
Meski teman masa kecilnya adalah seorang aktris ternama dan cantik jelita namun seorang Albercio tidak pernah menyukainya dia tau betul bagaimana sifat dari wanita itu sehingga dia tidak tertarik sama sekali, bahkan Albercio juga tidak pernah dekat dengan wanita manapun, ibunya selalu meberikan jadwal kencan buta dengan banyak wanita dari kalangan keluarga ternama sampai para selebritis namun tidak sekalipun Albercio menerima mereka dia adalah pria yang terkenal kejam dan begitu dingin tidak peduli pada pria ataupun wanita.
Flashback off.
Beberapa saat kemudian aku mulai tersadar dan mengerjap ngerjapkan mataku, hal yang pertama kali kulihat adalah ketua pelayan yang sebelumnya membantuku merias, aku berusaha bangkit dengan bantuannya dan mulai bertanya tentang banyak hal.
"Maaf aku dimana?"
"Nyonya anda tengah berada di kamarmu, jika anda sudah merasa lebih baik saya akan memberitahu tuan tentang ini" ucap pelayan tersebut.
Aku sama sekali tidak paham kenapa mereka semua terus memanggil pria sialan itu dengan sebutan tuan, bahkan mereka sangat menghormatinya.
"Memangnya dia itu siapa sih, semua orang begitu takut dan menghormatinya, padahal dia kan orang yang...." Ucapku menggerutu dan terpotong karena kedatangannya,
"Siapa yang sedang kau rutuki?" Ucap pria itu dengan wajah yang begitu menyeramkan.
Alis tebal yang dia kerutkan dan mata yang begitu tajam menatap ke arahku seakan memberi ancaman yang besar, aku bahkan refleks menjauh dan gemetar, aku takut dia akan memukulku ataupun melakukan hal lainnya.
"A..a... Tidak ada aku hanya bicara sendiri saja" jawabku dengan gugup,
Albercio mendekati Talita dan dia duduk di samping ranjang dengan terus menatap tajam memperhatikan Talita.
"Ada apa?, Apa yang mau kau lakukan?" tanyaku sambil menjauhinya perlahan,
"Jawab dengan jujur, dimana kedua orang sialan itu bersembunyi!" ucapnya serius,
__ADS_1
Aku bingung dengan pertanyaan yang dia ajukan, dan aku hanya bisa menatap heran tanpa menjawab sampai dia membentakku dengan keras dan terus memaksaku untuk bicara.
"CEPAT JAWAB!!, dimana mereka bersembunyi!!" ucapnya dipenuhi amarah,
"Mereka siapa?, Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau bicarakan" jawabku dengan jujur dan gemetar,
"Jangan pura pura bodoh, aku tau kau bersekongkol dengan mereka untuk menipuku, berani sekali kau menipuku, kau akan tau sendiri akibatnya!" Ancamnya lalu dia pergi begitu saja dari ruangan.
Aku sungguh tidak mengerti mengapa dia memberikan pertanyaan seperti itu dan menatapku dengan penuh kebencian, sedangkan aku sama sekali tidak melakukan apapun dan aku tidak tau apapun sama sekali, aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan pasrah dan lesu, ponsel yang sebelumnya aku bawa juga hilang entah ke mana, aku tidak bisa menghubungi Serli untuk meminta bantuannya.
Aku rasa kehancuran hidupku sudah di mulai, kehilangan keluarga rupanya belum cukup untuk membuatku menderita, kini takdir mengirimkan orang yang akan menghabisi ku kapan saja, aku sungguh tidak memiliki kebebasan atas hidupku sendiri, aku hanya bisa menangis sambil menunduk dan tidak tau harus melakukan apa.
Kepala pelayan itu datang membawa makanan dan menghampiriku.
"Nyonya ini, sebaiknya anda makan dahulu dan minum obatnya" ucap kepala pelayan itu,
"Nyonya saya tau apa yang anda rasakan, tapi anda tidak bisa menyiksa diri anda sendiri seperti ini, jika anda ingin bebas dan membela diri anda maka anda harus sehat dan kuat untuk melawan semua orang yang berlaku tidak adil pada anda" ucap kepala pelayan itu memberikanku nasehat.
