
Tidak kusangkan Albercio mengecup keningku dengan lembut dan dia berkata akan melindungiku namun yang ingin aku dengar dari mulutnya bukanlah hal itu, aku ingin dia membantuku untuk membalaskan dendam kepada Melinda namun aku tahu dia tidak akan bisa membantuku ataupun mengabulkan permintaanku itu.
Aku tahu dan paham meski dia orang yang sangat berpengaruh di negeri ini, tapi tentu saja dia tidak akan mau ikut campur dengan urusanku dengan Melinda mungkin dia juga masih takut dengan hukum jika sampai dia melakukan kesalahan.
Namun aku masih cukup kecewa karena dia tidak bisa menolong pamanku hingga aku harus kehilangannya.
Beberapa hari sudah berlalu dan aku hanya memilih untuk diam mengurung diri di rumah dan tidak berbicara selama beberapa hari dengannya, aku hanya diam bahkan ketika makan dan saat berhadapan langsung dengannya, meski Albercio beberapa kali mengajak aku berbicara aku hanya melamun kosong dan mengabaikan dia begitu saja.
"Arisha apa kau baik-baik saja?" Tanya Albercio kepadaku,
"Arisha kenapa kau selalu menghindariku dan tidak bicara padaku berhari-hari seperti ini, apa kau masih kesal denganku?" Ucapnya sedikit meninggikan suaranya.
Aku tetap diam karena tidak memiliki energi untuk berdebat dengan orang seperti dia, bahkan rencana kami sebelumnya untuk bertemu dengan ibunya gagal sebab aku yang masih belum berbaikan dengannya.
Kali ini setelah sarapan selesai Albercio menggendongku dan membawa aku masuk ke dalam mobilnya, aku tidak melakukan perlawanan apapun bahkan di saat dia mengecup keningku dan memelukku, aku sungguh diam seperti patung hanya saja aku masih bisa bernafas dan mengedipkan mata.
"Arisha aku sakit jika melihat kondisimu seperti ini, aku tahu kau terpukul sekali karena kematian pamanmu tapi kau juga harus tetap menjalani hidupmu sendiri, tolong jangan seperti ini terus Arisha" ucapnya kepadaku.
Aku mengangguk untuk memberikan sedikit respon padanya, apa yang dia katakan kali ini memang benar, meski aku gagal dalam menyelamatkan pamanku namun aku juga masih harus membalaskan dendam ku pada Melinda.
"Kau benar, aku sudah kehilangan semuanya, dan dia juga harus kehilangan semuanya sama sepertiku, aku akan membalaskan dendam ku padanya, dengan atau tanpa bantuanmu!" Ucapku serius dengan tatapan mata tajam pada Albercio.
Dia membuka matanya lebar dan langsung memelukku dengan senang, Albercio sangat bahagia akhirnya Arisha berbicara kepadanya walaupun perkataannya itu lagi-lagi membicarakan mengenai balas dendam namun setidaknya itu cukup mengobati rasa cemas di dalam dirinya.
Albercio tahu Arisha mungkin akan mengalami gangguan mental jika dia terus menyimpan dendam di hatinya apalagi setelah mendapatkan banyak penderitaan dan ketidak adilan di dalam hidupnya, nama dari itu Albercio juga melarang Arisha untuk melakukan balas dendam dengan Melinda, Albercio hanya menyayangi Arisha dan dia tidak ingin membuat Arisha menjadi orang yang jahat.
Sayangnya rasa sakit di dalam diri Arisha sudah sangat besar dia juga tidak bisa menghapus dendam dia pada Melinda begitu saja apalagi setelah kehilangan pamannya.
"Albercio aku ingin bertemu Serli, pertemukan aku dengannya seperti rencana yang sudah kita buat sebelumnya" ucapku begitu antusias.
"Arisha kau harus menyembuhkan dirimu dahulu, aku takut jika kau harus menerima tekanan lagi, tolong jangan memaksakan dirimu Arisha, kau berhak bahagia dan aku janji aku akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini, tanpa harus melakukan balas dendam seperti itu" ucap Albercio menasehati aku,
"Tidak Albercio aku harus membalaskan dendam ku dahulu baru aku bisa merasa tenang" balasku masih dengan keinginan yang sama.
