
Lutfi dan Nino sudah kembali dari kantor KUA setempat bersama bapak Wali nikahnya juga yang tak lain pak KUA itu sendiri.. memang tidak begitu susah proses nya. karena memang sudah di siapkan Johan dan Dian jauh hari tanpa sepengetahuan yang lain. hanya tinggal melengkapi suratnya saja.
Sampai di rumah Nino terdiam melihat Ais yang sudah siap menunggu ke datangan mereka. walau penampilan Ais sederhana dengan kebaya putih dengan motif bunga yang lembut. mata siapa pun terpesona dengan tubuh kecil Ais yang manis.
Ais langsung menunduk sedangkan Nino di bawa dulu ke kamarnya untuk menggantikan baju yang senada dengan Ais yang telah di pesan.
Setelah semuanya siap. Pak penghulu pun menikahkan keduanya. dengan rasa haru pernikahan yang sederhana. Namun tetap sakral.
Ais menangis di pelukan mamanya yang duduk di sebelahnya. Karena pernikahannya tidak sesuai dengan harapannya.
"Yok nak. salaman dulu sama suamimu." Ucap Putri pada anaknya, karena Nino menunggu gadis yang di depannya, sudah syah menjadi istrinya.
Ais pun menoleh. melihat Nino yang tersenyum menatapnya. Mengulurkan tangannya untuk di cium istrinya.
Ais masih terpaku, ia binguang. "Ayok nak cium tangan suami mu." Putri menyenggol lengan Ais dan dia pun tersadar. Dengan rasa berat ia pun menciumnya. ia merasa canggung, karena Nino mencium keningnya secara cepat sebelum Ais menghindar.
Selama berpacaran mereka belum berapa kali bertemu dan tidak pernah adanya kontak fisik selain hanya salaman. Ada getaran aneh yang menyengat keduanya saat bibir Nino menyentuh kening Ais.
Putri memberikan cincin yang akan di pasang kan ke dua pasangan tersebut. Hingga mereka terakhir berfoto bersama.
Acara pun selesai menjelang Zuhur. semua tamu yang di undang dadakan. tetangga dan juga sanak saudara terdekat saja. maka mereka pun duduk santai sementara.
Dian pun ingin beristirahat dulu karena lelah duduk terlalu lama. Saat berdiri tiba-tiba saja tubuhnya Dian pun jatuh pingsan, untung saja Johan telah siap sedia di belakangnya. Dengan sigap Lutfi menggendong maminya naik ke mobil.
"Cepat Abiyan." Seru Lutfi memanggil Abiyan yang berdiri mematung. Tapi Nino lebih cepat. Dia langsung duduk di belakang stir. Johan duduk di sampingnya. Sedangkan Nino memangku maminya berdua dengan Putri.
Ais yang di tinggalkan menjerit histeris dalam pelukan Vanessa dan Sonya. Hani pun berusaha membujuknya.
"Abiyan. kamu ikut atau tinggal.?" Tanya Aryo yang melangkah ke mobilnya. Abiyan pun berlari mengejar dan masuk mobil bersama.
Semuanya menyusul ke rumah sakit. hanya tinggal ART dan Satpam yang ada di rumah.
"Nek. gimana keadaan Oma nek.." Rengek Ais yang masih sesenggukan.
__ADS_1
"Kita kan agar di berikan yang terbaik ya nak." Jawab Vanessa yang pasrah. Dia tahu betul kondisi Dian yang tidak bisa tertolong lagi. Sebab ia mendengarkan langsung ucapan dokter.
Dian meminta Vanessa menyembunyikan pada semuanya. Makanya ia mengatur pernikahan ini, yang sebenarnya tidak dadakan. Karena ia turut membantu mencarikan semua kebutuhan pernikahan cucunya.
Sedangkan Abiyan yang duduk di sebelah Aryo hanya diam mematung bagaikan mayat hidup. ia seperti menangis, namun ia tahan,
Aryo yang melihat sekilas cukup memahami.
Nanti sampai di rumah sakit. kamu pergilah ke mushola, sholat sunat dan berdoa. serahkan pada yang maha Kuasa. kamu jika bisa menangis di sana. tidak cengeng kok kalau kamu mengadu dan menangis pada Tuhan sang pencipta." Nasehat anak laki-laki tersebut yang butuh tempat curahan.
"Maaf! Jika ikut menyembunyikan semuanya. Karena itu permintaan Oma kalian pada nenek. Nenek bagaikan makan buah simalakama. Maka nenek juga ikut membantu pernikahan ini. Karena Oma kalian minta ini sebagai permintaan terakhirnya pada nenek dan Opa kalian." Terang Vanessa.
Karena ia tidak mungkin lagi menyembunyi kan. karena sudah saatnya. agar mereka semuanya tahu pada saat terakhirnya hidup Dian sang besannya.
