Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Pulang Kembali


__ADS_3

Bahkan hingga ke esokan paginya disaat kami bersiap-siap untuk kembali ke negara awal kita, ibu mertuaku sudah menyiapkan semua kebutuhan kami sebelum pergi dia bahkan memberika sebuah kalung dan perhiasan turun temurun dari keluarganya untukku, mendapatkan itu aku sungguh merasa tidak enak, karena mengingat lagi bahwa aku dan tuan Albercio hanya berhubungan kontrak dan berdasarkan sebuah perjanjian diatas kertas.


Jadi ketika ibu mertuaku memberikan kalung itu sebagai simbol dan beberapa perhiasan lainnya aku merasa gugup dan hanya menatapnya dengan perasaan yang bingung dan tidak tahu harus menjawab apa atau melakukan apapun kepadanya saat ini.


"Arisha apa kamu baik-baik saja? Hey Arisha?" Ucap ibu mertua menyentuh tanganku dan membuat aku segera tersadar dengan cepat,


"A..ahh.. iya Bu, tapi semua perhiasan ini pasti sangat berharga bukan dan pasti tidak ada siapapun yang bisa menggantikannya, bagaimana aku bisa memakai perhiasan dan menanggung amanah yang sangat besar ini darimu?" Ucapku kepadanya,


"Arisha kamu ini adalah istri sah Albercio dimana agama dan hukum jadi sudah sepantasnya semua ini menjadi milikmu mulai sekarang dan kamu tidak perlu merasa canggung atau yang lainnya, kamu hanya perlu memakainya saja" ucap ibu mertuaku sambil memasangkan kalung itu padaku,


"Terimakasih Bu, terimakasih atas segalanya yang kamu berikan kepadaku selama tinggal disini, aku sungguh merasa sangat senang dan bahagia" balasku kepadanya dengan harus.


Ibu mertuaku itu langsung memelukku dengan erat dan dia segera mengusap diriku punggungku dengan lembut dan menepuknya pelan aku bisa merasakan kebaikan yang tersalur dari dirinya untukku dan untuk pertama kalinya aku bisa merasakan pelukan seorang ibu lagi setelah sekian lama aku telah kehilangannya.


"Ibu boleh aku memanggilmu dengan sebutan itu mulai sekarang?" Ucapku meminta izin padanya,


"Tentu saja boleh, ibu akan sangat senang dan memang itu yang ibu inginkan, karena ibu juga ibumu sayang" balas ibu mertuaku mencubit kecil hidungku.


Melihat betapa baik dan lembutnya ibu mertuaku aku merasa ingin tinggal lebih lama disana namun Albercio sudah menarik tanganku dengan kuat dan membawa aku untuk segera pergi dari sana secepatnya saat itu juga karena kita harus mengejar jam penerbangan.

__ADS_1


Aku pun segera berpamitan pada ibu mertuaku untuk yang terakhir dan segera pergi dengan Albercio bahkan ketika mobil sudah melaju dengan perlahan aku masih terus melihat ke belakang dan melambaikan tangan pada ibu mertuaku, aku sangat menyukainya karena dia sangat baik, walaupun sedikit cerewet dan selalu memintaku mencoba banyak pakaian dan make up.


Tai dengan kecerewetan itu aku merasa dia seperti ibu sekaligus teman bagiku, aku bisa merasakan bagaimana rasanya berbelanja bersama seseorang yang sama-sama perempuan dan dia mau mendandani aku dan mencocokan semuanya denganku dia selalu memberikan perhatian-perhatian kecil yang belum pernah aku dapatkan dari siapapun di dunia ini kecuali kedua orangtuaku yang sudah jelas telah pergi meninggalkan aku sejak lama.


Dan dengan bertemu dengannya aku merasakan dia begitu sama persis dengan ibuku hingga aku merasa sangat nyaman ketika berada di sampingnya.


Saking aku tidak ingin pisah dengannya tuan Albercio merasa heran dan sedikit kesal sebab aku terus menatap ke belakang padahal mobil sudah melaju cepat meninggalkan kediamannya sejak beberapa menit yang lalu.


