
Galuh kembali pulang ke rumah setelah dua hari di rawat di rumah sakit. ia merengek minta pulang, mau di rawat di rumah saja.
"Yah. bund. maafkan Galuh ya." Ucap bocah tersebut tertunduk menghadap kedua orangtuanya.
Aryo dan Sonya duduk di samping anaknya. "Nak. Ayah tau kamu tuh mandiri, tapi kamu masih kecil nak. masih butuh orang dewasa. Jadi jangan lagi menolak ya, jika kamu di antar dan jemput sopir. Kakak saja mau. kenapa kamu nggak mau.?" Tanya Aryo menatap anaknya.
"Kata teman aku. kalau di antar jemput sopir tuh anak cewek. aku kan nggak mau di bilang banci Yah." Jawab Galuh.
Aryo dan Sonya terkejut mereka saling menatap mendengar jawaban anaknya. Pantas saja Galuh merengek minta naik bus sekolah.
"Oh. siapa bilang begitu. Ayah saja sudah dewasa juga di antar sopir juga. apa ayah cewek.?" Tanya Aryo pada anaknya.
"Benar nak. papa Lutfi dan opanya juga sering di antar jemput sopir." Ucap Sonya menjelaskan.
"Tidak semua omongan teman mu itu benar nak. biar ayah yang bilang sama Bu guru ya. besok kalau Galuh mau sekolah di antar jemput sopir saja. Biar aman ya nak." Ucap Aryo memutuskan.
Ia tidak mau lagi kejadian kemaren terulang lagi. rasanya nyawanya seolah melayang mendengar kabar anaknya masuk ke rumah sakit.
Galuh akhirnya menyetujuinya. Asal Ayahnya yang antar besok. " Ayah yang antar Galuh ya ke sekolah." Mohin Galuh dan di setujui ya. demi keamanan anaknya.
"Baiklah. istirahat lah. besok kan mau ke sekolah lagi." ucap Aryo. keduanya pun keluar membiarkan anaknya istirahat.
Sonya sudah tiga hari tidak ke butik Jadi ja pun memutuskan untuk bekerja besok.
"Bund. gimana adek. udah sehat.?" Tanya Hani yang baru pulang dari sekolah. setiap sore Hani baru sampai rumah. karena ia sudah semester akhir dan harus banyak latihan untuk UAS.
"Sudah baik nak. Oh ya gimana sekolah mu hari ini.?" Tanya pada anak gadisnya yang sudah remaja. Dan sebentar lagi kuliah.
"Baik Bun. Oh ya. Ayah bunda punya waktu nggak? Ada yang mau Hani bicarakan." Ucapnya melihat kedua orangtuanya.
"Ada. mau bicara apa nak. sepertinya serius." Ucap Aryo menatap wajah anak sambung nya yang sekarang sudah besar.
"Yah. bund. aku mau ngambil kuliah di luar negeri. aku ingin mandiri. boleh ya Yah bund!" Harap Hani menatap ke dua orang tuanya bergantian.
Sonya membelai rambut anak gadisnya." Kenapa harus ke luar negeri jika ingin mandiri. banyak di Indonesia sekolah yang bermutu." Ucap Sonya yang tidak mau jauh dengan anaknya.
__ADS_1
"Apakah kakak merasa terkekang dengan kami Selama ini?" Tanah Aryo menyelidiki.
Hani menunduk. Aryo pun mengedipkan matanya pada istrinya. "Nak.kami bukan tidak mau memberi kesempatan untuk kuliah di luar negeri. tapi jika ke inginan kamu itu hanya karena gengsi dan ikut-ikutan teman mu. itu tidak baik nak." Nasehat Aryo pada anaknya.
"Ya nak. jika kamu mau. banyak kok kampus yang hebat di Indonesia. pilihlah. Ambilah mata kuliah yang kamu benar suka, jangan ikut-ikutan ngetren aja nak. nanti kamu sendiri yang tersiksa." Ucap Sonya.
"Jadi ayah bunda tidak izinkan aku ke luar negri.?" Tanya Hani lagi.
"Keluar daerah boleh. terlalu jauh kami melihat mu. jika kamu ada apa-apa. jika kamu kuliah di luar negeri." Jawab Sonya lembut.
Hani pun akhirnya mengangguk. Yang penting ia bisa kuliah jauh dari orang tuanya. ia coba hidup mandiri.
