
Hari ini Lutfi dan Putri kembali pulang. karena mereka punya aktifitas lain dan juga punya satu anak lagi yang harus menjadi tanggung jawabnya.
Aryo, Rafiq dan Galuh menjemput ke bandara. kebetulan hari libur. Merdeka bertiga menunggu sambil sekali menatap orang yang keluar dari kerumunan orang.
Tak lama, Putri keluar bersamaan dengan Lutfi. Rafiq berlari mengejar mamanya yang sudah beberapa hari tak bertemu, ia sangat rindu pada mamanya.
"Ma.. " Peluk Rafiq tanpa malu pada orang-orang yang melihatnya. Putri pun memeluk anaknya dengan mesra.
"Kangen ya sayang...maaf ya kami terlalu lama meninggalkan mu." Bujuk Putri.
Lutfi hanya tersenyum melihat sikap anak bungsunya yang memang sangat sayang pada mamanya.
"Besok aku ikut ya ma." Rengeknya manja." Di acungkan jempol oleh mamanya. mereka berjalan ke mobil.
Galuh yang dari berdiri melongo di cuekin saja. hal itu terlihat oleh Lutfi segera ia memeluk anak tersebut.
"Hai..Galuh.. kamu ikut juga. maaf ya Mama Putri memang begitu kalau sama si bocah." Ledek Lutfi. yang merasa di abaikan anaknya sendiri.
"Ha..ha.. Di cuekin ya bro." Ledek Aryo yang sudah selesai memasukan koper dan barang lainnya ke bagasi.
"Iya.. nih bro.." Jawab Lutfi pasrah.
Lutfi duduk di sebelah Aryo. sedangkan Putri duduk bertiga dengan bocah tersebut. Ketiganya asyik bercerita entah kemana-mana tanpa judul sih. he..he..( athor)
Tak beberapa lama mereka sampai di rumah. para orang tua dan nenek sangat antusias menyambut kedatangan mereka.
"waduh.. kayak menyambut tamu besar saja kalian nih." Ledek Putri heran dengan para nenek yang antusias menyiapkan makan mereka di rumah Putri yang tetangga Sonya.
"Dasar.. adik tidak akhlak. senangnya ngeledek orang tua. eh gimana kabar anak-anak. Kalian jadi kan merekam kegiatan mereka. aku pengen lihat." Rengek Sonya tanpa memperdulikan orang melihat nya melongo.
"Mbak. nggak mi tuh sama umur. lihat tuh anak-anak tak terima bundanya yang masih merasa muda.' Ledek Putri lagi.
__ADS_1
Sonya tak perduli. ia mendekati Lutfi. Jadi kan mas. di rekam..?" Kembali pertanyaannya pada Lutfi.
"Jadi nih " Lutfi menyerahkan plasdist. karena sebelum berangkat Sonya mau aktivitas anak-anak di rekam tanpa di sadari mereka. terpaksa Lutfi memasang CCTV tanpa di sadari mereka. Hanya beberapa ruangan saja.
Mereka pun duduk sambil menonton Televisi yang ceritanya tentang kehidupan anak-anak selama Putri dan Lutfi di sana.
Rasa rindu mereka terhadap anak-anak terobati. tapi di akhir-akhir cerita. ada orang yang gak di kenal mereka cukup lama duduk di sana. bahkan Abiyan dan Hani meledeknya. Yang sedang duduk bertiga dengan Putri dan Lutfi.
"Hai. siapa dia..?" Tanya Sonya penasaran menatap keduanya.
"Oh. Nino." Jawab Putri santai
"Nino siapa. sepertinya bule. siapa dia.. kelihatan akrab dengan kalian.?" Cecar Dian menatap anak dan mantunya.
Lutfi melotot pada mamanya. Ia bingung harus menjawab apa.. namun ia sembunyikan dengan senyuman.
"Dia mahasiswa mis Ana, ia sering datang ke rumah itu saat Mis Ais tinggal di sana. Jadi ia tidak tahu kalau mis Ana tidak tinggal di san. jadilah kita ngobrol. ya anaknya asyik, pintar dan punya ambisi besar untuk maju tanpa mengharapkan bantuan orang tuanya. ia anak ang tidak di harapkan dari keluarga ayahnya." Jawab Lutfi apa adanya.
