
Putri merasa sangat lah hari ini. Ia banyak sekali pelanggan yang booking kafenya untuk suatu pertemuan. Jadi ia agak pulang larut hari ini. Lutfi menjemputnya ke kafe. mengetahui istrinya belum pulang.
"Sayang. pulang yuk.udah malam. anak-anak sudah nunggu." Ucap Lutfi memijit bahu istrinya yang sedang memeriksa struknya.
"Ya mas." Putri pun melangkah keluar. Dengan struk yang masih tergeletak di meja. Ia menutup pintu dan pulang pamit pada karyawan yang sedang bersih-bersih.
"Meli. saya pulang dulu ya. jika sudah selesai jangan lupa periksa dan kunci semuanya ya." Ucap Putri pada karyawan kepercayaannya.
"Ya buk." Jawab Meli ramah.
Putri pun pulang di gandeng suaminya yang sebenarnya sangat lelah juga. karena pulang kantor ia tidak mendapati istrinya makanya kembali lagi untuk menjemput tanpa ganti baju.
"Mas. tadi katanya sudah pulang. kok nggak ganti baju.?" Tanah Putri yang heran melihat suaminya yang masih berpakaian kantor.
"Iya. sampai rumah, kata mbak kamu belum pulang sayang, makanya balik lagi jemput." Ucap Lutfi fokus pada jalanan yang agak lengang.
"Oh. Apa ada masalah dengan anak-anak mas.?" Tanya Putri yang penasaran dengan suaminya yang sepertinya gelisah.
Lutfi menepikan mobilnya, tentu membuat Putri heran. "Kenapa berhenti mas.?" Tanya Putri yang makin heran.
Lutfi memegang tangan istrinya lembut. "Sayang.... Tadi mas dapat telpon dari sekolah kalau Rafiq tadi mendorong temannya hingga anak yang di dorong terjatuh tepat di bangku dan anak itu di rawat. Orang tuanya menuntut Rafiq." Lutfi menceritakan peristiwa tadi yang ia selesaikan di sekolah dan rumah sakit. Sementara Putri tidak bisa di hubungi.
"Lalu.. ?" Tanya Putri panik.
Lutfi memandang istrinya lembut berharap istrinya mau mengerti kondisi anaknya. menurut keterangan dokter yang menangani anaknya, karena psikisnya sedang bermasalah.
"Sayang.. Mas tau kamu sangat suka dengan kafe mu. tapi anak-anak butuh kamu sayang. apalagi Rafiq yang masih SMP. dia butuh perhatian. mas minta kurangi waktu kerja mu ya. perhatikan anak-anak. yang kamu lihat kan sudah mulai berontak. mereka sedang butuh perhatian." Ucap Lutfi lembut memberi pengertian istrinya.
Putri terdiam. memang benar sekali! akhir- akhir ini. Ia sangat sibuk bahkan telat pulang dari suaminya sendiri seperti hari ini.
"Maaf kan aku mas. aku bukan ibu yang baik buat mereka." Ucap Putri tersedu.
Lutfi membelai rambut istrinya." Tidak sayang. kamu sudah menjadi ibu yang baik. hanya saja, saat ini mereka membutuhkan waktu mu. mas minta tolong ya.." Lutfi meletakkan kedua tangan istrinya pada kedua pipinya.
"Ya mas. karena kebahagiaan ku. aku sampai lupa dengan anak-anak. maaf kan aku ya mas." Putri memeluk suaminya dan menangis.
__ADS_1
"Kita harus memberi mereka perhatian. sebelum terjadi hal yang buruk. Kalau terus kita biarkan. mereka nanti makin memberontak. kamu lihat kan?" Tanya Lutfi.
Putri mengangguk. sebelumnya si kembar yang memberontak. sekarang si bungsu Rafiq. Ia harus membagi waktu buat anaknya. karena itu kewajibannya.
"Makasih sayang. aku makin cinta padamu." Ucap Lutfi mencolek dagu istrinya.
"Ih. udah tua masih aja gombal." Kesal Putri menutupi malunya.
Lutfi selalu saja membuat ia tenang. dan tak pernah membuat ia merasa sakit hati. makanya putri sangat menghargai suaminya.
"Nanti. kamu anggap saja belum tahu ya. dan jangan di beri pertanyaan pada Rafiq. ia di skor selama satu Minggu. mas harap selama satu Minggu kamu ajaklah ia ke kafe atau jalan kemana gitu. Dan usahakan selama ia di skor. jangan pernah bertanya sampai ia bercerita. ya !" Ucap Lutfi mengingatkan istrinya.
"Baiklah mas." Mereka pun akhirnya melanjutkan pulang. Sampai di rumah. anak-anaknya sedang duduk santai di ruang keluarga. namun asyik dengan handphone masingmasing.
"Assalamualaikum." Ucap Putri saat anak-anak tidak mengetahui kehadirannya berdua. Putri pun duduk di samping Rafiq. ia kaget mendapati mamanya duduk di sampingnya.
Lutfi datang membawa makanan yang sengaja mereka beli di jalan sesuai ke sukaan mereka.
"Ma. mas mandi sebentar ya. baru kita makan rame-rame." Ucap Lutfi membuat heboh. sengaja karena melihat istrinya yang di cuekin. Dan melangkah ke kamarnya.