Aku berhenti menangis dan mengusap kasar sisa air mata di pipiku, ucapan dari kepala pelayan itu benar jika aku hanya menangis dan berputus asa itu hanya akan membuatku semakin menderita dan aku tidak bisa menyia nyiakan hidupku begitu saja, karena ucapan darinya semangatku untuk menjalani hidup kembali membara, aku langsung mengambil makanan di tangannya dan menyantap semuanya hingga habis lalu meminum obatnya dengan patuh.
Kepala pelayan itu mengusap lembut pucuk kepalaku dan mengingatkanku pada sosok ayah dan Serli, aku sungguh terharu dan bersyukur Tuhan masih memberikanku seseorang yang tulus menyayangiku, meski aku baru mengenalnya tapi aku tau dari tatapannya bahwa kepala pelayan itu tulus merawatku.
"Terimakasih sudah merawatku dan memberikan semangat untukku" ucapku pada kepala pelayan itu saat dia hendak pergi,
"Nyonya bisa memanggilku bibi Mia, saya senang merawat nyonya" jawabnya berbalik dan melemparkan senyum padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk dan membalas senyumannya, kini aku mulai bisa tenang dan aku turun dari ranjang berjalan menuju jendela kamar, kulihat keluar sana dan tersaji pemandangan kota yang begitu ramai dengan kendaraan juga penuh dengan rumah penduduk, sekilas aku tersenyum mengingat aku yang dulu bisa hidup sesuai dengan apa yang aku inginkan.
Melihat ke arah diriku yang saat ini, semuanya begitu bertolak belakang, entah berapa lama aku berdiri di depan jendela kamar menatap keluar dengan tatapan kosong dan mata yang sayu menahan kesedihan, hingga matahari tenggelam aku masih berdiri di sana dan terus menatap keluar, rasanya sangat enggan sekali untuk bergerak, aku ingin keluar sana dan kembali ke rumahku, iya aku rindu rumah tapi aku tidak bisa melakukan apapun berontak di saat seperti ini juga bukanlah solusi untuk masalahku.
Bibi Mia datang menghampiriku dan dia mengajakku untuk makan malam di meja makan.
"Nyonya tuan meminta anda untuk menemaninya makan malam di bawah, mari saya antar" ucap bibi Mia,
Aku hanya mengangguk dan mengikutinya, duduk tepat di hadapan pria dengan wajah datar itu sambil mulai menikmati makan malam tanpa rasa, aku bahkan tidak bisa merasakan makanan yang masuk ke dalam mulutku, aku memakannya hanya karena takut pria itu akan kembali membentakku.
Saat selesai makan aku hendak pergi kembali ke kamarku namun suara pria itu menghentikan gerak tubuhku.
"Aku sudah selesai" ucapku sambil hendak beranjak dari kursi,
"Duduk ada yang ingin aku bicarakan, dan tunggu sampai aku selesai makan" ucapnya tegas dan memberi perintah,
Aku kembali duduk dengan kesal dan menahan emosi, aku terus mengepakkan kedua tanganku dengan kuat.
"Sialan apa yang dia inginkan, dia bukan benar benar suamiku untuk apa aku menunggunya sampai selesai makan" gumamku merasa kesal dan emosi.
Aku terus berusaha sabar sampai pria itu menyelesaikan makannya dan dia menyuruh bibi Mia membawakan beberapa lembar berkas, sampai tiba tiba dia melempar sebuah map berwarna biru muda ke arahku dengan kasar.
"Baca baik baik peraturan kau selama menjadi istriku" ucapnya sambil menyilangkan kaki dan menatapku lurus,
Saat aku buka banyak sekali peraturan yang tertera di dalamnya dan semua itu sangat merugikanku, aku sudah seperti pelayan pribadi daripada seorang istri untuknya.
__ADS_1
"Apa apaan ini?, Kalau kau mau melakukan semua ini kenapa kau tidak menjadikanku pelayan pribadimu saja, kenapa harus menikah denganku?" bentakku dan balas menatapnya tajam.
Emosiku sudah memuncak dan aku tidak bisa membendungnya lagi, aku tidak perduli dengan apa yang akan dia lakukan padaku kedepannya sekarang aku akan terus berontak dan melawannya, aku tidak bisa patuh pada orang yang mau memperlakukanku semena mena seperti ini.