
Paginya aku bangun agak siang dan saat aku baru bangun aku langsung teringat dengan Albercio.
"Astaga....ini sudah jam berapa, bagaimana kalau dia kesiangan pergi ke kantor, tapi apa dia sudah sembuh?" Ucapku kebingungan sendiri.
Tanpa basa basi lagi aku langsung pergi ke kamar Albercio dan menerobos masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, saat aku masuk rupanya benar saja Albercio masih tertidur di ranjangnya dan aku langsung membangunkan dia dengan cepat.
"Kan...aku sudah menduga, Al... Albercio bangunlah apa kau sudah baikkan?, Apa kau akan bekerja atau tidak?" Teriakku sambil menggoyangkan tangannya,
Bukannya membuka mata dan bangkit bersiap siap Albercio justru malah menarik lenganku sampai aku terjatuh dan dia langsung membantingku ke ranjangnya hingga tubuhku berbaring sangat dekat berhadapan dengannya.
"Aish..... Albercio kau ini apa apaan dasar m*sum...hey lepaskan aku!" Teriak ku sekencang mungkin dan mendorong tubuhnya agar menjauh dariku.
Semakin aku berusaha mendorong tubuhnya justru malah membuat dia semakin memelukku dengan erat sampai tidak ada jarak yang tersisa diantara kami berdua, tubuhnya benar benar menempel dengan tubuhku.
"Arkhhhh.... Albercio sialan euhh....rasakan ini dasar kau m*sum..." Teriakku sambil memukuli dia dengan bantal.
Setelah aku memukulinya dengan kuat dan tanpa ampun barulah dia melepaskan pelukannya dariku dan bangkit terduduk.
"Heh...apa kau ini pegulat atau preman sih, bisa bisanya memukuliku sekeras itu, aku baru saja sembuh apa kau tidak khawatir aku bisa sakit lagi gara gara ulahmu!" Bentak Albercio membuatku semakin kesal.
Bukankah sebelumnya dia yang mencari masalah padaku dengan menarikku ke dalam ranjangnya dan dia memelukku begitu saja tanpa ijin dariku lalu saat aku memukulinya atas tindakan dia yang tidak sopan justru malah dia yang balik memarahiku tentu saja aku tidak terima dan semakin merasa kesal padanya.
"Aishh....kau ini apa apaan sih, kau yang lebih dulu mencari masalah denganku harusnya aku yang marah karena kau seenaknya memelukku, kau pikir aku ini wanita murahan yah" bentakku tidak terima,
"Heh apa kau lupa dasar bodoh aku ini suamimu sah secara agama dan negara, apa salahnya seorang suami memeluk istrinya?" Jawab Albercio yang membuatku sadar juga seketika diam membisu tak bisa berkata kata lagi untuk melawannya.
__ADS_1
Aku baru ingat kalau dia memang suamiku sah secara agama juga terdaftar di negara, aku malu saat dia mengingatkanku akan hal itu tapi di satu sisi aku langsung merasa takut dan menarik selimut untuk menutupi dadaku dan melindungi diri dari Albercio.
"Meski aku istrimu kau seharusnya meminta izinku dulu untuk menyentuhku" bentakku mencari alasan yang salah,
"Jika aku memintanya apa kau akan memberikan izin?" Tanya Albercio begitu ambigu,
"Tentu saja tidak, asal kau tau aku ini hanya sandaran untukmu kenapa juga kau harus memintaku untuk hal hal seperti itu, menjijikan!" Ucapku mengingatkan dia,
"Meski begitu kau tetap istri sah ku, sekalipun aku meminta kau menunaikan ibadah sebagai suami istri denganku itu bukan pelanggaran hukum untukku karena kau memang istri sah ku, sebaliknya jika kau menolak aku bisa melaporkanmu karena melawan suamimu!" Ucap Albercio dan diakhiri dengan ancaman.
Aku menelan salivaku dengan susah payah dan segera bangkit berdiri dari sana, aku tau aku harus menjaga jarak seaman mungkin darinya mulai saat ini, karena aku rasa dia sedikit berubah dari sebelumnya.
