Reinkarnasi Jenderal Padang Utara

Reinkarnasi Jenderal Padang Utara
165.


__ADS_3

Sembari berjalan di belakang guru besar dan tabib, Adelia dengan tenang memikirkan situasi yang sedang terjadi.


'Mereka bilang pelayan dari kediaman guru besar ini mengalami penyakit menular yang sama dengan yang pernah dialami oleh guru besar. Tapi kalau begitu, maka Mengapa baru mengatakannya sekarang dan bukannya saat kemarin ketika tabib dari kediaman kepala sekolah melakukan pemeriksaan? Terlebih lagi, apakah masuk akal jika seorang pelayan berani menyentuh tuannya,' ucap Adelia dalam hati yang merasa janggal dengan kedua orang di depannya, Tetapi dia tetap mengikuti mereka karena penasaran dengan apa yang direncanakan oleh kedua orang itu.


Maka, setelah mereka tiba di ruang kesehatan, Adelia memasuki ruangan itu dan dia melihat sang tabib langsung mendapatkan sebuah pisau dan juga sebuah wadah kecil untuk menampung darah Adelia.


"Duduklah di sini," ucap tabib itu langsung membuat Adelia menganggukkan kepalanya, lalu dia duduk di sana untuk memberikan darahnya pada kedua orang itu demi mencari tahu apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu pada darah miliknya.


Begitu sang tabib menyentuh tangan Adelia untuk membuat luka, tabib itu mengerutkan keningnya melihat luka yang kemarin dibuat oleh Adelia masih berada di sana dan sangat basah seperti luka yang baru saja dibuat.


Tabib itu merasa penasaran jadi dia mengangkat wajahnya menatap Adelia sambil berkata, "luka ini, Bukankah luka ini yang kau dapat beberapa hari yang lalu?"


Adelia melihat luka di tangannya lalu perempuan itu menganggukkan kepalanya, "benar sekali, itu hanya luka kecil, tapi sampai sekarang belum juga sembuh, padahal ini sudah 5 Hari berlalu. Apakah tabib punya obat untuk luka ini supaya lukanya cepat sembuh?" Tanya Adelia langsung membuat tabib itu menganggukkan kepalanya lalu dia meletakkan pisau di tangannya dan segera berdiri untuk mengambil obat bagi Adelia.


Adelia memperhatikan tabib itu, tetapi dia tidak menemukan sedikitpun kesalahan sampai akhirnya tabib itu kembali duduk di depannya dan membuka sebuah kotak obat yang telah ia dapatkan.

__ADS_1


"Aku akan mengoleskan ini lebih dulu lalu kita akan mengambil sedikit darahmu," ucap tabib itu langsung membuat Adelia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku ingin obatnya dari oleskan saja nanti, namun untuk mendapatkan darahnya, maka tolong lukanya dibuat lagi pada luka yang sebelumnya supaya tidak ada banyak luka di tanganku," ucap Adelia mengejutkan sang tabib Dan juga guru besar.


Membuat luka baru akan lebih menyakitkan daripada mengganggu luka lama yang belum kering.


Tetapi karena sang tabib itu sudah terlalu bersemangat untuk mendapatkan darah Adelia, maka dia menganggukkan kepalanya lalu dia menutup kembali kotak obatnya dan mengambil pisaunya untuk menyayat kembali luka Adelia yang masih basah.


Tetapi, dia belum melakukannya ketika pintu tiba-tiba di dobrak dan Venom beserta tabib dari kediaman kepala sekolah datang ke sana bersama dengan seorang pelayan yang sudah diberitahu oleh Karina.


"Sialan!!! Kalian berani melukainya lagi saat lukanya yang sebelumnya belum sembuh?!! Kau adalah tabib, tapi bisa-bisanya kau melakukan ini?!!!" Teriak Venom pada tabib lalu pria itu kemudian melihat guru besar yang berdiri dengan wajah yang tenang, "kau juga guru besar, dan orang yang hendak dilukai adalah murid sekolah petarung kota Padang Selatan, tapi kau hanya diam saja dan membiarkannya?!!!"


Guru besar yang mendengar itu langsung menghela nafas dengan panjang, "hah,,, ini juga keadaan yang darurat, beberapa pelayanku terkena penyakit yang sama jadi aku membutuhkan darahnya untuk diberikan pada pelayan ku, supaya mereka bisa sembuh dan tidak menularkan penyakit mereka pada orang lain." Ucap guru besar itu langsung membuat Venom menggertakan giginya dan dia hendak menyerang guru besar itu ketika Adelia menghentikannya.


"Tahan sebentar," ucap Adelia memegang tangan Venom menggunakan tangannya yang terluka langsung membuat Venom merasa ketakutan dan dia langsung memegang tangan Adelia dan menatap lukanya yang masih basah.

__ADS_1


"Hati-hati dengan tanganmu yang terluka, Bagaimana kalau lukanya kembali berdarah dan menjadi semakin sulit untuk disembuhkan?" Ucap Venom yang begitu panik karena segala obat telah dicoba oleh tabib kediaman kepala sekolah.


Namun, tidak ada satupun yang bisa menyembuhkan luka itu bahkan setelah 5 hari berlalu, luka itu masih terlihat seperti luka yang sangat baru.


Adelia yang melihat kecemasan pria itu hanya bisa tersenyum cukup menarik tangannya, "jangan khawatir, luka ini tidak berarti apa-apa padaku dibanding luka-luka yang pernah kualami ketika aku berada di medan perang." Ucap Adelia langsung membuat semua orang yang ada di sana begitu terkejut dengan ucapan Adelia yang sungguh tidak masuk akal.


Medan perang mana yang dimaksud oleh perempuan itu ketika dia hidup di tempat yang damai? Bukannya di perbatasan tempat negara-negara berperang untuk mendapatkan kekuasaan?


@info


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. Jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya, di sana ada bagi2 pulsa setiap tgl 1 lho...., bisa liat di profil otor ya....!


Cek juga novel baru otor di bawah ini ya.....


__ADS_1


__ADS_2