
Tiga hari kemudian. Lutfi kembali cek up untuk periksa kakinya yang kena tabrak kemarin. Hanya Putri yang menemani, karena Rafiq sudah kembali sekolah.
Mereka di antar sopir, karena Lutfi belum bawa mobil dengan jangka waktu yang panjang. Jadi kemana-mana Lutfi harus diantar sopir.
"Mas. jadi rencana pulang rumah sakit langsung ke rumah mbak Sonya.?" Tanya Putri mengingat cerita tiga hari yang lalu.
"Oh. Jadi, kamu nggak suka tinggal berdampingan dengan mbak Sonya.?" Tanya Lutfi merasa heran.
"Bukan begitu mas. hanya saja, aku kok berat ya meninggalkan. rumah kita sekarang. Banyak kenangan di sana." Jawab Putri lambat.
Lutfi menggosok pipi istrinya lembut." Kalau kita kangen, kan. bisa malam di sana lagi. lagian mas nggak niat untuk jual rumah tersebut. anak kita kan tiga. jadi nggak mungkin lah mas jual, mana tau setelah dewasa mereka mau tinggal di sana." Jawab Lutfi yang memahami istrinya.
"Maaf. ya mas aku egois." Ucap Putri bersandar di bahu suaminya. Suaminya selalu mencarikan yang terbaik buatnya.
"Terus. kalau di tinggalkan jadi susah juga mas.?" Tanya Putri masih kepikiran.
"Sayang.. rumah itu kan dekat dengan kafe. kita suruh saja Kenan tinggal di sana. rumah itu dekat dengan sekolah Rafiq. Galuh katanya mau sekolah dekat Rafiq. mungkin mereka mau mandiri." Jawab Lutfi mengingat Kenan karyawan Putri.
"Kita lihat saja nanti aja ya mas. sekarang fokus dengan kesehatan mas aja dulu." Jawab Putri yang bingung sendiri.
Lutfi terkekeh mendengar jawaban istrinya. yang lucu menurutnya. mereka pun sampai rumah sakit untuk periksa keadaan kakinya. apakah hasilnya tidak membahayakan.
"Alhamdulillah ya pak. kakaknya tidak bermasalah. hanya patah sedikit bagian mata kakinya. paling beberapa bulan akan sembuh." Ucap dokter.
"Alhamdulillah. terimakasih dok." Jawab Lutfi senang, begitu juga Putri pun tersenyum. karena kondisi kaki suaminya tidak mengalami masalah serius.
Setelah pemeriksaan dan dapat obat. mereka pun langsung ke rumah Sonya. Aryo dan Sonya sengaja di rumah. menunggu kehadiran Lutfi dan Putri.
"Assalamualaikum. wah semangat sekali bro menunggu kita" Ledek Lutfi setelah memberikan salam.berrsama Putri.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. gimana nggak semangat. mau bertetangga dengan sobat sekaligus ipar. tentu saja kita usahakan se baik mungkin, tapi gimana kakinya bro.?" Tanya Aryo yang baru sadar dengan kondisi iparnya. dan membantunya masuk ke dalam rumahnya.
"Alhamdulillah. nggak ada masalah yang mengkhawatirkan kan mas. Aku tau sempat stres saat dokter bicara tadi." Sela Putri yang mendengar pembicaraan para lelaki.
"Ha.ha.. suamimu ini kuat Put. dulu waktu kuliah dulu kan pernah juga keseleo saat kita mendaki, terpeleset saat kaget di tegur.." Ucapan Aryo terhenti saat Lutfi mengedipkan matanya.
Putri yang melihat interaksi keduanya, merasa curiga. dia menatap suami dan kakak iparnya bergantian.
"Sepertinya ada yang di sembunyikan.?" Tanya Putri menatap keduanya yang nampak canggung.
Sonya datang mengantarkan minum mereka bersamaan ke datangan Pak Somat dengan istrinya.
"Wah. bapak sudah datang. oh ya kenalkan, ini saudara saya yang akan mengambil rumah bapak." Ucap Aryo mengenalkan Pak Somat sang pemilik rumah
"Oh. kenalkan pak saya Lutfi, dan ini istri saya Putri." Ucap Lutfi memperkenalkan diri langsung.
"Oh. ya. kalau begitu, gimana kalau kita langsung saja melihatnya. karena saya nggak bisa lama-lama di sini. dan harus kembali lagi sore ini." ucap Pak Somat dan di setujui istrinya.
Akhirnya mereka melihat ke rumah sebelah rumah Sonya. hanya berbatasan pagar. mereka sudah sampai di rumah tersebut.
Lutfi di bangu Aryo melihat rumah dan di termakan Pak Somat. sedangkan Putri.Sonya dan Istrinya pak Somat mendampingi kaum ibu-ibu.
