
Putri akhirnya mengajak Nino masuk. karena Nino menawarkan mengantarkan pulang ke apartemen.
"Masuklah dulu. Oh. barang belanjaan kamu yang harus masuk freezer bawa aja ke atas. takut busuk." Ucap Putri mengingatkan.
"Tapi Tan." Nino merasa keberatan. karena itu sangat merepotkan kalau ia menitipkan bahan belanjaannya yang basah dan berbau.
"Tante tidak suka penolakan.' Ucap Putri melenggang masuk lift.
Nino melotot mendengar ucapan Mama gadis yang telah mencuri hatinya. Putri ingin menguji calon mantu mamasaak. makanya ia paksa naik dan masuk ke apartemennya.
"Kalau tidak mau. ya sudah pulang saja.!" Sindir Ais melenggang masuk lif saat pintunya akan tertutup.
Ucapan Putri seolah tantangan baginya. Ia pun memisahkan barang belanjaan yang takutnya rusak atau busuk.
Ia pun naik dan masuk ke apartemen dimana Ais tinggal. bersama saudaranya. karena ia pernah ke sana menemui Mis Ana.
"Assalamualaikum Tan." ucap Nino saat masuk. setelah Nino memencet bel. Putri melihat di tangan Nino ada kantong belanjaan.
"Maaf Tan. takut repot." Ucap Nino yang belum dapat jawaban.
"Waalaikumsalam. eh maaf. tadi Tante nggak percaya kamu akhirnya datang juga. Yok masuk. sini biar Tante simpan dulu di kulkas " Ucap Putri membawa kantong belanjaan Nini yang lumayan banyak.
"Makasih Tan. maaf merepotkan." ucapnya sungkan.
"Ah nggak apa. ini belanjaan kamu banyak juga. ini untuk berapa lama dan berapa orang.?" Tanya Putri kepo.
"Oh. berapa habisnya saja Tan. nggak paket target." Jawabnya apa adanya.
Ais yang melihat kehadiran Nino yang berada di dapur bersama mamanya. merasa heran. biasanya laki-laki kan duduk manis saja di kursi. Ia segera menghampiri setelah mandi pulang dari Supermarket tadi karena sebelumnya belum mandi kebiasaan kalau libur.
"Oh. Tante mau masak apa.?" Tanya Nino melihat ikan mas yang sudah bersih di pantai kecil tersebut.
"Tante mau masak gai ikan mas. Ais sangat suka. kamu pernah makannya.?" Tanya Putri menatap pemuda tersebut.
Nino menggeleng. bahkan itu baru baginya, biasanya ia menggoreng atau membakar ikan tersebut dengan oven setelah di beri bumbu.
" Kalau begitu kamu perhatikan ya. nanti kamu bisa mencobanya." Ucap Putri antusias.
__ADS_1
Ais yang rencana membantu, dia urungkan. takut nanti malah mengganggu. karena ia tak ahli memasak. Yang pandai memasak justru Hani dan Bahkan Abiyan pandai juga masakan. Ais yang terlalu di manjakan hanya mampu makan saja.
Nino memperhatikan cara Putri memasak. tidak canggung sama sekali." Tante sangat lihai memasak. apa Tante masak sendiri di rumah.?" Tanya Nino penasaran.
" Oh. Tante jarang masak di rumah. Tante bawa makan dari kafe. kebetulan Tante punya kafe yang Kokinya dari Padang. dan kafe Tante malah lebih banyak masakan Padang ketimbang masakan luar." Ucap Putri.
"Wah. enak ya Tan. bisa cicipi menu baru. pantas saja Ais doyan makan." Jawab Nino apa adanya. yang melihat nafsu makan gadis kecil tersebut makan saat ia mengantar tugasnya ke rumah Mis Ana.
"He..he... kamu tahu saja. tapi Ais nggak ahli masak. ia ahli dalam makan dan mencicipi saja." Jawab Putri terkekeh.
Ais yang datang mengambil minuman di kulkas tersebut menyela ucapan mamanya." Mama yang aneh. biasanya orang tua malah membela anaknya agar laku. ini malah di jelek-jelekin." Gerutu Ais yang di dengar keduanya.
"Ha..ha.. kamu sendiri nggak ada jaim- jaimnya sebagai cewek. kamu tuh cewek sayang yang harus hobi masak dandan. eh nih malah hobinya boxing." Ledek Putri kesal pada anak gadisnya.
"Boxing Tan." Tanya Nino penasaran. di sudut ruangan ada alat boxing. di kiranya itu untuk Abiyan. tapi malah gadis kecil yang kelihatan lucu dan imut itu.
"iya. ke sukaannya sama papanya. berenang dan boxing. aneh. yang laki malah sukanya tenis. Kan Tante yang suka tenis. benar terbalik deh." Cerita Putri.
Nino menatap punggung gadis tersebut yang telah berlalu di hadapan mereka.
