Reinkarnasi Jenderal Padang Utara

Reinkarnasi Jenderal Padang Utara
146.


__ADS_3

Di ruang kesehatan, tabibmenggelengkan kepalanya setelah memeriksa semua orang yang terluka.


"Mereka semua sama, obatnya hanyalah darah ular putih yang telah melukai mereka. Sementara murid ini, dia tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja, jadi akan bangun setelah beberapa jam pingsan." Ucapkan tabib langsung membuat semua orang menjadi sangat cemas.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Semua orang kini berada dalam kecemasan karena tidak tahu harus berbuat apa untuk ke-7 orang yang sedang sakit akibat serangan dari ular putih.


"Berapa lama waktu yang masih bisa kita ulur?" Tanya seorang guru besar pada tabib.


"Tiga hari," jawab sang tabib langsung membuat semua orang berpandangan satu sama lain.


"Kalau begitu, mari kita menunggu selama 3 hari, mungkin saja saat itu kepala sekolah sudah kembali dari urusan pribadinya lalu dia bisa membantu kita mengatasi masalah ini. Bagaimanapun, kita tidak bisa mengalahkan ular besar itu, karena wakil kepala sekolah saja dengan tingkat kekuatan yang paling tinggi di antara kita semua sudah dikalahkan oleh ular putih itu, apalagi kita yang masih tersisa." Ucap salah seorang guru besar kemudian diangguki oleh para guru-guru besar yang lainnya.


"Lalu bagaimana dengan murid-murid kita yang masih tertinggal di sana? Tidakkah berbahaya terus melanjutkan ujian Jika ular putih masih berkeliaran di sana?" Ucap salah seorang guru besar yang merasa cemas pada murid-murid yang masih tertinggal di tempat ujian.


Semua guru besar saling berpandangan satu sama lain sampai akhirnya salah satu guru besar berkata, "ujian ini sudah pernah dibatalkan sekali, dan kemungkinan bagi para murid untuk bertemu dengan ular besar itu juga sangat kecil karena hutan tempat kita menaruh mereka ialah hutan yang luas. Jadi sebaiknya biarkan mereka melanjutkan ujiannya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan."


"Ah benar, kita bisa mengantisipasi para murid bertemu dengan ular putih itu dengan memindahkan para murid yang dekat dengan sarang ular putih ke tempat lain." Ucap salah seorang guru besar yang lainnya.


"Aku setuju. Ujian ini tidak bisa dibatalkan lagi."


"Benar, hujan ini adalah ujian yang kedua, jadi harus berjalan sesuai rencana."

__ADS_1


Maka setelah semua orang menyepakati untuk tetap melanjutkan ujiannya, maka para guru besar kemudian berbagi tugas untuk memindahkan para murid dari area yang dekat dengan sarang ular putih ke tempat lain.


Mereka pun membuka cermin pelintas untuk mengamati setiap murid yang berada di hutan.


Sementara itu, Adelia yang tertidur dalam pingsannya dia bergerak-gerak di tempat tidur dengan wajah yang pucat dan keringat membanjiri seluruh tubuhnya.


"Hoee,,, hoee,,, hoee,,,," suara seorang bayi mungil yang menangis di atas aliran air sungai tepatnya di dalam sebuah keranjang yang diletakkan di atas perahu kecil.


Tak jauh dari tempat bayi kecil itu ada sebuah air terjun yang akan membunuh bayi kecil itu jika perahunya sampai tiba di air mancur tersebut.


"Hoee,,, hoee,,, hoee,,,."


Tetapi tidak ada satupun yang datang menyelamatkannya hingga perahunya akhirnya tiba di air terjun itu semakin membuat Adelia ketakutan, sebab Dia bermimpi bahwa dirinyalah bayi kecil itu yang akan meninggal kalau tercebur ke dalam air terjun.


Dan pada akhirnya, bayi kecil itu memang terjatuh ke air terjun setinggi 30 m hingga membuat keringat Adelia menjadi semakin banyak.


Wusshhh!!!


Byur....!!!!


Adelia berusaha menahan nafasnya.

__ADS_1


Blup... Blup... Blup...


Adelia berusaha meronta-ronta, berharap dirinya bisa kembali ke permukaan bumi tetapi tekanan air dari atas membuatnya semakin jatuh ke dasar hingga akhirnya dia terbentur dan kesadarannya menghilang.


Saat itu jugalah Adelia terbangun dari mimpi buruknya dan merasakan semua bajunya telah menjadi basah akibat keringat yang terjadi karena mimpi buruknya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya sang tabib yang sedari tadi sudah berusaha membangunkan Adelia.


"Hah hah hah..." Adelia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal sembari menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia baik-baik saja.


"Minumlah ini," kata Sang tabib menyerahkan ramuan pada Adelia lalu Adelia langsung menghabiskan semangkuk ramuan tersebut sebelum duduk dengan tenang dan memikirkan mimpinya yang baru saja terjadi.


'Itu adalah mimpi sambungan dari mimpi sebelumnya ketika seorang bayi dilepaskan oleh para pelayan ke sungai. Tapi butuh waktu lama sampai aku memimpikan sambungan dari mimpi itu, namun Apa artinya mimpi itu?' ucap Adelia dalam hati yang merasa begitu bingung dengan mimpi buruknya yang sudah terjadi sebanyak dua kali.


@info


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. Jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya, di sana ada bagi2 pulsa setiap tgl 1 lho...., bisa liat di profil otor ya....!


Cek juga novel baru otor di bawah ini ya.....


__ADS_1


__ADS_2