Setelah berkeliling. Putri cukup terkesan model rumahnya yang cukup elegan. ada gazebo di belakang rumah dan ada kolam kecil di sana. bagus untuk duduk santai.
setelah mereka puas melihatnya. mereka duduk di ruang tamu yang peralatannya akan di pindah sore ini. jika rumah jadi di beli Lutfi.
"Maaf ya pak, buk. rumahnya bagus. saya suka modelnya, apalagi Yaman kecil di belakang bikin adem. namun kenapa. bapak ibu ingin menjualnya. kan rumahnya bagus." Tanah Putri yang tidak ingat.
Pak Somat terkekeh."Ha..ha... kalau kita nggak kekurangan dana untuk bangun rumah di sana. kita nggak akan jual buk. kita di kampung buat kos-kosan. kebetulan rumah kita dekat kampus. jadi bagus sekali buat uang masuk.!" Jawab Pak Somat di selingi canda.
__ADS_1
"Wah. bagus dong pak. apakah bapak perlu tambahan dana gitu, atau mungkin saya bisa tuh tanam modal di sana. atau apakah di sana ada tanah yang dekat kampus biar juga bikin kos-kosan. tapi khusus cowok gitu. dan bapak khusus cewek.he..he.." Ucap Aryo yang malah semangat.
Semua mata tertuju ke Aryo. Aryo bingung sendiri. semuanya menatapnya. " Apa ada yang salah ucapan ku. kan wajar, biar anakku tidak kekerungan dana di saat nanti sudah besar" Jawab Aryo ambigu.
"Wah. pak Aryo memang jenius. ada tanah di dekat rumah kami itu pak. mungkin tiga rumah dari kami ada tanah kosong, kabarnya mau di jual. jika bapak berminat biar saya tanyakan." Jawab pak Somat kotak kalah semangat.
"Mas. ini mau urusan Putri dulu. apa ini sudah CC. tentang jual beli ruamhnya." Tanya Sonya yang dari tadi hanya diam saja.
"Oh. sudah pasti. tinggal pembuatan surat akte notaris saja lagi. ya kan pak Somat.?" Aryo mengalihkan pembicaraan melihat wajah istrinya yang sedikit berubah.
"Iya pak. gimana pak Lutfi dan ibu. jadikan ambil rumah ini. biar rumah kos kita selesai dan siap di huni." tanya Pak Somat pada Lutfi.
"Kenapa nggak pinjam bank aja pak. kan ada rumah di buat jaminan." Tanya Putri yang masih penasaran.
"Ada yang lebih baik. ngapain minjam buk, toh suami saya sudah di PHK. jadi rencananya selain untuk membuat kosan,kita juga buat warung sembako. agar punya usaha buk. kalau dipinjam dengan apa kamu nyicilnya. kan nggak kerja lagi. Jadian di sini kami susah buat usaha, kalau di kampung saya. kebetulan dekat kampus. jadi bagus buat usaha, dan rumah orang tua saya tidak yang yang tinggal. adik-adik saya sudah pada merantau.." jawab buk Mitra istrinya pak Somat. yang hanya diam saja dari tadi.
Putri menatap istrinya pak Somat,dan tersenyum." Kalau ibu-ibu mah. selalu berpikir panjang ya buk." Ucap Putri.
"Ya buk. anak-anak butuh biaya buk. mereka kan taunya hanya minta uang, begitu suami. taunya. sedia makan.pakaian dan servis di ranjang. itu sudah beres mah. tapi kalau kita perempuan banyak mikir. makanya cepat tua ya buk." Jawab buk Mitra apa adanya.
Pak Somat menunduk. benar. selama ini, ia tidak pernah kepikiran begitu. yang dia pikirkan. dia sudah usaha. cukup nggak cukup itu urusan istri. Untung istrinya pandai memasak. jadi usaha istrinya tersebut di titipkan ke kantin dimana suaminya kerja di perusahaan yang cukup besar.
"Yang sabar ya buk. semuanya pasti ada jalannya. apalagi ibuk bisa masak. jadi bagus dong buka usaha. tapi kalau boleh usul. kalau dekat kampus selain sembako. ibu buat juga katering kecil-kecilan. kan nggak semua mahasiswa yang hidupnya berkecukupan" Usul Putri.
"Iya ya buk. biar warung yang nungguin bapak. dan saya buat katering buat mahasiswa. makasih ya buk. idenya.." Jawab buk Mitra yang merasa beruntung.
Putri hanya mengangguk. Lutfi yang duduk di sebelah. menggosok punggung tangan istrinya karena bangga. namun Putri berusaha menghindar.
Lutfi masih merasakan aura kekesalan istrinya. walau tidak di perlihatkannya di depan umum
__ADS_1