Albercio hanya menatapku lekat sesaat dan dia memelukku lagi dengan erat, dia juga mengelus kepalaku beberapa saat dan aku tidak bisa menahan air mata saat mendengar ucapannya.
"Arisha .... Dendam tidak akan menyelesaikan apapun, ikhlas kan semuanya, itu hanya akan membuatmu semakin sengsara dan merusak mentalnya, tolong bersabarlah aku akan melindungimu dan membuatmu menjadi paling bahagia di dunia ini, berhentilah memikirkan dendam itu" ucap Albercio berusaha menenangkanku.
Aku tahu apa yang dikatakan oleh dia memang benar namun aku sungguh tidak bisa, hatiku merasa sakit dan aku juga tidak ingin mendendam seperti ini hingga menyakiti diriku sendiri namun pikiranku terus mendorong aku untuk melakukannya.
Hingga tidak lama ternyata Albercio membawaku ke bandara aku menatap ke sekeliling dan tidak mengerti apa yang akan dilakukan Albercio karena dia membawaku ke bandara lalu tiba-tiba saja sekretaris Ben mengeluarkan dua buah koper dari bagasi mobil dan itu semakin membuatku penasaran dan aneh.
"Albercio ada apa ini? Apa kau akan pergi?" Tanyaku merasa cemas,
"Iya aku akan pergi untuk perjalanan bisnis tapi kau juga akan ikut denganku, aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri di sini dengan keadaan seperti ini" ucap Albercio sambil menggenggam tanganku dengan erat.
Aku tersenyum membalas, ku pikir dia akan meninggalkan aku namun rupanya tidak,.dia bahkan membawa aku bersamanya untuk urusan pekerjaan dia sudah menempati janjinya untuk melindungi aku, aku sangat senang dan tidak tahu harus memperlihatkan kesenanganku itu seperti apa lagi.
Dia adalah laki-laki kedua setelah ayahku yang melindungiku sekarang dan aku sangat senang. Tapi disisi lain tanpa aku ketahui sebenarnya nyonya Melinda telah mengetahui kedatanganku di negara ini dan dia juga sudah mengetahui bahwa orang yang mengirimkan teror berubah box hadiah adalah Arisha.
__ADS_1
Bukan hanya itu Melinda juga yang telah dengan sengaja membunuh paman Arisha menggunakan racun yang dia masukan pada obat yang dimakan oleh mantan suaminya setiap hari, dia melakukannya dengan sangat baik tanpa ada yang mencurigai tingkahnya tersebut, dia juga tahu bahwa saat di rumah sakit Arisha datang ke sana.
Sebeb dia ada di dalam kamar mandi yang sama ketika Arisha membongkar penyamarannya dan menangis disana, kini Melinda juga terus mengawasi Arisha meski Arisha tengah berada di dekat tuan Albercio, dan salah satu alasan tuan Albercio membawa Arisha bersamanya ke luar negeri juga karena dia mengetahui bahwa ada seseorang yang tengah mengancam keselamatan Arisha secara diam-diam.
"Maafkan aku Arisha, aku tidak bisa mengatakannya kepadamu" gumam tuan Albercio pelan.
Sampai masuk ke dalam pesawat Melinda juga terus mengikutinya dia sangat pandai dalam mengikuti orang lain dan menyamar, dia benar-benar wanita yang kejam dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan di tambah sekarang dia berada di dalam naungan keluarga Koward, tentu itu memudahkan dia untuk bergerak.
Albercio juga ingin segera menyudahi kontrak kerjanya bersama tuan Kowar agar dia bisa segera bergerak melawan Melinda tanpa harus menjaga kehormatan dan rasa kerja sama dengan keluarga Koward lagi, ketika mengetahui Melinda berani mengikuti ya dan memata-matai dia.
Disitulah tuan Albercio sudah kehabisan kesabaran dia tidak akan melepaskan Melinda dengan mudah, bukan karena dendam Arisha kepadanya melainkan karena tingkah Melinda yang sudah melewati batas sebab berani mengikutinya selama beberapa hari belakangan ini dan itu membuat tuan Albercio sangat terganggu.
