
Hari berganti Minggu. Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. tak terasa masa berlalu begitu cepat.
Ais dan Abiyan sudah remaja. mereka sudah masuk SMP. sedangkan Rafiq sudah kelas empat SD.
Sekarang Putri sudah bebas. ia meminta suaminya untuk membukakan sebuah kafe yang unik. ia ingin mengembangkan keahlian dalam desain. padahal sudah butik yang ia pegang. yaitu butik bundanya. Karena Vanessa sudah ingin banyak istirahat. ia sering nongkrong dengan besannya Dian.
Kadang mereka dengan kelompok wanita seusia mereka mengadakan dorasi amal untuk di berikan ke panti dan anak yatim
Jadi keduanya sibuk dengan dunia sosial. Yang jadi ketuanya Johan sendiri. Karena ia juga pensiun dari kerajaan kantor.
"Kak. aku mau buka kafe. boleh nggak.?" Tanya Putri pada suaminya saat mereka akan tidur malam.
Lutfi memeringkat badannya menghadap istrinya." Kamu nggak capek sayang. kan udah ada butik yang menyita waktumu." ucap Lutfi lembut. ia tidak ingin istrinya terlalu capek. padahal ia mampu menghidupkan istri dan anak-anaknya untuk selalu hidup sejahtera.
Namun karena Putri merasa bosan tinggal di rumah sendiri, makanya ia izinkan mengurus butik. itupun atas dukungan orang tuanya.
"Kak. aku kan ingin mengekspos ilmu ku pada kafe. Kakak kan tau kalau aku suka sekali mencicipi menu. masakan baru dari shef." Jawab Putri manja.
Lutfie mengangguk, dia tidak mampu menolak permintaan istrinya. karena selama ia menikahi gadis kecilnya dulu. tidak pernah meminta atau menuntut apapun. semua hanya inisiatif Lutfi saja.
"Tapi. kalau capek. jangan dipaksa ya. aku takut nanti kamu kelelahan dan sakit." Ucap Lutfi lembut membelai rambut istrinya yang manja.
Putri memeluk suaminya bahagia." Tapi semua tidak gratis." Goda Lutfi pada istrinya.
Ia mengedipkan matanya pada istrinya. tentu saja putri mau melayani suaminya. karena mereka memang sudah lama tidak bermanja satu sama lain.
*****
Pagi hari yang cerah, membuat suana yang setiap paginya heboh, karena anak-anak sibuk mondar mandir mengambil sesuatu.
"Eh. kalian berapa kali papa bilang. kalau perlengkapan sekolah tuh siapkan dari malam
__ADS_1
jangan pagi, ini panik kan.!" Ucap Lutfi menasehati.
"He..he.. lupa pa. habis tugasnya sudah satu Minggu. tentu aku lupa pa." Jawab Ais membela diri
"Di catat nak. di tempel ke dinding tempat meja belajar, biar tahu ada tugas apa." Kesal Lutfi melihat anaknya masih membela diri. jelas-jelas sudah salah.
"Udahlah nak. maafkan kali ini. besok jangan di ulang ya. dengar ucapan papa." Nasehat Dian pada cucunya. yang sudah menyiapkan peralatan prakarya Ais dalam paper bag.
"Ya Oma. besok aku catat di meja belajar." Jawab Ais sendu. karena tidak biasanya papanya marah.
"Udah. papa telat nih. papa ada meeting penting yang datang dari luar negeri. masaka papa yang tinggal di sini telat. malu dong papa." Jawab Lutfi menguraikan kekesalannya. melihat tingkah anak ya yang tidak berubah.
"Kalau emang udah hampir telat. biar mereka sama aku aja ya." Ucap Putri yang sudah berdiri depan suaminya. ia sudah rapi, biasanya putri berangkat jam 8 pagi. ini baru jam 6 lewat sedikit. ia sudah rapi.
"Mama mau Kemana kok sudah rapi.?" Tanya Lutfi heran.
"Ke butik. sekalian cari lokasi kafe yang strategis." Jawab Putri seadanya.
