
Akhirnya Ais sudah berhadapan dengan Nino sang ketua senat. Nini masih kesal. Karena gadis di depannya ini menganggapnya seolah seorang Om-om yang sudah tua.
"Kamu orang Indonesia kan?" Tanya Nino menyelidik.
Ais yang menunduk menatap Laki-laki yang di depannya. Ia mengangguk tanpa bersuara. karena ia merasa apes di hari pertamanya masuk kuliah. sudah di hukum padahal tadinya ia tidak sengaja menabrak karena terburu-buru takut telat.
"Kamu bi..sa bicara..kan?" Tanya Nino dengan bahasa Indonesia yang agak terbata-bata.
"Bisa Tuan. eh...saya harus panggil apa.?" Tanyanya gugup.
Nino memperhatikan gadis tersebut. dengan seksama. Nini mengelilingi Ais yang berdiri di depannya. (Gadis kecil. nakal juga ya.) pikirnya dalam hati.
"Panggil Bruder Nino." Jaaba Nino tegas.
Ais kembali mengangguk. keringatnya menetes di keningnya. Karena Nino berdiri dekat dengannya menatapnya lekat.
"Maaf. apakah saya boleh gabung dengan teman lain.?" Tanya Ais memberanikan diri.
"Tidak... kamu di hukum.. tetap di sini bantu saya ambil absen.." Jawab Nino memerintah dan menyerahkan setumpuk kertas. tertera di sana nama-nama mahasiswa baru.
Kening Ais mengkerut. ia ke sini mau kuliah bukan mengambil absen gini. ia lihat kanan kiri,banyak sekali panitia Ospek yang di tandai dengan memakai name tag yang berbeda dengan mahasiswa baru.
"Maaf bruder. di sini banyak panitia Ospek. kenapa tidak minta mereka saja. ini bukan tugas saya " Jawab Ais apa adanya.
Muka Nino nampak merah. ia menahan marah pada gadis kecil yang di depannya. kalau ukur, tubuhnya hanya setinggi dadanya. sangat kecil.Ia baru kali ini mendapat tantangan, itu pun dari gadis kecil.
"Apakah kamu senatnya di sini.?" Tanya Nino menahan emosinya.
Ais cepat menggeleng menyadari kesalahannya. ia kembali menunduk. Ia merasakan akan dapat hukuman yang lebih besar dari ketua senat yang baru ia tahu waktu adalah laki-laki di depannya.
__ADS_1
"Maaf." Lirih Ais. Ia tak berani menatap laki-laki jangkung di depannya. mungkin lebih baik dia diam saja. atau ia pura-pura pingsan aja ya. seolah takut pada laki-laki di depannya. pikir Ais mendapat ide..
Nini mengusap rambutnya. ada nafas nafas yang panjang, seolah menahan emosi.
" Kalau begitu kamu segera laksanakan hukuman mu.!"Hardik Nino lantang hingga beberapa yang dekat dengan mereka menatap heran.
Ais yang berencana akan membuat ide pingsan. akhirnya benar-benar pingsan karena kaget. Nini yang melihat demikian tentu saja panik. Ia segera mengangkat tubuh gadis kecil yang pelukannya. karena Ais yang tiba-tiba ambruk dan untung dengan cepat meraih tubuh gadis tersebut hingga tidak jatuh ke tanah.
Nino membawa Ais ke UKS. Misna yang mendapatkan kabar kalau ada seorang mahasiswa pingsan. sedangkan ia tak jauh dari UKS karena mengambil sesuatu di sebuah ruangan sebelahnya.
Mis Ana terkejut,saat Nino membawa gadis tersebut ke UKS. Mis Ana langsung masuk bersamaan Nino telah meletakan Ais ke tempat tidur di sana.
"Ais... Apa yang terjadi padanya.?" Tanya Mis Ana pada Nino. Nini mengernyitkan keningnya, melihat reaksi Mis Ana pada gadis tersebut.
"Oh. tadi ia pingsan karena saya hukum.. maaf Mis." Jawab Nino lada Dosennya.
