
Setelah acara pernikahan di Mesjid depan rumah Vanessa. Mereka telah menyediakan resepsi ala kadarnya di halaman rumah.Beberapa tenda dan makanan telah tersedia.
"Katanya pesta kecil. kok dari tadi siang nggak henti-hentinya tamu yang datang. heran deh..." Lirih Sonya yang sudah merasa capek berdiri di pelaminan.
"Sabar sayang. kalau capek duduk aja dulu." Aryo meminta duduk istrinya.
Namun belum duduk. tamu datang lagi untuk bersalaman. kali ini tamu yang membuat Sonya sakit kepala.
Siapa lagi. tamunya Hani, teman-temannya sama SMP. anak-anak ABG tersebut heboh naik pelaminan.
"Hani... ganteng sekali papa kamu. wah.. kamu pasti sayang dong sama papanya..." Goda seorang anak seusia Hani.Hani yang digoda senyum-senyum sendiri.
"Benar ganteng sekali. foto dong Om ganteng. boleh kan Hani aku foto sama papa kamu.?" Tanya gadis cantik yang ada di depan Sonya dan Aryo.
Sonya sampai menepuk jidatnya karena malu. Sedangkan Aryo hanya santai saja. malah ia mengajak semua anak-anak tersebut berfoto
"Ayok. foto sama-sama." Aryo melayani temannya Hani.
"Eh papa Aryo nggak boleh. nanti malah di sebar sosmed, bisa kacau nanti." Seru Hani marang temannya.
"Pelit amat. tuh Om nya aja mau. mau ya Om.?" Aryo mengangguk.
"Tapi kita foto bersama. bunda dan Hani juga ya..." Bujuk Aryo memikirkan ucapan Hani.
"Ok deh dari pada nggak.!" Ketus gadis tersebut kesal.
Aryo tersenyum. ia nggak nyangka pergaulan anak muda sekarang berbeda dengan masa ia remaja.
Apabila dilihat dari fase perkembangan remaja, usia 10 hingga 13 tahun merupakan fase early karena ia baru memasuki tahapan Masa Puber.
Maka dari itu, orang tua juga perlu mempersiapkan diri karena ia akan mengalami perubahan suasana hati serta perilaku yang berbeda dari biasanya.
Mereka Masih akan menunjukkan ketergantungannya pada orangtua. Namun, kedekatannya dengan teman-teman sebaya akan semakin menguat.
Bahkan, tekanan dari lingkungan pertemanan yang dirasakannya akan semakin besar. Begitu pula dengan identitas dirinya dalam sebuah pertemanan.
"Sangat beda ya sayang. kita harus hati-hati mengarahkan Hani. Kita nggak bisa terlalu otoriter." ucap Aryo, setelah Hani dan temannya turun dari pelaminan.
"Ya. Yo.. aku nggak nyangka aja. Hani m ngundang teman-temannya. dan membuat kehebohan. aku sedikit pusing. apakah masih ada? Aku mau makan.. lapar..!" Sonya melihat ke depan. sepertinya tidak ada lagi.
Ia memberikan kode pada Putri. dan Putri pun mendekatinya." Ada apa mbak.?" Tanya Putri setelah dekat.
"Dek. mbak lapar.. bantu mbak turun ya." Ucapnya..
"Sayang kalau mau turun.. kenapa nggak bilang sama aku saja, sini aku bantu." Aryo merasa di abaikan. padahal ada dia, kenapa panggil adiknya.
"He..he.. maaf. kirain masih betah di sini." Sonya cengengesan menutupi salahnya.
__ADS_1
Aryo pun menggendong istrinya turun. tentu saja membuat suasana jadi heboh.
"Oi. sabar bro.. masih siang.." Celetuk Lutfi menggodanya.
Aryo hanya diam saja. ia terus membawa Sonya ke tempat duduk yang ada dekat mamanya.
"Dah. duduk sini.. makan di sini saja.!" Perintah Aryo.Dan Sonya melotot mendengar perintah suaminya.
Nadin tertawa melihat kebucinan anaknya. " HM.. sabar ya sayang.. udah duduk saja sini dekat mama." Nadin tersenyum menasehati menantunya.
"Eh iya ma... capek, laper.. kirain sebentar saja tadi. eh tau nya tiga jam berdiri menyalami tamu.." keluh Sonya.
"Ha..ha.. salah kamu juga sih. kan sudah bilang acaranya di hotel saja, tapi kamunya minta di rumah saja. ya jadi tamunya harus antri tempat duduk jadinya. untung tamunya mau aja makan ke dalam rumah. Dan karyawan kafenya Putri cekatan menyiapkan semuanya." Nadin mengingatkan.
"HM. kan aku kira cuman nikahan doang ma. mana tahu tamunya tetap banyak yang datang." Sonya membela diri.
Nadin mengusap punggung menantunya lembut. sedangkan Aryo hanya sibuk dengan handphonenya yang dari pagi di matikan.
Banyak pesan yang masuk. serta panggilan tak terjawab. Aryo kembali menelpon. Ternyata dari teman-temannya sama kuliah.
"Aryo. lu gila ya. nikah nggak undang-undang. Kamu takut kalau kami nanti makan gratis." Ledek Gio yang selalu bicara blak-blakan.
"Maaf. masalahnya dadakan." Jawab Aryo cengengesan.
"Lu buntingan anak orang. sampai dadakan. udah Sherlock cepat. kami udah ngumpul nih." Gio mematikan telponnya.
"Bro. aku dapat telpon dari alumni. katanya mau datang. apa makanannya masih ada.?" Tanya Aryo ragu.