"Kasihan... padahal ganteng ya mbak..?" Tanya Vanessa pada besannya.
"Iya ya mbak... kenapa nggak kita pungut aja jadi anak atau mantu.!" ucap Dian yang malah membuat Lutfi dan Putri tersedak.
Mereka berdua jadi perhatian." Jangan bilang itu benar Di.?" Tanya Dian yang kembali mencecar Lutfi.
Lutfi menatap istrinya minta dukungan. Sedangkan Putri pura-pura tidak melihat, ia tidak mau menjawab hal yang begitu serius.
Lutfi yang tidak dapat dukungan istrinya, akhirnya kembali menjawab pertanyaan mamanya.
"Ma. Nino menyukai Ais cucu mama. tapi percayalah.. Ais tidak menyukainya, karena di awal pertemuan mereka yang sangat tragis. jadi Nino hanya bertepuk sebelah tangan. dan IIA akan pindah ke Surabaya jadi Dosen Boga di sana. seta buka restoran, jadi mereka tak lama bertemu di sana." Jawab Lutfi merasa lega.
"Kenapa di Surabaya. di Jakarta kan ada.?" Tanya Dian yang tak menghiraukan kan cerita yang lainnya. fokusnya malah beralih pada Nino. sepertinya Dian menyukai anak itu yang sopan bercerita dengan anaknya. di layar kaca tanpa di buat-buat.
__ADS_1
"Ma.. Nino itu. bukan hanya ingin jadi Dosen. ia juga akan membuka kafe seperti Putri. nah tentu ia harus di sana. agar jauh dari cucu mama." Jawabnya santai.
"Tapi mama suka.. kalau dia jadi calon mantu cucu mama." Jawab Dian malah membuat semuanya melongo.
Vanessa yang melihat reaksi anak mantunya tersenyum. ia geleng-geleng kepala.
Vanessa pun memukul lengan Putri dan Sonya yang diam terpaku.
"Eh. kenapa kalian bengong begitu. Ais tuh jauh di sana. nah Nino nya akan ke Surabaya. ngapain heboh yang belum jadi. biar kan saja, jika mereka jodoh ya bertemu. jika tidak kan masih panjang waktunya. Ais masih baru masuk kuliah... Jika emang Nino nya suka ya sabar lah ia menunggu sampai Ais tamat." Jawab Vanessa tenang.
"Ma.." Jawab Putri dan Sonya serentak
Vanessa cengengesan melihat reaksi kedua anaknya." Biarkan saja.. kan belum terjadi.. tadi kan sudah di jawab Lutfi kalau Ais tidak suka. Nah mana tahu selama Nino tidak di sana Ais suka sama bule yang lain.." Jawab Vanessa tanpa beban.
"Ma.. ini bukan suka tidak sukanya. Ais masih kecil ma. masa sudah kita cerita jodoh gitu. aku takut nanti pikiran Ais terganggu ma. lagian mbak saja belum ada jodohnya. masa di langkahin.." Jawab Putri tak terima.
Vanessa dan Dian tertawa. untung Rafiq dan Galuh masuk kamarnya. karena pembicaraan sudah kemana-mana.
Sedangkan Aryo yang punya kegiatan lain hanya bisa menjemputnya. dan kembali lagi pergi setelah melihat Vidio tadi sebentar.
Lutfi terpaksa pamit dengan alasan ke kamar kecil. padahal ia menghindari pertanyaan kedua nenek tersebut.Jadilah Putri dan Sonya yang jadi sasaran.
Menyadari. pada sudah hilang. Dian dan Vanessa memanggil mereka untuk makan. karena hari sudah menjelang malam.
Di meja makan. semuanya hanya fokus pada makanan. tidak ada perbincangan, Bahkan tidak ada yang berkeinginan untuk memulai berbicara. semuanya asyik menikmati makanan mereka. Dan Aryo pun yang baru pulang langsung bergabung untuk makan bersama.
Aryo yang berencana mau bertanya. di sikut Lutfi lengannya. agar tidak buka suara. Akhirnya Ayo pun fokus untuk makan.
Untung para nenek tidak menyadari. karena keduanya asyik melayani cucu mereka yang duduk bersebelahan
Aryo dan Lutfi tersenyum. mereka melanjutkan makan tanpa suara, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. kecuali ke dua nenek yang heboh melayani cucu mereka.
__ADS_1