"Heh...jangan bilang kau tertarik padaku?" Ucapku menyelidiki,
"Huuhh...syukurlah aku pikir kau tertarik padaku, lagian tidak mungkin itu terjadi aku kan gadis yang kau benci iya kan" ucapku berkata padanya dengan lantang dan penuh percaya diri.
"Tidak ada yang tidak mungkin Arisha aku tetap seorang pria yang menyukai wanita" gumam Albercio di dalam hatinya.
Aku segera pergi meninggalkan kamar itu karena tidak ingin sesuatu di luar kendali diriku terulang kembali.
"Ya sudah kalau tidak ada yang kau butuhkan aku akan kembali ke kamarku, aku masih mengantuk dan jangan ajak aku sarapan, kau sarapan saja sendiri aku ingin tidur" ucapku memberi tahu dia.
Aku pergi keluar dari kamar dengan berpura pura tenang sedangkan saat aku sudah kembali ke kamarku aku sungguh merasa gugup dan jantungku masih berdetak sangat kencang, aku benar benar tidak mengerti kenapa harus merasakan perasaan aneh dan merepotkan seperti ini.
"Sebaiknya aku mandi dan membasahi kepalaku agar cepat kembali sadar" gerutuku sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi,
__ADS_1
Sialnya saat aku hendak masuk aku tidak berjalan dengan benar sehingga kakiku tersandung dan aku jatuh terpeleset dengan cukup keras.
"Aaa...brukkk...." Suaraku yang jatuh tepat di depan pintu kamar mandi.
Kaki ku merah lebam dan sedikit bengkak aku tidak bisa menggerakkannya dan itu sangat ngilu juga sakit aku tidak tau harus berbuat apa sambil Albercio datang menghampiriku.
"Arisha apa yang terjadi?" Ucap Albercio dengan wajah yang penuh kecemasan.
Bahkan Albercio datang ke kamar ku dengan kemeja yang belum selesai dia kancingkan juga rambut yang masih berantakan bisa dilihat kalau dia langsung berlari ke kamarku ketika mendengar teriakkan ku barusan, saat Albercio bertanya aku hanya menatapnya dengan lekat dan memperhatikan penampilannya sehingga tidak memperhatikan ucapannya.
"Hey......Arisha apa kau baik baik saja?, Apa yang terjadi kenapa kau duduk di lantai begini?" Ucap Albercio kembali bertanya dan aku baru tersadar.
"A...a..aku itu...aku jatuh saat hendak masuk ke kamar mandi, kau lihat itu kakiku sepertinya keseleo, rasanya sakit sekali, bisa bantu aku berdiri?" Ucapku menjelaskan dan meminta bantuannya,
"Tentu saja ayo aku bantu berdiri, pelan pelan saja" ucap Albercio yang segera membantuku berdiri lalu dia menggendongku ke tempat tidur,
Sebelumnya aku sudah berterimakasih padanya dan mengatakan bahwa aku bisa mengobati diriku sendiri namun dia justru bersih keras untuk terus merawatku padahal aku tau ini sudah sangat siang dia bahkan sudah kesiangan untuk pergi ke kantor.
"Albercio sebaiknya kamu pergi saja aku tidak papa ada bibi Mia juga di rumah dia bisa merawatku" ucapku merasa tidak enak,
"Sebelumnya kau juga merawatku jadi anggap saja ini balas budi dariku" jawab Albercio yang sudah tidak bisa aku cegah lagi.
Untuk pertama kalinya aku melihat sisi lembut dari seorang Albercio orang yang bisanya saling membentak dan berkata kasar padaku kini dia mau merawatku dengan telaten dan dengan lembut, dia bahkan memanggilkan dokter khusus tulang untuk memeriksa pergelangan kakiku, padahal aku hanya terkilir dan aku sudah coba menjelaskannya pada Albercio tapi dia masih tetap dengan keinginannya.
Aku bahkan merasa malu pada dokter ahli tulang itu, dia harus datang jauh ke mari dan repot repot memeriksa pergelangan kakiku yang sudah jelas hanya terkilir, akhirnya karena Albercio terus merasa khawatir dokter memberikanku beberapa resep obat pereda nyeri dan untuk mengecilkan bengkaknya.
__ADS_1