
Lutfi sudah mulai baikan, Putri dan Rafiq setia menunggunya. walau Lutfi sudah wanti-wanti meminta anaknya pulang untuk istirahat, namun tidak dihiraukannya.
"Nak. pulang lebih dulu. mungkin papa sore ini sudah bisa pulang, bilang sama pak Mamat jemput papa mama di sini ya." Perintah Lutfi. ia gemes sekali dengan anaknya yang kekeh.
"Nggak mau pa. nanti di rumah cuman sendiri. kakak sama Abang kan sekolah sampai sore." Jawab Rafiq cuek.
Lutfi hanya menggeleng kan kepalanya, dua terpaksa menghubungi Aryo.
"Assalamualaikum Bro. gimana keadaan mu. apa sudah boleh pulang.?" Tanya Aryo panjang lebar.
"Pak. kebiasaan, kalau mau nanya tuh satu-satu. keadaan ku sekarang sudah baik. nanti sore sudah boleh pulang, hanya aku butuh bantuan bro." Ucap Lutfi.
"Oh.jam berapa pulangnya. biar nanti aku saja yang jemput." Jawab Aryo yang tahu kondisi iparnya.
"Hebat ya ipar ku ini. tahu aja yang aku mau, dasar pengacara. bisa baca pikiran ya bro. jemput siap ashar ya.?" Celoteh Lutfi dan terdengar tawa dari seberang sana.
"Ha .ha . ok.!" Jawab Aryo singkat dan memutuskan telponnya. setelah mengucapkan salam.
Lutfi melihat istrinya yang sibuk memasukan beberapa barang mereka yang di bantu anaknya.
"Ntar siap ashar kita di jemput Mas Aryo.?" Tanya Putri yang mendengarkan percakapan suaminya. dan di anggukan Lutfi.
Sebelum Ashar. Aryo sudah sampai di rumah sakit bersama istrinya. dan juga Galuh.
Galuh dan Rafiq bolak balik ke mobil membawa barang mereka.
"Ini benar ya Fi. sudah di bolehkan dokter.? Kamu nggak merasakan sakit atau pusing gitu.?" Tanya Sonya yang khawatir.
"udah di cek mbak. dan dokter sudah mengizinkan. hanya tiga hari ke depan kontrol lagi nih. kaki." Jawab Lutfi menunjuk kakinya.
"Oh. syukur deh. tadi aku kasih kabar bunda, nah tadi bunda yang kepikiran gitu. makanya aku tanya balik. Eh. kalian nginap di mana.?" Tanya Sonya yang masih saja khawatir.
"Sepertinya. kita nginap di rumah mama tiga hari ini mbak. tadi mama sudah ngomel-ngomel." Jawab Putri yang di marahin mertuanya, kalau pulang ke rumah mereka. Al hasil akhirnya mereka putuskan untuk pulang.
"Bagus dong. kan dekat tuh kita, dekat juga dari rumah bunda. jadi bisa sering datang ke tempat kalian." Jawab Sonya bahagia.
__ADS_1
"HM. kenapa nggak beli rumah dekat kami saja Put. kebetulan ada keluarga yang mau pindah rumah ke kota lain,jadi rumahnya mau di jual. Jadi bisa kita tetanggaan." Ide Aryo yang ingat omongan istrinya.
"Eh. beneran mas. aku sih pernah dengar dari buk Mitra mau pindah,tapi nggak bilang kalau rumah mau di jual." Ucap Sonya semangat.
"Benar sayang. gimana Put, fi. kalian setuju nggak! kalau iya aku telpon orangnya, Dari pada di ambil orang lain."Desak Aryo yang gemes melihat Lutfi dan Putri masih diam.
Putri dan Luthfi saling pandang." Bagus lah ma. pa. aku kan ada teman di rumah." Jawab Rafiq senang.
"Iya ma. aku kan mau masuk SMP tempat Abang Rafiq. jadi kita bisa berangkat sama-sama." Jawab Galuh yang ikut menjawab.
Putri masih diam, dia nggak masalah sih. hanya saja. kantor suaminya agak jauh dari rumah sebab harus memutar.
"Apa yang kamu pikirkan bro. kalian sih memang jalan memutar ke kafe dan kantor. namun kalian bisa jalan motong. aku sudah dua kali lewat sana,jadi dekat dan mudah." Jawab Aryo yang mengerti keadaan.
"Benar mas. kok aku nggak tahu ya." Jawab Putri Cengo.