"Hm! seperti nya masakannya sudah siap. kamu pengen coba nggak.?" Tanya Putri.
"Enak Tan. ini amazing rasanya." puji Nino antusias
Putri tersenyum." Kamu bisa kan masaknya. nanti cobalah di apartemen mu. kau masih ragu boleh tanya Tante." Jawab Putri membawa masakan tersebut ke depan.
Ternyata Suaminya sudah pulang.
"Eh ada tamu rupanya. ini kok malah tamu yang bantu menyiapkan makanan. anak gadis mama mana.?" Tanya Lutfi yang tak melihat anaknya yang tidak ada.
"Nggak tahu pa. tadi selesai mandi keluar. mungkin di balkon taman." Jawab Putri apa adanya.
Lutfi pun melihat anak gadisnya yang selalu duduk di sana. dulu masih kecil ini tempat favorit gadis tersebut.
"Kamu ya nggak berubah-ubah. dari dulu sukanya bermain di sini. tuh kenapa tamu yang bantu mama siapkan makanan.?" Tanya Lutfi yang tak habis pikir anak gadisnya belum juga berubah
"Mumpung masih ada mama. biar ajalah pa. Eh. ko ada bauk enak ya.. kita masuk yuk pa aku udah lapar." Ajak Ais yang menggandeng papanya masuk dan duduk di meja makan. Yang di sana juga sudah ada Putri dan juga Nino.
__ADS_1
"Ayok kita makan. dan berdoa dalam hati." Ucap Lutfi. Mereka pun makan. Nino melihat keluarga yang harmonis tersebut merasa iri. hidupnya tidak seperti itu. orang tuanya sibuk dengan dunianya. bahkan menanyakan kabarnya saja sangat jarang. orang tuanya hanya mentransfer uang yang tak pernah telat. bahkan melebihkannya tanpa di minta
"Jangan di lihat saja. jangan malu-malu." Ajak Putri yang Nino masih terpaku.
Makasih Tan. saya hanya terharu dan iri dengan kehidupan kalian yang hangat. saya tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti ini." Ucap Nino sendu.
"Sudahlah. semua orang tua itu beda-beda mengungkapkan kasih sayangnya. jadi
tidak baik menjelekkan orang tua sendiri." Ucap Lutfi yang merasakan kekecewaan Nino.
Namun ia tak ingin pula pemuda yang ada di depannya merasa kecewa pada orang tuanya.
Nino mengangguk. " Maaf jika ucapan saya tidak baik Om" Jawab Nino malu.
Ais yang melihat perubahan wajah Nino merasa heran, jauh sekali dengan sikap angkuhnya selama ini. ( pantas saja dia angkuh orang tuanya saja begitu). Bisiknya dalam hati.
Makan siang tersebut berjalan dengan candaan. Nino hanya tersenyum saja menanggapi sikap kedua orang tua Ais yang begitu kocak.
"Oh ya Nino. kapan selesainya kuliah mu.?" Tanya Lutfi saat mereka berdua duduk santai di ruang tamu.
"Kalau nggak ada halangan. tahu ini wisuda Om." Jawabnya.
"Ooh. apa rencana kamu setelah tamat.?" Tanya Lutfi ingin tahu.
Nino berpikir sejenak. dulu saat ia masih baru masuk kuliah. kedua orang tuanya meminta mengurus usahanya. Namun Nino tidak ada minat tentang lokomotif usaha keluarganya.
"Dulu sih papa minta saya melanjutkan bisnisnya . Tapi saya tidak suka lokomotif. Bahkan saya suka dengan menu Nusantara. Dan saya ingin buka restoran yang lebih besar lagi. Dan sekarang sudah berjalan dua tahun ini " Ucap Nino mengagetkannya.
"Pantas kamu suka di dapur.! kalau begitu kenapa kamu nggak melancong saja ke Indonesia. dan mungkin kamu bisa mengembangkannya. setelah datang ke Indonesia mencoba masakan di sana." Ide Lutfi membuat Nino bahagia.
"Wah bagus juga idenya Om. saya juga ingin jadi dosen Boga.yang mungkin bisa saya kembangkan." Jaaba Nino mantap.
"HM. kalau begitu. kamu mau nggak di The Sages Institute International, Surabaya. Di sana. sangat bagus. kebetulan teman saya ada jadi dosen di sana." Ide Lutfi. agar anaknya nanti kalau berjodoh. tidak terlalu jauh darinya.
"Oh. makasih banyak Om. saya mau." Jawabnya Antusias. Yang di sambut bahagia oleh Lutfi.
"Kalau begitu saya tanya dulu ya. pas kamu tamat, tinggal langsung ngajar saja lagi." Ide Lutfi membuat Nino senang.
__ADS_1
Putri yang mendengarkan hanya tersenyum dan gelang-gelang kepala.