
Putri sudah panik. dan hampir saja pingsan, untung Dian siap siaga membantunya. "Sabar ya nak. moga Ais tidak apa-apa." Bujuk Dian pada mantunya.
"Ma. aku takut ma. aku menyesal telah menelpon Kakak tadinya. Andai aku bisa menangani Rafiq tentu tidak begini ma. Aku bukan ibu yang baik ma." Ratap Putri histeris.
Rafiq makin menangis. Dian Bingung apa. Untung ada telpon Vanessa. " Halo mbak. Kenapa Ais dan Abiyan belum datang. Katanya tadi udah mau jalan.perasaan nggak enak mbak." Celoteh Vanessa panjang lebar.
"Mbak. bisa datang ke sini. aku butuh bantuan mbak. cepat ya mbak." Ucap Dian minta tolong bukan menjawab pertanyaan Vanessa.
Mendengar hal yang tak wajar. Vanessa langsung menutup telpon, ia memanggil sopirnya. menuju rumah Dian.
Tak lama. Vanessa datang ke rumah Dian dengan sangat bingung. Karena Rafiq yang kejang menangis. dan kondisi Putri yang tak karuan. Dian sangat bahagia akhirnya Vanessa datang.
"Mbak. tolong. bantu amankan Rafiq dulu mbak." Ucap Dian minta tolong pada Vanessa yang masih kelihatan kebingungan.
Namun ia mengambil Rafiq di gendongan Dian. dan membawanya ke taman belakang. Vanessa nggak bisa menahan perasaannya. ia pun memanggil salah satu ART Dian yang bernama Iyem.
"Buk. apa yang terjadi sebenarnya.?" Tanya Vanessa saat Rafiq sudah mulai agak tenang.
"Anu buk. saat Aden Lutfi mengantar si kembar ke rumah ibu. Putri menelpon karena Rafiq mengamuk ingin ikut." Ucap bik yem terbata.
"Lalu..?" Selidik Vanessa yang makin penasaran.
"Namun, saat menerima telpon non Putri Ais terantuk pintu dan tidak sadarkan diri. hanya itu yang saya tahu." Jawab Bik Yem menjelaskan.
"Jadi cucuku kecelakaan.?" Tanya Vanessa panik dengan sedikit meninggikan suaranya.
Bik yem tertunduk. ia takut melihat tampang Vanessa yang selama ini ia lihat lembut. Tapi kali ini wajahnya menyeramkan.
Karena Rafiq sudah aman dan tertidur karena kelelahan menangis. Vanessa memberikan Rafiq pada Bi Yem agar di tidur kan di tempatnya.
Vanessa mencari Putri dan Dian. " Kemana kira-kira mereka bawa Ais. mbak.?" Tanya Vanessa yang melihat Dian di ruang keluarga bersama Putri.
"Sebentar mbak, saya tanya mas Johan dulu." Ucap Dian kaget. melihat wajah Vanessa yang merah menahan marah.
__ADS_1
Akhirnya Dian mendapatkan informasi kalau Ais di bawa ke rumah sakit terdekat. Vanessa langsung saja pergi. Ia tidak tahan menunggu saja di rumah.
"Kalau begitu aku menyusul mereka ya mbak. Aku tidak tenang kalau begini." Ucap Vanessa dan berlalu.
"Bun. aku ikut ya.?" Tanya Putri mendekati bundanya.
"Nggak usah. nanti Rafiq mengamuk lagi. Biar bunda yang kesana." Ucap Vanessa tegas dan di benarkan Dian.
"Kita tunggu di sini nak.Biar mbak Vanessa yang nyusul ke rumah sakit." Bujuk Dian pada menantunya.
Sedangkan Lutfi menunggu di depan UGD. ia sangat kacau. biasanya ia selalu tenang menghadapi masalah. ini karena ia merasa bersalah, Karena kelalaiannya, anaknya celaka.
"Opa. gimana adik Ais." Tanya Abiyan sedih. Ia melihat wajah Ais yang berlumuran darah yang sangat banyak, membuatnya panik.
"Moga saja nggak parah ya nak." Jawab Johan lembut. ia membujuk cucunya dengan kasih sayang. Karena tidak seharusnya Abiyan yang seumur nya sudah melihat kondisi seperti itu.