Putri mengejar sampai depan pintu. ia sudah mengedipkan matanya pada bik Asih agar mengambilkan bekal yang biasa ia bawa.
Putri memberikannya pada suaminya saat mobil akan berangkat. dan mengetuk pintu mobil.
Lutfi membuka kaca dan bertanya heran." Ada apa Put.." Seru Lutfi yang sudah menahan nafas.
"He..he..kakak pasti belum sarapan
kasihan nanti sakit perut. makan aja di mobil walau sedikit." Ucap Putri menyunggingkan senyuman.
Lutfi yang tadinya kesal. ia pun tersenyum." Makasih ya sayang.." Ucap Lutfi membelai pipi istrinya yang ada di dekatnya.
Putri akhirnya mengantar Si kembar dan Rafiq ke sekolah mereka setelah sarapan. Kadang Putri membawa sopir kalau ia lelah. kadang ia sendiri yang bawa, seperti hari ini.
__ADS_1
"Ma. tadi papa beneran marah.nggak kayak biasanya.?" Ucap Rafiq yang duduk di depan dekat mamanya. karena ia yang terakhir turun.
"Oh. nggak juga. kalian tuh belajar dari kesalahannya. jangan lakukan kesalahan berulang-ulang. Itu namanya tidak. ertanggung jawab." Nasehat Putri lada ketiga anaknya.
" Ya ma." Jawab ke tiganya serentak.
Semenjak hidup dengan Lutfi. Perlahan Putri makin dewasa. ia yang biasanya selalu manja, sudah mulai berpikir kritis. mungkin karena ia telah mengemban tanggung jawab mengurus butik bundanya.
"Mama juga dulu kayak kalian. hidup selalu di layani. itu membuat kita tidak jadi bertanggung jawab. sekarang kalian berdua sudah menginjak masa remaja, jangan seperti Rafiq lagi. malu dengan umur nak." Nasehat Putri lagi, dan menatap spion melihat reaksi Ais dan Abiyan.
"Tapi udah ma." Jawab tak suka Abiyan. karena ia juga kena marah Akibat ulah si kembar.
"Mama tahu. Abang sudah hebat. tapi lebih hebat lagi kalau Abang bisa ajak adik-adiknya lebih mandiri. Bukan mama lepas tanggu jawab, hanya saja. Abang tuh laki-laki yang nanti banyak tanggungan Jawabnya." ucap Putri yang tahu anaknya kurang suka.
"Adik juga laki laki ma..." Bela Rafiq di samping mamanya.
"Oh iya lah.. Rafiq laki-laki ganteng mama nih." Putri membelai rambut anaknya dan fokus pada jalanan. karena ia harus belok menuju sekolah si kembar yang ada di belokan pertamanya.
Si kembar pun turun. dan sebelumbya salaman dengan mamanya." Ingat ya nak nasehat mama." Ucap Putri saat Abiyan menyalaminya.
Abiyan mengangguk dan tersenyum mengerti maksud mamanya. karena ia merupakan anak sulung.
Putri melanjutkan mobilnya menuju sekolah Rafiq yang tak jauh dari sekolah si kembar
mereka sengaja melakukan hal tersebut agar mudah antar jemput. kalau mereka nggak sempat bisa diminta jemput sopir.
"Da ..da.. ma.. hmuah.." Rafiq mencium pipi mamanya bukan selaman. itu yang di lakukan bocah tersebut.
"Hati-hati ya nak. bilang guru kalau ada masalah." Nasehat Putri.
"Ya ma..." dan masuk ke dalam pagar SD tersebut. Putri pun melajukan mobilnya menuju butiknya. ia harus memutar arahnya lagi. karena ia tidak searah dengan sekolah anak-anak. tapi searah dengan kantor Lutfi. makanya selalu pergi di antar bersama papanya ke sekolah.
__ADS_1
Sebelum ke butik. Putri mampir di toko bunga yang ia lewati. sepertinya ia tertarik dengan penjual bunga yang terasa familiar baginya. Putri pun berhenti tepat di depan penjual bunga tersebut. alangkah terkejutnya ia saat ia melihat wajah yang tak asing baginya.