Meski tuan Albercio sangat senang sebab ibunya bisa menerima Arisha dengan baik dan mereka bisa dekat dengan waktu yang cepat sehingga dia tidak perlu mencemaskan mengenai Arisha yang akan kesulitan menghadapi ibunya, nyatanya dia berhasil meluluhkan hati ibunya yang keras itu.


Mungkin karena kesabaran yang Arisha miliki dalam menghadapi karakter keras seperti ibunya yang selalu mendominasi setiap orang yang berada di sekelilingnya setiap saat dan waktu.


Tapi tuan Albercio juga tetap cemburu karena mereka terlihat lebih dekat bahkan ibunya malah menangisi Arisha bukan dirinya, ibunya juga hanya memeluk Arisha bukan dirinya lagi.


"Aku sangat berat meninggalkan ibu, bagaimana jika dia kesepian berada di dalam rumah sebesar itu seorang diri?" Balasku mengutarakan kecemasanku pada ibunya.


Sedangkan disisi lain dalam sudut pandangan mata tuan Albercio dia justru tidak pernah melihat ibunya kesepian, dia selalu menggelar pesta dan juga mengundang banyak ibu-ibu sosialitanya itu, bahkan dia sering pergi keluyuran menghabiskan banyak uang atau berjalan-jalan ke perusahaan hanya untuk membuat kaget para karyawan.


"Haha... Aku rasa kau terlalu mengkhawatirkan dia berlebihan" balas tuan Albercio setelah membayangkan kebiasaan yang selalu di lakukan oleh ibunya.

__ADS_1


Bahkan terakhir kali dia pulang dan meninggalkan ibunya, justru ibunya sangat senang dengan kepergian dia sebab bisa dengan bebas bermain juga mengadakan pesta besar di rumah kapanpun dia inginkan.


Aku yang saat itu belum mengetahui apapun sehingga aku langsung menatap tajam pada Albercio dan memarahinya karena berkata seperti itu kepada ibunya sendiri.


"Aishh... Apa kau putranya atau bukan sih? Ibumu itu sangat baik dan dia bahkan begitu lembut kepadaku bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan dia" balasku dengan meninggikan suara pada tuan Albercio.


Karena Arisha tidak masuk dengan penjelasan apapun yang dia katakan sehingga tuan Albercio memilih untuk angkat tangan dan dia tidak mau bertanggung jawab dengan apapun lagi.


"Yah .. baiklah terserah kau saja lagi pula ibuku juga memang sudah tidak tampak di lihat mata, kita sudah hampir sampai di bandara tapi kau terus melihat ke belakang seperti itu" ucap tuan Albercio mulai sedikit terpancing emosi.


Hingga ketika Albercio turun dari mobil bersama sekretaris Ben dan juga aku dia terus menggandeng tanganku dengan erat dan seperti tidak menginginkan aku dalam bahaya, dia selu melindungi aku bahkan hingga masuk dan duduk di pesawat.


Dia adalah pria yang luar biasa menurutku selama ini dan meski sekejap apapun dia di mana orang lain dia tetap bersikap baik dan lemah lembut kepadaku, dia tidak pernah melakukan tindakan yang fatal selama ini sehingga membuat aku merasa percaya dan yakin untuk memilih ya kali ini.


Dan aku sangat berharap bahwa rumah tangga aku dan dia bisa menjadi sungguhan dan selamanya lalu kami tidak perlu lagi bersikap saling tolak menolak sami sama lain padahal kenyataannya tetap saling menginginkan.


Tapi tentu saja dia lebih menginginkan aku lebih banyak di bandingkan aku yang memang tidak terlalu menyukai orang seperti dia.


Namun anehnya lama kelamaan, seiring berjalannya waktu dan setelah aku tinggal dengannya setiap hari dalam waktu yang lama, akhirnya aku merasa sedikit getaran kepadanya ketika dia melakukan hal itu padaku dan ketika selalu mendekatkan wajahnya padaku.

__ADS_1


Apalagi disaat aku mengingat kejadian dimana dia mengatakan bahwa dia menyukai aku.


Saat di pesawat aku hanya duduk diam dan mulai mengantuk hingga tidak lama tidak terasa kepalaku mulai jatuh menyandar pada pundak tuan Albercio dan dengan baiknya dia membenarkan kepalaku itu dan dia sangat memperhatikan Arisha ketika dia tidur di dalam pesawat.


__ADS_2