"Ya pa. mama ntar aja. menyiapkan ini semua dulu. mandi kilat aja ya pa." Jawab Putri yang juga heboh.
"Oh. ini sate ayam.martabak Mesir. somay. bakso dan juga gorengan. kalian pilih aja mana yang suka. mama sudah bosan sih masakan kafe. makanya beli tadi di jalanan." Jawab Putri masih saja sibuk memindahkan ke mangkok.
"Wah. tumben ma, aku mau ma." ucap Abiyan yang juga mendekati mamanya dan mengambil sate ayam ke sukaannya. Dan Ais memilih Somay.
Rafiq masih saja duduk di kursi panjang tersebut. seperti ada keraguan." Kamu mau apa sayang.?" Tanya Putri melihat ke arah Rafiq.
Dengan langkah ragu Rafiq pun mendekati. ia memilih Bakso. Rasanya ia ingin makan pedas. Putri terpaku dengan pilihan anaknya. biasanya Rafiq pasti pilih martabak mesir. Namun Putri hanya diam saja. Jadi tinggal Martabak mesir dan sate ayam yang tinggal. Untuk ia dan suaminya.
Lutfi pun datang dan duduk di sebelah istrinya." Eh untun papa yang mana aja ma. papa suka kok semua." Ucap Lutfi yang melihat keraguan istrinya.Sebab ia kurang suka martabak mesir. ia lebih suka bakso. namun karena yang tinggal sate dan martabak. terpaksa ia harus mengalah.
"Oh. kalau gitu papa martabak ya pa.." Ucap Putri menyerahkan pada suaminya. Mereka makan bersama. sedangkan untuk mbak yang membantu kerjaan rumahnya sudah di berikan sate Padang kesukaannya.
Awalnya mereka makan dengan diam. Namun Lutfi membuka suara." Eh. Minggu besok kalian punya acara nggak. papa sudah boking vila di puncak. siap yang mau ikut tunjuk tangan ya. tapi papa harap semuanya ikut ya." Harap Lutfi pada anaknya.
__ADS_1
"Pa. apa harus ikut ya.?" Tanya Ais yang selalu pertama kalau bertanya hal seperti ini.
"Tadi kan papa bilang. kalau dapat semuanya hadir. hanya satu malam. sudah lama kita tidak ngumpul. tapi kalau kalian punya kesibukan. terpaksa papa mama anggap bulan madu saja." Ucap Lutfi yang tidak memaksakan kehendaknya.
"Ya sudahlah oa. kita bukan madu aja ke puncak. mungkin anak-anak sibuk pa." Jawab Putri mengusap lengan suaminya.
"Kami ikut kok pa.ma. Hanya kami kaget karena merasa kaget." Jawab Abiyan yang agak tenang kalau berbicara.
"Ok. Deal ya. Ais Rafiq?" Tanya Lutfi memastikan.
"Aku ada waktu kok pa. satu Minggu penuh malah." Jawab Rafiq menunduk.
Lutfi mengedipkan mata lada istrinya." Oh. Kalau kamu punya banyak waktu. ikut mama ka kafe ya nak. mama butuh tenaga untuk ngetik." Ucap Putri merayu anaknya.
"Ya ma. aku mau." Jawab Rafiq. Ia pun beranjak masuk kamar. Setelah makannya habis.
"Eh. ma. kalau gitu siapkan barbeque yang banyak ma. kita ajak Bang Aryo dan Mbak Sonya sekalian biar ramai." Ucap Lutfi merasa senang
"Mama papa dan bunda juga lah pa." Usul Putri.
Lutfi mengangguk. mereka pun menghabis kan makanan dan kembali ke kamar masing- masing. Karena sudah larut.
Rafiq menangis di kamarnya. ia menelungkup kan wajahnya ke kasur. Putri masuk perlahan-lahan. Ia duduk di samping putranya.
"Maaf nak. mama terlalu sibuk dengan dunia mama. hingga melupakan kalian, maaf. mama ingin menebus waktu mama yang telah hilang." Putri berkata lirih menahan sesaknya.
Rafiq pun bangkit memeluk mamanya." Aku yang salah ma. karena kebandelan ku. mama papa dapat malu. maaf kan aku ma." Tangis Rafiq memeluk mamanya.
Putri mengusap punggung anaknya. "Kamu nggak salah nak. emosi pada usia mu ini memang wajar. Oh ya.. kamu mau kan ikut mama ke kafe selama kamu libur.?" Tanya Putri mengalihkan pembicaraan.
"Mau ma." Jawab Rafiq yang tidak lagi menangis.
"Nanti kalau di kafe kamu jangan nangis ya. nanti mama yang malu." Ledek Putri pada anaknya.
"Ma...." kesal Putri di goda mamanya.
__ADS_1
Putri terkekeh melihat ekspresi anaknya yang malu-malu.
Lutfi yang mengintip dari luar merasa lega. ia tadinya cukup cemas dengan semuanya. takut nanti istrinya malah mengacaukan. ternyata ia salah. Istrinya benar-benar sudah dewasa dan menjadi ibu yang di harapkan anaknya. Mungkin karena ia selalu menganggap istrinya gadis kecil yang di cintainya dulu. selalu saja khawatir.