berbakti kepada suaminya. Hal itu didasarkan pada riwayat-riwayat yang memerintahkan istri untuk lebih taat kepada suami.


"Ooh. kamu nggak punya keinginan melanjutkan usaha orang tuamu?" Tanya Putri menyelidik. Makin lama ia makin penasaran.


"Nggak suka Tan. kalau di lakukan terpaksa. nanti malah rugi. lagian saya punya satu saudara lagi. biar dia saja yang teruskan." Jawab Nino.


Putri menatap pemuda yang ada di depannya. Seperti ada kekecewaan di wajahnya." Kamu tidak dekat dengan orang tua mu.maaf jika saya lancang. Dan jangan di jawab, jika tidak suka." Putri membatalkan pertanyaan yang sudah terlanjur.

__ADS_1


Nino menarik nafas dalam." Hm! Pertanyaan Tante memang benar. saya tidak di harapkan lahir. Karena saya anak dari selingkuhan papa. dan saya sampai sekarang tidak tahu siapa ibu saya. saya dari kecil tinggal dengan pengasuh. Namun papa tetap memberikan nafkah tanpa saya minta." Jawab Nino sendu.


Matanya mengembun. ia sangat iri dengan keluarga orang lain. hidupnya beda, dan sangat tidak bisa di katakan tidak termasuk keluarga. Makanya ia menjadi orang yang cuek, karena tidak ada yang mengarahkan. yang dalam pikirannya hanya ke suksesan.


Putri merasa bersalah setelah mendengar cerita Nino yang sangat meneduhkan." Maaf. bukan maksud Tante membuka luka mu." Putri menatap sendu pemuda yang di depannya.


Lutfi pun mendekat." Hidup itu macam- macam. Ada suka dan duka. suatu saat kamu akan mendapatkan kebahagiaan. yang penting kamu optimis. lagian papamu masih bertanggung jawab. itu sudah baik. walau itu bukan yang terbaik." Nasehat Lutfi menggosok punggung pemuda di sampingnya.


Nino terharu. sudah hampir 24 tahun umurnya. baru kali ini ia bisa cerita panjang lebar tentang hidupnya pada orang yang baru ia kenal.


"Terimakasih ya Om, Tan. mau menerima kehadiran saya." Ucap Nino menatap keduanya bergantian.


"Ha..ha.. kamu tuh anak yang baik. sebenarnya orang tua kamu beruntung memiliki anak yang kuat dan hebat seperti mu. mungkin suatu saat orang tuamu menyadarinya." Lutfi memberi semangat pada pemuda yang ia kagumi.


"Makasih Om. Jika Om dan Tante tidak keberatan. saya ingin selalu berhubungan dengan kalian. rasanya saya menemukan keluarga yang sempurna buat saya." Ucap Nino bermohon.


"Enak saja. terus aku kamu singkirkan gitu." Ledek Abiyan yang sedikit mendengar cerita Nino daei kamarnya.


"Eh. bukan begitu, saya hanya numpang orang tua gitu." Ucap Nino yang nggak paham. Karena hidupnya lurus-lurus saja selama ini.


"Eh nggak bisa numpang. udah penuh.." Canda Abiyan yang tidak dipahami Nino


"Maaf. kalau saya jadi ganggu." Jawab Nino kecewa.


Semuanya tertawa. Nino bingung melihat ekspresi orang yang ada. Hani yang baru keluar dengan pakaian yang sudah rapi juga ikut tertawa. Karena ia juga dengar cerita Nino. ia jadi kasihan.


Lutfi menggosok punggung Nino "Kami tidak keberatan jika kamu ingin menjadi keluarga kami, datanglah berkunjung. Oh ya. besok kami berdua sudah pulang ke Indonesia Jadi ini mungkin pertemuan terakhir kita sebelum berangkat besok." Ucap Lutfi lembut.


"Jadi. kalian nggak betapa di sini.?" Tanya Nino heran.


"Kami punya kerjaan di sana. lagian masih ada anak kami. adiknya Abiyan yang masih SMP. Jawab Lutfi menjelaskan.


Nino kaget. dikiranya, hanya Abiyan dan Ais saja. tapi masih ada satu lagi anak Lutfi dan Putri.

__ADS_1


"Pa.ma. kita pamit ya. Oh ya Bru. kalau mau curhat silahkan.. Sampai sore di beri kebebasan." Goda Abiyan. Hani memukul lengan Abiyan dan pamit berangkat kuliah.


Nino hanya tersenyum malu mendengar ledekan Abiyan.


__ADS_2