******
Beberapa saat setelah sampai di negara A, tuan Albercio langsung pergi menuju kediaman besar orang tuanya dimana ibunya sudah menunggu disana dengan sangat antusias karena nyonya besar sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan istri dari putra kebesarannya itu.
Saat hendak masuk ke dalam rumah aku sungguh merasa gugup dan tidak menentu, aku menghentikan langkahku telat saat di depan pintu, aku takut ibu mertuaku tidak akan menyukai aku karena alasan keluargaku yang sangat berantakan terlebih aku sudah tidak memiliki orangtua sama sekali.
"Arisha, ada apa?" Tanya Albercio kepadaku,
"Aku.....aku hanya takut ibumu tidak akan menyukaiku" ucapku dengan perasaan yang cemas,
"Arisha, ibuku sangat menyukaimu dan dia sudah mengetahui semuanya tentangmu dariku, dia selalu menanyakan kabarmu setiap hari kepadaku, jadi jangan cemas oke. Ada aku disini" ucapnya sambil mempererat genggaman tangannya pada tanganku.
Aku mengangguk dan berusaha menguatkan diriku, kami pun berjalan masuk ke dalam dan terlihat ibunda Albercio berjalan ke arahku sambil tersenyum cerah dan dia langsung memelukku dengan sangat erat hingga aku tidak menduga bahwa ibu tuan Albercio akan seramah ini kepada orang baru di keluarganya.
Namun ibu tuan Albercio berbeda dia sama sekali tidak mirip dengan para mertua di film yang aku tonton, dia sangat baik langsung membawaku pergi ke kamar untuk beristirahat dan juga membawakan makanan untukku.
"Aaahhh.....Arisha kamu sudah datang, ibu sudah lama menunggumu" ucap ibu Kirana memelukku,
Aku hanya bisa membalas ucapannya dengan anggukan dan tersenyum patuh.
"Ya ampun sayang kenapa tubuhmu menjadi sekecil ini? Apa Albercio tidak memberimu makan dengan baik?, Aishhh.....dasar pria tua ini, sudah ayo Istirahat di dalam dahulu, ibu akan menyiapkan makanan untuk kalian berdua" ucap ibu Kirana sambil menuntunku ke kamar.
Aku sempat kaget dan bingung karena Albercio juga masuk ke dalam kamar yang sama denganku, sehingga aku mengusirnya secara langsung tepat setelah ibu Kirana keluar dari sana.
"Albercio kenapa kau berada di kamar ini juga? Keluar kau dari kamarku!" Bentakku kepadanya dengan wajah yang sinis,
"Eh....ada apa denganmu? Apa kau sakit lagi, tidak ada kamar lain di rumah ini, kau dan aku kan suami istri tentu saja ibuku menyiapkan satu kamar untuk kita, lagi pula apa ibu tidak akan memarahi kita dan mengira kita bertengkar jika berpisah kamar?" Ucap Albercio membuat aku mulai sadar.
"Ja... jadi kau akan selalu tidur denganku? Di kamar ini? Setiap hari?" Tanyaku memastikan,
"Iya selalu denganmu di kamar ini setiap hari!" Ucap Albercio menegaskan.
Aku langsung terduduk di samping ranjang dengan lemas, aku tidak ingin berada satu kamar dengan Albercio, meski kita suami istri tapi ini terasa sangat canggung karena pernikahan antara aku dan dia bukanlah pernikahan normal yang seperti orang-orang kebanyakan.
Albercio juga sengaja menggoda Arisha dan dia pergi mandi lebih dulu namun malah mengajak Arisha menjadi bersama dengannya.
"Sayang apa kau mau mandi bersama denganku?" Ucap Albercio dengan memegangi pegangan pintu kamar mandinya,
__ADS_1
"Aish, pergi kau sana, aku bisa mandi sendiri!" Bentakku sangat kesal.
Apalagi dia memanggilku sayang itu sangat menggelikan untuk di dengar dan rasanya begitu aneh, karena selama ini aku dan Albercio hanya memanggil nama kami satu sama lain, tapi tidak bisa di pungkiri aku juga sedikit tersibu dan merasa senang ketika dia memanggilku seperti itu.