Mereka berkumpul di depan UGD. semua wajah tidak ada lagi kebahagiaan. yang ada hanya wajah duga dan kesederhanaan.
Ais masih saja sesenggukan di pelukan mamanya. tanpa suara sedikitpun ia menatap ruang UGD yang ada di depan mereka.
"Nak. jagalah pernikahan mereka. mami ingin mereka mengadakan pestanya di hotel milik kita. mami telah menyiapkannya semua." Lirih Dian pada Lutfi. Dan Luthfi hanya mengangguk.
Ais memegang tangan Omanya gemetaran. " Oma. kenapa seperti ini? Kenapa Oma tidak ceritakan semuanya. ini nggak adil buat Ais Oma." Kesal Ais pada Omanya yang merasa terpukul.
"Anggap ini permintaan Oma terakhir kalinya ya nak. Nino kamu sudah janji sama Oma. jangan sekali-kali kamu sakiti cucu Oma." Ancam Dian. walau sudah susah untuk bicara.
Nino pun hanya mengangguk. perawat yang melihat. melarang. agar tidak terlalu di paksakan.
"Nggak apa sus. Nino suruh Opa dan Abi ke sini.?"Perintah Dian pelan.
Nino dan Ais pun akhirnya keluar. karena tidak boleh terlalu banyak di dalam. Nino pun menyampaikan pesan Oma Dian pada Opa Johan dan Abi.
Dian meminta Abiyan mandinya untuk istirahat terakhir. walau pun berat, dengan suara gemetar. Abiyan pun bisa menyelesai kan kewajiban membimbing Oma untuk menghadap Illahi.
****
__ADS_1
Sudah. seminggu setelah kepergian Dian
namun Ais masih saja menangis. Nino telah kembali ke Surabaya duluan, karena ada kewajibannya di sana.
walau Putri sudah menasehati anaknya. Namun Ais belum mau mengikuti atau pun menyusul suaminya ke Surabaya.
"Sayang. mama antar ya ke Surabaya. sudah beberapa hari kamu mengacuhkan suami mu. nggak baik nak. dosa!" Nasehat Putri pada anaknya.
"Jangan paksa aku ma. untuk menerima semuanya ini saja. aku masih belum mampu ma. Kenapa Oma tidak memberitahukan pada aku juga ma. kenapa hanya pada mas Nino yang seolah sudah tahu lama. kenapa ma?" Kesal Ais.
Dia bukan hanya kesal namun kecewa dengan Nino yang tidak memberitahukan keadaan Omanya yang sudah sekarat.
"Sayang. ini bukan salah Nino. nggak baik nak. dosa namanya tuh. Di sini Nino nggak salah. posisinya sama dengan nenek. Apa Ais juga marah sama nenek.?" Tanya Vanessa yang tak tahan dengan sikap cucunya yang keras kepala.
"Tapi nek!" Jawab Ais yang masih belum terima.
Lutfi akhirnya bicara." Ais. ingat nggak saat Oma bicara pada Nino? kalau Nino sudah janji sama Oma.?" Tanya Lutfi yang tidak suka dengan sikap anaknya.
"Benar sayang. saat kami ke Surabaya mengantar Nino ke sana. malam itu kami kan tidak jadi pulang. karena Dian ingin bicara pada Nino. mereka bicara di depan nenek. Nenek yang jadi saksinya." Jawab tegas Vanessa meyakinkan cucunya.
"Pa. sebaiknya. Ais pindahkan saja ke Surabaya. kuliah di tempat suaminya, agar ia sadar kalau suaminya itu banyak yang ngincar. sok kecantikan saja adik ku ini." Kepala Abiyan yang sudah dari tadi gemes melihat adiknya.
"Ih. Abang jahat. niat kan aku jadi janda gitu.!" rengek Ais manja.
"Makanya. jadi orang jangan egois. udah bagus kamu dapat suami baik. ganteng pintar lagi. bonusnya banyak. nanti kamu nyesel dek terlalu lama mengabaikan suami kamu. Kalau Abang mah. sudah Abang tinggalkan saja istri durhaka ini. cari yang baru." Abiyan memanasi adiknya yang tidak bebal dengan nasehat semua orang tuanya dari kemarin.
Ais terdiam. walau abangnya berkata kasar padanya. kenyataannya memang begitu. "Baiklah. tapi aku tidak mau tinggal di kafe pa." Rengek Ais pada papanya.
"Kalau Ais mau. Opa dan Oma sudah siapkan apartemen buat kalian. kado dari kami. Nino sudah tahu. dan Oma kamu sudah memintanya untuk tinggal di sana
namun ia tolak. ia mau tinggal di sana setelah bersama mu nak." Nasehat Johan yang mengamati cucunya dan juga pertengkaran ke dua cucunya.
Ais mengangguk lemah. ia tiba punya kesempatan lagi untuk menolak. semuanya sudah memintanya.
__ADS_1