"Hukum. apa harus keras hukuman pada mahasiswa baru hari ini masuk. kalian saja belum kenalan. apakah terlalu besar kesalahannya. di hukum sampai pingsan?" cecar Mis Ana merasa bersalah. tidak memperhatikan anak temannya yang telah di titipkan padanya. Mia Ana mengambil minyak kayu putih dan menggosokkan pada hidung dan tangan Ais.
Nino terus memperhatikan Mis Ana yang begitu khawatir. apa hubungan gadis tersebut dengan Mis Ana yang bukan orang Indonesia.
Ais menggerakkan matanya, ia menatap sekeliling dan terlihat Mis Ana dan juga laki-laki yang berbicara keras padanya. hingga ia pingsan.
Sebenarnya sih. ia kaget saja tadi mendengar hardikan ketua senanya ini. tapi rencana yang pura-pura pingsan malah jadi kenyataan. ia merasa malu sekali.
"Kamu nggak apa-apa nak.?" Tanya Mis Ana pada gadis tersebut.
"Ah. nggak apa-apa Mis. tadinya saya kaget dan akhirnya pingsan." Jawab Ais tidak menyalahkan Nino.
Nino yang mendengarkan merasa terharu. ia mengira gadis ini manja, cengeng dan centil. ternyata ia salah.
__ADS_1
"Syukurlah. sekarang sudah bisa jalan. atau mis antar pulang.?" Tanya Mis Ana khawatir.
Ais menggeleng. nggak mungkin di hari pertama masuk ia sudah lebay dan pulang. nanti pasti abangnya menggodanya.
"Udah nggak apa-apa Mis. saya sudah bisa jalan. apakah saya boleh bergabung lagi dengan teman-teman?" Tanya Ais pada Mis Ana dan Nino.
Nino hanya mengangguk. ia tak berani karena ada Mis Ana. dan ia tidak tahu hubungan Mis Ana pada gadis tersebut.
Ais pun keluar dengan santai. ia akan kembali bergabung dengan temannya. Tapi baru saja keluar, Abiyan datang karena mendapat kabar kalau adiknya pingsan.
"Eh. dek. beneran kamu pingsan. kenapa?" Tanya Abiyan pada kembarannya.
"He..he.. insiden kecil. yuk bang kita gabung lagi. mbak Hani mana bang.?" Tanya Ais yang tak memperdulikan Nino yang menatapnya heran.
Mis Ana memukul pundak pemuda tersebut." Mereka berdua kembar. namanya Abiyan. dan satu lagi sepupunya bernama Hani kalau nggak salah satu jurusan dengan mu. mereka tuh keluarga baik-baik dan papanya dulu mantan dosen sini. dan selama beliau pindah, saya tinggal di apartemennya dengan gratis." Terang Mis Ana membuat Nino kaget.
"Jadi.mereka anak Pak Luthfi.?" Tanya Nino yang mengetahui kalau mis Ana menikah dan tinggal di apartemen mantan dosen di sini. Karena ia pernah mengantarkan tugas pada mis Ana ke apartemennya.
Mis Ana mengangguk. " Sekarang lanjut kann tugas mu." Ucap Mis Ana. dan di anggukan Nino.
Semenjak kejadian itu. Nino selalu memperhatikan Ais dan kembarannya. Nino juga sudah tahu kalau Hani adik jurusannya adalah sepupu gadis tersebut.
Ais gadis lincah. ia berteman pada siapa saja. Hal itu membuatnya banyak di kenal orang. Tubuhnya yang kecil sangat berbeda dengan Abiyan yang tinggi, Hani juga tinggi.
"Hai. adik ku cantik.. gimana kuliahnya ?" Tanya Hani saat mereka duduk di kafe milik kampus tersebut.
"Baik mbak. eh.. mbak tadi pergi jam berapa? Kok aku nggak lihat mbak pas bangun?" Tanya Ais yang ketiduran setelah sholat, karena ia berpesan pada Hani kalau ia kuliah jam kedua.
"Seperti biasa. kamu begadang semalam. makanya enak sekali dengkurannya, tubuh kecil tapi nggak sesuai dengan dengkurannya." Canda Hani menggoda.
__ADS_1
Ais memukul kakaknya. yang selalu menggoda tentang dengkurannya. Padahal kata mamanya nggak seperti itu. hanya saja kadangkala ia kelelahan.