Putri Yang Tersakiti

Putri Yang Tersakiti
Hari Wisuda Nino.


__ADS_3

Setelah makan malam selesai. para nenek kembali menyidang Putri dan Luthfi. Aryo yang tidak tahu permasalahan hanya menyimak tanpa bertanya pada istrinya yang duduk di sebelahnya.


"Ma.. tadi kan sudah aku bilang. kita tidak mau ikut campur masalah anak muda. Ais masih kecil ma. dia baru saja masuk kuliah. aku mohon. hentikan dulu ya ma." Pinta Putri pada mertuanya.


Tapi Dian malah mengabaikan menantunya. ia menoleh pada Vanessa dan juga Lutfi.Lutfi yang di tatap akan beranjak.


"Hai. mau kemana?"Tanya Dian yang melihat pergerakan anaknya.


"Sebentar ya ma. aku ada urusan." Jawab Lutfi menghindar.


"Tidak bisa. sekarang kamu PC dia. mama ingin kenal dengannya. atau mama besok berdua pergi ke sana." Ucap Dian tersenyum pada besannya.Dan dianggukan Dian.


Lutfi menarik nafas dalam.membhang kekesalannya." Ya ma.swbwntar. mudah-mudahan sekarang ia tidak sibuk. sekarang jam kuliah ma." Tolak Lutfi halus.


"Kan kamu yang bilang. kuliahnya sudah selesai. dan tinggal lagi menunggu hasil skripsinya kelar." Selidik Dian tak mau kalah


Putri geleng-geleng kepala dengan mertuanya yang ingin sekali tahu dengan Nino.


Lutfi menghubungi Nino. baru satu panggilan sudah di angkat langsung oleh Nino.


" Halo assalamualaikum Om. apa kabar.?" Tanya Nino sopan.


Sikap awal yang dilihat Dian membuat dia jatuh hati pada pemuda tersebut. dan Dian langsung mengambil handphone anaknya.


"Waalaikumsalam Nino. saya Omanya Ais. apa kabar kalian di sana.?" Tanya Dian sok kenal.


Nino yang menyadari kalau di balik layar kaca tersebut berpindah pada wanita tua tapi masih cantik. mengetahui kalau itu dari Omanya Ais. tentu saja ia senang.


"Baik Oma. salam kenal Lama Ais. saya Nino temannya Ais. Abiyan dan Hani." Jawab sopan Nino.


Aryo menyadari kemana arah pembicaraan mengikut istrinya dan di anggukan Sonya.


"Oma yang malah kebelet." Jawab kekeh Sonya dan dapat cubitan kecil dari Aryo.


Keduanya tersenyum. Lutfi yang duduk di sebelah Aryo dapat pukulan telak. " Kenapa aku di pukul bro.?" Tanya Aryo jeles.


"Kamu kan yang punya ide berdua. agar buat Vidio ini. jadi kamu berdua harus bertanggung jawab." Kesal Lutfi.

__ADS_1


Aryo dan Sonya pun terdiam. ia Sonya yang memaksa agar buatkan Vidio. agar ia bisa melihat aktivitas anaknya selama Putri ada di sana. Tapi malah jadi kehebohan para nenek melihat ke hadiran Nino.


"Sorry. " Jawab Aryo singkat.


Akhirnya Aryo dan Sonya terpaksa diam dan menyaksikan interaksi Dian dan Vanessa dengan Nino yang langsung akrab dengan para nenek.


"Jika sampai di Indonesia. kamu langsung ke sini dulu. kabari ya jika kamu sudah sampai di Indonesia. oh ya kamu catat nomor Oma. Biar nanti kamu bisa kabarin jika sudah sampai." Dian sangat antusias dengan Nino.


Keempat orang tua tersebut melotot melihat antusiasnya Dian dengan Nino. mereka saling tatap tapi tidak bisa berkutik.


"Mama.." Gumam Putri yang masih bisa di dengan Lutfi.


"Kalian tidak bisa marah. kalian berdua saja di jodohkan saat masih kecil. sekarang cucuku sudah kuliah apa salahnya. jika ada bibit dan bobot yang bagus kenapa di lepaskan. kita tinggal Carikan buat Hani dan Abiyan. ya nggak mbak.?" Tanya Dian tanpa salah. Dan di anggukan Vanessa.


Akhirnya mereka pasrah. tiada kata yang terucap keempatnya orang tua muda tersebut.


****


Tiga bulan kemudian. Nino akhirnya Wisuda kuliah. ia di wisuda. Ais.Abiyan dan Hani yang dipaksa Omanya untuk menghadiri wisuda Nino terpaksa mengikutinya. Dan Nino juga sudah di beritahu Dian tentang hal itu.


Tentu saja Nino bahagia. ada wanita yang ia sukai datang di hari wisudanya. Papanya tidak bisa datang dengan alasan bisnis yang tidak bisa ia tinggalkan. Nino sangat kecewa. namun terobati rasa kecewanya dengan kehadiran Ais dan saudaranya.