Seorang Suster keluar dari ruang UGD. ia memanggil salah satu keluarga pasien. Dan Lutfi langsung mendekat.
" Golongan darah saya B. ambil saja darah saya Sus." Ucap Johan yang mempunyai golongan darah yang sama dengan cucunya.
Lutfi tertegun. lagi-lagi ia tidak bisa membantu anaknya. " Nak. maaf kan papa yang tidak berdaya ini." Lirih Lutfi kecewa pada dirinya.
Johan segera mengikuti suster masuk. Vanessa datang saat yang tepat. Abiyan yang melihat neneknya datang langsung memeluknya.
" Nek. adik Ais nek. aku takut. banyak darah tadi nek." ucap Abiyan tersedu di pelukan Vanessa.
Ia berjongkok menyamakan tingginya dengan cucunya. " Sabar ya nak. moga adik Ais baik-baik saja. Sini sama nenek." Bujuk Vanessa memangku cucunya.
Terlihat sekali wajah Abiyan yang sedih. Lutfi tidak berani menatap wajah anaknya. Ia merasa terpukul dengan kondisi ini. andai, tadinya berhenti dulu saat terima telpon istrinya, tentu tidak akan seperti ini. Sesal Lutfi prustasi.
Hatinya terasa hancur sekali. dadanya sesak, ia menunduk ada air mata yang jatuh di pelupuk matanya. jatuh mengenai tangannya sendiri.
Hal itu tak luput dari Vanessa. "Sabar nak. berdoa lah. semoga Ais tidak apa-apa. ia anak yang kuat." Ucap Vanessa menguatkan.
__ADS_1
"Ya bund. doa kan ya bund. Aku menyesal karena telah lalai." Lirih Lutfi.
Vanessa menggosok punggung menantunya. "Tidak ada seorang ayah yang menginginkan anaknya celaka. Mungkin ini sudah jalannya. Hanya saja kita harus berusaha dan berdoa semoga Ais selamat." Nasehat Vanessa.
Karena ia pernah merasakan kehilangan. Yaitu suami yang selalu setia di sampingnya.
Tidak pernah pertengkaran terjadi diantara mereka.
"Ya Bund." Jawab Lutfi sendu. Ada. sedikit kelegaan yang ia rasakan. Tadi rasanya hatinya kosong seolah berada di Padang pasir. ingin menjerit namun tak mampu. Entah kemana ia akan mengungkapkan penyesalannya.
Emang kata orang. penyesalan selalu datang terakhir, dan itu menyakitkan sekali. Dada terasa sesak seperti tak bisa bernafas.
Johan Keluar dari ruangan UGD. tapi wajahnya sedikit cerah. tidak panik seperti saat ia masuk. Lutfi mendekati papanya.
"Bagaimana keadaan Ais pa.?" Tanya Lutfi yang khawatir.
"Ais anak hebat. sekarang ia sudah mulai sadar. sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan." Ucap Johan bahagia.
"Alhamdulillah." Ucap Lutfi dan Vanessa bersamaan. Lutfi berjongkok bersujud pada Allah. Karena anaknya sudah selamat dari maut.
"Terimakasih ya Allah. Engkau Maha Penyayang. Engkau kembalikan anak ku." Doa Lutfi dalam hati.
Air mata bahagia tak henti-hentinya menetes di pipinya."Pa..." Ucap Abiyan memeluk papanya.Lutfi memeluk anaknya kuat. ia menangis bahagia.
Tiba-tiba ruang UGD terbuka. keluar Ais yang di dorong suster ke ruang perawatan. Semuanya mendekat melihat Ais yang sedikit pucat.
"Pa. Sakit.." Ucap Ais memegang kepalanya yang berperbal melihat kedatangan papanya
"Sabar ya nak." Jawab Lutfi yang merasa terpukul melihat kondisi anaknya. Ia merasa pilu sekali. Rasanya hatinya terasa di robek-robek. Sangat perih. apalagi mendengar aduan anaknya yang mengaku sakit.
"Ais kan anak hebat. Pasti kuat." Ucap Vanessa menguatkan cucunya.Ais tersenyum mendengar ucapan neneknya.
"Ya dek. Ais pasti kuat. Maaf ya dek, Abang nggak bisa bantu." Ucap Abiyan ya g sedih melihat adik ya yang di perbal.
__ADS_1