Reinkarnasi Jenderal Padang Utara

Reinkarnasi Jenderal Padang Utara
36.


__ADS_3

"Tidak!! Putriku pasti akan kembali dengan selamat!! Dia sudah berjanji padaku, dia hanya belum datang saja, aku akan menunggunya di sini!!" Ucap perempuan itu sembari meneteskan air matanya menatap ke arah perginya Adelia ketika mereka berpisah.


Adelia yang melihat adegan itu langsung mengepal erat tangannya dengan hati perempuan itu berkecamuk tak karuan.


Ini pertama kalinya Dia merasakan emosi dengan yang namanya orang tua, jadi Adelia menghela nafas lalu perempuan itu dengan cepat keluar dari tempat persembunyiannya.


"Ibu," ucap Adelia menghampiri perempuan yang tampak frustasi sambil menangis.


Denrian dan Merinika yang melihat perempuan yang sangat cantik dengan balutan gaun yang sangat indah langsung terpaku di tempat mereka memperhatikan perempuan itu.


"Ka,,, ka,, kau,,, kau siapa?" Mengusap air matanya agar dia bisa lebih jelas memperhatikan perempuan yang mendekatinya.


"Ini aku, Adelia, putrimu," ucap Adelia dengan sebuah senyum tipis di wajahnya menatap ibunya.


Merinika memperhatikan gadis cantik itu dengan rasa tak percayanya bahwa yang ada di depannya benar-benar seorang gadis bernama Adelia.

__ADS_1


"Pu,, pu,, putriku?" Tanya Merinika menghampiri Adelia sambil menatap perempuan itu dengan seksama.


Untunglah cahaya bulan pada malam hari itu sangat bersahabat hingga bisa menerangi mereka untuk saling tatap satu sama lain.


"Ibu, ini aku," ucap Adelia kini tersenyum lebar lalu dia memeluk perempuan yang tampak rapuh itu.


"Putriku,,,,,, putriku,,," ucap Merinika sambil meneteskan air matanya, merasa begitu sulit untuk mengekspresikan dirinya karena dia merasa senang melihat putrinya sudah kembali, tetapi sisa-sisa ketakutan dan rasa gelisahnya juga masih belum pulih.


Denrian yang melihat dua perempuan itu berpelukan langsung menghampiri keduanya dan memperhatikan gadis berusia 12 tahun yang dipeluk oleh istrinya.


"Iya ayah, ini aku," jawab Adelia langsung membuat ayahnya merasa begitu tak percaya dan memeluk Adelia dengan erat.


"Iya,, ini memang aankku!!!" Kata pria itu memandangi wajah Adelia dengan seksama dan melihat bahwa wajah Adelia benar-benar sama dengan yang terakhir kali ia lihat.


Hanya bedanya, saat ini wajah perempuan itu tampak lebih berseri dan bersemangat.

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa perempuan itu adalah putrinya maka Denrian bersama istrinya langsung membawa Adelia untuk kembali ke desa mereka.


"Kau pasti lelah, Begitu tiba di rumah ibu akan memotong satu ekor ayam untuk dibuat sup." Ucap Merinika yang begitu senang dengan kepulangan putrinya.


"Baik Bu," jawab Adelia sambil melangkahkan kakinya sejajar dengan kedua orang tuanya, lalu mereka berjalan terus menuju desa mereka.


Tak disadari ketiga orang itu, seorang pria sedang mengikuti mereka dan mengawasi mereka secara diam-diam.


Pria itu baru kembali ketika dia memastikan bahwa Ketiga orang itu telah tiba dengan selamat di rumah.


Sementara Adelia yang melihat rumah orang tuanya, perempuan itu merasakan hatinya yang bergejolak melihat rumah yang tak layak huni milik mereka.


"Kau masuklah bersama ayahmu, ibu akan ke belakang menangkap seekor ayam untuk kita makan." Kata Merinika dengan semangat menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman, lalu perempuan itu berlari ke belakang rumah untuk menangkap seekor ayam.


"Masuklah," Denrian membantu putrinya naik ke atas rumah lalu mereka duduk bersama di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ibumu berhari-hari terus menangis karena kau tidak kembali, tapi syukurlah Sekarang dia sudah kembali tersenyum. Bahkan dia hendak memotong satu-satunya Ayam miliknya untuk menyambut kepulanganmu. Syukurlah,, syukurlah,,," kata Denrian menepuk pelan puncak kepala putrinya.


__ADS_2