Sampai giliranku mandi tiba aku langsung masuk ke dalam kamar mandi begitu saja karena malu melihat Albercio yang hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan di pinggangnya sementara dia membiarkan dada sispex nya terbuka begitu saja, aku menghalangi pandanganku dengan kedua tangan agar tidak melihatnya dan berjalan perlahan menuju kamar mandi.
"Sayang aku tidak keberatan jika kau mau melihat dadaku" ucap Albercio membuatku semakin tersipu,
"Si...siapa yang mau melihatnya, aku mau mandi bodoh!" Balasku sambil segera menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Albercio hanya tertekekeh melihat Arisha yang salah tingkah dan gugup karena ucapannya, Albercio menggelengkan kepalanya dan dia sangat puas sudah menggoda Arisha seperti tadi.
"Arisha....Arisha...kau sangat mudah sekali untuk digoda, wajahmu membuat aku tidak bisa berhenti tertawa" gerutu Albercio sambil segera memakai pakaiannya selagi Arisha berada di kamar mandi.
Sedangkan Arisha lupa dia tidak membawa handuk saat masuk karena saking gugupnya melihat Albercio dengan penampilan terbuka seperti itu, dan saat dia selesai dia baru ingat akan handuknya yang tidak ada.
Dia sudah mencarinya di sekitar kamar mandi namun sepertinya hanya ada satu persediaan handuk di dalam kamar mandi itu dan sudah di pakai oleh Albercio.
"Ya ampun kenapa aku bisa lupa dengan handuknya? Sekarang bagaimana aku akan keluar, tidak mungkin aku meminta Albercio membawakannya" ucapku bicara sendiri dan merasa resah.
Setelah aku pikirkan memang tidak ada cara lain lagi selain meminta bantuan pada Albercio, sehingga aku memberanikan diri meski sebenarnya sangat malu untuk meminta bantuan semacam ini.
"Tok ...tok...tok" suara pintu kamar mandi yang aku ketuk,
"Albercio...... Albercio kemari aku butuh bantuanmu" teriakku memanggilnya.
Albercio mendekati pintu kamar mandi dan menjawab Arisha dengan cepat.
"Ada apa, kau mau aku memandikanku?" Balas Albercio yang sungguh membuat aku sangat kesal,
"Aish....dasar mesum! Bukan itu, tapi....aku....aku lupa membawa handuk dan tidak mungkin aku akan memakai pakaian yang sebelumnya, bisakah kau ambilkan aku handuk dan pakaianku, apa saja yang ada di kopernya, aku akan membuka pintunya nanti tapi kau harus menutup matamu saat memberikannya" ucapku menunggu jawaban.
Albercio diam-diam menahan tawa dan dia mengira Arisha sangatlah lucu kali ini, itu membuat dia semakin gemas dengan tingkah istrinya tersebut.
"Albercio apa kau mendengarkan aku, hey ayo jawablah aku kedinginan terus disini" ucapku memanggilnya lagi karena dia belum menjawab juga,
"Ekhmmm...iya aku mendengarnya tapi ada syaratnya" ucap Albercio yang menyulitkan aku.
Saat mendengar dia mengatakan sebuah syarat untukku hanya karena aku meminta sedikit bantuan darinya, aku sangat ingin marah dan menghajar dia saat itu, tapi aku berusaha keras menahannya karena aku benar-benar membutuhkan bantuan dari pria menyebalkan ini.
"Aishh....iya.... Iya ayo katakan saja apa syaratnya" balasku sedikit mendesak.
"Memohon lah padaku dan panggil aku sayang, bagaimana apa kau mau?" Ucap dia yang mengujiku kali ini,
"Apa? Albercio kenapa kau menyulitkan aku seperti ini, aku tidak mau!" Balasku dengan tegas,
"Ya sudah tinggal lah di dalam sana terus atau keluar tanpa busana, itu pilihanmu. Aku akan keluar menemui ibuku" ucap Albercio membuat pilihan yang sulit bagiku.
"Eh...tunggu.... Tunggu! Iya aku akan melakukannya tetaplah disitu dan dengan baik-baik karena aku hanya akan mengatakannya satu kali" ucapku bersiap-siap.
__ADS_1