"Gimana kamu tahu Put. toh suaminya lurus - lurus aja. kalau mas kan sering keluar rumah bertemu klien. he..he.." Jawab Aryo sambil cengengesan.
"Begini saja. kita pulang dulu. sampai rumah kita lanjutkan, kan kita belum lihat rumahnya. apakah anak-anak setuju apa nggak." Jawab Lutfi yang akhirnya bicara.
Rafiq hanya mengangguk dan mereka berjalan menuju parkiran untuk pulang ke rumahnya nenek Rafiq yang tak jauh dari rumah Sonya dan neneknya.
Di mobil. Rafiq dan Galuh asyik saj bercerita di bangku belakang. Lutfi hanya memperhatikan dari kaca. ( Sepertinya aku ambil sajalah. Rafiq sangat bahagia. kau masalah Ais dan Abiyan tinggal kasih pengertian, mereka sudah dewasa. tidak lagi berontak kayak adiknya.
Lutfi pun mengabari anak kembarnya. kalau mereka sudah pulang. tapi langsung tempat Oma mereka.
Sampai di rumah.Dian sangat bahagia. akhirnya anak menantu dan cucunya. nginap di rumahnya selama. tiga hari ini Ia senang kalau rumahnya rame.
"Wah. kalian sudah datang." Ucap Dian memeluk menantunya yang sudah di ambang pintu. kemudian pindah ke Lutfi.
"Kakinya nggak sakit lagi nak.?" Tanya Dian lada anaknya. melihatnya cukup sedih.
"Sudah nggak lagi ma. namun harus kontrol terus ma. sampai sembuh." Jawab Lutfi melepaskan rangkulannya.
"Halo ganteng Oma." memeluk cucunya Rafiq dan menatap anak muda yang di sebelah Rafiq.
__ADS_1
"Ini. Galuh ya. wah.. sudah besar saja sekarang. maaf ya,Oma sampai pangling. habis kamu makin tinggi nak." oceh Dian memeluk Galuh.
"Ya ma. di kasang kacang panjang sama bunda. makanya makin panjang." Jawab Galuh membuat semuanya tertawa.
"Ma. apa mereka hanya sampai pintu saja gitu." Ucap Johan yang sengaja cepat pulang menunggu kedatangan anaknya.
"Ha .ha.. papa gitu sih. bikin mama malu saja, Ayik semuanya masuk.. let's go. langsung ke meja makan, sudah mama siapkan. ayok Sonya nak Aryo " Ucap Dian heboh
"Ya .makasih Tan. jangan repot-repot lah. Tan." Jawab Aryo yang merasa sungkan.
"Nggak juga repot nak Aryo. ayok.." Ajak Dian membantu anaknya duduk di kursi.
"HM! makasih ma." ucap Lutfi saat ia telah duduk di samping mama dan istrinya.
Mereka pun makan bersama. dan ada juga percakapan ringan. setelah selesai mereka pindah ke ruang keluarga. sebab Lutfi mau bicara dengan mereka semua.
"Oh ya ma.pa. kamu rencana m ngambil rumah yang tetanggaan dengan Mas Aryo. kebetulan ada yang mau jual." Ucap Lutfi mengabarkan.
"Apa kamu lagi nggak ngeprengkan nak.?" Tanya Dian tidak percaya. sebab kalau dekat Sonya, ia pasti sering ke rumah anaknya.
"Ya. kalau semuanya setuju." Jawab Lutfi.
Semuanya mengangguk dan tertawa. Aryo pun akhir menelpon tetangganya yang kebetulan masih di kampungnya
"Assalamualaikum mas. mbak. apakah jadi ya rumah yang di sebelah tu mau di jual.?" Tanya Aryo pada tetangganya.
"Waalaikumsalam. oh benar pak Aryo. kita mau beli rumah di sini. tapi uang kita kurang untuk beli rumah yang di sini. makanya kita jual saja yang dekat rumah pak Aryo." Jawab pak Somat tetangga Aryo.
"Oh. kalau begitu. kita saja yang ambil ya pak. dan kapan kita bisa bertemu." Tanya Aryo langsung.
"Tiga hari lagi saya ke sana pak. sekalian saja kita ketemu di rumah bapak. jadi bisa lihat-lihat serta transaksi." Jawab Pak Somat senang.
"Baiklah. kita tunggu ya pak. assalamualaikum." Ucap Aryo mengakhirinya.
Semuanya senang. karena mereka makin dekat. kalau jadi Lutfi beli rumah tersebut.
__ADS_1