"Santai aja bru. Oh ya ini ada titipan dari Oma buat kamu." Ucap Abiyan memberikan kado pada Nino dari Dian.


"Sampaikan terimakasih saya pada Oma Dian." Ucap Nino terharu.


Abiyan yang melihat mata Nino yang berkaca-kaca menggosok punggung pemuda tersebut.


"Kata Oma sampaikan sendiri. Oma ingin melihat kamu di wisuda. tapi kebetulan Oma lagi tidak enak badan makanya tidak jadi datang."


"Oh. baiklah. setelah ini aku akan menelpon Oma Dian." Ucap Nino semangat.


Ais dan Hani hanya diam memperhatikan kakak tingkatnya sudah berpakaian wisuda di dampingi keluarganya. sungguh beda dengan Nino yang hanya sendiri. itulah sebabnya ia mau menemani Nino


"Selamat ya Bru. moga kedepannya sukses selalu." Ais akhirnya memberikan selamat setelah Abiyan beranjak dan menyenggol lengannya.


"Terimakasih. kehadiran kalian sangat berarti bagi ku. Oh ya kalian berdua jadikan jadi pendampingku.?" Tanah Nino lada Ais dan Hani. dan di anggukan keduanya.

__ADS_1


Karena Abiyan menjadi panitia wisudanya. itu berkat Nino yang merekomendasikan Abiyan untuk jadi panitia. karena ia mantan dari seorang ketua Senat.


Abiyan pun meninggalkan mereka karena ada tugas yang harus ia kerjakan. sedangkan Ais dan Hani duluan masuk karena perwakilan dari orang tua harus masuk duluan sebelum mahasiswa yang akan wisuda masuk. baru Rektor, dekan dan lainnya masuk. Seperti wisuda lainnya.


Nino berdiri bagian depan sesuai dengan nilai indeksnya. Nino walau hidup dengan kekurangan kasih sayang dan perhatian. namun dia pemuda yang mandiri dan pintar. ia tak mau terpuruk dengan kekecewaan. Toh hidupnya tidak kekurangan harta.


Acara wisuda pun di mulai. Mahasiswa yang dapat nilai indeksnya cumlaude akan di minta berdiri mendapatkan penghargaan. Termasuk Nino. yang berdiri paling awal.


Dian yang meminta Ais untuk mem vidio kan acara wisuda tersebut membuat Dian makin kagum melihat penampilannya.


"Benar bibit unggul." Selengek an Dian pada dirinya sendiri. karena hanya dia sendiri menonton di rumahnya.


Hingga acara wisuda selesai. Ais pun mengakuinya. merekam acara wisuda tersebut. Tanpa sepengetahuan Hani apalagi Nino. karena Omanya yang meminta begitu. alasannya agar tidak terjadi keributan.


Setelah acara selesai. Ais dan Hani keluar dari ruangan wisuda. mereka berdua telah mendapatkan paket makanan yang telah di sediakan dan sekarang di tenteng Hani.


"Mbak. kita pulang yuk. udah capek nih duduk. pantat aku rasanya kesemutan." Celetuk Ais pada kakaknya.


"Tunggu Nino dulu. nanti dia cariin kita." Jawab Hani yang dapat telpon dari Nino. karena Ais tidak mengangkatnya.


Ais hanya menarik nafas dalam. ia mengibaskan tangannya ke atas. tapi itu malah membuat mata Nino tercongkel secara respek Ais menoleh mendengar jeritan Nino.


"Aw.. sakit Ais..." Nino mengasuh menggosok matanya yang kesakitan.


"Eh maaf. tadi aku nggak sengaja." Ais memeriksa mata Nino yang sedikit merah karena tangannya


Nino yang di perhatikan merasakan jantungnya berdegup kencang. ia memegang pinggang gadis tersebut tanpa di sadari Ais.


Hani yang melihat hanya geleng-geleng kepala." Dasar bucin.. Ini masih lama.. aku gerah nih." Sungut Hani menghindar.


Ais dan Nino baru menyadari. mereka pun salah tingkah. Nino meraih tangan Ais dan menciumnya. tentu saja sikap Nino yang dadakan membuat Ais terkejut.


"Terimakasih telah mengkhawatirkan aku." Ucapnya tulus. Ais kikuk di perlakukan begitu. ia menarik tangannya cepat


"Han. kita ke kafe aku ya. aku sudah siapkan untuk kalian. sini tentengannya." Nino mengambil tentengan makanan yang di pegang Hani untuk jatah makan makan mereka.


Hani hanya mengangkat bahu lada Ais. mereka pun menuju kafe yang tak jauh dari kampus.

__ADS_1


Ais mengerutkan keningnya.oantas saja setiap ia ke kafe tersebut tidak boleh bayar. tapi ia tidak tahu siapa yang telah membayarnya. sedangkan pelayan di sana tidak mau memberitahukan.


__ADS_2