"Ya sudah sana. udah baik acem." ucap Sonya mengusir anak gadisnya yang masih berpakaian sekolah.
"Ya bund." Hani pun meninggalkan ke duanya.
Sonya merebahkan kepalanya pada suaminya. mereka sedang duduk di ruang keluarga menonton TV.
"Mas. kenapa kedua anak kita memberontak ya. apa kita terlalu keras. atau kita terlalu protektif.?" Tanya Sonya pada suaminya.
"Tapi kenapa kita tidak menyadari. kalau mereka tidak menyukainya. Aku takut sekali mas." Ucap Sonya duduk menghadap suaminya.
"Kita akan memberikan sedikit kelonggaran, bukan kita tidak mengawasinya. Zaman sekarang beda dengan zaman kita dulu. sekarang banyak pengaruh yang tidak baik. seperti sekarang. hanya karena omongan teman, mereka jadi menuntut kita. Tapi lihat akibatnya, kita yang jadi panik" Jawab Aryo.
"Ya mas." Sonya pun menyetujuinya.
****
Putri juga di sibukan di dengan anaknya yang memberontak ingin pulang sendiri. Seperti Si kembar pengen pulang berdua saja. Karena sudah SMA.
"Ma. kami naik Taxi aja ya. kan kami berdua. ayoklah ma." Bujuk Ais padanya.
"Tanya papa dulu. apa membolehkan." Jawab Putri. Ia tidak mau mengambil keputusan sendiri masalah anak-anaknya.
"Tapi ma, pasti lapar nggak mau " Jawab Abiyan meyakini.
__ADS_1
Ia sudah malu di ledek temannya. karena selalu di antar jemput. seperti anak PAUD.
Tentu saja Abiyan kesal mendengarnya.
"Papa setuju. dengan syarat. kalian harus pulang telat waktu, jika kalian berdua ketahuan keliaran kemana-mana. maka tanggung akibatnya." Jawab Lutfi yanv baru pulang, mendengar pemberontakan anaknya.
"Benar pa. asyik.." jawab kedua nya serentak. Abiyan memeluk papanya. sedangkan Ais memeluk mamanya.
Keduanya pun keluar dari kamar Putri. Aryo duduk di samping istrinya. dengan menggulingkan kedua lengan bajunya.
"Biarlah mereka di beri kebebasan sedikit. untuk latihan mental mereka berdua. Kita hanya perlu main cantik." Jawab Lutfi membuat Putri bingung.
"Kita biarkan mereka nak gokar. tapi gokarnya kita yang Carikan. melalui aplikasi Gober." Jawab Lutfi sedikit pelan. agar tidak ketahuan oleh anaknya. Putri pun mengangguk paham maksud suaminya.
****
Besoknya. Abiyan dan Ais pun memesan giver sesuai saran orangtuanya. Tak lama gober yang di pesan pun sampai.
"Pa.ma.kami pamit ya." Ucap keduanya pamit ke sekolah.
Putri dan Luthfi pun hanya tersenyum. " Hati-hati ya nak " Ucap Putri pada kedua anaknya setelah mereka sarapan.
Si kembar pun melambaikan tangan setelah pamit dan bersalaman. Pak sopir yang telah di beritahu sebelumnya, hanya mengangguk saja. Ia sebenarnya adalah sopir kantor. dan belum pernah di lihat keduanya.
Lutfi tersenyum. karena rencananya berhasil untuk saat ini. Ia tidak pula memberi tahu istrinya. takut nanti bocor. yang Putri tahu, giver yang di tumpangi anaknya sudah anaknya carian suaminya.
"Pak. nanti kita turun di depan gerbang saja. nggak usah sampai dalam." Ucap Ais.
"Baik non." Jawab Sopir.
"Kok non.?" Tanya Ais heran.
Pak sopir kaget. ia baru sadar kalau ia keceplosan di hari pertamanya kerja di luar dinas. Ia pun mencari ide.
"Tentu saja. saya kan nggak tahu nama non. yang kesan kan saudara Abiyan tadi." Jawab Sopir yang masuk akal
__ADS_1
Ais pun mengangguk. Abiyan cuek saja. ia duduk santai di samping adiknya. yang sangat cerewet. Untung saja adiknya. kalau tidak mungkin sudah ia sumpal mulutnya.