"Tenang bro... aku punya langganan sate dan bakso gerobak yang enak. aku suruh aja mangkal sini. kalau masalah makan sih, sekarang karyawan Putri lagi nambah di dapur." Ucap Lutfi tenang.
"Makasih ya bro. Tadi aku sempat panik." Ucap Aryo. Ia pun tersenyum lega. Ia kembali duduk dekat istrinya.
" Kenapa.?" Tanya Sonya yang sempat melihat ke panikan Aryo suaminya.
"Alumni ku mau datang. aku takut makanan nggak nyampe. maka aku tanya Lutfi. dan beliau menelpon tukang sate dan bakso gerobak yang ada dekat sini untuk mangkal langsung di stand sini." Ucap Aryo lega.
"Emang nya pameran, pakai stand segala." Sonya tertawa mendengar pernyataan suaminya yang aneh.
"Ha..ha.. Anggap aja gitu. pameran istri cantik ku." Aryo mencubit hidung istrinya. tentu saja Sonya kesal.
"Eh. sakit tahu. boleh nggak aku pakai sendal yang agak rendahan. capek rasanya pakai ini." keluh Sonya dan di anggukan Aryo.
Tak lama. tukang bakso dan Sate yang di pesan Lutfi datang. tentu saja membuat heboh tamu yang masih ada.
" HM. wah seru nih. ini untuk di makan pak Lutfi." Seloroh seorang tamu. yang belum lama selesai makan.
" Silahkan pak. untuk episode dua..ha..ha.." Lutfi tertawa mendengar seloroh tamunya. Tentu saja orang yang dengar jadi tertawa.
__ADS_1
Mereka pun antri di depan gerobak yang sudah siap melayani tamunya.
"Eh. itu kan Mang Emon langganan kita. wih kita serbu yok..." Ucap temannya Hani.. dan tentu saja yang lain pada ngikut.
Aryo tersenyum begitu juga yang lainnya. Mereka tak menyangka, pesta yang di rencanakan sederhana. malah menjadi tak terkalahkan dengan pesta yang di rencanakan jauh hari.
Lutfi dan Putri pandai mengatur kondisi. hingga pesta tidak mengecewakan. bahkan para tamu merasa puas pelayanan mereka.
Tamu Aryo pun datang. saat orang antrian di depan gerobak sate dan bakso
"Eh. ini apa An nih... Aryo. lu pesta atau buka stand. kok pada antrian begini panjang. apa kita kebagian.." Celetuk Gio yang baru datang menyalami Aryo dan Lutfi. Karena mereka sengaja menunggu di depan gerbang.
"Tenang bro. untuk kalian sudah di sediakan." Celetuk Lutfi yang juga mengenal temannya Aryo. Karena mereka se kampus. tapi beda jurusan. makanya mereka jarang berkumpul bersama.
"Nah baru namanya tuan rumah yang baik. bukan kayak yang nih.. diam-diam wae aja nikahan. eh mana istri ku. kenalin kita dong aku takut salah menggoda istri lu." Goda Gio. Aryo memukul lengan Gio yang diiringi tawa.
"Sialan lu. ya nanti aku kenalin." Aryo meminta temannya duduk dulu.
"Duduk dulu... kenalan nya nanti aja. atau kalian baiknya makan dulu.." Lutfi mengarahkan temannya Aryo. Karena Aryo kesal dengan ucapan temannya.
Mereka pun duduk. tapi gadis ABG yang melihat kedatangan Gio dan temannya berbisik dan senyuman-senyum sendiri.
"Yo. lu kok temanan dengan ABG sih." Bisik Gio yang heran.
Aryo pun melihat ke arah teman anak tirinya. " Oh.. itu teman anak ku. kenapa.? lu suka daun muda gitu..?" Goda balik Aryo.
"Kalau begitu jadi suger baby dong gue." Jawab Gio diiringi canda. Mereka pun tertawa.
"Mana tahu selera ku gitu.." Teman Aryo yang lain pun membalasnya. Hingga mereka tertawa.
"Eh lu bilang tadi banyak. kok cuman lima orang.? yang lain mana.?" Tanya Aryo yang melihat temannya.
"Tenang aja. para cewek lagi belanja." Jawab Gio santai.
Aryo bengong mendengar jawaban Gio yang menurutnya aneh. " Belanja..?" Tanyanya penasaran.
"Belanja kado lu. di mall. kan kita tadi baru ngumpul. Nah.. biasa cewek-cewek kan ribet." Jawab Gio seenaknya.
Akhirnya orang yang di tunggu datang. ada Sepuluh mobil yang beriirngan parkir. semuanya heboh masuk. Tamu yang tadi pun terpaksa pulang duluan, mereka tahu diri. Karena masih banyak tamu yang datang.
Vanessa dan Dian yang tadinya hanya duduk manis bersama Nadin. harus turun tangan. Dian menelpon Kue di tempat langganannya. dan bertepatan datangnya Tamu Aryo.
Dian mengambil pesanannya yang di bantu Vanessa." Maaf ya mbak. aku nggak nyangka kalau kejadiannya begini. mbak jadi ikut repot." Ucap Vanessa merasa sungkan.
"Nggak apa. tenang aja. aku senang kok. semuanya berjalan lancar, ini namanya rezeki Mbak." Sarkas Dian menggosok punggung besannya
Walau sudah agak sore. tamu makin banyak datang. dan mereka bekerja saling bahu membahu. sampai menjelang magrib, baru tamunya habis. Semuanya terkapar di ruangan keluarga. Duduk selonjoran di karper Karena semua kursi di bawa keluar. agar bisa membentang karpet untuk tamu duduk makan. karena nggak muat di luar.
__ADS_1